Tuesday, December 1, 2020

Bagaimana Islam Tanpa Madzhab

Must Read

Mengenal Sosok Ibnu Katsir dan Metode Penafsiranya

Oleh : Pardan S. Sambas A. Pendahuluan Secara garis besar, para ulama membagi kepada empat jenis tafsir. Pertama, tafsir tahlîlî, kedua,...

Falsafah Blasphemy [Penistaan]

Oleh: Muhammad Ghifari Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa agama memiliki peran sentral dalam kehidupan umat manusia di dunia ini....

Tertunda Wabah Covid-19, Tasykil PCI Persis Mesir Resmi Dilantik

Kairo – Tasykil (pengurus-red) Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir masa jihad 2019-2021 akhirnya resmi dilantik oleh...

4.8
(26)

Oleh: Dewan Buhûts Islâmiyyah
Association For Reseach And Islamic Studies

Iftitâh

Islam sebagai agama yang syâmil dan mutakâmil mempunyai pegangan dan pedoman (al-Qur’an dan as-Sunah) yang telah jelas dalam mengatur hidup dan kehidupan umatnya di muka bumi ini. Pedoman yang ada dalam Islam tersebut bukan hanya terbatas mengatur dalam hal-hal yang bersifat ta’abudi (ibadah) saja, melainkan lebih luas dan mencakup seluruh aspek kehidupan umatnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berpegang teguh kepada al-Quran dan as-Sunah, sebagaimana dalam Firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan Ûli-l Amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Namun kita bisa mencermati, ternyata dalam tubuh Islam sendiri masih banyak yang tidak cukup pandai untuk mengejawantahkan ayat diatas ke dalam kehidupan sehari-hari. Terbukti dengan maraknya kelompok-kelompok yang lebih mengatasnamakan tokoh dan kelompoknya masing-masing, baik dalam masalah fiqh maupun mualamat.

Dan hal ini dilakukan dengan keterbatasan pemahaman kaum muslimin tentang perlunya ber-madzhab kepada Imam yang empat (Syafi`I, Hanbali, Hanafi dan Maliki).
Padahal telah jelas, bahwasannya keempat Imam itu melarang keras pengikutnya untuk ber-taklid (fanatisme) buta dan mengikuti semua fikrah mereka tanpa adanya study komperatif dan pertimbangan keilmuan serta penelitian yang lebih mendalam dalam menerima dan menolak segala bentuk ijtihad.

Hal ini sebagaimana ditegaskannya dalam ungkapannya: “Tidaklah pantas bagi seseorang mengambil salah satu perkataan kami untuk dijadikan fatwa, ataupun mengambil ucapan kami sedangkan dia sama sekali tidak tahu dari mana sumbernya”.

Dalam bermadzhab ini tidak hanya terbatas dalam pandangan fiqh saja (fiqh oriented), begitu juga dalam permasalahan ‘aqîdah. Sebagaimana kita ketahui adanya corak pemahaman dalam ber-tauhid, seperti madzhab Ahlus- Sunnah wal jama’ah, Asy’ariah, mu’tajillah, Syi’ah dan yang lainnya. Mereka mempunyai pemahaman yang pareatif dalam mengintrepetasikan syari’at Ilâhî.

Oleh karena itu, melalui makalah yang sederhana dan keterbatasan ilmu, kami mencoba untuk mendiskusikan permasalahan ini. Apakah seorang muslim wajib untuk meyakini salah satu madzhab dari madzhab yang ada?, Yang dalam sejarah Islam, madzhab-madzhab ini memang menjadi pegangan dan sandaran dalam ber-istinbat.

Iktilâf

Dalam hal ini kami mencoba mendahulukan mengenai ikhtilâf (Perbedaan), yang mana hal ini merupakan awal mula timbulnya madzhab. Perbedaan mengenai sesuatu hal, akan menyebabkan terjadinya suatu permasalahan, sehingga hal itu menimbulkan sesuatu yang dianggap oleh sekelompok orang benar dan sangat di jungjung tinggi. Sementara di lain sisi justru fenomena tersebut akan di anggap biasa. Atau justru seorang ulama memandang satu permasalahan karena ditinjau dari satu sisi, sementara ulama yang lain menentang, karena memandang dari sudut yang lainnya. Dari hal itu, timbullah suatu kenyakinan dalam melakukan suatu hal, dan mengesampingkan hal yang lainnya.

Syeh ‘Utsaimîn, melihat bahwa perbedaan tersebut timbul dikarenakan beberapa hal.

