Gaya Leadership Ala Nabi Muhammad SAW

4.9
(36)

Oleh : Muhammad Ghifari

My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be questioned by other’s but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secularlevels (Michael H. Hart The 100 A Rangking of The Most Influential Persons In History, (A Citadel Press Book, 1992), hlm. 3)

Demikian pernyataan Michael H. Hart yang memilih bahwa Nabi Muhammad SAW layak dijadikan sebagai tokoh nomor satu dari 100 tokoh paling berpegaruh di dunia serta menjadi satu-satunya tokoh dalam sejarah yang amat berhasil dalam mengatur urusan keagamaan dan keduniaan (successful on both the religious and secular levels).

Oleh karena itu, tidak dapat diragukan kembali bahwa menjadikan sifat Nabi Muhammad SAW sebagai indikator pemimpin ideal adalah langkah yang tepat karena pada dirinya terdapat eksistensi universalitas sifat sebagai suri tauladan bagi umat manusia.

Gaya kepemimpinan (leadership) Nabi Muhammad SAW sebagaimana diketahui ada empat yaitu Shiddȋq (benar), Tablȋgh (Penyampain), Amânah (dapat dipercaya) dan Fathânah (cerdas dan bijak sana). Sifat-sifat tersebut dapat kita kembangkan sesuai konteks milenial ;

Pertama; Shiddȋq (benar). Kata “Shiddȋq” menunjukan arti benar dan kejujuran. Dalam hal kebenaran seorang pemimpin harus menujukan sikap yang benar, adil dan seobjektif mungkin terhadap segala problematika yang terjadi. Di samping itu, sikap jujur harus dimiliki oleh setiap pemimpin karena tidak ada keharmonasisan sebuah organisasi apapun tampa adanya kejujuran.

Kedua; Tablȋgh (Penyampain). Kata “Penyampain” ini, menunjukan sebuah heharusan bagi seorang pemimpin untuk berkomunikasi serta menjalin hubungan yang baik dengan generasi milenial atau generasi Z agar dapat mengetahui segala probelamatikanya serta pemimpim dapat mendengarkan apresiasinya karena telah menjalin komunikasi yang baik.

Ketiga; Amânah (dapat dipercaya). Pemimpin bagi generasi milenial itu harus dapat dipercaya otoritasnya baik dalam segi akhlaknya dan wibawanya serta tidak hanya semata-mata janji belaka, namun harus dibuktikan secara empiris.

Keempat; Fathânah (cerdas dan bijaksana). Sikap ini, wajib dan mutlak untuk dimiliki oleh setiap pemimpin dan potensi kecederdasan bagi pemimpin harus mengikuti kesesuaian dengan tuntutan Abad ke 21.

Dengan demikian gaya kepimpinan Nabi Muhammad SAW baik dalam mengurus sebuah negara, keluarga dsb sangatlah penting untuk diplementasikan dalam kehidupan sosial dan masyarakat guna memajukan umat manusia serta peradabannya. Hal ini, sebenernya Al-Qur’an telah menginformasikan sejak beberapa abad dahulu bahwa pada diri kepribadian Nabi Muhammad SAW terdapat suri taulan yang baik. Allah SWT befirman :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S Al-Ahzab: 21).

Waallahu a’lam bi Shawāb

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 36

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *