Saturday, August 8, 2020

Bagaimana Hukum Zakat Menggunakan Uang

Must Read

Hukum Sistem Jual Beli Dropship

Oleh: Sana Mulyna KATA PENGANTAR Segala puji hanya bagi Allah ‘azza wajalla ,Tuhan semesta alam yang telah memberikan Rahmat dan kasih...

Siapa sosok Ulama Mufassir Al-Fakhru Al-Razi

Oleh: Arif Rahman Hakim "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Pendahuluan Sebagai salah...

Muhammad Imarah dan Pembaharuan Islam

Oleh: Muhammad Ghifari Mesir merupakan negeri para nabi utusan Allah swt., berkali-kali nama tersebut sering diungkapkan dalam Al-Qur’an. Terlepas dari...

4.8
(29)

Oleh: Divisi Syariah-Dewan Lembaga Islamiyyah

Mukaddimah

Zakat adalah rukun ketiga dari rukun-rukun Islam yang lima, Rasulullah SAW bersabda:

بني الاسلام على خمس؛شهادة أن لااله الاالله وأن محمدا رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة والحج وصوم رمضان

Penempatan zakat pada urutan yang ketiga tidak berarti peranan zakat dalam agama lebih kecil nilainya dibanding shalat dan dua kalimat syahadat. Jika shalat sering digambarkan sebagai miftah (kunci), shalat sebagai ‘imadduddin ( tiang agama) maka zakat adalah qintharahnya (jembatan) dan urat syaraf dalam kehidupan umat.

Dengannya ash-shiddieq tidak segan-segan berkata : Demi Tuhan, aku akan perangi orang yang membedakan antara shalat dan zakat! . mengingkari kewajiban zakat adalah murtad, dan diberi kesempatan bertaubat selama tiga hari, jika tidak bertaubat maka ia wajib diperangi demikian kesepakatan para Sahabat RA .

Dari sekian banyak permasalahan yang berkaitan dengan zakat , kami akan berusaha membahas satu sisi penting yang kurang mendapat perhatian dimayoritas masyarakat muslim yaitu mengeluarkan zakat fitrah dengan uang ( nilai ).

Sungguh, tulisan sederhana ini tidak bermaksud untuk mengkaunter ”ijma’ulama” sebagaimana yang disangkakan oleh banyak orang, tetapi tulisan ini dimaksudkan untuk meluruskan pendapat yang mengatakan atau yang menyanggah bahwa zakat fitrah dengan mengeluarkan nilai adalah ijma’ bahkan sebaliknya ia bukanlah ijma’ melainkan hanyalah pendapat segelintir ulama.

Macam – macam Zakat

Zakat dalam nidhzam islami terbagi pada dua bagian : Zakat fitrah dan zakat mall.

Zakat Fitrah adalah zakat yang diwajibkan pada setiap individu muslim pada bulan ramadhan bagi orang yang memiliki bahan makanan pokok untuk menutupi kebutuhan orang-orang miskin pada hari ‘Ied. Sedang zakat mall adalah zakat yang kewajibannya sangat jelas termaktub dalam al-Quran , sedang As Sunnah An Nabawiyah sebagai penjelas batasan-batasan harta yang dikeluarkan. Proses zakat mall ini pada asalnya ditangani oleh pemerintah islami, namun jika disana belum terdapat nidhzam islami, maka zakat mall tersebut dapat ditangani langsung oleh individu muslim. Ukuran-ukuran yang dikeluarkan dalam zakat ini 2,5% sampai 1% tergantung pada jenis harta yang dizakatkan .

Definisi Zakat Fitri

Zakat berasal dari zakaa, yazkuu, zakaau, zakwaan yang bermakna tumbuh dan berkembang. Dan dipergunakan juga dalam arti at-thaharah (kesucian), al-barakat (kenikmatan) dan ash-shalahah (kebaikan) .

Sedang definisi zakat menurut syar’I adalah suatu hak yang wajib yang telah ditentukan pada harta tertentu, untuk disalurkan pada kelompok tertentu dan pada waktu yang tertentu pula . Zakat dalam arti demikian biasa disebut juga dengan zakat amwaal (zakat harta benda).

