Saturday, January 23, 2021

Apakah Hadist Ahad Bisa Dijadikan Hujjah Dalam Aqidah

Must Read

Siapa sosok Ulama Mufassir Al-Fakhru Al-Razi

Oleh: Arif Rahman Hakim "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Pendahuluan Sebagai salah...

Melacak Akar Pemikiran Mu’tazilah

Oleh: Divisi Aliran Keagamaan (ALIGA) Dewan Buhûts Islâmiyyah FOSPI Mukadimah Makalah yang kami presetasikan sekarang ini, hanyalah usaha kecil dan ala...

Menyingkap Tabir Gelap Alam Semesta

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar A. Pendahuluan قال تعالى :  سنريهم أياتنا فى الآفاق و فى أنفسهم حتى يتبين لهم أنه...

5
(10)

Oleh: Divisi Tafsir-Hadits (LBI)

Ta’rîf Hadîts Al-Âhâd

Untuk membahas bagaimana kedudukan hadîts al-âhâd dalam aqîdah, terlebih dahulu harus dilihat ta’rîf hâdits, selanjutnya pembagian al-Hadîts berdasarkan jumlah yang menyampaikan (memindahkannya) dan ta’rîf masing-masingnya secara ijmâl dengan menitik beratkan ta’rîf pada hadîts al-Âhâd.

A. Ta’rîf al-hadîts:

  • lughatan : Al-jadîd (baru)
  • Ishthilahan : Apa-apa yang disandarkan kepada an-Nabî SAW dari perkataan atau perbuatan atau ketetapan atau sifat.

Adapun ta’rîf ini adalah salah satu ta’rîf yang ditetapkan oleh ‘ulama al-Hadîts. Dan akan didapati ta’rîf yang berbeda namun bermaksud sama. Tidak ada perselisihan dalam maksud atau ma’na ta’rîf tersebut. seperti halnya men-ta’rîf-kan as-Sunnah, maka al-Ushuliyyun, Rijâl al-Hadîts, al-Fuqahâ’, ’ulama al-Wa’zhi wa al-Irsyâd berbeda dalam men-ta’rîf-kannya, walaupun ma’na dan tujuannya adalah sama.

B. Pembagian al-Hadîts berdasarkan jumlah yang menyampaikan (memindahkannya)

Berdasarkan jumlah yang menyampaikan (memindahkannya), al-Hadîts terbagi kepada dua macam. Inilah adalah pendapat jumhûr. Walaupun ada yang membagi kepada empat, namun tujuan dari pembagian yang empat ini tetap kembali kepada yang disepakati jumhûr yaitu dua.

Adapun yang dua tersebut adalah:

a. Hadîts al-Mutawâtir adalah hadîts yang diriwayatkan oleh jumlah yang banyak yang mustahil secara akal- mereka sepakat untuk berdusta.
Contoh hadits al-Mutawâtir yang diriwayatkan oleh lebih dari 70 shahâbat.

“Siapa yang berdusta kepada saya secara sengaja maka hendaklah ia mengambil tempatnya di neraka”.

Mengenai hadîts al-Mutawâtir ini ada tiga pendapat yaitu:

  • Ibnu Hibbân dan al-Huzaimî memandang tidak adanya hadîts al-Mutawâtir.
  • Ibnu al-Shalâh memandang ada namun sedikit hadîts al-Mutawâtir.
  • Ibnu Hajar dan al-Suyûtî memandang bahwasanya hadîts al-Mutawâtir ada dan banyak.

Sebenarnya antara pendapat yang mengatakan tidak ada dan banyak bisa untuk disatukan yaitu:

  • Tidak adanya hadîts al-Mutawâtir adalah tidak adanya hadîts al-Mutawâtir al-Lafzhî pada as-Sunnah as-Syarîfah sebagaimana tawâtur pada al-Qurân al-Karîm.
  • Adanya banyaknya hadîts al-Mutawâtir adalah hadîts al-Mutawâtir al-Ma’nawî pada as-Sunnah dan tidak ada yang berselisih pada yang demikian.

Hal ini diungkapkan karena adanya sebahagian orang yang memperbesar permasalahan antara hadîts al-Mutawâtir dan hadîts al-Âhad, yang pada dasarnya tidak ada diperselisihkan oleh para shahâbat dan al-dîn.

b. Hadits al-Âhâd adalah Hadits yang tidak berkumpul padanya syarat-syarat al-Mutawâtir.

Hadits al-Âhâd ini terbagi kepada:

  • Al-Masyhûr: Hadîts yang meriwayatkannya tiga orang atau lebih pada setiap tingkatan, namun tidak sampai pada derajat al-Mutawâtir.
  • Al-‘Azîz : Hadits yang tidak kurang rawi-nya dari dua orang pada setiap tingkatan sanad.
  • Al-Gharîb : Hadîts yang diriwayatkan oleh satu rawi saja.9
    Demikianlah pembagian al-Hadîts dan ta’rif dari masing-masing al-Hadîts tersebut.

Hadîts al-Âhâd dalam tinjauan al-‘ilm

Dalam tinjauan ‘ilmu, hadîts al-Âhâd ini banyak diperselisihkan oleh para ‘ulama. Kita lihat beberapa pendapat diantaranya yaitu:

Ibnu Hajar menuliskan bahwa hadîts al-Âhâd men-faidah-kan al-Ilma an-Nazharî. Hal ini dengan qarâin (atas yang mukhtâr). Dan qarâin tersebut adalah:

  • Al-Ahâdîts yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari apa-apa yang tidak mencapai derajat al-Mutawâtir.
  • Mutabâyinah sâlimah dari dha’fi al-Ruwâh dan al-‘illal.
  • Al-Musalsal dengan al-Aimmah al-Huffazh yang diyakini (diakui)
    Mutaqaddim ahlu al-Hadîts dan ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah memandang bahwa hadîts al-Âhad yang shahîh pada sanad dan diriwayatkan oleh yang ‘adil dan dhâbith dari yang semisalnya (‘‘adil dan dhâbith) sampai keakhirnya dan tidak ada cacat dan tidak ada yang menganjil, maka hadîts tersebut men-faidah-kan al-‘Ilmu al-yaqini dan al-‘Amal sekaligus. Artinya bahwa dia adalah qath’iyyah al-Tsubût seperti hadîts al-Mutawâtir.

Ibnu shalâh menegaskan bahwa hadîts-hadîts yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhârî dan Muslim atau salah satu dari keduannya, maka dipastikan ke-shahîh-annya dan al-‘llmu al-Qath’î.

