Wednesday, October 28, 2020

Hukum Sistem Jual Beli Dropship

Must Read

Mengenal Sosok Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf Oleh : Anton H. Sultonan A. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah...

Dakwah Para Nabi Kepada Bani Israil

Oleh : Ainun Firdaus A. Pendahuluan Setiap umat beragama memiliki batas waktu tertentu untuk terus eksis di muka bumi. Berangkat dari...

Sejarah Singkat Ilmu Balaghah

في النحو والبلاغة والتفسير والأدب، الوسيط في الأدب العربي وتاريخه، تاريخ آداب اللغة العربية مناهج تجديد Resensi kitabOleh:...

5
(1)

Oleh: Sana Mulyna

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah ‘azza wajalla ,Tuhan semesta alam yang telah memberikan Rahmat dan kasih sayangnya kepada kita semua,sehingga senantiasa kita selalu diberi petunjuk dalam menjalani kehidupan dunia ini, dan dengan mengingatNya manusia senantiasa mendapatkan ketenangan didalam hatinya.

Allah swt berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada suri tauladan kita, sekaligus penuntup para nabi dan Rasul ,yakni nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan mengikuti jejak lampahnya kita dapat selamat duni akhirat.

PENDAHULUAN

Jual beli merupakan suatu kegiatan yang sejak lama dilaksanakan oleh manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Jual beli barang merupakan transaksi paling kuat dalam dunia perniagaan (bisnis) bahkan secara umum adalah bagian terpenting dalam aktivitas usaha, dalam syari’at islam sendiri jual beli dianjurkan seperti dalam firman Allah SWT:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

‘’ Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.(Q.S Al Baqarah : 275)

Semakin berkembangnya teknologi di zaman ini, membuat kegiatan jual beli terasa mudah. Sekarang penjual dan pembeli tidak harus bertatap muka dalam kegiatan jual beli, bahkan meskipun dipisahkan dengan jarak yang jauh tidak menghalangi keduanya untuk bertransaksi. Contohnya seseorang dapat mengiklankan dan menjual barang dagangannya di dunia maya, dan menerima uang dari pembeli lewat transferan antar bank, dan banyak lagi teknis atau system jual beli yang berkembang pesat di masyarakat zaman ini.

Diatara sistem jual beli yang sedang popular dimasyarakat saat ini adalah drophsiping, dimana didalam system jual beli ini, pihak yang terlibat didalamnya bukan hanya dua pihak yang meng-atas namakan sebagai penjual dan pembeli, melainkan banyak pihak yang bisa terlibat didalamnya, bahkan ada pihak yang bisa dibilang tidak bermodalkan apapun.

Sebagai pengusaha muslim, tentu bukan hanya memilikirkan kemudahan atau besarnya keuntungan suatu jenis kewirausahaan. Status halal dan haram setiap jenis usaha yang hendak dijalankan pastilah menempati urutan pertama dari sekian banyak pertimbangan.

Dan untuk mengetahui status hukum halal haram suatu perniagaan, maka seorang muslim harus melihat tingkat keselarasan sistem tersebut dengan prinsip-prinsip dasar perniagaan dalam Syari’at. Bila perniagaan tersebut selaras dengan prinsip syari’at maka halal untuk dijalankan. Namun bila terbukti menyeleweng dari salah satu prinsip atau bahkan lebih maka sudah sepantasnya untuk mewaspadainya.

POKOK PEMBAHASAN

Pengertian Dropship

Menurut Wikipedia, pengertian Dropship adalah sebuah teknik pemasaran jual-beli yang dilakukan oleh seorang retailer (penjual eceran) ketika ia dalam hal ini tidak memiliki barang di tempatnya,dan dimana jika retailer mendapat order, ia meneruskan pesanan dari pembeli kepada pemilik barang. Retailer biasanya menjual barang dengan memberikan deskripsi barang kepada calon pembeli. Baik berupa tulisan, gambar atau secara lisan. Kemudian retailer akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga antara harga dari pemilik barang dengan harga yang diterapkan kepada konsumen.

Pengklasifikasian System Jual Beli Dropshiping.

Pada hakikatnya Sistem jual beli dropshiping yang terjadi dikalangan masyarakat Indonesia beraneka ragam dalam mempraktekannya, tetapi kita dapat menarik benang merah yang menjadi inti dari alur system jual beli ini sebagaimana disebuatkan didalam definisi diatas.

Setelah kita memahami bagaimana alur system dropshiping, kita dapat menemukan ada tiga pihak yang terkait didalamnnya. diantaranya, konsumen, dropshiper, dan produsen (pemilik barang). Disini posisi dropshiper hanya sebagai perantara, dan dia sebenarnya tidak memiliki barang sama sekali, hanya menjualkan barang milik produsen saja dan nantinya dia akan mendapatkan keuntungnnya baik berupa fee (keuntungan) yang ditetapkan produsen atau berupa selisih harga dari pembeliannya ke produsen dan penjualannya ke konsumen. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa dropshiper hanya menjualkan barang milik orang lain.

Maka dari uraian diatas kita dapat mengklasifikasikan system dropshiping secara garis besarnya kedalam dua bentuk;

1. Drophsiper sebagai wakil ( Agen) dari pemilik barang (produsen).

2. Dropshiper bukan sebagai wakil ( Agen).

Hukum Sistem Dropship jika Dropshiper Sebagai Wakil (Agen) Dari Pemilik Barang (produsen).

Didalam bentuk sistem Dropship ini kita dapat menyimpulkan bahwa dropshiper mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemilik barang untuk memasarkan barang dagangannya, dengan kesepakatan kesepakatan yang telah ditentukan oleh keduanya.

Untuk menentukan hukum fikih mengenai metode transaksi dropship ini, maka perlu didefinisikan dulu akad apa yang terjadi dalam transaksi dropship ini. Dan ada beberapa pendekatan yang memungkinkan dalam hal ini. Yaitu sebagai berikut:

1. Akad samsarah (makelar atau calo)

Akad samsarah kita kenal dengan istilah makelar atau keagenan, Definisi akad samsarah dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (10/151):

السمسرة : هي التوسط بين البائع والمشتري , والسمسار هو : الذي يدخل بين البائع والمشتري متوسطاً لإمضاء البيع , وهو المسمى الدلال , لأنه يدل المشتري على السلع , ويدل البائع على الأثمان

“Samsarah adalah perantara antara penjual dan pembeli. Simsar adalah orang yang menjadi penengah antara penjual dan pembeli untuk menjalankan proses transaksi. Disebut juga dallal, karena ia mengantarkan pembeli kepada barang yang ia cari, dan mengantarkan penjual kepada penjualan”. (Dikutip dari muslim.or.id

Dalam sistem dropship bentuk ini bisa saja sang dropshiper berperan sebagai samsarah atau makelar dimana dropshiper menjadi penengah antara penjual dan pembeli atau pemilik barang dan pembeli untuk melancarkan sebuah transaksi dengan imbalan upah (ujroh), bonus atau komisi ( ji’alah).

Akad samsarah ini dibolehkan dalam syariat. Imam Bukhari mengatakan dalam Shahih Bukhari:

بَاب أَجْرِ السَّمْسَرَةِ . وَلَمْ يَرَ ابْنُ سِيرِينَ وَعَطَاءٌ وَإِبْرَاهِيمُ وَالْحَسَنُ بِأَجْرِ السِّمْسَارِ بَأْسًا . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : لا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ : بِعْ هَذَا الثَّوْبَ فَمَا زَادَ عَلَى كَذَا وَكَذَا فَهُوَ لَكَ . وَقَالَ ابْنُ سِيرِينَ : إِذَا قَالَ بِعْهُ بِكَذَا فَمَا كَانَ مِنْ رِبْحٍ فَهُوَ لَكَ ، أَوْ بَيْنِي وَبَيْنَكَ فَلَا بَأْسَ بِهِ . وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِم

“Bab akad samsarah. Dibolehkan oleh Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim, dan Al Hasan. Ibnu Abbas mengatakan: tidak mengapa seorang berkata: jualkanlah baju ini, kelebihannya sekian-sekian silakan engkau ambil. Ibnu Sirin mengatakan: jika seseorang berkata: jualkanlah barang ini dengan harga sekian, keuntungannya sekian menjadi milikmu, atau antara engkau dan aku bagiannya sekian, maka ini tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: kaum Muslimin wajib menepati syarat-syarat yang mereka sepakati”. ( shohih bukhori juz 3 halaman 93).

عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي غَرَزَةَ، قَالَ: كُنَّا نُسَمَّى فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّمَاسِرَةَ، فَمَرَّ بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمَّانَا بِاسْمٍ هُوَ أَحْسَنُ مِنْهُ، فَقَالَ: «يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ الْحَلِفُ وَاللَّغْوُ، فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ»

“Diriwayatkan dari Qois bin Abi ghorozah dia berkata : “Kami pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam disebut dengan “samasirah“ (calo/makelar), pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik dari calo, beliau bersabda : “Wahai para pedagang, sesungguhnya jual beli ini kadang diselingi dengan kata-kata yang tidak bermanfaat dan sumpah (palsu), maka perbaikilah dengan (memberikan) sedekah“.(HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah dan di shohihkan oleh Albani). ( Hadits dikutip dari majelis istifta dewan hisbah PP Persis).

2. Akad wakalah (wakil).

Akad kedua antara dropshiper dan produsen bisa dengan akad wakalah. Yaitu produsen selaku pemilik barang mewakalahkan penjualan barangnya kepada dropshiper sehingga posisi dropshiper sebagai wakil dari produsen.

Ini terjadi ketika dropshiper menawarkan barang orang lain yang sebelumnya dia telah membuat kesepakatan dengan pemilik barang agar dia diberi kepercayaan untuk menjualkan barang tersebut untuk atau atas nama pemilik barang dan mendapatkan komisi dari setiap barang yang dijualnya, maka statusnya dalam pandangan syari’at adalah sebagai wakil yang sama hukmnya dengan pemilik barang.

Barang yang akan dijualkannya dipersyaratkan telah dimiliki sebelumnya oleh pemilik barang sebelum dijualkan oleh wakil (agent).
Diantara dalil bolehnya wakalah dalam jual beli, firman Allah Ta’ala:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini…” (QS. Al Kahfi: 19).

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radiyallohu anhuma dia berkata, ‘’Aku hendak pergi menuju Khaibar, lalu aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mengucapkan salam kepada beliau, aku berkata, “Aku ingin pergi ke Khaibar’’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

( إِذَا أَتَيْتَ وَكِيلِي فَخُذْ مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ وَسْقًا، فَإِنِ ابْتَغَى مِنْكَ آيَةً، فَضَعْ يَدَكَ عَلَى تَرْقُوَتِه)

‘’ Bila engkau mendatangi wakilku di Khaibar ambillah darinya 15 wasaq kurma! Bila dia meminta bukti (bahwa engkau adalah wakilku) maka letakkanlah tanganmu diatas tulang bawah lehernya’’. (HR. Abu Dawud no 3632. Menurut Ibnu Hajar sanad hadits hasan).

Hadits diatas sangatlah jelas menyatakan bahwa wakil hukumnya sama dengan pemilik barang.

Hukum Sistem Dropshiping jika Dropshiper bukan Sebagai Wakil (Agen) Dari Pemilik Barang (produsen).

Bentuk sistem dropshiping inilah yang banyak dipraktekan di dunia bisnis saat ini, dimana posisi dropshiper berperan sebagai penjual yang menjualkan barang kepada konsumen, selain itu pada hakikatnya dia tidak memiliki barang sama sekali melainkan membeli barang yang dipesan oleh konsumen kepada produsen, dan meminta produsen untuk mengirimkan barangnya langsung ke alamat konsumen atas nama dropshiper tanpa melewati dirinya atau tanpa dia memegang terlebih dahulu barang yang dia beli.

Ada beberapa hal yang terdapat dalam alur sistem dropshiping ini, yang menjadi perdebatan dikalangan ulama dan ahli ekonomi islam di era modern ini, sehingga menyebabkan perbedaan pendapat dikalangan mereka diantaranya;

1. Dropshiper tidaklah memiliki barang dagangan dan menjual barag yang bukan miliknya.

2. Dropshiper menjual kembali barang yang dia beli namun secara fisik belum sepenuhnya dia terima dari penjual.

3. Posisi dropshiper seolah olah memungkinkan hanya mendapat keuntungan saja tanpa adanya resiko kerugian.

Terdapat beberapa pandangan terhadap hukum sistem jual beli dropshiping beserta solusi yang ditawarkan, diantaranya

Pendapat pertama : Membolehkan sistem jual beli dropshiping dan menganggapnya sebagai akad salam.

Didalam mekanismenya sistem jual beli dropshiping sebenarnya merupakan akad salam atau salaf, yang membedakan hanyalah perkembangan zaman yang modern sehingga akad salam tidak meembutuhkan adanya pertemuan atau tatap muka diantara penjual dan pembeli.

Gambaran pemesanan terlebih dahulu (pre order), yaitu akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang sudah disepakati dengan pembayaran tunai pada saat akad berlangsung kemudian baru barang dikirim setelah terjadi kesepakatan dan pembayaran. Biasanya dropshiper menerima pembayaran tunai dimuka atau via rek, kemudian dropshiper bertransaksi dengan produsen terkait barang, kemudian produsen mengirim barang ke pembeli.

Dalil kebolehan jual beli salam (salaf), dari sahabat Ibnu Abbas Ra.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ، فَقَالَ:«مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ، فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ، وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ»،

‘’ Dari ibnu abbas Radiyallahu ‘anhuma, berkata : ‘ bahwa ketika Nabi SAW baru tiba di Madinah, orang-orang madinah biasa menjual buah kurma dengan cara salaf satu tahun dan dua tahun. Maka Nabi SAW bersabda,”Siapa menjual buah kurma dengan cara salaf, maka lakukanlah salaf itu dengan timbangan yang tertentu, berat tertentu dan sampai pada masa yang tertentu”. (HR. Bukhari, shohih bukhari juz 3 halaman 85).

Dengan demikian hukum jual beli sistem dropship adalah mubah, selama tidak ada unsur yang diharamkan.

Bagaimana dengan hadis larangan menjual barang bukan disisi kita ? hadis tersebut maksudnya adalah larangan jual beli yang belum jelas barangnya, misalnya menjual burung yang masih di udara, atau ikan yang masih dilaut.

Kedua jika yang dimaksud adalah terkait dengan kepemilikan, maka maksudnya tidak boleh menjual barang milik orang lain tanpa seizin yang punya. Namun jika ada izin, maka dibolehkan. Izin tersebut bisa berupa klausul perjanjian atau adat yang sudah menjadi hukum. ( Sumber : Majelis Istifta Dewan Hisbah PP Persis).

Adapun yang berpendapat bahwa akad salam ini tidak sah karena dilakukan dengan tunai, itu merupakan pendapat sebagian ulama, ulama madzhab syafi’I membolehkan akad tunai ( fil hal),dalilnya bahwa jikalau akad salam yang ditangguhkan sah hukumnya maka akad salam tunai lebih utama. (Al imta’ syarah matan abi syuja’ hal 224).

Begitu pula Imam asy saukani menguatkan pendapat madzhab syafii’, dan berkata dan yang benar adalah pendapat madzhab syafi’I dimana tidak disyaratkannya batas waktu, melainkan disyaratkan waktu yang diketahui untuk penyerahan barang.( Fiqih sunnah jilid 4 hal 71)

Pendapat kedua : Mempermasalahkan sistem dropship dan memberikan solusi berupa akad salam.

Terdapat beberapa hal yang menyebabkan sistem jual beli dropshiping bermasalah dan dianggap melanggar prinsip prinsip syari’ah, diantaranya :

1. Kaidah الخراج بالضمان ( resiko untung dan rugi)

Terdapat satu kaidah penting terkait transaksi dalam muamalah. Kaidah itu menyatakan,

إنما الخراج بالضمان

‘’Sesungguhnya keuntungan yang diperoleh seseorang, sebanding dengan kerugian yang ditanggung.’’

Kaidah ini berdasarkan hadits dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ada seorang sahabat yang membeli budak. Setelah beberapa hari dipekerjakan, dia menemukan aib pada si budak.

Kemudian, si pembeli mengembalikan kepada penjual. Si penjual menerima, namun si pembeli harus menyerahkan sejumlah uang senilai harga sewa budak selama di tangan pembeli. Akhirnya mereka meminta keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda:

الخراج بالضمان

“Keuntungan itu sepadan dengan kerugian yang ditanggung.” (HR. Ahmad, Nasai, Abu Daud, Turmudzi dan dihasankan Al-Albani).

Pada hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggugurkan kewajiban si pembeli untuk membayar biaya sewa budak selama dia pekerjakan. Karena ketika si budak ini berada di tangan pembeli, dia menjadi tanggung jawab pembeli.