Adapun al-Fitru adalah lawan kata dari ash-shaum (puasa) yaitu berbuka.
Jika kalimat zakat disandarkan kepada kalimat al-fitru yaitu zakatul fitri maka ia memiliki definisi lain yang berbeda dengan definisi zakat sebelumya yaitu : zakat yang diwajibkan lantaran berbuka dibulan ramadlan, berbuka adalah sebab wajibnya . Zakat fitrah ini disebut juga dengan zakat abdan.

Hukum Zakat Fitri

Zakat fitri adalah fardhu, yang difardhukan oleh Rasulullah SAW kepada kaum muslimin, kewajiban ini dapat dilihat pada hadits-hadits berikut:

1. diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar RA :

أن رسول الله فرض زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمر او صاعا من شعير على كل حر او عبد ذكر او أنثى من المسلمين

2. diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Hakim dari Ibnu Abbas RA. :

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم …. الحديث

dan lain-lainnya dari hadits-hadits yang menunjukan, bahwa Rasulullah SAW; mewajibkan Zakat Fitri pada bulan Ramadhan. Dan sesuatu yang diwajibkan oleh Rasulullah SAW wajib diamalkan oleh seluruh kaum Muslimin, karena firman Allah SWT:

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فنتهوا

dan firman Allah SWT:

من يطيع الرسول فقد اطاع الله ومن تولى فما أرسلنا عليهم حفيظا. (النساء : 8

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أطاعنى فقد اطاع الله ومن عصانى فقد عصى الله

Kami cukupkan pembahasan zakat fitri sampai disini.

Yang Dikeluarkan Dalam Zakat Fitri
Sebelum Membahas boleh tidaknya mengeluarkan nilai (uang) dalam zakat fitri, kami paparkan terlebih dahulu tentang barang-barang yang dikeluarakan pada zakat fitri.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Said al Khudzri, ia berkata :

كنا نخرج زكاة الفطر صاعا من طعام او صاعا من شعير او صاعا من تمر او صاعا من اقط او صاعا من زبيب

Dan dalam riwayat yang lain, yang diriwayatkan oleh Muslim :

عن ابى سعيد الخدرى انه قال كنا نخرج زكاة الفطر يوم الفطر صاعا من طعام او صاعا من اقط او صاعا من تمر او صاعا من زبيب او صاعا من شعير فلم نزل نخرجه حتى قدم علينا معاوية من الشام حجا او معتمر وهو يومئذ خليفة, فخطب الناس على عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم. وذكر الزكاة : إنى ارى مدين من ثمراء الشام يعادل صاعا من تمر فكان اول ما ذكر الناس من المدين حينئذ. وروى ابن عجلان عن عياض قال : ثم انكم دين ابو سعيد . وقال لا آخر فيها الذى كنت اخرج فى عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم .

Dan diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, ia berkata

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغوى والرفث, وطعمة للمساكين فمن اداها قبل الصلاة, فهى زكاة مقبولة, ومن اداها بعد الصلاة فهى صدقة من الصدقات

Dari hadits-hadits diatas jelas menunjukkan, bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri 1 sha’ dari makanan, 1 sha’ dari sya’ir, 1 sha’ dari tamar, 1 sha’ dari zabib, 1 sha’ dari aqith (susu kering). Alasan perintah tersebut seperti yang disebutkan didalam hadits ibnu Abbas, bahwa ia adalah makanan untuk orang-orang miskin

Lalu bolehkah mengeluarkan jenis makanan lain semisal beras jika jenis-jenis yang disebutkan oleh Rasulullah SAW tidak terdapat disuatu daerah atau bukan sebagai makanan pokok di daerah tersebut?

Ibnu Taimiyyah berkata: didalam permasalahan ini terdapat dua pendapat, pendapat pertama: zakat tidak di keluarkan kecuali dengan jenis-jenis makanan yang terdapat didalam nash. Pendapat kedua: sang muzzaki (sang pengeluar zakat) mengeluarkan sesuai dengan makanan pokoknya walaupun bukan dari jenis-jenis makanan yang disebutkan didalam hadits dan ini adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu, seperti imam Asy Syafi’i dan lainnya.

Dan inilah yang paling shahih dari pendapat-pendapat yang ada karena asal pada shadaqah (zakat fitri), bahwa ia diwajibkan atas dasar persamaan dengan orang miskin

(من اوسط ما تطعمون به اهليكم)

Artinya: “dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu (al Maidah:9)”.

Kemudian syeikh Islam melanjutkan, Nabi SAW mewajibkan zakat fitri 1 sha’ dari tamar dan 1 sha’ dari gandum, karena keduanya adalah makanan pokok ahli madinah. Jika seandainnya ia bukan makanan pokok mereka tetapi mereka makan yang lainnya niscaya Rasulullah SAW tidak membenani mereka mengeluarkan sesuatu yang mereka tidak memakannya.

Bolehkah mengeluarkan zakat dengan nilai mata uang?

Dalam masalah ini para Ulama berbeda dalam dua qaul :

Pendapat Pertama : Adalah pendapat mayoritas Ulama: tidak dibolehkan mengeluarkan zakat dengan nilai mata uang (pendapat ini adalah pendapat Malik, Syafi’i, Ahmad , al Hadi, Al Qasim, imam Yahya , Ash Sauqani , An Nawawi , Ibnu Qudamah , Ibnu Taimiyyah , Al Baghawi …

Dalil – dalil ;

(1). Perkataan Ibnu Umar:

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم صدقة
الفطر صاعا من تمر او صاعا من شعير (رواة الجماعة – كما ورد فى النيل

Istidlal : mengeluarkan nilai mata uang sebagai ganti dari jenis-jenis makanan yang terdapat didalam hadits berarti telah meninggalkan sesuatu yang telah difardhukan dan jelas hal ini tidak diperbolehkan!

Bantah;

kewajiban mengeluarkan jenis-jenis makanan seperti yang terdapat didalam nash berupa tamar, gandum dan lainnya, itu tidak lain karena jenis-jenis makanan tersebut adalah barang-barang yang berharga dan nash diatas sama sekali tidak membatasi harus dengan jenis tersebut, dengan demikian boleh mengeluarkan kesemuanya dengan nilai baik berupa dirham, dinar atau barang apa saja.

Jawab;

dzahir hadits ini jelas hanya membatasi pada makanan saja, tidak pada nilai. Andai boleh mengeluarkan nilai, lalu apa hikmah penyebutan dari ragam makanan tersebut? Dan juga, apa yang menghalangi Rasulullah untuk menyebutkan nilai (uang) padahal dinar dan dirham ada pada masa beliau dan mengapa beliau tidak mengatakan 1 sha’ dari gandum: atau dengan nilainnya…

(2). Zakat adalah salah satu bentuk qurbah (ibadah) hanya kepada Allah SWT dan jalan untuk menuju kesana tidak lain hanyalah mengikuti perintah Allah SWT dan RasulNya. Jika seorang berkata kepada wakil perdagangannya: belikan pakaian (dan yang diwakilkan tahu, bahwa maksud dari perintah atasannya adalah untuk perdagangan) lalu sang wakil tadi mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat dibanding apa yang diperintahkan (pakaian), maka sang wakil tidak diperbolehkan menyalahi perintah tersebut sekalipun itu lebih bermanfaat.

Dan apa yang Allah dan RasulNya perintahkan adalah lebih aula (utama) untuk diikuti. Sebagaimana halnya sujud didalam shalat tidak diperbolehkan dengan pipi dan dagu sebagai ganti jidat dan hidung dengan alasan lebih terkesan ketundukannya. Karena hal itu menyalahi nash dan keluar dari makna at ta’abud. Demikian juga dengan zakat. Zakat adalah saudara shalat.

Bantah

Dakwaan bahwa zakat lebih dominan dari sisi ibadahnya serta mengqiyaskannya dengan shalat adalah keliru. Karena tidak sesuai dengan tabi’at zakat itu sendiri. Zakat bagi kami lebih dominan dari sisi hak maali (harta) dan sebuah bentuk ibadah yang istimewa. Juga zakat tetap diwajibkan pada harta anak kecil dan yang majnun (gila) sementara shalat gugur disebabkan dua hal tersebut. Dengan demikian mengqiyaskan zakat dengan sholat adalah qiyas maal fariq.

(3). Zakat itu diwajibkan untuk menutupi hajat orang-orang faqir, juga sebagai ungkapan rasa kesyukuran atas nikmat harta yang diberikan oleh Allah SWT. hajat orang-orang faqir itu beragam, maka seharusnya pula yang dikeluarkan itu beragam.

Bantah;

Jika tujuannya untuk menutupi hajat orang-orang faqir maka membayar dengan uang pun tujuan tersebut dapat terpenuhi, bahkan bisa jadi dengan uang keperluan mereka orang-orang miskin lebih dapat terpenuhi dan akan lebih bermanfaat.

Jawab;

Kita tidak boleh mengatakan bahwa nilai (qimah) itu adalah lebih memenuhi dan lebih bermanfaat bagi orang-orang faqir, karena Allah SWT yang telah memasyru’kan hal tersebut maka Dia jugalah yang lebih mengetahui mana yang lebih bermanfaat bagi orang-orang faqir.

(4) Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah :

ان النبى صلى الله عليه وسلم قال لمعاذ حين بعثه الى اليمن …. خذ الحب من الحب والشاة من الغنم والبعر من الإبل والبقر من البقر

Kita wajib tawaquf (berhenti) pada nash hadits ini, dan tidak diperbolehkan melampauinya dengan mengambil nilai (qimah).

Bantah;

Hadits ini tidak dapat dijadikan sebagai hujah karena didalam sanadnya tersebut at Tha’ dari Muadz, sedangkan at Tha’ tidak mendengarnya dari Muadz, karena ia dilahirkan setelah wafatnya Muadz atau pada tahun kematiannya atau setelah berlalu wafatnya setahun. Bazzar berkata: “kami tidak tahu, bahwa ia mendengar dari Muadz

(5) Nilai pada asalnya tidak dibenarkan, karena hal tersebut tidak diwajibkan oleh Rasulullah SAW dan nilai-nilai hak manusia tidak dibolehkan kecuali atas keridhaan-keridhaan keduanya, sedang zakat bukan milik orang tertentu yang dapat dipinta keridhaan atau persetujuannya .

Pendapat Kedua: Adalah pendapat yang membolehkan membayar zakat fitri dengan nilai (uang).

Ulama-ulama yang membolehkan nilai (uang) abu Hanifah, As Tsauri, Umar bin Abdul Aziz , Al Muayyid Billah , Al Aini, Al Bukhari, Umar, Abdullah bin Umar, Muadz , Thawus .

Dalil – dalil :

1. Allah SWT berfirman

خذ من اموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها ( التوبة : 103)

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (at Taubah: 103)”.

Shadaqah didalam ayat diatas, umum pada setiap yang diambil. Mengambil jenis barang atau nilainya adalah boleh.

Bantah;

Berhujjah dengan keumuman ayat diatas adalah bathil. Karena Rasulullah SAW telah menentukan dan menjelaskan jenis zakat yang harus dikeluarkan tidak dengan nilai. Jika hanya berpegang dengan keumuman ayat maka dibenarkan juga mengambil harta apa saja dari harta kaum muslimin (seperti yang didakwahkan oleh sebagaian ahli ilmu) namun keumuman ini tidak berlaku kecuali jenis-jenis barang yang diwajibkan oleh Allah dan RasulNya, bahkan dengan tegas Rasulullah bersabda :

ليس على المرء فى عبده ولافرسه صدقة

2. Diriwayatkan oleh Muadz, bahwa beliau pernah mengatakan pada ahli Yaman :

ومعاذ رضى الله عنه كان يقول لأهل اليمن إيتونى بعرض ثياب خميص او لبيس فى الصدقة مكان الشعير والذرة فإنه أهون عليكم وخير للمهاجرين بالمدينة

Jadi maksud dari zakat tersebut adalah sampainya rezeki tersebut kepada mustahiq (penerima zakat) dan maksud ini tercapai baik dengan jenis barang atau dengan nilai

Bantah;

Hadits diatas adalah mursal dan muqhati’(terputus), karena thowus tidak berjumpa dengan Muadz, ia dilahirkan setelah Muadz wafat.

Jawab;

Al Hafidz dalam: “at Talhis” hal 174, berkata: Syafi’i berkata, Thowus adalah alim pada perihal Muadz, walaupun ia tidak menemuinya, karena ia banyak menjumpai orang-orang yang pernah semasa dengan Muadz, dan sepengetahuan hal ini tidak ada ikhtilaf didalamnya .

Bantah;

Baiklah, kita anggap hadits tersebut sebagai hadits shahih, akan tetapi meskipun demikian tetap ia tidak dapat dijadikan sebagai hujjah karena ia hanyalah perkataan seorang sahabat apatah lagi bertentangan dengan hadits-hadits lainnya yang menyebutkan jenis barang bukan nilai.

Jawab;

Rasulullah SAW memperkerjakan Muadz di Yaman dan ia (Mu’adz) juga mengambil qimah (nilai).maka ini adalah dalil bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, ditambah lagi beliau disifati sebagai orang yang paling alim dari umat ini terhadap yang halal dan yang haram.

Bantah;

Rasulullah SAW memperkerjakan Muadz di Yaman dan digelari sebagai manusia yang paling ‘alim dari umat ini terhadap halal dan haram, akan tetapi bukan menjadi jaminan segala tindak tanduk dan keputusan beliau tidak bertentangan dengan sunnah. Ambillha sebagai ikhtibar seperti yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah didalam “Rof’ul Malam ‘anil Aimimah al ‘Alam”, yang dialami oleh empat Khulafa Ar Rasyidin, dimana mereka adalah orang yang lebih mengetahui pada umat ini perkara-perkara Rasullullah SAW, sunnah-sunnahnya dan ahwalnya.

Khususnya as Shidiq yang hampir-hampir tidak pernah berpisah dengan Rasulullah SAW baik itu dalam hadir maupun safar. Meskipun keadaanya demikian, akan tetapi tatkala beliau ditanya tentang warisan kakek, beliau berkata: “saya tidak mendapatkannya didalam al Qur’an dan aku tidak mendapatkannya didalam Sunnah, tetapi saya akan bertanya kepada orang-orang…” demikian juga Umar ra yang tidak mengetahui sunnah Isti’dzan (meminta izin) yang kemudian diajarkan oleh Abu Musa Al Asy’ari .

Bantahan kedua;

Dalam hadits Muadz tidak menyebutkan zakat dan sangat memungkinkan apa yang dikatakan oleh Muadz adalah ditujukan oleh ahli Jizyah, dimana beliau mengambil dari mereka Zarrah, Sya’ir dan Al Ard sebagai ganti dari Jizyah.

Jawab;

Kemungkinan yang dimaksudkan Jizyah dalam perkataan Muadz adalah lemah, bahkan bathil. Seperti yang dikatakan oleh Ahmad Syakir didalam ta’liq (komentar)nya terhadap kitab al Muhalla, karena dalam riwayat Yahya bin Adam, disebutkan: kedudukan sedekah .

3. Rasulullah SAW bersabda :

أغنوهم – يعنى المساكين – عن السؤال هذا اليوم

Sedang ighna’ (mengkayakan/ mencukupi) tercapai dengan nilai, bahkan dengan nilai ini lebih sempurna dan mudah, dengan demikian ‘illat dari mengeluarkan zakat adalah ighna.

Bantah;

Hadits disana adalah dhaif, karena didalam sanadnya terdapat rawy yang bernama Muhammad bin Umar ia adalah al Waqidi yang mana ia adalah matruk tertuduh berdusta . Dengan demikian ia pun tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Bahkan sebaliknya memberikan nilai (uang) akan lebih menyulitkan orang-orang faqir. Sebab atau hikmah perintah mengeluarkan jenis/ barang tidak lain adalah ‘makanan’ untuk orang-orang miskin.

Dari abdullah bin Abbas, ia berkata :

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغوى والرفث, وطعمة للمساكين

4. Dari Abu Sa’id Al Khudzri :

عن ابى سعيد الخدرى: كنا نخرج زكاة الفطر اذا كان فينا رسول الله ص. صاعا من طعام او صاعا من تمر او صاعا من شعير او صاعا من زبيب او صاعا من اقط, فلم نزل كذالك حتى قدم علينا معاوية المدينة , فقال انى لا ارى مدين من شمراء الشام يعدل صاعا من تمر , فاخذ الناس بذالك .

Riwayat diatas jelas menunjukan bahwa para sahabat membolehkan mengeluarkan ½ sha’ dari al Qamhun, karena mereka memandang hak itu sebanding nilainya dengan 1 sha’ tamar atau sya’ir.