Dan sebagian al-Huffâzh al-Mutaakhkhirîn menukilkan seperti perkataan Ibnu al-Shalâh diantara;

  • Al- Syafi’iyah seperti: Abu Ishâq , Abu Hâmid al-Isfarâyinî , al-Qâdhî Abu al-Thayyib dll
  • Al-Hanafiyah seperti al-Sarkhasî
    Al-Malikiyah seperti Al-Qâdhî Abdul Wahab
  • Al-HaNabilah seperti Abu Ya’lâ, Abu al-Khithâb serta Ahl al-Hadîts secara umumnya.

Dan ada yang berpendat bahwa hadîts al-Âhâd itu hanya men-faidah-kan azd-zhan dan tidak di jadikan hujjah dalam ‘aqîdah seperti al-Ghazâlî, namun pendapat ini di radd oleh DR Rabî’ bin Hâdî al-madkhali dalam salah satu kitabnya

||| Baca, Megenal Pola Dasar Ilmu Takhrij

Memang Para Ulama berselisih pada hadîts al-Âhâd, apakah ia mem-faidah-kan al-‘Ilm al-Yaqînî atau al-Zhannî, sekalipun sepakat atas beramal dengannya.

Imam Ahmad dan Daud al-Dhâhirî dan ibn Hazm serta jama’ah dari Ahl al-Hadîts berpendapat bahwa hadîts al-Âhâd adalah men-faidah-kan al-‘Ilm dan wajib beramal dengannya. Sedangkan al-Hanafiyah, al-Syafi’iyah dan jumhur al-Malikiyah berpendapat bahwa ia adalah al-Zhan, namun juga wajib ‘amal dengannya”.

Memang, kajian pokok dalam bagian ini adalah tinjauan al-‘Ilm dari hadîts al-Âhâd ini, dan kedudukannya dalam ‘aqîdah, bukan masalah diamalkan atau tidak, namun kenapa ini juga ditulis, dikarenakan ada beberapa ‘amal yang didalamnya mengandung permasalahan ‘aqîdah seperti do’a sebelum salam pada shalat. Dan silahkan dilihat bahwa sekalipun ia mem-faidah-kan al-Zhan, ‘ulama sepakat untuk menerimanya, termasuk dalam ‘aqîdah kecuali al-Rafidhah, al-Qadariyah dan al-Mutakallim al-Jubbâ’î.

Pendapat Para Ulama Dalam Berhujah Dengan Hadits Ahad Dalam Aqidah
Secara garis besarnya terbagi kedalam dua madzhab.

Madzhab Pertama : Madzhab yang berhujah dengan hadits ahad dalam aqidah

Madzhab Kedua : Madzhab yang tidak berhujah dengannya.

Perselisihan ini timbul karena perbedaan argumen yang mereka yakini, kelompok pertama mengatakan bahwa hadits ahad itu yufidu al ilmi sedangkan kelompok yang kedua mengatakan yufidu adz dzoni, maka dari sinilah umat islam berselisih yang mana sebelumnya bersatu untuk menerima khobar ahad yang ‘adil dan menjadikannya sebagai pegangan hidup baik dalam syari’ah maupun aqidah.

Kebanyakan orang telah keliru dengan berdalih bahwa jumhur ulamapun tidak berhujah dengan hadis ahad dalam aqidah, adapun dalil yang mereka jadikan pegangan untuk menolak hadits ahad “bahwa hadits ahad itu tidak menberikan sifat melainkan dzon.

Alloh SWT. Berfirman:

إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون

إن الظن لا يغنى من الحق شيئا

Dan apakah benar dakwa yang mereka kemukakan bahwa jumhur ulama mengatakan demikian disebabkan khobar ahad laa yufidu illa adz dzon.

Madzhab ketiga: Ulama yang mengatakan bahwa jumhur ulama tidak berhujah dengan hadits ahad.

Umar Sulaiman Al asyqor menukil perkataan beberapa ulama yang mengatakan bahwa jumhur tidak berhujah dengan hadits ahad diantaranya :

a. Badron Abu Al ‘ainain ia berkata : “Dan telah berpendapat jumhur Malikiyyah, HaNabilah, Syafi’iyyah dan Hanafiyyah bahwa khobar ahad itu yuujibul ‘amala duuna al ilmi [ushulul fiqh hal. 87].

b. Syekh Syaltut berkata : “dan sampai sinilah [keberadaan khobar ahad laa tufidu al yaqin] Imam yang empat berpendapat : Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad dalam salah satu riwayatnya, dan telah datang dalam riwayat yang lain yang menyalahinya, maka berkatalah Pensyarah shohih muslim Ats tsubut mengenai riwayat itu [dan perkataan ini tidak mungkin datangnya dari dia karena sesungguhnya ini benar-benar takabur], dan berkata Al bazdawi: [adapun dakwaan yakin – yang ia maksudkan hadits ahad – maka tidak benar karena secara nyata tertolak, dan ini disebabkan khobar ahad memiliki kemungkinan-kemungkinan, dan tidak ada keyakinan yang disertai dengan kemungkinan, dan barang siapa yang menolak hal ini maka sungguh telah bodoh dan akalnya telah sesat”.

Kemudian dia menukil dari Al asnawi, Al ghozali, dan Al bazdawi bahwa mereka berpendapat laa yufidu al ilmi bahkan yufidu dzon. dan Pembuat syari’at hanya saja membolehkan adz -dzon dalam masalah amaliah…”.

Ulama-ulama yang berhujah dengan hadits ahad dalam aqidah

1. Masa Shabat dan Tabi’in

Imam Syaokani berkata dalam : “Dan diantara ijma Shahabat dan Tabi’in adalah istidlal dengan khobar ahad, dan hal itu tersebar luas dan tidak ada seorangpun yang mengingkarinya, dan sekiranya ada yang mengingkari khobar itu maka akan sampai kepada kami, hal itu sudah merupakan pengetahuan yang biasa dikarenakan kesepakatan mereka seperti perkataan yang jelas.

Berkata Ibnu Daqiq [Dan yang mentela’ah khobar Nabi SAW. , Shahabatnya, Tabi’in serta Jumhur Umat,selain golongan yang sedikit, maka hal itu diketahui secara qot’i”.

2. Pendapat para Imam yang empat

a). Abu Hanifah
Berkata Syekh Muhamad Abu Zahro : “Hadits masyhur3 menurut Abu Hanifah dan Shahabatnya yufidu al ilmi al yaqien , tapi dibawah derajat yang mutawatir, dan kadang kadang melebihi terhadap al qur’an”

b). Imam Malik bin Anas
Ibnu Hazm berkata : “Dan telah berkata Abu Sulaiman dan Hasan dari Abu Ali al karobisi dan dari Al harits bin Asad al muhasibi dan dari yang lainnya, bahwa khobar ahad yang adil itu dari yang semisalnya sampai kepada Rosul SAW. wujubu al ilmi wal amal dan kamipun mengatakan demikian, sungguh Ahmad bin Ishaq [yang dikenal dengan Ibnu Khowaiz Mindad] menyebutkan perkataan itu dari Malik bin Anas

c). Imam Syafi’i
Berkata Syekh Salim al hilali “Imam Syafi’i telah membahas masalah ini dan mencantumkannya pada sub judul Al hujjah fi tatsbiti khobari al waihid dan telah menyangka orang yang mengingkari kehujahan khobar ahad bahwa Imam Syafi’i menolak khobar ahad dalam aqidah karena dia tidak menulis hadits satupun dalam aqidah.

Saya katakan ini adalah hujah yang salah dari beberapa sisi :

  • Tidak boleh menasabkan satu ucapanpun kepada Imam Syafi’i yang ia tidak katakan secara jelas.
  • Dalil yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i bersipat umum, maka wajib dibawa perkataan itu pada keumumannya. Telah berkata Ibnu al qoyyim dalam mukhtashor ash showaiq al mursalah hal. 435 [ Dan sungguh Imam Syafi’i telah berdebat dengan ahli zamannya dalam permasalahan ini Imam Syafi’i mempergunakan hujah musuhnya dan telah mencantumkan dalam ar risalah satu bab yang mana dia memaparkan dengan panjang lebar dalam menetapkan khobar ahad, dan menyatakan telah keluar dari ketaatan Alloh dan Rosulnya orang yang menolak khobar ahad, dan dia tidak membedakan dan tidak pula seorangpun dari ahli hadits antara hadits ahkam dan hadits sifat, hal ini tidak dikenal dizaman Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in, hanya saja dikenal dari pemimpin-pemimpin ahli bid’ah dan pengikut-pengikutnya.
  • Imam Syafi’i meriwayatkan kisah Sa’id bin jubair tentang pendustaan Ibnu Abbas tehadap Nuf al bakali [hal. 242] [Telah meriwayatkan Sufyan dari Amer dari sa’id bin jubair ia berkata : “saya katakan pada Ibnu Abbas bahwa Nuf al bakali menyangka bahwasanya Musa temannya Khidlir bukan Musa bani isroil” maka berkata Ibnu Abbas “telah berdusta musuh Alloh. Telah mengkhabarkan kepadaku Ubay bin Ka’ab ia berkata [Rosul SAW berkhutbah kemudian dia menyebutkan cerita Musa dan Khidlir, itu sesuatu yang menunjukan bahwasanya Musa itu teman Khidlir].

Kemudian dia berkata [Imam Syafi’i] Ibnu Abbas dengan kefaqihan dan kewaroannya telah menerima khobar dari ubay bin Ka’ab yang ia terima dari Rosul SAW. sehingga dia mendustakan salah seorang muslim …”. Berkata Syekh Al albani dalam Al hadits hujatun binafsihi fil aqo’id wal ahkam hal. “

Ucapan ini dari Imam Syafi’i merupakan suatu dalil bahwa dia tidak membedakan antara aqidah dan mu’amalah dalam berhujah dengan hadits ahad karena keberadaan Musa [teman Khidlir] dalam permasalahan ‘ilmiyyah bukan masalah muamalah hal itu jelas sekali”.

d). Imam Ahmad bin Hambal
Umar sulaiman Al Asykor menukil dari kitab Al Masudah karya Aali Taimiyyah hal. 242 bahwa Abu Bakar Almaruzi Telah berkata “Saya katakan kepada Abu Abdillah [Ahmad bin Hambal] disini orang –orang berkata [inna al khobaro yujibu ‘amalan wala yujibu ‘ilman] mesti diamalakan yang berkaitan dengan Syariah dan tidak diyakini yang berkaitan dengan Aqidah, maka ia berkata aku tiadak tahu apa-apaan ini” Pengarang berkata “ secara Dzohir ia mensamakan antara amalan dan keyakinan.

Al Qodli berkata dan ia telah berkata dalam riwayat Hambal berkenaan dengan hadits ru’yah [kami mengimaninya dan kami mengetahui bahwa itu adalah benar dan itu adalah qot’i atas dasar ilmu]”, maka coba perhatikan Imam Ahmad menjelaskan hal itu dari satu sisi dan menerima hadits ahad yang bercerita tentang Aqidah dari sisi yang lain.

Ibnu Qoyyim telah menyatakan lemah riwayat yang lain yang disebutkan oleh sebagian haNabilah dan diriwayatkan oleh sebagian Ahli Ushul yang mana Imam Ahmad berpendapat bahwa hadits ahad [laa tufidu al ilmi], maka berkata Ibnu Qoyyim : “Adapun riwayat Al atsrom dari Imam Ahmad bahwa dia tidak bersaksi atas Rosul S.A.W dengan hadist ahad dan mengamalkan khobar itu

Riwayat dia itu telah menyendiri dan bukan dan bukan pada permasalahan tersebut , dan tidak ada dalam kitab As Sunnah melainkan Al Qodli menemukan dalam kitab Ma’ani Al Hadits dan Al Atsrom tidak menyebutkan bahwa dia mendengar darinya , bahkan kanyanya ada yang menyampaikan padanya dari orang yang tidak dikenal , dan tidak pula diriwayatkan dari Ashabnya tentang hal itu, Bahkan riwayat yang shohih bahwa dia [Imam Ahmad] menjazemkan kesaksiannya atas 10 orang [Shohabat] yang masuk surga dan khobar itu adalah khobar ahad [Ashowaiq al mursalah 2/474].

3. Pendapat Para Imam yang lainnya Pasca Imam yang empat

a). Ibni Hazm Adz Dzohiri [384 – 456 H.]
Setelah dia menyebutkan ulama yang lain bahwa khobar ahad itu يوجب العلم و العمل معاmesti diamalkan dan dijadikan sebuah keyakinan, kemudian dia berkata : “Dan kami juga mengatakan demikian”

b). Ibnu Sholah As Syafi’i [577 – 643 H.]
Ibnu Sholah berkata dalan kitabnya yang berjudul ‘Ulumul Hadits : “Dan bagian ini [Hadits Muttafaq alaihi] semuanya qot’i keshohihannya dan Al Ilmu An Nadzori pun terjadi padanya berbeda dengan perkataan yang menafikan akan hal itu dengan berhujah bahwasanya ia itu tidak memberikan melainkan Dzon dan hanya saja umat telah menerimanya disebabkan wajib atas mereka mengamalkan atas dasar Dzon, dan Dzon kadang-kadang salah.

