Tuesday, December 1, 2020

Dampak Covid-19: Sebuah Perspektif Muslimah

Must Read

Responsibilitas Bani Israil terhadap Dakwah Para Nabi

Oleh: Ainun Firdaus Rabbani Pendahuluan Setiap umat beragama memiliki batas waktu tertentu untuk terus eksis di muka bumi. Berangkat dari usia...

(Ijtihad)Sebuah Bukti Islam Relevan Untuk Semua Zaman

Oleh: Divisi Syari’ah (LBI) PENGERTIAN IJTIHAD Lughah Ijtihad menurut bahasa diambil dari kata (الجهد) yang berarti kesulitan (al masyaqqah) dan kekuatan (at-thaaqah),...

Manusia Paling Baik

Oleh: Firas Sarah Anrisya بَابُ مَا جَاءَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ Matan Hadits حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ...

5
(4)

Oleh: Fatin Nurcintami

Akhir Desember 2019 lalu, kita digemparkan dengan wabah virus yang bernama Covid-19. Wabah ini muncul pertama kali di Wuhan, Cina. Makhluk kecil ini melumpuhkan setiap komponen dunia, baik dari segi sosial, perekonomian, bahkan juga moral. Ironisnya zaman elite globe sekarang ini, yang mana saat kini manusia dengan bangganya membicarakan seputar era milenial dengan pencapaian teknologi yang canggih baik modern.

Di sisi lain pada saat yang sama secara kebutuhan, kini jumlah manusia terus bertambah diseluruh dunia, hingga sumber daya manusia, kecerdasan dan kemampuan kreativitas mempuni di zaman sekarang ini, dituntut secara aktif, agresif, dan dinamis dalam menghadapi berbagai masalah. Namun mendadak tertunduk lesu, diam, tak berdaya karena adanya virus Corona jenis baru yang kemudian disebut Covid-19.

Maka benarlah firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Q.S Al Baqarah ayat 26, yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah (kecil) dari itu”. Dalam tafsir Ibnu Katsir dituliskan bahwa Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah menurutnya, “Ketika Allah ta’ala menyebutkan laba-laba dan lalat, orang-orang musyrik pun bertanya, “Untuk apa laba dan lalat itu disebut?” Lalu Allah menurunkan ayat ini (Al-Baqarah: 26). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah tidak memandang remeh ciptaanNya berupa nyamuk atau lebih kecil lagi. Itu juga berarti bahwa Allah tidak takut untuk membuat perumpamaan apa saja baik dalam bentuk yang kecil maupun besar.

Hal tersebut dapat kita buktikan dengan kehadiran Covid-19 bahwa belakangan ini, ternyata ditemukan bahwa diameter Covid-19 diperkirakan mencapai 125 nanometer atau 0,125 mikrometer. Satu mikrometer sama dengan 1000 nanometer. Kecil sekali dan tak mungkin pandangan manusia mampu melihatnya. Bahkan WHO menyebut virus corona baru (Covid-19) dapat bertahan selama beberapa jam, bahkan beberapa hari. Bahkan dapat bertahan hidup di suhu 26-27 derajat celcius.

Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa kehadiran covid-19 telah memberikan fenomena dampak perubahan yang luar biasa terhadap kehidupan umat manusia. Hemat penulis setidaknya ada tiga aspek yang bedampak besar dari kehadiran eksistensinya sehingga menjadi persoalan yang serius, yaitu sebagai berikut:

Pertama dari segi sosial, fenomena ini dirasa begitu menakutkan sampai-sampai manusia berbondong-bondong membeli keperluan mereka untuk jangka waktu yang cukup lama, manusia kocar-kacir ketika diberlakukannya lockdown dan social distancing. Adanya wabah ini pun tak jarang manusia saling beradu mulut di sosial media mengenai boleh atau tidaknya sholat berjamaah, boleh atau tidaknya memakai hand sanitizer, boleh atau tidaknya mudik atau pulang kampung.

Kedua, dalam segi perekonomian, yang dimana saat ini Physical distancing atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sudah diberlakukan oleh pemerintah, dari data yang dikabarkan, berapa banyak informasi terkait maraknya kasus virus Covid-19 ini semakin bertambah dikarenakan masyarakatnya tidak menaati peraturan yang berlaku, itu tak lain disebabkan penghasilannya belum mencukupi kebutuhan sehari-hari atau malah tak berpenghasilan sama sekali, dan ada juga sebagian dari mereka mencari-cari kesempatan dalam mencari keuntungan.

Mirisnya, pemerintah belum bisa menunjang kebutuhan mereka secara kontinu dikarenakan kemerosotan ekonomi yang kian pesat, di berbagai negara termasuk Indonesia. Oleh karena itu, maka peran kita sebagai manusia yang memanusiakan manusia, khususnya umat muslim yang menjadi umat mayoritas harus semakin bertambah kepedulian kita terhadap sesama, diberlakukannya sosial distancing bukan berarti kepedulian kita pun berjarak hingga mengabaikan orang-orang yang masih membutuhkan rangkulan tangan dan pangan, agar saling memudahkan mereka dan keluarganya hingga tidak terjangkit virus berbahaya ini.

Ketiga, dari segi moral, sebagaimana kita tau bahwa umat muslim dikenal dengan umat yang balance menempatkan antara ikhtiar dan tawakal, oleh karenanya rasa putus asa atau menganggap sepele sesuatu bukanlah sebuah solusi bagi kita sebagai umat muslim. Dalam kondisi seperti ini manusia akan merasa tidak bisa apa-apa tidak memiliki apa-apa bahkan bukan apa-apa mereka semua berputus asa. Namun, keputus asaan hanya bagi mereka orang-orang kafir. Sebagaimana firman Allah swt: “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS.Yusuf: 87).

Dalam menghadapi tiga aspek sebelumnya yang begitu sangat kompleks. Maka terus menerus berdoa untuk kesembuhan dunia ini dari penyakit raga dan jiwa merupakan hal yang sangat penting, karena sejatinya hanya keesaan Allah lah yang dapat membuat ketenangan dan ketentraman di muka bumi ini.

Dengan eksistensi wabah ini pun, sudah selayaknya kita sebagai umat muslim senantiasa berhusnudzon (berbaik sangka) kepada Allah bahkan yakin di baliknya ada hikmah yang sangat besar dan bermanfaat. Lalu disamping itu pun, berapa banyak anak muda saat ini berada di zona tak nentu, apalagi maraknya tiktok tak sedikit dari mereka meluapkan rasa kejenuhannya di sosial media, sebagai muslimah yang baik, sudah semestinya kita menghindari hal-hal yang tidak ada manfaatnya, justru adanya wabah ini menjadi pengingat akan teguran Allah untuk kita agar senantiasa bertaubat dan Istiqomah dalam kebaikan.

Oleh karena itu, kita pun pastinya saat ini sangat membutuhkan bimbingan dan penyuluhan agar waktu yang digunakan selalu menebar manfaat dan kebaikan. Namun, begitulah keistimewaannya Islam, Allah memberi kita buku panduan yang tak lekang waktu dan zaman, dengan selalu mentafakkuri ayat-ayatnya dan bersabar ditengah cobaan yang menimpanya.

Wallahu a’lam bi as-Shawwâb.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Latest News

Zaawiyatul ‘Arabiyyah

لِمَاذَا نُزِّلَ القُرْآنُ بِلُغَةِ قريشٍ؟ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ مِنْ عُمْرِهِ أَرْسَلَ اللهُ إِلَيْهِ رِسَالَةً...

Rihlah Makam Auliya; Rekam Jejak Para Pejuang Ilmu Agama

Kairo, (27/11) — Setelah Musyawarah Kerja (Musyker) selesai dilaksanakan, program Rihlah Makam Auliya pun tuntas terealisasi. Pada Kamis, (19/11/2020) lalu, sedikitnya ada 18 anggota...

Mahasantri Solusi Reformasi

Oleh : Resa Amelia Utami  Upaya penjajahan belanda pasca ikrar proklamasi kemerdekaan Indonesia berhasil meningkatkan kewaspadaan rakyat untuk memegang kendali negaranya agar tidak kembali jatuh...

Kisah Hidup dan Karya Imam Ath Thabari

Oleh : Yandi Rahmayandi Iftitâh Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,"Tidak pernah ditemui satu umat pun yang pernah hidup dimuka...

Metode Istidlal Imam Abu Hanifah

Oleh: Anwar Musthafa Shiddiq MUQADIMMAH Islam adalah merupakan din yang syamil dan mutakamil. Disamping Islam merupakan sebuah solusi juga Islam merupakan suatu undang-undang yang validitasnya tak...

More Articles Like This