Bantah;

Hadits ini pun tidak dapat dijadikan sebagai hujjah untuk bolehnya mengeluarkan zakat dengan nilai. Imam Nawawi berkata: “orang yang berpendapat bolehnya mengeluarkan 2 mud dari al Khintah (salah satu jenis dari gandum) berpegang pada perkataan Mu’awiyyah”. Hal ini tertolak, karena yang demikian adalah perbuatan sahabat yang jelas-jelas ditentang oleh Abu Said dan yang lainnya dari sahabat-sahabat yang lebih lama bergaul dengan Rasulullah SAW dan lebih mengetahui keadaannya. Bahkan dengan terang-terangan Mu’awiyyah bahwa itu adalah pendapat yang ia lihat, bukan karena ia mendengar dari Nabi SAW.

Berikut nash pengingkaran Abu Said terhadap pendapat Mua’wiyyah :

روى ابن عجلان عن عياض قال : ثم انكر ذالك ابو سعيد قال: لا ” اخرج فيها الا الذى كنت اخرج فى عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم

5. Pemberian nilai tergantung besar pada kondisi dan lingkungan suatu daerah. Jika kita melihat massa dimana kita hidup yang serba modern yang kebutuhan hidup semakin beragam baik berupa makanan, minuman, sepatu dan lain-lain. Maka yang lebih bermanfaat adalah memberikan dengan nilai (uang). Justru jika kita berpegang kepada nash hadits khususnya pada massa-massa akan mendzolimi/ menyakiti hati orang-orang faqir, bayangkan jika mereka harus menjual hasil zakat tersebut untuk mendapatkan uang yang acap kali hasil jualan tersebut lebih rendah dari harga semestinya, lalu mereka membeli kebutuhan lainnya, bukankah ini sangat merepotkan mereka!

Permasalahan zakat, bukanlah seperti permasalahan lainnya, yang harus tunduk dan menerima apa-apa yang datangnya dari syari’at tanpa harus mengetahui dari hikmah atau maslahat yang terkandung. Zakat adalah perkara yang makna dan hikmahnya dapat diketahui yaitu demi kemaslahatan orang-orang faqir.

Bantah;

Jika orang-orang faqir tersebut diberikan makanan pokok setempat, lalu orang-orang miskin tersebut menjualnya dan membelikan barang lainnya semisal baju, sepatu dan lain-lainnya maka hal tersebut sama sekali bersih dari unsur kedzaliman.

Hal ini dapat dilihat dari dua hal:

a. Sang pemberi sedekah telah mengamalkan hadits:

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغوى والرفث, وطعمة للمساكين … الحدبث ( ابو داود وابن ماجه

Thumatun didalam hadits, bermakna makanan yang dimakan. Hasya lil Lah, jika orang yang mengamalkan hadits disebut sebagai orang yang mendzalimi.

b. Sang pemberi zakat telah menghilang kefaqiran dan kemiskinan pada orang-orang miskin di hari ‘ied tersebut, bukankah Rasul SAW bersabda :

من سأل وعنده ما يغنيه فإنما يستكثر من جمر جهنم قالو : يا رسول الله ما يغنيه ؟ قال ما يغديه او ما يعشيه

Ma-Yughaddihi; yaitu makanan yang dapat mengenyangkannya.
Ma-Yu’Asyihi; jika dalam satu harinya ia dapat makan dua kali.

Dan banyak lagi dalil yang dimiliki oleh orang-orang yang membolehkan qimah(nilai), tetapi kami cukupkan lima dalil. Yang insya Allah-kelima dalil ini cukup mewakili dalil-dalil lainnya. Wallahu A’lam.

Namun yang perlu menjadi catatan; bahwa pengikut-pengikut Hanafi-yang dalam hal ini berpihak pada bolehnya membayar zakat dengan qimah (nilai)- berbeda pendapat dalam segi keafdhaliahan; apakah dengan membayar qimah lebih utama dibanding dengan jenis barang seperti yang terdapat didalam Nash yang termaktub. Sebagian mereka berpendapat; mengeluarkan khinthah (gandum) adalah lebih afdhal di banding dari harta-harta lainnya, baik dalam keadaan susah maupun tidak. Karena hal tersebut sesuai dengan sunnah.