Dan sungguh dulu saya condong pada pendapat ini, dan saya kira ini pendapat yang kuat tapi kemudian jelaslah bahwa madzhab yang kami pilih ialah yang pertama. Itulah yang shohih karena Dzon dari yang dima’shum dari kesalahan tidak akan salah, dan oleh karena itu ijma yang dibangun atas dasar ijtihad adalah hujah yang qot’i, dan kebanyakan ijma ulama juga demikian, ini adalah catatan yang berharga sekali, dan diantara faidahnya adalah : perkataan apa-apa yang menyendiri Bukhori atau Muslim dalam [periwayatannya] berada dalam keshohihan yang kot’i disebabkan ulama telah menerimanya.

c). Ibnu Taimiyyah
Beliau berkata dalam Majmu Fatawa: “ Dan khobar ahad yang umat menerimanya mesti diyakini menurut Jumhur Ulama dari Ashab Abu Hanifah, Malik , Syafi’i dan Ahmad dalam salah satu ucapannya, begitu juga mayoritas Asy’ari diantaranya Al Isfiroini dan Ibnu Foruk.

d). Ibnu Hajar Al Asqolani [773 – 852]
Ibnu Hajar berkata dalam kitab Nuzhatu An Nadzor “Dan kadang –kadang terdapat perbedaan padanya [khobar ahad yang dibagi kedalam tiga bagian : Masyhur, ‘Aziz dan Ghorib] ada yang memberikan Al Ilmu An Nadzori disebabkan ada qorinah-qorinah, dan khobar yang disertai qorinah ada beberapa macam diantaranya: apa yang dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim yang tidak mencapai batasan Mutawatir, maka hadits itu telah disertai qorinah – qorinah diantaranya keunggulannya dibidang ini, dan didahulukannya atas hadits shohih yang lain dan Ulama mengkaji kitab keduanya dalam keadaan menerima , sifat seperti ini sendiri lebih kuat dari Ifaadatu Al ‘Ilmi dari banyak jalan yang dibawah derajat Mutawatir”.

e). Imam As Syaokani [1173 – 1250 H.]
Ia berkata dalam Irsyadu Al Fuhul “ Ketahuilah bahwasanya perbedaan yang kami sebutkan pada awal pambahasan ini apakah khobar ahad memberikan Dzon atau Ilmu digarisi yaitu dengan khobar ahad yang tidak disertakan dengan penguatnya, adapun apabila disertai dengan penguatnya, atau keadaan khobat itu Masyhur, atau Mustafidz maka ia itu tidak ada pertentangan, dan tidak ada pertentangan pada khobar ahad apabila telah terjadi ijma untuk diamalkan sesuai dengan kendungannya, maka ia itu Yufidu Al Ilmi karena ijma telah menjadikan nya dipercayi dan diantara bagian ini adalah hadits Bukhori dan Muslim karena Umat Telah Menerimanya”.

4. Pendapat Ulama Masa Sekarang

Ulama yang berpendapat wajibnya berhujah dengan hadits ahad dalam aqidah pada masa ini diantaranya :

a). Syekh Muhamad Nashiruddin Al Albani, dan beliou juga memiliki kitab dalam masalah ini yang berjudul Wujubul Akhdi bihaditsi Al-ahad.

b). Syekh Muhamad Sholeh Al Utsaimin. Ia berkata dalam Izaalatu As Sitar ‘An Jawabi Al Mukhtar. Jawaban kami terhadap orang yang berpendapat bahwa hadits ahad tidak dijadikan hujah dalam Aqidah disebabkan hanya bersifat dzon , kami katakan pendapat ini tidak benar karena dibangun pada alasan yang tidak benar”.

Setelah kita memperhatikan pendapat para Ulama diatas dari awal sampai akhir jelaslah bahwa madzhab yang kedua telah keliru ditinjau dari beberapa sudut :

1. Menisbahkan pada jumhur Ulama bahwa mereka tidak berhujah dengan hadits ahad dalam Aqidah , tapi ternyata tidak begitu baik Imam yang empat maupun yang lainya. Terlebih lagi dimasa Shohabat dan Tabi’in tidak dikenal Akan hal itu.

2. Mereka menolak Hadits Ahad secara keseluruhan tanpa memandang apakah ada qorinah yang menguatkannya atau tidak, sedangkan yang benar adalah bahwa jumhur berhujah dengan hadits ahad dalam Aqidah dan yang diperselisihkan oleh para Ulama adalah hadits ahad yang tidak ada yang menguatkannya, sebagaimana yang dapat kita pahami dari perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam Syaokani dan yang lainnya.

Sekitar makna dzon dan jawaban terhadap madzhab yang tidak berhujah dengan hadits ahad

Pada awal pembahasan, madzhab-madzhab yang tidak berhujah dengan hadits ahad baik dalam aqidah dan syari’ah atau dalam aqidah saja, mereka berhujah dengan ayat yang melarang untuk mengikuti yang dzon dan dengan ayat ayat yang lainnya.

Secara etimologi dzon adalah mengetahui sesuatu tanpa didasari dengan keyakinan dan kadang kadang mempunyai arti mengetahuinya dengan keyakinan, maka tidak tepat kalau semua dzon yang ada dalam Al-Qur`andiartikan [mengetahui sesuatu tanpa didasari keyakinan / keragu-raguan]

Alloh Swt. berfirman :

الذين يظنون أنهم ملاقوا ربهم وأنهم إليه راجعون

Karena tidak mungkin dzon disana, diartikan sebagai sifat keragu-raguan dari orang-orang yang khusyu, Al qurtubi berkata berkenaan dengan ayat ini : “Dan dzon disini menurut perkataan jumhur berarti al yaqien, dan diantaranya firman Alloh Swt. :

إني طننت أني ملاق حسابية

  فظنوا أنهم مواقعوه

Ayat yang menyatakan bahwa dzon tidak memberikan sedikitpun kebenaran adalah dzonnya orang –orang yang kafir ketika mereka menyembah tuhan-tuhan mereka, begitu juga pengikutnya taqlid terhadap pemimpin-peminpinnya,maka Alloh SWT. berfirman :

إن الظن لا يغنى من الحق شيئا

Sesungguhya dzonnya mereka itu tidak memiliki kebenaran sedikitpun.

Jawaban terhadap perkataan “ dan Pembuat syari’at hanya saja membolehkan adz -dzon dalam masalah amaliah…”. Kalaulah perkataan ini disertai dalil dari Al-qur’an atau Al-hadits yang menujukan adanya perbedaan antara aqidah dan amaliah dalam beristidlal dengan hadits ahad pastilah argumen ini kuat.

Syekh Utsaimin berkata dalam izâlatu as-sitar hal. 133 “Apabila kita katakan bahwa aqidah tidak kokoh/tidak sah dengan hadits ahad, maka ahkam amaliyyah juga tidak kokoh/tidak sah dengan hadits ahad, karena ahkam amaliyyah itu disertai dengan aqidah [keyakinan] bahwa Alloh menyuruh ini atau melarang dari ini, apabila ucapan ini diterima maka hukum-hukum syariah akan banyak terbuang, dan jika ucapan ini ditolak maka tolaklah maka tolaklah ucapan bahwasanya aqidah tidak sah dengan khobar ahad karena tidak ada perbedaan sebagaimana telah kami terangkan”.

Hakikat Madzhab-Madzhab Ulama

Madzhab Pertama: Mereka mengataka bahwa hadits ahad itu yufidu dzon dan tidak menjadikan hadits ahad sebagai hujah baik dalam syari’ah maupun aqidah

Madzhab Kedua: Mereka mengatakan bahwa hadits ahad itu yufidu dzon berhujah dalam syariah dan tidak berhujah dalam aqidah

Madzhab Ketiga : Mereka mengatakan bahwa hadits ahad itu yufidu dzon tapi mereka menjadikannya sebagai hujah dalam aqidah

Madzhab Keempat : Mereka mengatakan bahwa hadits ahad itu yufidu al ilmi dan menjadikannya sebagai hujah dalam beberapa hal
Madzhab Kelima : Mereka mengatakan hadits ahad itu yufidu al ilmi dan menjadikannya dalam aqidah sebagai hujah secara mutlaq

Madzhab yang pertama adalah madzhad khowarij dan Mu’tazilah adapun alasan yang mereka kemukakan bahwa hadits ahad itu yufidu dzon , maka jika demikian maka kita dilarang untuk mengikutinya begitu juga Alloh swt. Melarang untuk mengikutinya, Alloh swt. berfirman :

 إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون

   ولا تقث ما ليس لك به علم

Madzhab yang kedua mereka berpandangan bahwa hadits ahad itu yufidu dzon maka dari situlah mereka tidak berhujah dalam aqidah dan hanya berhujah dalam syariah saja, adapun alasan yang mereka kemukakan sama dengan madzhab yang pertama, mereka mengatakan bahwa hadits itu laa yufidu al ilmi disebabkan ada ayat yang melarang dari mengikuti yang dzoni dan ayat yang mengkhabarkan bahwa dzon tidak memberikan kebenaran sedikitpun. Maka hujah yang mereka pergunakan sangat bertentangan sekali karena nash-nash yang mereka jadikan pegangan melarang untuk mengikuti dzon baik dalam syariat maupun dalam aqidah.

Adapun yang mengatakan demikian adalah sekelompok kecil dari ahli hadits yangterkemudian begitu juga ulama ushul dan ulama al kalam al mutaqodimiin dan masa sekarang banyak yang mengatakan demikian sehingga mereka yang tidak mengetahui menyaka hal ini sebagai ijma.

Madzhab yang ke tiga : Perbedaan antara mereka dan antara yang mengatakan hadits ahad yufidu al ilmi adalah hanya perbedaan tiori saja karena pada kenyataannya tidak ada pengaruhnya, dan dintara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abdi al barri , ia mengatakan innahu yujibul ‘amal duna al ilmi kemudian dia berkata “ dan mereka semuanya berpandangan bahwa khobar ahad yang adil dijadikan hujah dalam syari’ah, hukum agama, dan keyakinan . Dan itu adalah keyakinan Ahlussunnah wal jama’ah.

Madzhab yang ke empat : Mengatakan bahwa hadits ahad itu yufidu al ilmi, dan mereka berhujah dalam aqidah dengannya dalam keadaan sebagai berikut :

  • Apabila hadits itu terdapat dalam Bukhori dan Muslim, atau pada salah satunya dan diantara ulama yang berpendapat demikian antara lain: Ibnu Sholah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dan Ibnu Taimiyyah.
  • Umat menerimanya [talaqqohu al ummah bil qobuul]. Ibnu al Qoyyim berkata dalam ash showaiq al mursalah [2/475] : “ Dan telah berkata Syekh Abu Ishaq Asy syirozi dalam kitab-kitab ushulnya seperti kitab at tabshiroh,dan syarah lam’i dan yang lainnya, dan ini lafadznya dalam syarah itu [ Khobar ahad apabila umat menerimanya maka khobar itu yujibul ‘ilmi wal ‘amal…] dan tidak terceritakan adanya pertentangan diantara ashab syafi’i, dan Al Qodli Abdul Wahab dari madzhab malik juga telah menceritakan perkataan ini dari sekelompoh ahli fiqih, dan telah terang-terangan para ulama yang bermadzhad hanafi dalam kitab-kitabnya bahwa khobar mustafidl itu yujibu al ilmi” .
  • Apabila sanadnya tersusun oleh para Imam yang hafidz[Al musalsal bil huffadz al aimmah]. Seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari nafi dari Ibnu Umar, apabila sanad-sanadnya seperti ini maka haditsnya yujibu al ilmi al ilmi al yaqini .

Madzhab kelima : Mereka mengatakan bahwa hadits ahad itu yufidu al ilmi dan mereka menjadikanya sebagai hujah secara mutlaq dan diantara ulama yang berpendapat demikian antara lain : Daud Ad dohiri , Ibnu Hazm, Ibnu Tohir Al maqdisi, Al husain bin Ali Al karobisi, Al harits bin Asad Al muhasibi, dan ini adalah perkataan Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad. Dan diantara ulama kontemporer yang memilih pendapat ini Syekh Ahmad Syakir dan Syekh Al albani. Syekh Ahmad Syakir berkata dalam Mukhtashor “ulumi Al hadits hal. 37 “Dan yang benar yang dirojihkan oleh dalil-dalil adalah pendapat Ibnu Hazm dan orang yang berkata seperti perkataannya bahwa hadits shohih yufidu al qo’i sama saja apakah hadits itu ada di shohihain atau ada pada yang lainnya, dan ini adalah al ‘ilmu al yaqini nadzori burhani …”.

Dalil-Dalil Al-Quran Tentang Kehujatan Khabar Ahad

قال الله تعالى ( وما كان المؤمنون لينفروا كافة فلو لا نفر من كل فرقة منهم طا ئفة ليتفقهوا فى الدين و لينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون ) التوبة : 122

قال الله تعالى ( يا ايها الذين أمنوا ان جا ءكم فاسق بنباء فتبينوا أن تصيبوا قوما بجها لة فتصبحوا على ما فعلتم نا دمين) الحجرات:8

قال الله تعالى ( فجاءته احداهما تمشى على استحياء قالت ان أبي يدعوك ليجزيك اجر ما سقيت لنا فلما جاءه وقص عليه القصص قال لا تخف نجوت من القوم الظا لمين ) القصص :25

Dalil-Dalil Dalam Sunnah Tentang Kehujjahan Khobar Ahad

قال صلى الله عليه وسلم : ( نضر الله امرءا سمع منا حديثا فبلغه غيره
دعا صلى الله عليه وسلم بنضارة الوجه المنبئة عن رضوان الله تعالى ,دعا بذلك لمن بلغ عنه حديثا , وهذا يدل على قيام الحجة بخبر الواحد

قال الشافعى : اخبرنا مالك عن عبد الله بن دينار عن ابن عمر قال : حينما الناس بقباء في صلاة الصبح, اذاتاهم آت فقال : ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قد انزل عليه القران وقد امر ان يستقبل القبلة فاستقبلوها , وكانت وجوههم الى الشام فا ستداروا الى الكعبة

وأهل قباء اهل سا بقة من الأنصار وفقه وقد كانوا على قبلة فرض الله عليهم استقبالها ,ولم يكن لهم ان يدعو فرض الله في القبلة الا ان تقوم عليهم الحجة ولم يلقوا رسول الله عليه وسلم ولم يسمعواما نزل الله عليه في تحويل القبلة فيكونون مستقبلين بكتاب الله وسنة نبيه سماعا من رسول الله ولا يخبر عامة,وانتقلوا بخبر واحد ,اذا كان عندهم من اهل الصدق عن فرض كان عليهم , فتركوه الى ما اخبرهم عن النبي أنه احدث عليهم من تحويل القبلة . ثم يقول الشافعى : ولم يكونوا ليفعلوه-ان شاء الله بخبر الا عن علم بان الحجة تثبت لمثله ,اذا كان من اهل الصدق .

Dalil-Dalil Kehujahan Khabar Ahad Dalam Aqidah

1. Kalau kita katakan : bahwa permasalahan yang berkaitan dengan aqidah tidak bisa ditetapkan dengan khabar ahad, maka akan terjadi ikhtilaf pada kaum muslimin dalam masalkah wajib yang diyakininya.

Ketika seorang sahabat mendengar satu hadits tentang masalah aqidah dari rosulullah saw. maka wajib bagi dia untuk meyakininya. Sedangkan yang lainnya yang tidak mendengar hadits tersebut kemudian mereka yang setelah sahabat, maka tidak wajib bagi mereka untuk mempercayai atau meyakini hal terebut.

Sebagai contoh : salah satu hadits dari abi hurairah menyebutkan bahwa arosulullah saw. bersabda : Apakah salah saeorang diantara kalian selesai membaca tasyahhud akhir maka berlindunglah kepada Allah SWT swt. dari empat hal ; adzab jahanna, adzab kubur, fitnah hidup dan mati, dan dari kejahatan dajjal. ” Dikeluarkan oleh muslim dalam bab tasahud sub bab “hal hal yang diminta perlindungan dalam shalat jilid 1 hal 412.

Jadi orang yang mendengar dari rosulululah, maka wajib untuk mengimani adzab kubur dan datannya dajjal. Adapun yang tdak mendengarnya maka tidak diwajibkan untutk mengimaninya. Dengan demikian maka yang terjadi adalah perbedaan atau ikhtilaf kemauan diantara sahabat. Dan diantara sahabat dengan kita umat setelahnya, namuun demikian dengan kehujatan khabar ahad yang terjadi adalah kesepakatan semua dalam keimanan. Dan hal ini terjadi pula pada permsalahn ahkam. Dengan khabar ahad umat semuanya sepakat.

2. Pendapat yang mengatakan bahwa khabar ahad tidak bisa untuk menetapkan permasalah aqidah tidak bisa diterima dan tidak logis sebab kalau demikian, maka tatkala ada hadits hadits yang menjelaskan didalammnya permasalahan ahkam ada aqidah sekaligus, maka apakah yang diambil itu jhanya ahkamnya saja sedang yang berkaitan tentang aqidah ditinggalkan ?tentu saja tidak demikian sebagai contoh dalam hadits tersebuat yang diatas apakah yang diambil dari hadits tersebut hanya yang berhubungan dengan hal yang ada kaitannya dengan tasyahud saja, sedangkan yang berhubungan dengan iman terhadap adzab jahannnam adzab qubur dan dajjal tidak ?! .

Ketika rosulullah saw mengirim utusannya keberbagai negri untuk menyampaikan risalah dakwahnya , mereka yang diutus adalah ahad sendiri sendiri sedangkan yang disampaikannya itu adalah risalah islam yang kamil ,aqidah syari’ah ,akhlaq dan yang lainnya ini menunjukkan bahwa khobar ahad diamalkan dalam segala hal ,aqidah ahkam, dan segala macam yang terkait dengan dien islam.

Sebagia contoh : hadits Muadz bin jabal, ia mengatakan: rosulullah saw mengutusku seraya berwasiat sebelum berangakat .”sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum ahli kitab maka serulah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan sesunguhnya aku adalah utusanNya .

Apabila mereka menuntut dan menerimanya , maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT swt telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam satu hari satu malam , dan apabial mereka menta’ati dan menerimanya maka beritahukanlah kepada mereak bahwa Allah SWT swt telah mewajibkan kepada mereka (yang kaya) sodaqoh untik diberiakn kepada para faqir miskin …( dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam bab iman sub bab da’wah kepada dua kalimat syahadat dan syaria’at islam jilid 1 hal 50 .

3. Para iamam ulama ummat ini telah bersepakat dan bersaksi dalam kehujahan khobar ahad ini dalam masalah aqidah. Mereka menulis dalam buku -bukunya , seperti Imam Bukhori ,Muslim ,Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah Abu Dawud ,At-Tirmidzi ,An-Nasai, Ibnu Majah ,berdasarkan khobar -khobar yang ahad , diantara contoh kitabnya adalah :

1. Al-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah
2. Al-Iman karya Ibnu Maudah
3. Al-Iman karya Abi Syaibah
4. Al-Dalail Annubunwwah karya Al-Baihaqi
5. Al-Ba’ts karya Al-Baihaqi
6. Al-Asma wasshifat Al-Baihaqi
7. Al-I’tiqod karya Al-Baihaqi

Semua karya atau kitab- kitab tersebut tidak menyaratkan bahwa hadits-haditsnya harus mutawatir , ini menunjukkan bahawa hadits-hadits yang ahad merupakan hujjah dalam permasalahan aqidah sebagaimana pada dalam ahkam.Dalam baba shoheh Bukhori ada bab-bab yang terkait dengan aqidah , misalnya : bab iman , bab al-anbiya , bab alqodar ,bab ali’itishom bilkitab wassunnah dan bab tauhid kesemuanya ini bersandar atau berdasarkan khobar khobar yang ahad.

Imam Bukhori ingin menetapkan dengan hal-hal tersebut bahwa khobar Muslim yang ahad diterima dan jadi hujjah ,dan tak perlu mencari riwayat lain selama rowi tersebut shoduq ,walaupun tidak bermaksud menetapkan khobar dan sedikit daripada yang mutawatir,namun sekali lagi untuk mempertegas bahwa khobar sesesorang yang ahad bisa menjadi hujjah ataupun kalau memang lebih dari ahad atau sampai mutawatir maka itu lebih afdhol ( min bab aula).

Dan diperjelas dari tarjamah Al-Bukhori( dalam fathul Bari)

ما جاء فى اجارة خبر الواحد الصدوق فى الاذان

Bahwa hadits ahad adalah sebagai hujah ddalam ahkam, sedangkan yang wajib berpendapat bahwa hadits hadits yang berhubungan dengan aqidah tidak sah kalau berdasarkan hadits hadits yang gharib atau bersendiri dalam meriwayatkannya harus ada riwayat dari yang lainnya atau dari jalan yang lainnya.

Hal ini terjawab dengan pendapat al-Bukhari diatas dan ternyata yang sependapat dengan imam al-Bukhari tidak hanya beliau saja yang menetapkan hadits hadits ahkam saja dan hadits aqidah dengan tanpa mensyaratkan harus dengan mutawatir.
Hal-hal ini bisa dibaca pula dalam kitab “Asma wassifat” karya al-BAihaqi juga Imam muslim dalam kitab “al-Iman” kitab al-Qodr”, kitab al-iman) juga yang ada dalam sunan at-Tirmidzi dan an-Nawawi. Bahkan juga syekh Assaati ketika menyusun musnad Ahmad dalam beberapa maudhu beliau mengeumpulkan hadits hadits yang sangat banyak dan membawanya kedalam bab bab “tauhid, al-Iman wal Islam, al-Qodr, al-I’tisam bil kitab wasunnah).

Dan ternyata tidak didapatkan dalam buku buku sunnah ataupun hadits kecuali didalamnya mencakup hadits hadits tentang aqidah yang ahad. Para Imam dan Ulama beruat demikian kareena berkeyakinan bahwa hadits hadits ahad tersebut merupakan hujahbuat dalam aqidah juga dalam semua syariat Islam.

Sejarah Munculnya Pengingkaran Terhadap Hadits Ahad

Ketika rasulullah saw masih hidup, tidak didapati seorang pun yang mendustakan atau mengingkari alhadits alnabawi, karna mereka –kaum munafikin- takut jikalau turun wahyu yang membongkar kedustaan mereka.

Begitu juga dizaman khulafa’urrasyidin –abu bakar, umar, utsman, ataupun ali R.A -, karna mereka begitu ketat menerima alhadits yang diriwayatkan oleh orang dimasa mereka, yang kita kenal dengan manhaj taqlil alriwayat.
Sejarah mencatat, para ulama menghitung awal munculnya hadits palsu bermula pada tahun 41 hijriah.
Adapun pengingkaran sebagian orang terhadap hadits ahad terhitung –dlm sejarah islam- bermula pada abad ke dua hijriah dimasa pemerintahan bani abbasiah, ketika semaraknya penterjemahan buku-buku pemikiran yunani kedalam bahasa arab, bermula dari sinilah banyak umat islam yang berhaluan rasional dalam memandang agama islam ini.

Pada abad kedua inilah muncul penolakan –sebagian umat islam- terhadap hadits-hadits ahad yang bersangkutan dengan aqidah islamiah, bahkanyang bersangkutan dengan fiqih pun ditolak bila bertolak belakang dengan qiyas aqli –rasional- penolakan ini banyak datang dari kaum mu’tazilah.
Tapi hal ini masih bisa terbendung dimasa imam mazhab yang empat dan para imam muhadditsin .

Setelah generasi mereka berlalu, maka penolakan terhadap hadits ahad yang digenderangkan oleh ulama filsafat islam makin merajalela, antara lain : al-farobi ibnu sina dan imam Ghozali.
Akan tetapi mereka tidak menolak secara langsung nash-nash hadits tersebut melainkan mentakwilkannya, hal ini terbatas pada hadits-hadits ahad yang berkenaan dengan aqidah.

Ibnu sina ketika mentakwil hadits-hadit ahad tersebut berkata : “maksud dari hadits-hadits ini tidak demikian bila di pandang dengan pandangan yang rasional…, karna agama –alhaq- yang benar tidak datang dengan aqidah-aqidah yang batil”.

Kemudian datang zaman imam fakhrurazi, dalam hal ini beliau juga lebih mengedepankan akal –rasio- Jika ada nash-nash yang bertentangan dengan akal, dan beliau mentakwil nash-nash tersebut secara rasional. Begitu juga dengan syekh Muhammad SAW abduh, pandangan beliau dalam hal ini sama dengan imam fakhrurazi. Yang kemudian dilanjutkan oleh syekh Muhammad SAW ghozali.

Akan tetapi yang perlu menjadi catatan kita, bahwasanya mereka pada mulanya berniat ingin membantah syubhat-syubhat yang datang dari luar islam, akan tetapi disadari atau tidak mereka terjatuh kedalam hal pengingkaran terhadap hadits ahad yang berkenaan dengan aqidah.

