Falsafah Blasphemy [Penistaan]

4.9
(17)

Oleh: Muhammad Ghifari

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa agama memiliki peran sentral dalam kehidupan umat manusia di dunia ini. Di samping itu, tidak dapat diingkari lagi bahwa pengaruh agama sangatlah besar dalam membentuk kontruksi paradigma manusia, bahkan peradaban sekalipun.

Oleh karena itu, berbicara keyakinan-keyakinan tidaklah dilakukan secara sembarangan, namun perlu disertai perangkat-perangkat serta mekanisme dalam memahaminya. Hal tersebut karena agama itu memiliki dimensi suci, serta menyangkut keyakinan itu sendiri yang sudah sejak lama diyakini sejak turun menurun.

Akan tetapi terdapat sebagian kelompok umat manusia yang mengotori, bahkan menghina kesucian keyakinan kelompok yang lain. Di mana akhir-akhir ini, berbagai fenomena yang dianggap penistaan agama selalu muncul, yang paling muktahir di Iran, seorang selegram seperti Angelina Jolie ditangkap karena Penistaan agama (www.kompas.com diakses 21 Oktober 2019).

Belum juga kasus perempuan bawa Anjing ke Masjid di Bogor (www.Sindonews.com diakses 21 Oktober 2019), bahkan sampai kasus Ustad Abdul Somad, Lc, MA dianggap menistakan agama.

Memang terdapat doktrin dalam sebagian keyakinan khususnya dalam konteks dimensi yang trasenden. Di mana semua agama sama-sama menilai bahwa true truth (kebenaran) hanya ada pada agama yang diyakini di antara mereka, sedangkan yang lain salah. Hal tidaklah salah selama tergantung melihat konteks tempat dan waktu. Jika dilakukan tampat melihat konteks tempat dan waktu yang telah disepakati, maka hal tersebut dinamakan dengan penistaan agama atau blasphemy.

Penistaan agama atau Blasphemy telah sering kita dengar di khalayak masyarakat umum. Akan tetapi kita tidak bisa serta merta secara langsung mengatakan bahwa orang tersebut terindikasi telah menista sebuah agama. Ada berbagai aturan, ketetapan dalam menetapkan istilah tersebut kepada seseorang. Oleh karena itu, diperlukan memahami istilah dari penistaan agama itu sendiri.

Secara etimologi kalimat “penistaan agama” merupakan susunan dari dua kata yaitu; penistaan dan agama. Dalam KBBI sendiri penistaan merupakan imbuhan kata dari kata “nista” yang berarti hina, rendah, tidak enak didengar, aib, cela dan noda. Sedangkan agama diartikan sebagai ajaran atau sistem yang mengatur tatacara keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang maha kuasa (KBBI offline).

Oleh karena itu, jika kata tersebut dinisbatkan kepada agama, kurang lebihnya bermakna membicarakan hal negatif yang telah sakral mengenai suatu ajaran dan sistema yang mengatur tata keimanan atau kepercayaan serta peribadan kepada Tuhan Yang maha Esa. Adapun secara terminolog dalam Oxford dictionary disebutkan bahwa yang dimaksud dengan penistaan agama atau blasphemy adalah: “the action or offence of speaking sacrilegiously about god or sacred thing profane talk (www.oxforddictionaries.com diakses 15 September 2019).

Secara legalitas hukum dunia di PBB, menurut Fiss dan Kestenbaum (2017: 7-12) mengutip hasil Universal Declaration of Human Right (UHDR)- International jurisprudence, and general principles of law, di mana menyebutkan beberapa prinsip dan indikator sebagai standarisasi yang telah disertai dengan instrument serta prinsip-prinsip segala umum untuk diaplikasikan diseluruh negara yang tidak dipengaruhi oleh georafi, budaya, etnis ataupun afiliasi agama-agama yang lain.

Oleh karena itu, siapapun, organisasi mana pun yang tidak terpenuhi unsur-unsur prinsip serta indikator darinya, maka dapat diindikasikan sebagai “blashphemy”, di antaranya sebagai berikut:

1. Freedom of Opinion (indicator 1: Freedom of Expression)

2. Freedom of Thought (indicator 2: Freedom of Relegion or Belief)

3. Legality (indicator 3: Vagueness of the law)

4. Proportionality of Punishment (indicator 4: Severity of Penalty)

5. Nondiscrimination and Equality (indicator 5: Discrimination Agains Group)

6. Nondiscrimination and Equality (indicator 6: state Relegion protection)

7. Protection of Privacy (indicator 7: Speech and forum Limitations)
To Varyying degrees, Blasphemy laws (1) prohibit act, writings, or other forms of speech; and (2) place limitations on the forum in which individuals could be manifesting or expressing beliefs or opinions

8. Hierachy of the law (indicator 8: Hierarchy of Law)

Dalam konteks Hukum di Indonesia sendiri juga diakui legalitas hukunya seperti dalam KHUP Bab VII tentang Tindak pidana terhadap agama dan kehidupan beragama pasal 304 disebutkan bahwa: “Setiap Orang di muka umum yang menyatakan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak V”.

Dalam konteks Islam sendiri boleh membicarakan hal-hal negatif agama lain seperti mereka menyembah Isa A.S anak tuhan selama melihat konteks lokalitas yaitu di lingkungan privat (dalam arti golongan Muslim). Bagaimana pun tidak dapat diingkari bahwa bagaimanapun orang nasrani atau yahudi telah kafir sebagaimana dalam berbagai firman Allah swt (Q.S Al-Maidah: 17, 72, 73, Q.S At-Taubah: 30).

Hal tersebut, bukanlah serta merta bahwa Islam membolehkan mencela atau menistakan agama lain. Justru Al-Qur’an sendiri melarang untuk mencaci mereka yang menyembah selain Allah swt. Dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.

Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (Q.S Al-An’am: 108).

Dalam ayat tersebut yang dilarang adalah menghina tuhan-tuhan orang lain, serta larangan tersebut bukan kepada hakikat tuhan-tuhan mereka mereka, namun kepada penghinaan. Hal ini karena penghinaan tidaklah menghasilkan sesuatu yang mengarahkan kepada bentuk kemaslahatan (Depatermen Agama RI, 2008: 33).

Oleh karena itu, jelaslah baik dalam hukum Internasional, Nasional bahkan hukum Islam juga secara tegas dan melarang bentuk penistaan agama. Maka ajakan-ajakan yang terindikasi Blasphemy harus kita lawan bersama untuk terjaga masyarakat yang harmonis dan baldatun tayyibah wa rabbun ghāfur.

Wallahu A’lam bi as-Shawāb

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 17

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *