Saturday, January 23, 2021

(Ijtihad)Sebuah Bukti Islam Relevan Untuk Semua Zaman

Must Read

Tertunda Wabah Covid-19, Tasykil PCI Persis Mesir Resmi Dilantik

Kairo – Tasykil (pengurus-red) Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir masa jihad 2019-2021 akhirnya resmi dilantik oleh...

Dampak Covid-19: Sebuah Perspektif Muslimah

Oleh: Fatin Nurcintami Akhir Desember 2019 lalu, kita digemparkan dengan wabah virus yang bernama Covid-19. Wabah ini muncul pertama kali...

[Tashawuf] Persfektif Kebenaran dan Penyimpangan

Oleh Pardan Syafrudin Muqaddimah Tulisan ini merupakan lanjutan dari sidang Dewan Buhuts Islamiyyah Divisi Aliran Agama, yang telah dilaksanakan pada bulan...

0
(0)

Oleh: Divisi Syari’ah (LBI)

PENGERTIAN IJTIHAD

Lughah

Ijtihad menurut bahasa diambil dari kata (الجهد) yang berarti kesulitan (al masyaqqah) dan kekuatan (at-thaaqah), yang dimaksud disini khusus untuk apa yang terdapat kesusahan padanya untuk keluar dari kesusahan tersebut.

Sedangkan menurut Ibnu Mandhur الاجتهاد و التجاهد berati mencurahkan segala kemampuan (istifrag al-wus’i). Para ulama mendefinisikan ijtihad secara bahasa dengan “mencurahkan segala kemampuan dalam mengerjakan suatu pekerjaan untuk mencapai suatu tujuan tertentu”.

Istilah

Sedangkan menurut istilah, banyak sekali ta’rif yang beragam dari para ulama ushul fiqih dalam mendifinisikan ijtihad ini, meskipun secara redaksi berbeda tetapi pada intinya hampir sama. Ada juga sebagian ulama yang mendifinisikan ijtihad secara parsial seperti yang menta’rifkan ijtihad dengan Qiyas, padahal ijtihad tidak terbatas pada qiyas saja akan tetapi qiyas hanyalah salah satu wasilah dari sekian wasail ijtihad.

Disini penulis memilih dua ta’rif saja dari sekian banyak ta’rif, yaitu ta’rif Abdul Karim Zaidan, beliau menta’rifkan ijtihad dengan :

بذل المجتهد وسعه في طلب العلم بالأحكام الشرعية بطريق الاستنباط

“Mencurakannya seorang mujtahid segala kemampuan yang ia miliki untuk mengetahui ahkamus syari’ah dengan cara istinbath” .

Dan ta’rif al-Amidi, dimana beliau menta’rifkan ijtihad dengan :

استفراغ الوسع في طلب الظن بشيء من الأحكام الشرعية على وجه يحس النفس العجز عن المزيد فبه

“ Mencurahkan segala kemapuan untuk mencapai dhan dari hukum syari’ah sampai diri merasa tidak mampu lagi untuk lebih dari itu”

Jika itu yang dimaksud dengan ijtihad maka yang dimaksud dengan mujtahid adalah : orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan ijtihad, yaitu mengistinbath suatu hukum syar’iyyah amaliyyah dari dalilnya yang terperinci (adillatih at- tafsiliyyah), dalam istilah ushuliyyun mereka disebut al-Faqih.

MASYRU’IYYAH DAN HUKUM IJTIHAD

Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya (disyari’atkannya) ijtihad, baik secara langsung ataupun tegas ataupun secara isyarat. Diantara dalil-dalil itu adalah, firman Allah ta’ala :

(Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu………….) (QS. 4:105). Ayat ini mengandung legimitasi ijtihad dengan cara qiyas.

Dalam ayat lain : (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan) (QS. 13:3)

Dan sunnah pun dengan tegas menunnjukkan akan bolehnya ijtihad ini, diantara nya hadits yang diterima oleh Amr bin ‘Ash, bahwasanya beliau mendengar Nabi SAW pernah bersabda: (Jika seorang hakim menghukumi suatu perkara kemudian ia berijtihad dan ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala, dan jika ijtihadnya salah maka ia mendapat satu pahala) H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ashabus Sunan kecua Tirmidzi.

Dalam hasits mashur lainnya dijelaskan ketika rasulullah hendak mengutus Mua’az bin Jabal ke Yaman, terlebih dahulu beliau bertanya : dengan apa kamu akan menghukumi ? mua’dz menjawab : dengan kitab Allah, Rasul : jika tidak ada dalam kitab Allah ? Mu’azd : Aku akan menghukumi dengan sunnah rasulullah, Rasul : jika tidak ada ? Muadz : Aku akan ijithad menggunakan otakku, kemudian rasul nerkata : segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah.

Jika ijtihad itu disyari’atkan maka apa hukum ijtihad itu sendiri, apakah ia wajib sunnah atau mubah saja ?
Bila seseorang memenuhi persyaratan untuk ijtihad (syarat-syarat ijtihad dibahas berikut), maka menurut para ulama hukum ijtihad baginya bisa fardlu ‘ain, bisa fardhu kifayah, bisa mandub, bahkan bisa jadi haram.

1. Hukumnya fardlu ‘ain bagi mujtahi pada suatu masalah yang terjadi pada dirinya sendiri, kemudian ijtihadnya menunjukkan ia kepada suatau hukum maka wajib baginya mengikuti hukum tersebut dan tidak boleh mengikuti (taklid) pada pendapat orang lain. Atau jika ia dihadapkan pada suatu permasalahan dan ia taku tidak ada jawaban atas permasalahan tersebut secara sar’i juga tidak ada mujtahid lain yang diperkirakan akan menjawab maka hukum ijtihad menjadi fardlu ‘ain karena tidak ada ijtihad akan mengakhirkan penjelasan (albayan) dari waktunya, dan ini tidak boleh.

2. Jika tidak dikhawatirkan lewatnya suatu peristiwa dari hukum dan ada mujtahid lain yang bisa menjawab peristiwa tersebut, maka hukumnya menjadi fardlu kifayah. Jika seorang mujtahid berijtihad dan memberikan jawaban hukum maka gugur kewajiban ijtihad bagi mujtahid lainnya, tetapi jika tidak ada yang ijtihad sama sekalli maka semuanya menanggung dosa.

3. hukumnya jadi mandub jika berkaitan dengan masalah-masalah iftiradliyyah, yaitu masalah masalah yang belum pernah terjadi tetapi diperkirakan akan terjadi.

4. hukumnya jadi haram apabila ijtihadnya bertentangan dengan dalil qath’i dari qur’an, sunnah ataupun ijma’.

SYARAT-SYARAT IJTIHAD

Syarat utama seseorang untuk bisa berijtihad menurut As-Syaukani adalah ia mesti seorang yang akil baligh dan harus terbukti mempunyai kemampuan untuk mengistinbath suatu hukum dari sumbernya. Adapun menurut As-Syatibi ia mestilah tahu akan maqasid syari’ah secara sempurna dan benar-benar mempunyai kemampuan untuk melakukan istinbath berdasarkan ilmu yang ia miliki.

Untuk mencapai derajat ijtihad, yaitu mampu mengistinbath suatu hukum dari sumbernya. Maka seorang mujtahid harus memenuhi syarat-syarat berikut :

1. Mengetahui Bahasa Arab.
Seorang mujtahid haruslah mengetahui bahasa arab hingga ia mampu memahami perkataan orang arab dan makna mufradat serta uslub mereka dalam mengungkapkan sesuatu (ta’bir), baik dengan tabi’at dan watak (saliqah) ataupun dengan cara mempelajari lmu lughah arabiyyah baik itu nahwu, sharaf, balaghah, adab, ma’ani, bayan dsb.

Hal ini penting bagi seorang mujtahid karena semua sumber hukum baik al-Qur’an ataupun sunnah berbahasa arab, maka tidak mungkin memahaminya tanpa memahami terlebih dahulu akan bahasa arab itu sendiri.

Akan tetapi disyaratkan bagi mujtahid untuk hafal diluar kepala seluruh mufradaat bahasa arab, cukup baginya mampu mengeluarkan makna-makna tersebut dari sumbernya seperti kitab mufradat alQur’an karya ar-Raghib al-Asfahani atau an-Nihayah fi gharibil Hadits wa al-Atsar karya Ibnu Atsir.

Juga tidak didalam memahami kaidah lughah tidak disyaratkan untuk memahami sampai pada derajat para ulama lughah seperti sibawaih dsb, akan tetapi cukup baginya mengetahui dan memahami dari kaidah tersebut sampai ia dapat memahami perkataan orang arab dan kebiasaan mereka didalam menggunakan bahasanya. Hingga ia bisa memisahkan mana yang sharih, dhahir, mujmal, hakikat, majaz, ‘am, khas, muhkam, mutasyabih, mutlak, muqayyad, nash al hitab dan fahwal khitab, mafhum dan manthuq. Dan itupun sebatas yang berkaitan dengan alkitab dan sunnah saja sehingga bisa maksud daripada keduanya.

2. Mengetahui Al-Qur’an (ma’rifatul Kitab)

Seorang mujtahid haruslah hafal dan faham terhadap al-Qur’an, karena ia merupakan sumber dalil utama bagi hukum syar’iyyah. Maka seorang mujtahid harus lah mengetahui al-Qur’an seluruhnya secara global dan mengetahui ayat-ayat hukum sedara rinci, karena dari ayat-ayat inilah hukum di istinbath. Imam Ghazali menyebutkan bahwa ayat-ayat hukum yang terdapat dalam al-Qur’an itu sebanyak lima ratus ayat saja, akan tetapi penyebutan ini bukan berarti pembatasan, ia hanya perkiraan saja berdasarkan yang nampak, karena mungkin saja dengan penellitian yang lebih mendalam bisa diistinbath suatu hukum dari ayat-ayat lain meskipun dari ayat-ayat kisah sekalipun.

Seorang mujtahid tidak disyaratkan hafal al-Quran seluruhnya (tetapi jika hafal itu lebih baik) akan tetapi cukup baginya mengetahui tempat-tempat ayat hukum didalam al-Qur’an sehingga ia mudah untuk merujuk kepadanya.

Mengetahui makna ayat-ayat tersebut baik secara bahasa (lughawi) ataupun makna secara syar’i. Mengetahui asbabunn nuzul dari ayat tersebut, karen mengetahui asbabun nuzul sangat membantu untuk mengetahui maksud dari suatu ayat. Juga harus mengetahui nasik dan mansukh dari ayat-ayat al-Qur’an (terlepas dari polemik tentang adanya ayat-ayat yang dimansukh ataupun tidak).

3. Mengetahui Sunnah (Ma’rifaatus Sunnah)

Seorang mujtahid mestilah mengetahui sunnah. Mengetahui yang shahih dan yang dha’ifnya, keadaan rawinya dan sejauh mana keadilan, kedlabitan, ketelitian, dan pemahaman mereka. Mengetahui yang mutawatir, mashur dan ahad. Juga mengetahui arti-arti dari hadits-hadis tersebut, asbabul wurud dan derajat kesahahihan dan kekuatan suatu hadits dan cara mentarjih antara hadits-hadits tersebut.

Tidak disyaratkan untuk mengetahui seluruh hadits, akan tetapi cukup mengetahui hadits-hadits yang berkaitan dengan ahkamus syar’iyyah saja. Juga tidak disyaratkan untuk meghafal seluruh hadits diluar kepala, akan tetapi cukup mempunyai kitab-kitab sunnah yang shahih dan mengetahui tempat-tempat hadits ahkam pada kitab tersebut sehingga memudahkan untuk merujuk kepadanya ketika mengistinbath suatu hukum. Sebagaimana cukup bagi mujtahid mempunyai kitab-kitab jarh wa ta’dil untuk mengetahui keadaan rawi-rawi.

4. Mengetahu Ushul Fiqh (Ma’rifatu Ushulul Fiqh)

Ilmu ushul fiqih sangat penting bagi seorang faqih dan mujtahid, karena dengannya seorang mujtahid akan mengetahui dalil-dalil syar’i dan urutannya, cara-cara mengistinbath suatu hukum dari suatu dalil, kaidah tarjih antara beberapa dalil, dan masih banyak lagi.

5. Mengetahui Ijma’ (ma’rifatu mawa dhi’ al ijma’)

Seorang mujtahid haruslah mengetahui hukum-hukum yang sudah menjadi kesepakatan para ulama (ijma’) agar hasil ijtihadnya tidak bertentangan dengan ijma tersebut.

6. Mengetahui Qiyas

Seorang mujtahid mestilah mengetahui segi-segi Qiyas, syarat-syatratnya, illat hukum, dan cara mengistinbath hukum dari nash-nash, mashalihunnas dan ushulus syar’i secara keseluruhan. Karena qiyas merupakan pijakan utama ijtihad, yang banyak sekali hukum-hukum yang di istinbath berdasarkan qiyas ini, bahkan sebagian ulama mengkhususkan ijtihad dengan qiyas.

7. Mengetahui Maqashid Syari’ah

Seorang mujtahid haruslah mengetahui maqhasid syari’ah sehingga ia dapat mngambil istinbath suatu hukum berdasarkan kemaslahatan dan kebiasaan manusia, pada hukum-hukum yang tidak terdapat padanya nash secara tegas.

Karenanya diantara kemestian dari mengetahui kemaslahatan manusia dan mengistinbath hukum berdasarkan padanya, adalah mengetahui kebiasaan manusia itu sendiri karena menjaga kebiasaan (adat) sama dengan menjaga kemaslahatan mereka yang disyari’atkan.

8. Kesiapan secara naluri untuk Melaksanakan Ijtihad (al-Isti’dad an-fitri lil Ijtihad)

Yang tidak kalah pentingnya dari syarat-syarat diatas adalah kesiapan secara fitran (mental dan naluri) untuk melakukan ijtihad. Yaitu dengan mempunyai naluri fikih yang kuat disertai kemudahan memahami, kebersihan jiwa, kecerdasan yang kuat dan pemahaman yang bagus. Bisa saja tanpa kesiapan mental ini seseorang tidak bisa menjadi mujtahid meskipun mempunyai persyaratan-persyaratan ijtihad yangtelah disebutkan.

Dan ini tidak aneh, karena seorang yang mengetahui dan memahami ilmu bahasa arab dengan baik juga mengetahu wajan-wajan sya’ir , akan tetapi tidak membuatnya menjadi seorang penyair jika tidak mempunyai mental penyair.

CAKUPAN IJTIHAD

Tidak semua hukum syar’i bisa menjadi lahan ijtihad (al-mujtahad fih), akan tetapi ada hukum-hukum yang boleh kita berijtihad padanya dan ada pula hukum-hukum yang tidak ada tempat bagi ijtihad di sana.

Adapun hukum-hukum yang tidak dibolehkan ijtihad padanya adalah hukum-hukum yang berdasarkan pada dalil-dalil qath’i atau dalam istilah lain yaitu hukum hukum yang ma’lumun minaddin bidharurah. Seperti wajibnya shalat, zakat, shaum, haji, mengucapkan dua kalimat syahadat, haramnya zina, mencuri, meminum khamr dan sebagainya. Termasuk yang tidak boleh di ijtihadi juga adalah uqubat dan kafarat yang telah ditentukan bilangannya.

Seagimana firman Allah ta’ala : (Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera……). (QS. 24:2), maka tidak boleh lagi kita memperdebatkan jumlah deraan (jilid) yang telah ditentukan.

Adapun hukum yang menjadi lahan ijtihad, adalah hukum hukum syar’i yang tidak berdasarkan pada dalil yang qath’i. Yaitu hukum hukum yang bersandarkan pada dalil-dalil yang dzaniyyus tsubut dan dzaniyyuddilalah atau dzanni satunya.

Jika nashnya dzaniyyuts tsubut maka lahan ijtihadnya adalah meneliti sanad dan rawi dari nash (hadits) tersebut. Tapi jika nash tersebut dzaniyyudilalah, maka ijtihad padanya berarti memeriksa dan meneliti maksud dari nash tersebut dan kekuatannya tersebut dalam menunjukkan pada satu arti, bisa saja nash tersebut ‘am atau mutlak atau datang dengan redaksi perintah (amr) atau nahyi dan sebagainya yang kesemuanya merupakan lahan ijtihad.

Jika datang dalam bentuk ‘am maka apakah yang dimaksud dari nash tersebut tetap pada ‘amnya ataukah ada nash lain yang mentakhsisnya, atau jika nash tersebut mutlak maka apakah yang dimaksud tetap pada mutlaknya atau ada nash lain yang mentakyidnya, begitupun apabila datang dengan segat amr apakah amar disana menunjukkan pada wajib atau mandub, demikian juga jika datang dalam segat nahyi apakah nahyi tersebut menunjukkan pada haram atau makruh dan lain sebagainya.

Selain nash yang dzanni yang menjadi lahan ijtihad juga adalah hukum hukum yang tidak sitemukan nash yang berkaitan secara langsung dengan hukum tersbut. Maka yang dijadikan sandaran disini adalah dalil-dalil akli seperti qiyas, istihsan, maslahah mursalah, urf, istishab dan sebagainya.

Ringkasnya yang menjadi lahan ijtihad itu ada dua macam : pertama hukum-hukum yang bersandar pada dalil dali dzanni, kedua ialah hukum hukum yang tidak terdapat nash yang berkaitan dengannya.

KLASIFIKASI IJTIHAD (TAJAZZU’ AL-IJTIHAD)

Yang dimaksud dengan spesialisasi ijtihad (tajazzu’ ijtihad) adalah seorang alim yang hanya mampu dan mumpuni di suatu bidang fikih saja sementara dibidang-bidang lainnya tidak. Dan hanya sanggup berijtihad dibidangnya tersebut tidak dibidang lain. Seperti seorang alim yang sangat ahli dibidang mawarist dan benar-benar menguasai bidangnya sementara dibidang yang lain ia kurang begitu mendalaminya.

Dalam hal ini para ulama bersilang pendapat, kebanyakan ulama membolehkan parsialisasi ijtihad ini, akan tetapi ada juga yang memandang tidak boleh. Yang berpendapat boleh, mereka berlandaskan bahwa jika klasifikasi ijtihad ini tidak diperbolehkan maka seorang mujtahid diharuskan hafal dan ahli disemua bidang fikih, sedangkan itu sangat sulit tercapai.

Jangankan oleh tingkat ulama sekarang, seorang imam Malik saja ketika ditanya empat puluh pertanyaan ia hanya menjawab empat pertanyaan saja dan mengatakan pada sisanya : “aku tidak tahu”. Alasan lain adalah bahwa seorang alim jika benar-benar mendalami di beberapa permasalahan maka ia boleh berijtihad padanya, adapaun ia tidak mengetahui bidang lain itu tidak masalah, akan tetapi tetap ia harus memiliki syarat-sayarat seorang mujtahid sebagai mana yang telah dijelaskan.