Macam-Macam Hadits Ahad yang di Ingkari

1. Kenabian Adam as, juga para Nabi yang lain yang tidak disebutkan didalam alquran.
2. Keutamaan Nabi Muhammad SAW saw dari Nabi-Nabi yang lain.
3. Syafaat uzhma beliau saw di padang mahsyar.
4. Syafaat beliau saw untuk umatnya yang melakukan dosa besar.
5. Semua mu’jizat beliau saw kecuali alquran.
6. Hadits-hadits yang berbicara tentang awal mula penciptaan mahluk, juga sifat malaikat, jin, surga, neraka, hajar alaswad yang dari surga.
7. Khushushiat beliau saw seperti pernah masuk sorga dan melihat isinya beserta penghuninya, dan masuk islamnya qorin beliau, dll.
8. Hadits-hadits yang menerangkan tentang sepuluh orang yang dijanjikan sorga.
9. Hadits tentang pertanyaan malaikat munkar nakir di dalam kubur.
10. Adzab kubur.
11. Penyempitan alam kubur.
12. Timbangan hari kiamat yang punya dua tempat timbangan.
13. Al-shirot.
14. Telaga rasulullah di akherat, dan yang minim dari nya seteguk saja tidak akan merasa haus lagi selamanya.
15. Hadits masuk surganya 70.000 umat islam tanpa hisab.
16. Pertanyaan Allah SWT kepada para Nabi tentang pen tabligan da’wah yang mereka emban didunia.
17. Sifat hari kiamat.
18. Hadits tentang taqdir yang telah tertulis.
19. Hadits tentang alqolam yang menulis segala sesuatu.
20. Iman terhadap alquran yang bahwasanya alquran adalah kitabullah hakikat bukan majaz.
21. Iman terhadap adanya arsy dan kursi hal yang nyata bukan majaz.
22. Hadits tentang orang yang melakukan dosa besar tidak kekal dineraka.
23. Hadits tentang arwah para syuhada berada disurga .
24. Hadits tentang para malaikat yang menyampaikan salam umat Nabi Muhammad SAW kepada beliau saw.
25. Hadits yang menerangkan bahwasanya Allah SWT memerintahkan kepada bumi agar tidak memakan jasad para Nabi.
26. Pengimanan terhadap tanda-tanda hari kiamat seperti lahirnya almahdi yang ditunggu, turunnya isa as ke bumi, keluarnya dajjal dari pulaunya, dll.
27. Hadits pecahnya umat islam menjadi 73 golongan.
28. Hadits tentang sifat-sifat Allah SWT spt sifat fauqiah, nuzul,dll.
29. Hadits mi’roj nya beliau ke langit ketujuh…

Contoh Nash Hadits Ahad yang diingkari

Hadits tentangn Syafaat

عن أنس ابن مالك –رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي ) رواه أحمد – حديث صحيح –
و في صحيح مسلم عن أنس رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ( انا أول شفيع فى الجنة

Hadits Adzab Kubur

قال رشول الله صلى الله عليه وسلم : ( تعوذوا بالله من عذاب القبر ,تعوذوا بالله من عذاب القبر, تعوذوا بالله من عذاب القبر


Daftar Pustaka

1. Muhamad ibn Ali ibn Muhamad As-saokani, Irsyaadu al-fuhul. Daru Al-fikr, Beirut, Libanon. 1997 Cet. 7

2. Umar Sulaiman Al asyqor, Al ashlu al-‘itiqod. Ad-dar As-salafiyyah, Kuwait. 1978 Cet. I

3. Muhamad Abu Zahro, Ushulul al-fiqh. Dar Al-fikr Al-araby, Cairo, Mesir. 1997
4. Ibnu Hazm, Al-ihkam fi ushulil ahkam.

5. Salim Al-hilali, Al adillah wa asy syawahid ‘ala wujubi al akhdzi bil khobari al wahid.

6. Ibnu Ash-sholah, ‘Ulumu al-hadits. Daru Al-fikr, Damaskus, Suria. 1998 Cet. III

7. Syekhul Islam Taqiyuddin Ahmad Ibn Taimuyyah Al-harrani , Majmu’ fatawa. Daru Al-wafa, Al-manshurah, Mesir. 2001 Cet. II

8. Ibnu Hajar Al-asqolani, Nuzhatu an-nadzor. Daru Al-fikr, Beirut Libanon. 1996

9. Muhamad Ibnu Sholeh Al-utsaimin, Izaalatu As Sitar ‘An Jawabi Al- mukhtar.Daru Ibnu Khuzaimah, Riyad, Al-mamlakah Al-arbiyyah As-su’udiyyah. 1998 Cet. II

10. Muhamad Ibn Abu Bakar Ar-rozi, Mukhtar as-shihah . Muassasah Ar-risalah, Beirut, Libanon. 1996

11. Majma’ Al-lughah Al-arabiyyah, Mu’jam al waziz. Wazarathu At-ta’lim, Mesir. 1991

12. Abdurrahman ibn An-nashir As-sa’di, Taisir Al-karim Ar-rahman fi Tafsir Kalam Al-mannân. Muassasah Ar-risalah, Beirut, Libanon. 2000 Cet.

13.

المدخل الى السنة النبوية بحوث فى القضايا الاساسية عن السنة النبوية ” تأليف ؛الأستاذ الدكتور الشيخ أبو محمد عبد المهدى عبد القادر بن عبد الهادى

14.

I مكتبة دار الأعتصام الطبعة الثانية 2000م-1422ه من الصفحة 284-295

15. Alaqoid ila tashhih al’aqoid- bab ketiga “alihtijaj bi alnushush alsyar’iyah fi al’aqo’id” karangan syekh abdurahman bin yahya alma’lami alyamani.

16. Muhammad al-ghozali yang saya kenal -Muhammad al-ghozali aladzi ‘aroftohu-, karangan doktor yusuf al-qordowi

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Yang Terhanyut Setelah Jatuh

Oleh: Amelia Ruu Adalah aku Buah yang jauh dari dekapmu, ibu Mengalir memburu hilir Tercekat melawan arus Dari hulu netramu yang menganak sungai Di kelopak...

Metode Istidlal Imam Abu Hanifah

Oleh: Anwar Musthafa Shiddiq MUQADIMMAH Islam adalah merupakan din yang syamil dan mutakamil. Disamping Islam merupakan sebuah solusi juga Islam merupakan suatu undang-undang yang validitasnya tak...

Muslim Harus Progres

Oleh : Muhammad Ghifari “Why was is that they were able to make progress while we became so backward? Why is that we , who...

Perang Salib dan Pengaruhnya Terhadap Peradaban Barat

Oleh : Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua abad perang ini selalu...

Menyingkap Tabir Gelap Alam Semesta

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar A. Pendahuluan قال تعالى :  سنريهم أياتنا فى الآفاق و فى أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق “kami akan memperlihatkan kepada mereka...

More Articles Like This