Andaikan budak ini mati, pembeli akan menanggung kerugian. Untuk itu, si pembeli berhak mendapatkan keuntungan dalam bentuk mempekerjakan budak itu selama dia di tempatnya.

Kaidah ini berlaku untuk semua transaksi dan hubungan antara seseorang dengan sesama. Syariat tidak mengizinkan ada satu posisi yang hanya mungkin menerima untung saja, tanpa sedikitpun menanggung resiko ketika terjadi kerugian. Jika ada transaksi sementara prinsipnya hanya mungkin menerima untung tanpa menanggung resiko rugi, bisa dipastikan transaksi itu bermasalah.

2. Menjual barang yang tidak dimiliki penjual.

Diantara aturan syariah lain yang menjadikan sistem ini bermasalah adalah hadits yang melarang menjual barang yang tidak dia miliki.

Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada orang yang datang kepadaku dan meminta agar aku mendatangkan barang yang tidak aku miliki. Bolehkah saya beli barang ke pasar, kemudian saya jual ke orang ini?” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Janganlah kamu menjual barang yang bukan milikmu.” (HR Abu Dawud No. 3503 dan dishahihkan Al-Albani).

3. Menjual kembali barang yang telah dibelinya sebelum sampai barang kepadanya.

Diantara celah riba yaitu menjual kembali barang yang telah dibeli namun secara fisik belum sepenuhnya diterima dari penjualpertama.

Sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan:

«فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ، حَتَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رِحَالِهِمْ»

‘’Rasulullah melarang menjual kembali setiap barang ditempat barang itu dibeli, hingga barang itu dipindahkan oleh para pembeli ke tempat mereka masing-masing.” Riwayat Abu dawud no. 3499).

Dan pada hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ. متفق عليه

“Barang siapa membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia benar-benar telah menerimanya” Ibnu ‘Abbas berkata: Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan.’’

Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ditanya lebih lanjut tentang alasan larangan ini menyatakan:

ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ

” Yang demikian itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.’’(HR.Bukhari no. 2132).

Solusi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan akad salam. Pada transaksi salam, pelaku bisnis (reseller) harus membeli obyek transaksi itu dari pemilik barang secara sempurna, sampai terjadi serah terima. Artinya barang sudah berpindah tangan ke pihak dropshiper. Kemudian barulah dropshiper sendiri yang mengirim barang ke konsumen atas nama dirinya.

Pendapat ketiga : Mengharamkan sistem jual beli dropshiping, dan mempermasalahkan pendapat yang memberikan solusi dengan akad salam, dan memberikan solusi syar’I yang lain.

Pendapat ini mengharamkan sistem jual beli dropshiping, dan menyebutkan bahwa para ulama sepakat atas tidak sahnya hukumjual beli jika penjual tidakmemiliki barang barang yang dia pasarkan.

Akad jual beli tidak sah karena ia menjual barang yang bukan miliknya. Akad ini mengandung unsur gharar, disebabkan pada saat akad berlangsung penjual belum dapat memastikan apakah barang dapat dia kirimkan kepada pembeli atau tidak? Hal ini didasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Hakim bin Nizam yang terdahulu telah disebutkan. ( Dr. Erwandi tarmizi, MA, muamalat kontemporer).

Dr. Erwandi tarmidzi dalam bukunya Muamalat kontemporer juga membantah solusi yang mengatakan dengan mengubah jual beli dengan akad salam , beliau berpendapat bahwa solusi ini didasarkan takhrij dari pendapat madzhab Syafi’I yang membolehkan melakukan akad salam tunai dengan syarat barangnya ada dipasaran.

Beliau juga menanggapi penafsiran para pendukung pendapat yang memberikan solusi dengan akad salam, yang menafsirkan hadits yang melarang menjual barang yang tidak dimiliki bahwa maksudnya adalah : seseorang menjual barang yang telah ditunjuk (bara yang itu), barang tersebuat masih milik orang lain, kemudian dia membeli barang yang telah disepakati dari pemiliknya, lalu menyerahkannya kepada pembeli.

Beliau menyebutkan bahwa penafsiran ini kurang tepat karena hakim bin Hizam tidakmenjual barang yang telah ditunjuk (barang yang itu), karena tradisi yang berlaku saat itu tidak ada orang menjual bahan makan dan kain dengan menunjuk bahan makan dan kain milik orang lain, akan tetapi dari konteks hadits itu jelas bahwa seseorang datang kepada Hakim bin Nizam dan ia menginginkan barang dengan spesifikasi tertentu, lalu ia membuat akad jual beli, kemudian ia mencari barang sesuai spesifikasi yang diminta dan membelinya, lalu menyerahkan kepada pembeli.

Ini yang dilarang Rasulullah SAW dalam hadits Hakim bin Nizam. Larangan itu berarti larangan melakukan akad salam tunai.Maka salamtunai hukumnya tidak boleh. Beliau menukil bahwa pendapat yang melarang akad salam tunai merupakan pendapat mayoritas para ulama dari madzhab hanafi, maliki, dan hanbali.( zaadul ma’ad, jilid V, halaman 719).

Dan beliau menukil pendapat madzhab hambali bahwa jarak waktu antara akad salam dan penyerahan barang haruslah dalam waktu yang diperkirakan harganya berbeda. Karena tujuan dari akad salam, pembeli mendapat harga yang leih murah, dimana dia telah menyerahkan uang tunai dimuka dan barang akan diterimanya kemudian hari, dan dalam akad salam penjual mendapatkan dana segar untuk memenui kebuatuhan usaha ataupun pribadinya. Maka jika akad salam dilangsungkan dalam waktu yang tidak ada pengaruhnya terhadap harga barang hilanglah tujuan dari akad itu. ( Al Mughni jilid 4 halaman 220).

Solusi yang ditawarkan oleh beliau :

Agar jual beli ini menjadi sah, pemilik situs dapat melakukan langkah – langkah berikut :

a. Beritahu setiap calon pembeli bahwa penyediaan aplikasi permohonan bukan berarti ijab dari penjual.

b. Setelah calon pembeli mengisi aplikasi dan mengirimkannya, penjual tidak boleh menerima langsung akad jual beli, Akan tetapi dia beli terlebih dahulu barang tersebuat dari pemilik barang sesungguhnya dan dia terima, kemudian baru dia menjawab permohonan pembeli dana memintanya untuk mentransferkan uang ke rekening miliknya, lalu barang dikirim ke pembeli.

Untuk Menghindari kerugian akibat pembeli via internet menarik keinginannya untuk membeli selama masa tunggu, sebaiknya penjual mensyaratkan kepada pemilik barang sesungguhnya bahwa ia berhak mengembalikan barang selama tida hari sejak barang dbeli, ini yang dinamakan khiyar syarat. Jika langkah langkah diatas diikuti maka jual beli menjadi sah dan keuntungnnyapun menjadi halal.

KESIMPULAN

Perbedaan pendapat dalam masalah kontemporer tidak terlepas dari perbedaan terhadap gambaran permasalahan yang terjadi, beserta perbedaan sudut pandang terhadap dalil dalil yang telah ada dan perbedaan kecondongan terhadap khilafiyyah dikalangan ulama madzhab terdahulu.

Oleh karena itu kita tidak bisa menyamaratakan bentuk bentuk sistem dropshiping menjadi satu, karena pada faktanya praktek yang terjadi di masyarakat berbeda beda, maka hukum bisa ditimbang dari garar yang terjadi dari setiap praktek dropshiping yang dilakukan.

Pendapat pertama membolehkan jual beli dengan sistem dropshiping dengan menggunakan akad salam, sehingga masuk kedalam pengecualian penjualan barang yang bukan miliknyan selama tidak melanggar syarat syarat dan prinsip jual beli, mereka mensyaratkan pula transfer tunai terlebih dahulu dari konsumen kepada dropshiper agar tidak terjadi penjualan hutang dengan hutang, begitu pula mensyaratkan ketika barang sudah dibeli dropshiper dari pemimmilk barang , maka tanggung jawab baerpindah langsung kepada dropshiper sehingga sah saja bagi dropshiper menyuruh pemilik barang untuk mengirimkan barang jualnnya langsung ke pengirim atas nama dirinya.

Pendapat kedua menambahkan syarat akad salamnya dengan adanya perpindahan barang terlebih dahulu dari produsen kepada dropshiper barulah setellah dropshiper menerima barangnya bisa menyerahkannya kepada konsumen karena kalau tidak seperti itu maka dropshiper dapat terjerumus kedalam larangan penjualan barang sebelum diserah terima.

Pendapat ketiga berpandangan bahwa akad salam yang dilakukan dalam sitem dropshiping tidaklah sah karena akad salam disini dilakukan secara tunai atau tidak adanya jarak yang lama antara penyerahan uang dengan barang kecuali hanya beberapa hari, padahal hikmah dari akad salam itu sendiri adalah agar pembeli dapat membeli dengan harga yang murah dari harga biasanya dan keuntungan buat penjual adalah mendapat modal yang lebih awal buat mengembangkan usahanya, jadi jika hikmahnya hilang maka kembalilah kepada asal hukum jual beli barang yang bukan miliknya yaitu haram.

Semua pendapat yang telah dikemukakan pastilah berlandaskan dalil dalil yang ada, tetapi karena perbedaan pemahaman dari dalil tersebut maka berbeda pula lah dalam menanggapi masalah.

Pada dasarnya segala bentuk muamalat yang terjadi hukumnya mubah kecuali ada dalil yang jelas melarang praktek muamalat tersebut, terlebih sistem jual beli dropshiping ini banyak dirasakan manfaatnya oleh banyak masyarakat disamping mudahnya transaksi jual beli.

Jikalau kita melihat pada pendapat pertama, kita dapat melihat adanya kemudahan yang terjad dan dirasakan masyarakat jika kita melihat kepada perkembangan tekhnologi di zaman ini, meskipun membolehkan sistem dropshiping bukan berarti membolehkan secara mutlak melainkan membolehkan dengan syarat tidak melanggar prinsip prinsip syari’at, begitu pula syarat yang dibuat untuk menutup celah riba seperti konsumen harus membayar tunai di awal dalam menjalankan akad salam ini dan ketika pengiriman barang kepada konsumen baik itu atas nama dropshiper atau pemilik barang yang jelas tanggung jawab terhadap barang sudah berpindah kepada pihak dropshiper.

Penulis meyakini makalah yang penulis buat ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu penulis memohon koreksiannya dari para pembaca demi sempurnanya makalah yang dibuat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al –Quran Al-Karim
2. Imam Bukhari,shohih Bukhori, Maktabah syamilah : Dar Thuuqu An-Najah.
3. Abu Dawud,Sunan Abi Dawud, Maktabah syamilah.
4. Sayyid Sabiq,Fiqh As-Sunnah,Mesir: Dar Alfath Lil I’lam Al ‘Arabi.
5. Hisyam Kamil Hamid, Al Imta’ syarh matni Abi Syuja’ fi fiqhi As Sayafi’I,Mesir : Dar Al Mannar.
6. DR. Erwandi Tarmidzi, MA, Muamalat kontemporer,P.T.Berkat Mulia Insani.
7. muslim.or.id
8. arifinbadri.com
9. Ahmad Sarwat,LC.,MA 
10. persis.or.id Hukumjual beli online dengan sistem dropship dalam islam.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Tertunda Wabah Covid-19, Tasykil PCI Persis Mesir Resmi Dilantik

Kairo – Tasykil (pengurus-red) Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir masa jihad 2019-2021 akhirnya resmi dilantik oleh...

Bagaimana Islam Tanpa Madzhab

Oleh: Dewan Buhûts Islâmiyyah Association For Reseach And Islamic Studies Iftitâh Islam sebagai agama yang syâmil dan mutakâmil mempunyai pegangan dan pedoman (al-Qur’an dan as-Sunah) yang...

Perkuat Program, PCI Persis Mesir Lakukan Konsolidasi ke PP Persis

Bandung – Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Persatuan Islam Mesir melakukan kunjungan atau pertemuan ke Pimpinan Pusat Persatuan Islam di Bandung (12/08). Pada pertemuan tersebut...

Mengenal Pola Dasar Ilmu Takhrij

Oleh : Agus Setiawan, Lc. I. Definisi Takhrij Kata takhrij (تخر يج) merupakan masdar yang bermakna "tampak dan jelas" dari kata خرّ ج dan terkadang pula...

Kisah Hidup dan Karya Imam Ath Thabari

Oleh : Yandi Rahmayandi Iftitâh Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,"Tidak pernah ditemui satu umat pun yang pernah hidup dimuka...

More Articles Like This