Adapun yang berpendapat tidak boleh mereka beralasan bahwa ijtihad itu kemampuan tertentu yang menuntut seorang mujtahid untuk mengetahui syariah dan prinsip-prinsipnya secara keseluruhan. Sebab tidak terbayang ada seorang mujtahid yang sangat ahli di bidang fikih pernikahan sementara ia tidak tahu sama sekali di bidang perdagangan, atau ahli di bidang jinayah sementara di bidang ibadah ia tidak tahu, karena hukum-hukum syari’ah itu pada hakikatnya satu sama lainnya sangat berkaitan.

Akan tetapi pendapat yang lebih cenderung untuk diterima adalah pendapat pertama karena jika mereka mensyaratkan adanya syarat-syarat ijtihad pada si mujtahid maka kami pun mensyaratkannya. Dan menurut hemat kami ini yang lebih relevan dengan situasi dan tuntutan zaman sekarang. Yang penting seperti yang dikatakan Imam Ghazali adalah: seorang ‘alim harus benar-benar faham terhadap apa yang akan ia fatwakan sebelum ia memfatwakannya.

||| Baca juga, Bagaimana Islam Tanpa Madzhab

TINGKATAN MUJTAHID

Sebagian orang mengatkan bahwa mujtahid sejati (mutlak) sudah tidak bisa ditemukan lagi, perkataan seperti ini sudah muncul sejak aeal abad ke 10 hijriyyah, perkataan yang dibantah keras oleh imam Syuyuthi yang mengatakan bahwa perkataan tersebut terlalu berlebih-lebihan dan mengatakannya tidak mengetahui perbedaan antara mujtahid mustaqil, mujtahid muqayyad dan mujtahid muntasib. Berdasarkan hal tersebut Dr. Wahbah Zuhaili membagi tingkatan mujtahid pada lima tingkatan, sebagai berikut ;

1. Mujtahid Mustaqil

Yaitu mujtahid yang mempunyai kaidah-kaidah tersendiri yang ia jadikan landasan untuk mengistinbath hukum fikihnya, dan tidak tergantung pada kaidah-kaidah mazhab yang telah ada. Menurut as-Syuyuthi, ini yang sudah tidak bisa ditemukan lagi sejak lama.

2. Mujtahid Mutlak ghair Mustakil

Yaitu mujtahid yang memenuhi syarat dan mempunyai sifat seperti mujtahid mustakil, bedanya ia tidak membuat kaidah-kaidah (methode) tersendiri untuk dijadikan landasan ijtihadnya. Akan tetapi cukup mengikuti kaidah salah satu imam mazhab saja, ia bisa juga disebut mujtahid mutlak muntasib bukan mujtahid mustakil muqayyad. Karena ia tidak mentaklid imam mazhab imamnya akan tetapi menggunakan methodenya saja didalam berijtihad. Yang termasuk kategori ini seperti : Abu Yusuf, Muhammad, Zufar dari mazhab hanafi, Ibnu Qasim,Asyhab dari Malikiyyah, dan al-Buwaithi, al-Za’farani dan al-Mazni dari syafi’iyyah.

3. Mujatahid Muqayyad atau Mujtahid Takhrij

Yaitu mujtahid mujtahid yang terikat dengan mazhab imamnya dan didalam dalil dalil nya tidak bisa keluar dari metode imamnya. Seperti Hasan bin Ziyad, Kurkhi dan at-Thahawi dari mazhab hanafi, al-Abrahi, Ibnu Zaid dari Malikiyyah dan As-Syairazi dan al-Marwazi dari syafi’iyyah.

4. Mujtahid Tarjih

Yaitu mujtahid yang hanya mampu membandingkan antara pendapat satu imam dengan imam lainnya atau antara satu imam dengan muridnya, dan mengambil pendapat yang paling rajih.

5. Mujtahid Fatwa

Yaitu mujtahid yang hanya mampu menghafal dan memahami mazhab tertentu dan menyampaikannya, tidak mampu untuk memaparkan landasan hukumnya sebagaimana layaknya seorang mujtahid yang mengistibath sendiri uatu hukum.

Menurut Imam Nawawi, mereka dalam fatwanya hanya berpegang pada apa yang ada dalam mazhab imamnya dan perpecahan mujtahidin pada mazhab tersebut. (masalah mufti dibahas dimakalah ust. Ayyub)

Adapun Dr. Ra’fat Usman membagi ijtihad pada tiga bagian saja :

1. Ijtihad Mutlak
2. Ijtihad Mazhab
3. Ijtihad Fatwa

IJTIHAD DARI MASA KE MASA

1. Ijtihad di masa Rasulullah

Nabi muhammad saw telah mengharamkan atas dirinya sebagian dari apa apa yang Allah telah halalkan baginya untuk kemaslahatan maka Allah menegurnya dengan firmannya : Hai Nabi mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah telah menghalalkannya bagimu kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu ? dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang .[ At- Tahrim :1 ]

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan allah maha mengetahui lagi maha bijaksana [ At- Tahrim:2 ]

Nabi berijtihad yaitu dengan memberikan izin kepada orang –orang munafik yang beri’tidzar untuk tidak ikut dalam perang tabuk maka Allah menegurnya dengan turun ayat, firman Allah yang artinya : “Semoga Allah memaafkanmu, kenapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang ) sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar dalam keudzurannya dan sembelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? [At-Taubah :43]

Hikmah berijtihadnya Rasulullah SAW
Sesungguhnya syari’at ini sebagai penutup dari syari’at –syari’at yang lainnya dan syari’at ini merupakan agama bagi seluruh manusia di alam ini, dan kaidah –kaidah serta nash-nashnya datang secara global tidak terperinci , sementara kejadian kejadian atau permasalahan yang baru lebih banyak dan tidak terbatas maka setiap masa diperbaharui oleh ahlinya sesuai dengan waqi’i yang terjadi.

Oleh sebab itu Rasulullah mengajarkan kepada para sahabatnya cara mengistinbat dan cara mengambil hukum dari dalil-dalil yang global supaya menjadi faqih dan ma’rifah setelahnya, dengan kekuatan analisis mereka (para sahabat) untuk menempatkan apa-apa yang didapat dari hal-hal yang baru pada keumuman kitab dan sunnah, firman Allah “ Tidaklah kami alfakan sesuatupun didalam Al-kitab” [ Al-Anam :38 ]
Firman Allah “ Dan kami turunkan kepadamu Al-kitab (Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu “ [ An-Nahl :89 ]

2. Ijtihada Pada Masa Sahabat

Sepeninggalan Rasulullah SAW, Al-Qur’an dalam keadaan terjaga dan tertulis, dan banyak dari sahabat-sahabatnya yang hafal seluruh isi Al-Quran dan ada juga yang hafal sebagiannya adapun Al-Quran tertulis pada saat itu pada daun-daun , tulang tulang dan pelapah qurma, setelah Rasulullah SAW wafat diangkatlah Abu Bakar sebagai kholifah setelahnya dan pada masa ini terjadi perang Riddah dalam peperangan tersebut banyak dari para khufadz yang meninggal, maka para sahabat merasa khawatir dengan meninggalnya para khufadz Al-Quran hilang maka Abu Bakar berijtihad atas usulan dari sahbat Umar bin Khattab RA. untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf

3. Ijtihad Pada Masa Tabi’in

Setelah Al-Quran dikumpulan dalam satu mushaf pada zaman khulafa’urasidin, akan tetapi pada masa ini Al-Quran belum memakai titik dan syakal (Harokat) karena orang-orang arab mengetahui kaifiat membacanya, tapi setelah banyak orang-orang masuk islam dari seluruh penjuru dunia, maka orang-orang islam selain arab membutuhkan untuk mempelajari bahasa arab dengan sempurna maka untuk memudahkan dalam mempelajari Al-Quran maka dibuatlah harokat dan titik dalam teks Al-Quran pada masa ini ( tabi’in)

4. Ijtihad Pada masa Tabi’in

Pembukuan Al-Quran dan As-sunah dimasa Rasulullah SAW dan Khulafa’uraasidin sangat terbatas, demikian juga tentang pembukuan fiqih sangat sedikit sekali , dan pada masa khilafah umawiyyah dalam pengkodipikasian ilmu-ilmu islam tidak
Mengalami kemajuan dan perhatian secara penuh tetapi pada masa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat sehingga mencakup berbagai macam disiplin ilmu dan budaya , maka tersusunlah ilmu tafsir , ushul fiqh, ilmu bahasa dan ilmu-ilmu lainnya
Itulah beberapapa contoh singkat tentang ijtihad dari masa Rasulullah sampai tabi’uttabi’in yang mengalami perkembangan yang sangat canggih sehingga umat Islam mengalami kemudahan dalam mendalami ilmu-ilmu Islam yang berkembang terus dari masa kemasa sampai saat sekarang ini. Begitu juga dengan munculnya ijtihad para ulama dalam berbagai disiplin ilmu maka Islam dapat menjawab tantangan zaman dan dapat memberikan solusi yang akurat terhadap qadiyah yang muncul di setiap masa .

PINTU IJTIHAD, MASIHKAH TERBUKA ?

Sejak zaman rasulullah SAW para sahabat sampai pada zaman tabi’in dan para imam mazhab, ijtihad terus berlangsung. Karena permaasalahan fikih terus berkembang dan banyak permasalahan permasalahan baru muncul yang tidak terdapat nash yang tegas dalam masalah tersebut. Begitupun ketika zaman para imam mazhab, mulai dari imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i sampai pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal. Ijtihad sangat mungkin terjadi karena masalah-masalah baru terus bermunculan, ditambah dekatnya dari zaman rasul dan banyaknya paara ulama yang mewarisi pemahaman al-kitab dan sunnah dari sahabat dan tabi’in.

Apalagi pada zaman imam mazhab (Hanafi dan Malik) terkenal dua orientasi fikih yaitu orientasi atsar (madrasah hadist) dan orientasi rasio (madrasah ra’yi). Orientasi atsar terpusat di Madinah sedangkan orintasi ra’yu terpusat di Bagdad, kedua orientasi ini sangat membuka lebar pintu ijtihad. Di Madinah sebagai pusatnya ulama para huffaz kitab dan sunnah ijtihad akan lebih mudah karena adanya sumber utama hukum islam tersebut, sedangkan di Bagdad jika terdapat permasalahan baru maka mereka cenderung berpegang pada ra’yu, yang dimaksud ra’yu disini adalah Qiyas dan kita tahu bahwa qiyas adalah salah satu cara yang dipakai dalam berijtihad.

Keadaan ini terus berlangsung, sampai pada abad ke empat hijriyyah ummat islam terpecah kepada negara-negara kerajaan-kerajaan kecil yang membuat ummat islam lemah, dan putusnya ikatan politik dianatara mereka. Diantara dampaknya adalah melemahnya indepedensi pemikiran, jumudnya aktivitas keilmuan dan terhanyut didalam lembah ta’assub mazhab dan hilangnya kepercayaan diri. Keadaan ini mendorong sebagian ulama untuk menutup pintu ijtihad karena dikhawatirkan terjunnya orang yang tidak berkompeten dibidang tersebut.

Keputusan ini menurut Dr. Wahbah Zuhaili hanyalah keputusan temporer dan sangat tergantung pada situasi dan kondisi pada saat itu, dimana jika kekhawatiran seperti diatas sudah tidak ada maka pintu ijtihad harus kembali dibuka.

Lebih lanjut Wahbah mengatakan bahwa pintu ijtihad terbuka lebar bagi yang memenuhi syarat untuk itu, hal ini agar tidak menghalangi siapa saja dari kebebasan berfikir, mengaktifkan potensi dan melakukan penelitian dan pengkajian. Tidak boleh kita mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sehingga perlu untuk dibuka kembali, pintu itu telah dan akan terus terbuka, selain perkataan para ulama pada abad ke empat hijriyyah yang itu bersifat kondosional.

Bahkan dengan tegas Abdul Karim Zaidan mengatakan bahwa ijtihad tidk bisa dibatasi oleh waktu dan tempat tertent. Karena dasarnya adalah memenuhi atau tidaknya seseorang pada persyaratan ijtihad, dan ini suatu hal yang tidak bisa diikat oleh tempat dan waktu. Dan keutamaan Allah itu sangat luas dan tidak terbatas hanya pada orang-orang terdahulu saja. Para ulama pun mengatakan bahwa tidak boleh ada satu zamanpun yang kosong dari mujtahid yang menjelaskan ajaran islam kepada ummat manusia.

Adapun yang dikatakan sebagian ulama tentang ditutupnya pintu ijtihad itu semata karena kehati-hatian agar tidak sampai orang bodoh melakukan ijtihad. Berdasarkan semua ini maka ijtihad itu akan terus ada dan terbuka sampai hari kiamat dan boleh bagi siapa saja yang memenuhi persyaratan untuk itu.

IJTIHAD KONTEMPORER (AL-IJTIHAD AL-MUASHIR)

Ketika kita berbicara tentang ijtihad kontemporer, maka pertanyaan pertama yang muncul adalah apakah kita perlu melakukan ijtihad pada zaman ini ? bukankah para ula terdahulu terlah mewariskan khazanah fiqih yang begitu kaya sehingga kita bisa merujuk kepadanya diwaktu menghadapi segala persoalan ?

Kita tidak menyepelekan apa yang telah diwariskan para ulama terdahulu akan tetapi sangatlah berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab-kitab tedahulu telah mampu menjawab seluruh persoalan yang muncul. Hal ini karena setiap zaman mempunyai problematika tersendiri, peristiwa, dan kebutuhannya yang terus berkembang yang tidak mungkin terjawab oleh kitab-kitab terdahulu karena situasi, kondisi dan problematika pada waktu itu berbeda.

Sehingga sebagian ulama mengatakan bahwa fatwa bisa berubah dengan berubahnya waktu dan tempat.
Maka kebutuhan akan ijtihad adalah kebutuhan abadi, selama kehidupan berlangsung dan keadaan masyarakat terus berubah dan berkembang. Selama islam itu cocok untuk setiap waktu dan tempat.

