Tuesday, December 1, 2020

Dilema Dalam Pusaran Virus Corona

Must Read

Muktamar dari Masa ke Masa; Menuju Muktamar Persis Ke XVI

Oleh: Hafizh Dhya Ulhaq Muqaddimah Jamiyyah Persatuan Islam (Persis) sebagai organisasi massa Islam terbesar ketiga di Indonesia, setelah Nahdlatul Ulama dan...

Kebangkitan Islam (الصحوة الإسلامية)

Oleh: Ayif Saifuddin Tidak dipungkiri bahwa umat Islam sekarang sedang berada di persimpangan jalan, hidup dalam ketersesatan, yang belum pernah...

Rihlah Makam Auliya; Rekam Jejak Para Pejuang Ilmu Agama

Kairo, (27/11) — Setelah Musyawarah Kerja (Musyker) selesai dilaksanakan, program Rihlah Makam Auliya pun tuntas terealisasi. Pada Kamis, (19/11/2020)...

5
(1)

Oleh: Ainun Firdaus Rabbani

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

«كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ»[1]

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Saw, bahwa beliau pernah bersabda : “Setiap hewan buas yang bertaring, maka haram memakannya”.

Akhir-akhir ini dunia dibuat guncang dengan kehadiran sebuah virus yang mematikan. Virus tersebut telah memakan banyak korban di setiap negara. Bermula dari satu tempat di Tiongkok bernama Wuhan, yang disebabkan karena mengonsumsi segala macam binatang, termasuk binatang buas. Hal ini seperti ini telah lumrah di daerah tersebut sehingga tidak heran berdampak sangat signifikan terhadap kesehatan tubuh. Dari kebiasaan buruk itu, lahirlah virus yang oleh para ahli kedokteran disebut dengan virus Corona atau COVID-19.

Jika seseorang telah terserang virus Corona, di antara gejala-gejala awalnya bisa membuat demam, batuk dan bahkan sampai sesak nafas. Virus ini sudah menyebar ke pelbagai daerah di belahan bumi. Hal inilah yang membuat para kepala pemerintah dibuat keawalahan dalam mengatasinya. Untuk melindungi warganya, Pemerintah di setiap daerah meliburkan segala bentuk aktivitas masyarakat selama dua pekan. Berharap dengan tidak adanya kontak fisik untuk sementara, bisa mengurangi frekuensi virus Corona.

Namun ada juga sebagia para ahli yang mencoba mengkritisi fenomena ini dengan tanda-tanda akhir zaman. Ada juga yang berpendapat bahwa hadirnya virus Corna adalah sebagai hukuman bagi pemerintah Tiongkok yang saat ini sedang menyekap ratusan bahkan ribuan umat Islam yang hidup di Wuhan. Bahkan ada juga daerah yang tetap menjual potongan daging buas untuk dikonsumsi.[2] Padalah dunia sedang berada dalam status yang darurat. Akibat dari pemberitaan terkait virus Corona, banyak masyarakat yang ketakutan akan kehadiran virus ini. Tetapi para kepala negara tetap berusaha menenangkan kegelisahan masyarakatnya serta mencoba menetralisir kembali para korban penjangkit virus Corona.

Menurut WHO, virus Corona adalah keluarga besar virus yang dapat menyerang hewan dan manusia. Pada manusia beberapa virus Corona diketahui dapat menyebabkan infeksi pernafasan muali dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS). COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Corona yang paling baru ditemukan. Virus dan penyakit ini baru diketahui sebelum wabah dimulai di Wuhan, Tiongkok, pada bulan Desember 2019.

Gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, kelelahan dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare. Gejala-gejala ini biasanya ringan dan mulai secara bertahap. Beberpa orang terinfeksi tetapi tidak menampakkan gejala apa pundan merasa tidak enak badan. Kebanyakan orang (sekitar 80%) sembuh dari penyakit tanpa memerlukan perawatan khusus. Sekitar 1 dari 6   orang yang terinfeksi virus Corona sakit parah dan mengalami kesulitan bernapas. Orang yang lebih tua dan mereka yang memiliki masalah medis yang mendasarinya seperti tekanan darah tinggi, masalah jantung atau diabetes, lebih mungkin utnuk mengembangkan penyakit serius. Orang yang demam, batuk dan kesulitan bernapas harus mendapat perhatian medis

Di Indonesia sendiri saat ini (sampai tanggal 17 Juni 2020), sudah terjadi 42.762 kasus virus Corona yang terkonfirmasi positif COVID-19. Ada diantaranya yang sembuh sebanyak 16.798 orang, sisanya yang meninggal 2339 orang (positif COVID-19).[3]

Dalam salah satu warta juga[4] yang diberitakan Inewstv, Organisasi Buruh Internasiional PBB (ILO) mengumumkan sebanyak 24 juta orang terancam kehilangan pekerjaan akibat pandemic COVID-19. ILO melakukan beberapa skenario berbeda untuk melihat dampak virus Corona terhadap pertumbuhan PDB (GDP) secara global. Hasilya angka pengangguran secara global dilaporkan dapat meningkat sebanyak 5,3 juta berdasarkan skenario “rendah” dan 24,3 juta berdasarkan skenario “tinggi”. Hilangnya pekerjaan berarti pendapatan bagi para pekerja. Studi PBB menyebut pendapatan yang hilang antara 860 miliar dollar atau sekitar Rp. 13.000 triliun, hingga 3,4 triliun dollar atau senilai dengan Rp. 52.000 triliun.

Bahkan sikap diskriminatif dirasakan oleh sebagian para pelajar Indonesia yang di luar negeri dengan sebutan Corona atau penyebar virus Corona yang keluar dari mulut masyarakat sekitar. Hanya karena warga Indonesia merupakan ras Asia.

Jika ditarik benang merah dari semua permasalaha ini, maka akan bermuara pada makanan. Apa yang kita konsumsi sejatinya itulah yang bukan hanya akan mentransfer energi pada tubuh melainkan akan turut serta memberi corak pada sikap. Makanan sehat sudah barang pasti menjadi hal yang wajib bagi kita untuk dikonsumsi, terlebih sebagai muslim, kita dituntut untuk memakan makanan yang baik, cara makan yang baik serta cara mendapatkan makanan dengan baik.

Allah swt., sang Maha Pencipta sejak zaman dulu hingga sekarang memang sebelum menciptakan manusia. Di mana dia lebih dulu meciptakan bumi, hewan dan tumbuhan yang nantinya akan dikelola sebaik mungkin oleh manusia. Di antara hewan yang diciptakan ada yang bisa dimakan, ada yang hanya dijadikan tunggangan atau alat transportasi saja, bahkan ada juga yang tidak boleh dimanfaat sedikit pun. Hal ini tentunya mengacu pada komponen tubuh manusia yang hanya butuh terhadap beberapa makanan saja yang berhak atau boleh dikonsumsi, selain dari itu jika dimakan maka akan menimbulkan penyakit bagi tubuh.

Rasulullah saw dahulu pernah memberi petuah bahwa haram bagi umat Muslim untuk mengonsumsi binatag buas. Pasalnya, biantang buas adalah pemakan bangkai. Sedangkan bangkai adalah sesuatu yang berbahaya bagi tubuh yang karena itu diharamkan dalam al-Qur’an. Walau pun haramnya pada petuah nabi Muhammad saw tidak menyimpan kemutlakan, tetapi bagi seorang yang berpendidikan patut untuk diperhatikan baik-baik.  Karena segala permasalah yang terjadi di alam dunia akan kembali kepada perut.

Bukankah nabi Adam sendiri terusir dari surga karena masalah makanan? Bahkan pembunuhan pertama manusia yang dilakukan Qabil terhadap Habil bukankah masalah makanan juga?. Para Pelacur yang beroprasi malam-malam, hakikanya mereka hanya mencari sesuap nasi walau jalan yang ditempuh harus keji dan kotor, bukanah karena makanan juga?

Jika kita mampu mengontrol, memilah dan milih makanan dengan cermat, hasilnya akan dipetik oleh kita sendiri. Sehat juga untuk kita sendiri. Maka kejadian seperti COVID-19 atau virus Corona tidak akan pernah terjadi. Termasuk hidup sehat, adalah hal yang diajarkan baginda nabi. Itulah mengapa peradaban yang nabi dan para sahabat bangun begitu kuat namun juga sehat. Karena otak yang cerdas serta akhlak mulia di dapat atau bersumber dari apa yang kita makan. Wallahu A’lâm

 

______________

[1] HR. Muslim, Kitab Ash-Shoid Adz-Dzabadzih wa ma yu’kalu minal Hayawan, Bab Tahrimu Akli Kulli dzi Nabin minas Siba’iI wa Kulli Mikhlabin minat Thairi, No. 1933. Bukhari No. 5530, Ad-Darimi No. 2023, Ahmad No. 1254, Malik No. 13, Abu Dawud No. 3802, Tirmidzi No. 1477.

[2] https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200316112944-20-483776/pasar-tomohon-masih-jual-kelelawar-di-tengah-virus-corna

[3] COVID19.G0.ID

[4]https://www.instagram.com/p/B96gaoMIdFY/?igshid=197x86hgbbp00

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Latest News

Zaawiyatul ‘Arabiyyah

لِمَاذَا نُزِّلَ القُرْآنُ بِلُغَةِ قريشٍ؟ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ مِنْ عُمْرِهِ أَرْسَلَ اللهُ إِلَيْهِ رِسَالَةً...

Perang Salib dan Pengaruhnya terhadap Peradaban Barat

Oleh: Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua abad perang ini selalu menarik...

Hukum Menambahkan Kalimat “Sayyidina” Pada Shalawat

A. PENDAHULUAN Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada kita sampai kita...

Gaya Leadership Ala Nabi Muhammad SAW

Oleh : Muhammad Ghifari My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be...

Hukum Sistem Jual Beli Dropship

Oleh: Sana Mulyna KATA PENGANTAR Segala puji hanya bagi Allah ‘azza wajalla ,Tuhan semesta alam yang telah memberikan Rahmat dan kasih sayangnya kepada kita semua,sehingga senantiasa...

More Articles Like This