Pertama, belum sampainya dalil (keterangan). Adanya dalil, tapi dalil tersebut belum sampai kepada seseorang, lalu ia melakukan suatu amalan. Sementara di lain sisi ada dalil lain yang melarang amalan tersebut. Sebagaimana terjadi dalam kasus Umar bin Khatab

Kedua, memandang satu dalil yang tidak qot’I dan pasti. Hal ini, seperti adanya satu hadits yang sampai kepada seseorang, akan tetapi dia kurang menyakininya, dan menganggap bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat.

Ketiga, lupa terhadap dalil. Lupa merupakan perkara yang pasti akan menimpa terhadap manusia, siapapun orangnya. Begitu juga terhadap Rasulullah, sebagaimana telah kita ketahui adanya syari’at sujud sahwi. Hal itu dilakukan takkala Rasulullah saw lupa dalam salat, begitu juga para sahabat.

Keempat, perbedaan dalam memahami dalil -ini yang sering terjadi-. Perbedaan ini diakibatkan oleh kurangnya dalam memahami suatu nash, atau banyaknya pendapat para sahabat, akan tetapi tidak mengindahkan rangkain nash tersebut (silsilat-u al-Ruwât).

Juga mengintrepretasikan dalil dari riwayat yang kurang kuat. Kasus ini bisa dilihat dalam menafsirkan lafad awlâmastum-un ‘Nisâ-a pada surat al-Nisâ dan al-Mâidah. Sebagian Ulama menafsirkan lafad tersebut dengan menyentuh saja. Sebagiannya lagi, menafsirkan dengan menyentuh yang dibarengi “perasaan syahwati”. Adapun pendapapat yang paling kuat, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, yaitu bersetubuh (jima).

Kelima, tidak mengetahui adanya dalil yang di-nasakh (di hapus).

Keenam, mengetahui bahwa dalil yang digunakannya itu bertentangan dengan dalil yang lebih kuat. Artinya keyakinan yang dilakukannya bertentangan dengan nash atau ijma yang lebih kuat. Seperti yang terjadi dengan Ibnu Abbas ketika membolehkan riba fadhl, karena dia menjelaskan hadits Rasul “hanyasannya riba itu riba nasîah saja” dan lafadz“Innamâ” disana li-l Hasr(membatasi). Sementara riwayat yang lain, mengatakan “barang siapa yang menambah atau meminta tambah sungguh telah melakukan riba”.

Ketujuh, Keterbatasan ilmu mengenai lemahnya hadits (dha’f-ul ‘ hadîts), dan kurang mengetahui dalam ber-istidlâl. Yaitu seseorang menjadikan hadits dha’if sebagai argumennya, dan hal inilah yang sering terjadi sekali dikalangan para ulama. Seperti pendapat adanya salat Tasbîh dan menganjurkannya.

Bagi Syeh ‘Utsaimîn, perbedaaan tersebut bukanlah semata-mata terjadi di zaman sekarang. Tapi hal itu terjadi memang sejak dulu, setelah “maraji” utama Rasulullah saw meninggalkan alam fana ini. Bahkan, ketika Rasulullah saw masih ada pun terjadi perbedaan, namun hal tersebut bisa langsung diluruskan oleh Baginda Rasul. Maka setelah Rasul dan para sahabatnya wafat perbedaan tersebut semakin meruncing sehingga timbullah kecondongan kepada beberapa kelompok saja.

Imam ad-Dahlawî lebih menspesipikkan lagi tetang timbulnya perbedaan tersebut, sebagaimana terjadi di era sahabat. Hal itu disebabkan beberapa hal.

  • Seorang sahabat mendengar langsung apa yang difatwakan Rasul, baik hukum maupun fenomena yang berkembang pada saat itu. Sementara sahabat yang lain tidak mengetahuinya, maka ketika suatu masalah yang sama timbul dia berijtihad sendiri. Dari ijtihadnya tersebut akan timbul beberapa kemungkinan, baik betul dan sesuai dengan tuntutan Qur’an dan Sunnah, atau salah dan menyalahi keduanya.
  • Nabi Saw melakukan suatu amalan. Seorang sahabat melihat bahwa amalan tersebut hanya sebatas qurbah (perbuatan yang akan mendekatkan diri kepada Allah) yang disunahkan, sementara sahabat yang lain melihat bahwa amalan itu ibâhah (boleh).
  • Bedanya prediksi diantara para sahabat.
  • Perbedaan dalam illat hukum.

Bagi Imam ad-Dahlawî sebab perbedaan itu bukan hanya terdapat di era sahabat saja, hal itu akan terjadi terus. Karena perbedaan di era sahabat itulah yang akhirnya mewarnai madzhab-madzhab islam, khususnya dalam masalah ibadah (fiqh).

Selain itu, menyebarnya para sahabat, juga tabi’in ke beberapa daerah merupakan faktor yang tidak bisa dikesampingkan, serta suatu amalan yang dilakukan masyarakat tertentu, dikarenakan mendapatkan fatwa dari masing-masing ulama yang berada di daerahnya. Hal tersebut dengan sendirinya telah membentuk madzhab itu sendiri. Seperti sahabat Ibnu Umar di Madinah, ‘Atha bin Abi Ribâh di Mekkah, Hasan Bashrî di Bashrah, dan yang lainnya.

Sekilas Madzhab ; Sebuah Tinjauan Normatif

Madzhab menurut bahasa di ambil dari akar kata Dzahab-a, Yadzhab-u Madzhab-un yang bermakna Qashada (bermaksud) atau Raâ (berpendapat). Adapun menurut istilah makna tersebut tidak akan terlepas dari makna bahasa.

Menurut Prof. Dr. Alî Mar’î, adanya madzhab merupakan hasil pemikiran (ijtihad) yang pariatif ketika terjadinya suatu permasalahan yang timbul, akan tetapi pemecahannya tidak terdapat secara pasti dalam nash, baik itu Qur’an maupun Sunnah. Permasalahan ini semakin mengkristal ketika perbedaan pendapat mengenai siapa yang berhak untuk duduk di singgasana kekhalifahan.

Setelah terbunuhnya sahabat Utsman bin Affan dan sahabat Ali bin Abi Thalib, sehingga terpecahlah kaum muslimin kepada “kelompok tiga” (syi’ah, khawarij dan ahlu sunnah). Dari asal perbedaan tersebut, kemudian timbullah pemikiran maupun corak pendapat yang saling mendukung pendapat yang dianggap akan mendukung kepada keputusannya. Pendeknya, setiap pendapat yang dianggap mendukung akan mendapatkan kedudukan dan bisa diamalkan.

Begitu pula, perbedaan tadi sangat mempengaruhi amalan-amalan dalam kehidupan sehari-hari, yang termasuk didalamnya permasalahan fiqh (lebih khususnya). Sehingga madzhab dalam fiqh sangat banyak –dan sering dijadikan permasalah yang esensial-, namun hinga kini kita hanya mengetahui delapan madzhab saja (terutama madzhab yang empat). Padahal madzhab fiqh itu lebih dari delapan.

Muhammad Sulthan Al-Maksumi mendefinisikan madzhab ialah: “Sekumpulan pendapat atau ijtihad ahli ilmu, terhadap suatu permasalahan agama. Allah serta Rasul-Nya tidaklah mewajibkan seseorang untuk mengikutinya, karena pendapat tersebut mungkin salah dan mungkin juga benar. Jika benar maka itulah yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, tetapi jika salah, itulah keterbatasan ilmu manusia yang diberikan Allah SWT”.

Madzhab sekarang yang masih ada, merupakan hasil kerja keras para “penganut” dan “pencinta” Imam mereka, sehingga mereka merasa terpanggil untuk terus menyebarkan hasil ijtihad imamnya. Delapan madzhab itu ialah, madzhab al-Imâmî, al-Zaydî (kelompok syî’ah), al-Ibâdhî (kelompok khawârij), al-Dlâhirî, Hanafî, Mâlikî, Syâfi’î dan Hanbalî (kelompok ahlus sunnah).

Adapun madzhab yang jarang kita dengar seperti madzhab Imam Layts, Ibnu Jarîr al-Thabarî, al-Auza’î dan yang lainnya.

a. Syi’ah

Madzhab ini ialah kelompok yang meyakini bahwa Rasulullah Saw mewasiatkan khalifah kepada sayyidinâ Ali dan keturunannya. Imam-imam mereka terjaga dari kesalahan (ma’shûm). Mereka banyak sekali perbedaan pemahaman dengan ahlus sunnah, baik dalam hal fur’û maupun ahkam, juga mereka tidak mengakui qiyâs. Dan yang sangat menyimpang ialah dengan bolehnya para ulama mereka merubah al-Qur’an.

Selain itu, mereka sangat menganggap remeh kepada para sahabat Rasul khususnya khalifah yang tiga (Abu Bakar Sidiq, Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan), padahal sahabat ini mempunyai keutamaan di hadapan Rasul, begitu pula menurut pandangan sahabat Ali.

Syi’ah terbagi kepada beberapa kelompok, namun yang paling terkenal ialah syi’ah Imamiyyah dan syi’ah Zaydiyyah. Syi’ah Imamiyyah kelompok yang tadi disebutkan di atas, mereka banyak terdapat di negara Iran, Iraq dan India. Adapun syi’ah Zaydiyyah, ialah kelompok syi’ah yang dinisbatkan kepada Zayd bin ‘Alî Zaynal ‘Âbidîn bin Husayn. Kelompok syi’ah ini banyak terdapat di negara Yaman.

b. Khawârij

Madzhab ini muncul ketika perselisihan antara khalifah Ali dengan Muawiyyah di-meja hijau-kan, kedua belah pihak mengirim duta untuk meyelesaikan permasalahan yang telah menimbulkan perpecahan, sampai kepada pertumpahan darah diantara kaum muslimin.

Dari pihak khalifah Ali mengutus Abu Musa al-Asy’ari, sementara dari pihak Muawiyyah mengutus ‘Amr bin Ash. Pendeknya, musyawarah dilakukan dan ada deklarasi bersama yang telah disepakati. Tapi pendukung khalifah Ali merasa dihianati oleh diplomatis ulung dari pihak muawiyyah yaitu Amr bin Ash. Mereka melihat perjanjian yang disepakati bersama itu merupakan hasil siasat Amr bin Ash untuk menguntungkan pihak Muawiyyah dan merugikan pihak Ali.

Dari sinilah mereka mulai mengambil jarak dengan khalifah Ali, lalu keluar dari barisan Ali dan menamakan dirinya kelompok yang “bebas”. Mereka pergi ke satu daerah di Kuffah. Kejadian ini terjadi pada tahun 37 H./657 M. dan peristiwa ini terkenal terkenal dengan sebutan tragedi shiffîn. Kelompok ini banyak terdapat di negara Aman, Khurasan, Maroko dan yang lainnya.

Salah satu kelompoknya yang terkenal ialah kelompok Ibâdhiyyah, yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Ibâdh (W. 80 H). banyak persamaan dengan ahlus sunnah dalam masalah furû, sekalipun banyak perbedaan dalam masalah hukum. Salah satu kitabnya yang terkenal ialah Syarhu-n al-Nayl-I wa Syifâ al-‘Alîl, karangan Muhamad bin Yusuf bin Athfaysy.

c. Mu’tazilah

Madzhab ini, madzhab yang banyak menggunakan logika dalam segala hal, baik dalam mengistinbat hukum, maupun dalam menafsirkan Qur’an. Logika dan perdebatan merupakan ciri khas mereka dalam mensikapi semua permasalahan yang muncul, filosop Yunani merupakan back ground mereka. Mereka lebih cendrung mempermasalahkan ta’wil ayat, maupun hadits. Madzhab ini berbeda dengan dua madzhab yang telah disebutkan di atas, yang bukan disebabkan oleh paktor politis.

||| Baca, Melacak Pemikiran Mu’tazilah

d. Ahlu Sunnah

Ketika Umat islam mengalami kejumudan berpikir, dan mendapatkan permasalahan-permasalahan kontempoler (pada waktu itu) yang sebelumnya tidak ada –kalaupun ada tapi formulasinya lain-, tapi dalam penyelesaiannya tidak terdapat dalam nash yang qot’I, baik dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Mereka memutuskan lewat konteks ijma dan qiyas, serta melakukan ijtihad yang berdasarkan dari kedua sumber utama (Qur’an dan Sunnah).

Ulama-ulama inilah yang telah mengantarkan kepada pemahaman yang bersumber dari “mata air murninya”. Hasil ijtihadnya diamalkan oleh dia dan kaum muslimin, hingga akhirnya para pengikut setianya mentransformasikan ke dalam bentuk pemahaman yang sesuai pada waktu itu.

Para imam yang masuk ke dalam kelompok ini ialah Imam Hanafî, Imam Malik, Imam Syafi’î dan Imam Hanbalî. Untuk lebih lanjutnya kami paparkan sekilas propil mereka.

1. Madzhab Hanafiyyah, madzhab ini dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah al-Nu’mân bin Tsâbit, yang dilahirkan di Kuffah pada tahun 80 H. dia meninggal pada Thun 150 H. Abu Hanifah menyadarkan semua ijtihadnya kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, lalu setelah itu kepada ijma dan qiyas. Dia juga sebagai pioner dalam konsepnya mengenai Istihsân, ‘Urf maupun Qiyas. Warisan keilmuannya pun sangat banyak.
Madzhab ini banyak tersebar di negara Iraq, Suriah, Pakistan, Afganistan, Turki dan sebagian di Mesir.

||| Baca, Metode Istidlal Imam Abu Hanifah

2. Madzhab Mâlikî, madzhab ini dinisbatkan kepada Imam darul hijrah, Syeh Madinah. Dia adalah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi ‘Âmir al-Ashbahî, lahir pada tahun 93 H dan wafat pada tahun179 H.

Lima konsep dasar yang selalu dia lakukan dalam memecahkan permasalahan, yaitu dari Qur’an, Sunnah, perkataan Sahabat, Ijma dan ilmu yang didapati dari Ulama-ulama Madinah. Hal ini ia lakukan dengan alasan, bahwa merekalah yang langsung mendapatkan gemlengan dari nabi, sahabat, maupun tabi’in yang berada di Madinah. Selain itu, konsep yang telah dilakukan pendahulunya ia aplikasikan, seperti Istihsan, ‘Urf, mashâlahah mursalah, sadd al-Dzarâi’i.

Al-Muwaththa merupakan Karya besarnya. inilah peninggalan yang sangat berarti dalam peradaban Islam. Ia salah satu pelatak pertama dalam menghimpun hadits-hadits, sekalipun banyak tercampur antara hadits lemah (dha’îf) dengan hadits kuat (shahîh). Madzhab ini banyak terdapat di negara Mesir sebelah selatan, Sudan, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Maroko sebelah barat.

3. Madzhab Syafi’î, madzhab ini dinisbatkan kepada Imam Muhamad bin Idrîs as-Syafi’î, yang lahir pada tahun 150 H. wafat pada tahun 204 H di Mesir pada usianya yang menginjak 54 tahun.
Konsep yang ia lakukan dalam mengambil hukum, dilakukannya dengan enam langkah.

  • Pertama, dari al-Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas.
  • Kedua, menghimpun kedua pemikir terdahulunya yang terkenal dengan istilah ashhâbu al-Ra’yi (Abu Hanifah) dan ashhâbu al-Hadîts (Imam Malik).
  • Ketiga, menjelaskan ushûl dan hukum-hukum tasyri yang dihubungkan dengan Qur’an, kemudian ditafsirkan dengan hadits.
  • Keempat, menjadikan ijma setelah Qur’an dan Sunnah, serta mendahulukannya sekalipun adanya khabar ahad.
  • Kelima, meletakkan Qaidah-qaidah Qiyas.
  • Keenam, membatalkan konsep istihsan sebagaimana termaktub dalam kitabnya “Ibthal al-Istihsân”.

Karya monumentalnya ialah kitab al-Um (kitab fiqh) dan al-Risâlah (kitab ushul al-fiqh). Madzhab ini banyak tersebar di Mesir, Palestina, Hadralmaut dan Asia Tenggara (Indonesia, Malasyia, Tailan, Brunai ) dan negara lainnya.

4. Madzhab Hambalî, madzhab ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal al-Syîbânî yang lahir pada tahun 164 H. dan meninggal pada tahun 241 H. Imam Ahmad menjadikan konsep hukumnya dengan lima langkah.

  • Pertama, al-Qur’an. Hal ini sebagaimana firman-Nya: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Qur’an”.
  • Kedua, sunnah.
  • Ketiga, Ijma ahlul aqdi wal hilli.
  • Keempat, perkataan sahabat, hal ini di sandarkan dari hadits: “sahabat-sahabatku seperti bintang, jika kamu mengikutinya pasti akan memberikan petunjuk terhadap kamu”.
  • Kelima, Qiyâs. Imam ahmad juga mengingkari konsep Istihsân. Karya monumentalnya ialah al-Musnad. Madzhab ini banyak tersebar di negara Saudi Arabia.

Hukum Bermadzhab

Pandangan Ulama dalam mengikuti salah satu madzhab dari madzhab yang empat bukanlah sebuah kewajiban ataupun sesuatu yang dianjurkan. Justru hal ini yang dihawatirkan akan menjerumuskan seseorang untuk menghidupkan perbuatan taklid dan menyebabkan perpecahan.

Dalam firman-Nya Allah menegaskan untuk tidak berpecah belah, bahkan Allah akan meminta pertanggung jawabannya atas prilaku fanatisme mereka: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” .

Juga dalam firman-Nya:

Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.

Telah begitu jelas, bahwa agama Islam sama sekali tidak mengajarkan umatnya untuk berpecah belah dan mengikuti salah satu madzhab dengan membabi buta, serta tidak mau menerima pendapat yang lain, walaupun ternyata jelas-jelas pendapat tersebut datangnya dari Al-Qur`an dan As-Sunah.

Ibnu Taimiyah memberikan jawaban ketika ditanya, apakah merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim untuk bermadzhab?, ia menjawab: “Tidaklah pantas seseorang mengambil dan meninggalkan suatu pendapat melainkan ada penjelasan dari Rasulullah SAW”. Imam Abu Hanifah berkata : “Ini adalah pendapatku, dan inilah yang terbaik menurut pandanganku, maka jika ada pendapat yang lebih baik dari pendapatku aku akan menerimanya”.

Tersirat dari kata-kata beliau, selain beliau sendiri tidak membenarkan seorang muslim untuk mengambil salah satu madzhab secara membabibuta, juga mencerminkan ketawadhuan beliau yang mau menerima pendapat orang lain, jika memang itu benar dan tentunya datang dari sumber yang benar (Al-Qur`an dan As-Sunah).

Suatu waktu berkumpullah Imam Malik dan sahabatnya Abu Yusuf. Abu Yusuf bertanya kepada Imam Malik tentang menentukan ukuran satu sha`, ketika Imam Malik menjawab pertanyaannya, maka berkomentarlah Abu Yusuf: “Aku kembalikan segala pendapatmu, walaupun pendapat ini datang dari sahabatku, aku tidak menerimanya”.

Kemudian Imam Malik Berkata : “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia yang memungkinkan untuk salah dan benar, maka kembalikanlah perkataanku kepada Al-Qur`an dan As-Sunah”. Imam Ahmad berkata: “Janganlah kalian bertaklid kepadaku, atau kepada Imam Malik, atau kepada Imam Syafi`I, atau kepada Imam Ats-Tsauri, dan carilah ilmu sebagaimana kami mencarinya”.

Dr. Yusuf Qardhawi, ulama kontempoler berkebangsaan Mesir, memberikan pendapatnya dalam permasalahan madzhab: “Mengikuti salah satu madzhab bukanlah merupakan suatu perbuatan yang diwajibkan maupun dianjurkan, Allah tidak mewajibkan kita untuk mengikuti Imam Abu Hanifah misalnya ataupun yang lainnya, akan tetapi Allah telah mewajibkan kita untuk mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunah yang isinya terjaga dari kesalahan dan kekeliruan. Orang awam yang tidak mempunyai madzhab, melainkan bermadzhab kepada orang yang memberikan fatwa kepadanya.

Jika pada suatu negeri berkembang orang-orang awam dan mendapatkan ulama di negeri itu memegang salah satu madzhab dari madzhab yang empat, seperti madzhab Imam Malik yang berkembang di Maroko, Libia, Tunis, Aljazair, atau madzhab Imam Abu Hanifah yan berkembang di Turki, India, Pakistan, atau madzhab Imam Syafi`I yang berkembang di Somalia, Indonesia, Malaysia dan madzhab Imam Ahmad di Saudi Arabia, maka beliau menegaskan tidak mengapa untuk mengikuti madzhab tersebut, karena pada kenyataannya mereka mengikuti ulama negeri tersebut dan itulah madzhab mereka, tetapi yang harus dijauhi adalah sifat ta`ashub terhadap satu madzhab tertentu, dan menganggap salah madzhab yang lain.

Jika kita mendapatkan kecacatan pada madzhab yang kita pegang, hendaknya kita menerima madzhab yang lebih kuat dan rajih, seperti yang dilakukan Imam Abu Hanifah.

Ibnu Himam menjelaskan komentarnya dalam kitab (tahrîr wa taqrîr): “sesungguhnya iltizam terhadap suatu madzhab tidak dibenarkan di dalam Islam, karena perbuatan tersebut termasuk katagori taqlîd, sedangkan taqlîd jelas dilarang dalam Islam, kebanyakan orang dengan bangga berkata : “Saya madzhab Syafi`I” atau “saya madzhab Hanbali”, namun mereka sama sekali tidak mengetahui siapakah Imam Syafi`I berikut kedalaman ilmunya”.

Muhammad Sulthan Al-Maksumi memberikan penjelasan tentang perbedaan antara mukallid dan muttabi`: Mukallid adalah orang yang menjadikan hukum, bukan dari sumber hukum itu sendiri (Al-Qur`an dan As-Sunah), melainkan menanyakan siapakah Imam yang memegang hukum tersebut, walaupun sebenarnya ia mengetahui bahwa pendapat Imam tersebut berseberangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunah. Padahal Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Janganlah kamu sekali-kali melihat siapakah yang bicara, tapi perhatikanlah apa yang disampaikannya”.

Sedangkan Muttabi` adalah orang yang pegang pada suatu hukum yang datangnya benar-benar dari Allah dan Rasul-Nya. Namun tidak menutup kemungkinan jika pendapatnya itu salah, dan ia menerima pendapat yang lebih kuat dari pendapatnya.
Asas agama ini adalah Al-Qur`an dan As-Sunah.

Al-Qur`an dan As-Sunah merupakan sumber hukum abadi agama Islam bagi mereka yang mendapati perselisihan terutama masalah fiqh maupun yang lainnya. Bagi mereka yang mengingkarinya, Allah telah jelas menyebutnya bukan termasuk golongan yang beriman:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka selisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.

Salah satu dari imam yang empat tidak pernah mengatakan : “ikutilah aku, dan perbuatanku”. Namun mereka senantiasa mengatakan: “Ambillah setiap perkataan dan perbuatanku jika itu datang dari Al-Qur`an dan As-Sunah.
Imam yang empat ini senantiasa melarang kita untuk bertaklid buta, karena itu merupakan perbuatan bid’ah.

Orang yang berhak untuk kita ikuti hanyalah Rasulullah Saw, karena Allah SWT menjaga beliau dari kesalahan, sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya”. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”.

Dengan demikian kevaliditasan Al-Qur`an dan As-Sunah tidak diragukan lagi, karena memang segala macam keilmuan dan rujukan permasalahan telah terangkum dengan rapi di dalam Al-Qur`an, tinggal tugas kita untuk memperdalam dan mempelajarinya secara seksama.

Ikhtitam

Inilah sekilas tentang permaslahan madzhab, dari uraian diatas, setidaknya kita bisa mengetahui bagaimana hakikat madzhab itu sendiri. Hal ini, bila kita spesipikkan lagi, yang erat kaitannya dengan hukum bermadzhab. Ulama besar, baik yang diwakili oleh kelompok turast –dalam hal ini Ibnu taymiyyah-, maupun ulama kontemporer –yang diwakili oleh Yusuf Qardawî.

Mereka telah menjelaskan bagaimana hukum bermadzhab, begitu pula mereka para tokoh yang telah menyebarkan pemahamannya –imam yang empat- bahwa bermadzhab tanpa keterangan yang jelas, disertai dengan keilmuan yang tidak matang akan menenggelamkan kita ke jurang “ketaqlidan”, apalagi di tambah dengan rasa fanatisme buta.

Oleh itu, kiranya sangatlah bijak sekali syeh Mahmud Saltût, selaku syeh Azhar –yang ketika beliau menjabat- memerapkan madah Fiqh muqârin (fikih perbandingan), sebagai upaya pendalaman dalam memahami madzhab-madzhab fiqh.

Allah swt telah menegaskan dalam firman-Nya: “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian”.

Rasulullah saw selaku junjunan kita telah mengingatkan dalam sebuah ungkapannya “kamu sekalian tidak akan tersesat selamanya, selama berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah”
Akhirnya, penulis pun menyadari bahwa makalah ini jauh sekali dari kesempurnaan. Begitu pula, dengan permasalahan ini tidak akan bisa terkupas dengan makalah yang sangat terbatas ini. Untuk itu, kami tunggu kritik dan sarannya.


Daftar Pustaka

1. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, I`lamul Mu`awwiqin (2:309)

2. Syeh Muhamad bin Shâlih al-‘Utsaimîn. al-Khilâf-u Bayna al-Ulamâ-I, Asbâbuh-u wa mawqifunâ minhu. Maktabat-us ‘Sunnat-i. Cairo. Egypt. 2000. Cet. I. Hal. 31

3. Imam Abî ‘Abdullah Muhamad bin Ahmad al-Anshârî al-Qurthubî. Al-jâmi’u li-l Ahkâm-il ‘Qur’an-I. Dâr-ul ‘Kutub-il ‘Ilmiyyat-i. Beirut. Libanon. 1996. Cet. V. Vol. 5

4. Imam Abî Husen Muslim bin al-Qusyairî al-Naysâbûrî. Shahîh-u Muslim bi syarhi al-Nawawî. Yang di tahqîq (di teliti ulang) oleh Muhamad Fuâd ‘Abdul Bâqî. Dâr el-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Libanon. 2000. Cet. I. Vol. XI. Hadits ini terdapat pada Kitâb-ul ‘Masâqât-i wa-l ‘Mazâra’at-I, bab-u bay’ath ‘Tha’âm-I matsala-n bimatsali-n. No.102 (1597).

5 Syeh Muhamad bin Shâlih al-‘Utsaimîn. Ibid. Hal. 21

6. Syeh Muhamad bin Shâlih al-‘Utsaimîn. Ibid. Hal. 6

7. Imam Ahmad bin Abdul Rahîm ad-Dahlawî. Al-Inshâf-u Fî Bayân-I Asbab-il ‘Ikhtilâf-I. Yang di-tahqîq (diteliti ulang) oleh Muhamad Abdullah al-Thâlibî. Maktabat-us ‘Sunnat-i. Cairo. Egypt. 2000. Cet. I. Hal. 31

8. Prof. Dr. ‘Alî Mar’î. Al-Mawshû’ah Al-Islâmiyyah Al-‘Âmmah. Di bawah pengawasan Prof. Dr. Mahmûd Hamdî Zaqzûq, Mentri Agama Republik Arab Mesir, dan Direktur Majlis A’la Li Syu’ûn Al-Islâmiyyah. Cairo, Mesir 2001 M./1422 H. Hal. 1274

9. Muhammad Sulthan Al-Maksumi, Halil Muslim mulzamun bittiba`i madzhab mu`ayyan minal madzâhibil arba`ah. Dâr Ibn Affân 2001. Hal. 55

10. Dr. Mushthfâ al-Syuk’ah. Islâm Bilâ Madzâhib. Dâr Al-Mishriyyah Al-Libnaniyyah. Cairo, Egypt, 2000. Cet. XIV. Hal. 207.

11. Prof. Dr. Ali Mar’î. Ibid. Hal. 1275

12. Prof. Dr. Mushthafâ al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 399

13. Prof. Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 425

14. Prof. Dr. Ali Mar’î. Ibid. Hal. 1275

15. Prof. Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 435

16. Prof. Dr. Ali Mar’î. Ibid. Hal. 1275

17. Prof. Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 456

18. Prof. Dr. Ali Mar’î. Ibid. Hal. 1276

19. Prof. Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 482

20. Prof. Dr. Ali Mar’î. Ibid. Hal. 1276

21. Ibnu Taimiyah, Majmû`atul Fatâwâ, Dâr el-Wafâ, Cairo, Egypt, 2001. Cet. II. Vol. 10 Hal.117

22. Dr. Yusuf Qardhawi, Fatawa Mu`ashirah. Dar el-Qalam, Egypt, 2001 Vol. 3 Hal. 589-599

23. Muhammad Sulthan Al-Maksumi, Ibid. Hal. 57

24. Prof. Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 26

 

 

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 26

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Zaawiyatul ‘Arabiyyah

لِمَاذَا نُزِّلَ القُرْآنُ بِلُغَةِ قريشٍ؟ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ مِنْ عُمْرِهِ أَرْسَلَ اللهُ إِلَيْهِ رِسَالَةً...

Kisah Hidup dan Karya Imam Ath Thabari

Oleh : Yandi Rahmayandi Iftitâh Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,"Tidak pernah ditemui satu umat pun yang pernah hidup dimuka...

Melacak Akar Pemikiran Mu’tazilah

Oleh: Divisi Aliran Keagamaan (ALIGA) Dewan Buhûts Islâmiyyah FOSPI Mukadimah Makalah yang kami presetasikan sekarang ini, hanyalah usaha kecil dan ala kadarnya untuk mencoba memaparkan kembali...

Mengenal Sosok Ibnu Katsir dan Metode Penafsiranya

Oleh : Pardan S. Sambas A. Pendahuluan Secara garis besar, para ulama membagi kepada empat jenis tafsir. Pertama, tafsir tahlîlî, kedua, tafsir ijmâlî. Ketiga, tafsir muqârin....

Apakah Hadist Ahad Bisa Dijadikan Hujjah Dalam Aqidah

Oleh: Divisi Tafsir-Hadits (LBI) Ta’rîf Hadîts Al-Âhâd Untuk membahas bagaimana kedudukan hadîts al-âhâd dalam aqîdah, terlebih dahulu harus dilihat ta’rîf hâdits, selanjutnya pembagian al-Hadîts berdasarkan jumlah...

More Articles Like This