Dan sebagiannya lagi merinci; jika berada dalam kondisi sulit dan masa paceklik, maka yang lebih utama adalah mengeluarkan jenis barang, adapun dalam keadaan lowong maka dengan nilai adalah lebih utama

SEBAB-SEBAB TERJADINYA KHILAF

Sebab pokok terjadinya khilaf antara orang yang tidak membolehkan nilai dengan yang membolehkan, adalah perbedaan dalam sudut pandang mengenai zakat. Apakah zakat adalah salah satu bentuk Ibadah dan Qurbah hanya kepada Allah atau ia adalah hak yang fakir terhadap harta orang kaya atau dalam ungkapan lain pajak harta yang diwajibkan bagi sang pemilik Nisab.

Pendapat Rajih;

Jika membandingkan dua pendapat diatas berikut munaqasyahnya, hati kami lebih muyul kepada pendapat pertama yang mengharuskan zakat fitrah dengan jenis barang (makanan pokok) karena didukung dengan hadist yang kuat. sedang pendapat kedua hanya didukung dengan dalil-dalil yang masih diperselisihkan keberadaannya.
Berikut beberapa perkataan ulama tentang keharusan mengeluarkan zakat fitrah dengan jenis-jenis makanan pokok.

1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal didalam ( masail imam ahmad riwayat ibnuhu hal,171 ) : jika mendengar ayahku membenci mengeluarkan qimah pada zakat fitrah , dan berkata , Aku takut jika aku memberi qimah hal itu tidak sah.

2. Ibnu Qudamah dalam Mughni 3/65 : permasalahan : Ia berkata : barangsiapa yang memberikan qimah maka hal itu tidak sah.

3. Syaukani , 4/515 berkata : yang haq , bahwa zakat itu wajib pada jenis barang
( yang ditentukan ) tidak boleh digantikan dengan Qimah kecuali karena udzur.

4. Imam Nawawi didalam (Syarh Muslim 7/60 ), Rasulullah Saw menyebutkan sesuatu yang nilainya beragam , dan mewajibkan dalam setiap ragam satu sha’ . hal ini menunjukan bahwa yang teranggap adalah sha’ bukan memandang pada qimah (nilai).

5. Imam Nawawi juga berkata didalam -majmu’- nilai tidak dibolehkan , menurut kami, demikian juga menurut Malik, Ahmaddan Ibnu Mundzir . Dan Abu hanifah berkata :boleh. Ishaq dan Abu Tsur berkata tidak diperbolehkan kecuali dengan syarat.

6. Ibnu Taimiyyah berkata dalam –Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah – … tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat fitrah dengan pakaian, permadani, bejana, perhiasan dan lain-lainnya bukan makanan manusia, karena Nabi SAW mewajibkan dari jenis makanan, maka tidak diperbolehkan melanggar apa yang telah ditentukan oleh Rasulullah SAW, juga tidak diperkenankan mengeluarkan nilai makanan, karena hal tersebut melanggar apa yang diperintahkan Rasulullah SAW.

7. Ahmad bin Hanbal ditanya tentang memberikan dirham pada shadaqah al-fitri, beliau menjawab: akan takut hal tersebut tidak diperbolehkan karena menyalahi sunnah Rasulullah SAW, kemudian dikatakan kepada Imam Ahmad suatu kaum berhujjah bahwa Umar bin Abdul Aziz mengambil qimah (nilai), Ahmad berkata: mereka meninggalkan perkataan Rasulullah SAW dan berkata si fulan. Ibnu Umar berkata : ……. dan Allah berfirman:……

Ikhtitam

Demikianlah masalah qimah (nilai) dalam pandangan syariat. Kembali (meruju) dari khilaf adalah lebih aslam. Allah SWT berfirman:…. asalnya adalah menunaikan dengan jenis makanan namun kita tidak menutup mata jika apa yang kami paparkan dan kami rujukan masih memiliki cela untuk didialogkan, wallahu ‘alam bi ash shawab.


Daftar Pustaka

  • H.R. Bukhari 1/64 kitab al-Iman bab “du’aukum imanukum”
  • Muslim 1/45 kitab al-Iman bab “bayan arkanul Islam wadi’amahu al-idham” 19/16.
  • lihat mausu’ah al-ahadits wal atsar ad-dha’ifah walmaudhu’at-5/13552.
  • Al-Ahkamul ‘ibadat DR. Kamil Musa.
  • H.R. Bukhari 7284, 7285 didalam al-I’tisham bab “al-Iqtidaa bisunani Rasulillah SAW” dan didalam “az-Zakat” (1400) bab”wujub az-zakat”.
  • Muslim (20) didalam al-Iman, bab “al-Amru biqitali an-nas.
  • Al-Mufasshal fi ahkamil mar’ah wa baetil muslim DR. Abdul karim Zaedan 1/344.
  • Lihat lisanul ‘arab oleh Ibnul Mandhur 2/35, al-Misbah al-Munir lil fayyumi 436.
  • Lihat kisyaful qinaa 1/325- lihat al-Mufasshal DR. Abdul Karim Zaedan 1/343.
  • Lihat ahkamul ibadat oleh DR. Kamil Musa 331.
  • HR Bukhori 3/432 Kitab Adz Zakat bab Shadaqah Al Fitri a’lal Abdi wa Ghairuhu minal Muslimin (1504).
  • Muslim 2/677 Kitab Adz zakat bab Zakat Fitri ala Muslimin min at Tamri was Sya’ir (984).
  • Abu Daud 2/1611, At Tirmidzi 3/676, An Nasai 5/47-48, Ibnu Majah 1/1826, Ahmad 2/63.
  • Lihat Niulul Aw thor juz 4/1623 bab adz zakattu Fitri.
  • HR Bukhari 6/135, Kitab Al Jihad wa Assair, bab Yuqatil min warail Imam wayat taqiyya bihi (2857).
  • Muslim 3/1466 kitab Al Imarat bab wujubu at Tho’ah al Umara.
  • HR Bukhari 3/436, kitab Adz zakat bab Sho min Dzabib (1508), Muslim 1/18 bab adz zakat.
  • HR Muslim 2/678, kitab Adz zakat bab adz zakat fitri ala Muslimin min At Thamri wa as Sya’ir (985).
  • HR Muslim 2/679, kitab Adz zakat bab adz zakat fitri ala Muslimin min At Thamri wa as Sya’ir (985).
  • Lihat takhrij foot note no. 12
    majalah Tauhid al Ahkam lil Shadaq al Fitri fii Ramadhan, tahun 28 1420 H/ 9 Ramadhan.
  • Majmu Fatawa, Syeikh Islam Ibnu Taimiyyah juz 25 hal 68-69.
  • kitab Fiqh Islam wa adillatuhu oleh Dr. Wahbah Zuhaili, hal 2044-2046,
  • Mufashol 1/467, An Nail 4/ 515, An Nawawi Sarh Shohih Muslim (985).
  • Lihat Fiqh Islam wa adillatuhu 2045 dan Mufashol 1/467.
  • Lihat An Nail 4/515 cet. Dar Al Hadis.
  • Yusuf Qardhawy, Fiqh Zakat 2/948.
  • I’lalul Sunan, Dhafar Ahamad Usmani juz 9/42.
  • Lihat Irwa’ al Ghaliel fii tahrij al Hadits Manarul Sabil, Nasruddin al Bani 3/270.
  • Raf’ul Malam ‘anil Aimmahtul ‘Alam oleh Ibnu Taimiyyah hal 6-7.
  • HR Abu Daud dan Ibnu Majah, lihat An Nail 4/547.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 29

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan...

Konsep Nasikh dan Mansukh Dalam AlQuran

Oleh: Edward Maufur PENDAHULUAN Bahwasanya sudah menjadi sebuah aklamasi yang tidak dipertentangkan lagi bagi Umat Islam, Salaf maupun Khalaf mengenai keabsolutan dan kekhasan Al-Quran sebagai satu-satunya...

Mengenal Sosok Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf Oleh : Anton H. Sultonan A. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah dan inayah-Nya. Shalawat dan salam...

Mengenal Sosok Al-Imam Al-Zarkasyii (745 – 794)

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar, Lc. Abad VIII, adalah abad yang sangat menyeramkan untuk diceritakan. Pada abad ini, cobaan banyak menimpa umat Islam, dari langit...

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan ajarannya. Dengan menunjukan peribadatan-peribadatan yang...

More Articles Like This