Pertanyaannya kemudian apakah mungkin para ulama pada zaman sekarang melakukan ijtihad ? sebabuntuk menjadi seorang mujtahid tidaklah sembarangan tetapi harus memenuhi persyaratannya.

Menurut Dr. Yusuf Qardlawi persyaratan tersebut bukanlah suatu hal yang tidak mungkin tercapai bahkan sangat mungkin untuk tercapai apalagi pada zaman sekarang yang begitu banyak dan mudah kita menemukan kitab-kitab yang bisa dijadikan rujukan dalam mengambil suatu hukum. Berbeda dengan zaman dahulu dimana untuk mendapatkan satu hadits saja para ulama harus melakukan perjalanan dari suatu daerah ke daerah lain.

Jika ada yang masih mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, maka perkataan tersebut akan menjadi bomerang. Karena kalaupun asalannya demi menjaga agar tidak sampai orang yang bodoh melakukan ijtihad, akan tetapi pada waktu yang sama berarti kita menghalangi orang yang benar-benar memenuhi syarat untuk melakukan ijtihad.

Dua Bidang Ijtihad Baru

1. Bidang Kegiatan Perekonomian dan Keuangan

Perkembangan perekonomian pada zaman sekarang begitu pesatnya sehingga memunculkan sistem baru dan pemasalahan permasalahan yang belum pernah ada. Semunya memerlukan jawaban dan kepastian hukum terutama bagi seorang muslim. Seperti sistem perusahaan kontemporer dengan segala problematikanya, mulai dari perusahaan dalam bentuk musahamah, dan yang lainnya. Demikian juga dengan perbankan dengan segala produknya mulai dari tabungan, deposito, asuransi dan sebagainya.

2. Bidang Kedokteran dan Ilmu Pengetahuan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat telah memunculkan penemuan-penemuan baru yang spektakuler, terutama dibidang kedoteran. Hal yang telah dan akan membuat sibuk para mujtahid kontemporer untuk terus menjawab dan memberikan kepastian hukum terhadap permasalahn yang muncul. Sebagai contoh masalah bayi tabung, transplantasi baik dengan sesama organ tubuh manusia ataupun dengan binatang, keluarga berencana, sewa rahim, kloning dan sebagainya. Semua permasalaha tersebut memerlukan jawaban dan kepastian hukum, yang jika kita mengatakan bahwa ijtihad itu telah tertutup maka umat akan terjebak dalam hal-hal yang diharmkan Allah SWT.

Ijtihad Yang diinginkan Pada Zaman Sekarang

Ada tiga bentuk ijtihad yang mungkin dilakukan oleh para ulama pada zaman sekarang, yaitu :

1. Ijtihad Selektif (Intiqa’i)

Yaitu dengan cara mengambil salah satu pendapat dari ulama terdahulu baik berupa fatwa ataupun qadha sebagai salah satu pendapat yang rajih diantara pendapat lainnya. Ini bukan berarti kita mentaklid pendapat tersebut dengan buta akan tetapi membandingkannya terlebih dahulu dengan pendapat-pendapat lain dengan meninjau kemballi dalil-dalil yang dijadikan landasannyauntuk kemudian memilih salah satu pendapaat yang kita angap itu paling kuat.

2. Ijtihad Kreatif (Insya’i)

Yaitu mengistinbath suatu hukum baru dari permasalahan yang tidak ditemukan pendapat ulama padanya baik itu permasalahan baru ataupun permasalahan lama. Tidak terbatas sampai disitu, bisa saja satu permasalahan terdapat padanya dua atau tiga pendapat, kemudian seorang mujtahid kontemporer menemukan pendapat lain yang berbeda dengan pendapat-pendapat sebelumnya. Maka ia boleh menambahkan pendapat ketiga keempat dan seterusnya.

3. Gabungan Antara Ijtihad Intiqa’i dan Insya’i

Yaitu dengan cara mengambil salah saatu pendapat dari para ulama terdahuluyang ia anggap rajih dan menambahkan padanya unsur-unsur ijtihad baru.

Bentuk Ijtihad kontemporer

Jika kita perhatikan ijtihad pada zaman sekarang maka akan nampak pada tiga bentuk ijtihad, yaitu :

1. Ijtihad Undang-undang (At-Taqnin)

Banyak sekali kita dapati hasil-hasil ijtihad pada zaman sekarang dalam bentuk undang-undang baru. Hal ini pada awalnya tidak lebih dari sebuh ijtihad intiqa’i kemudian berkembang pada ijtihad insya’i dalam beberapa permasalan baru yang.

Ide ini pertama diterapkan secara resmi pada akhir masa khilafah utsmaniyyah, yaitu dengan mengambil dari berbagai mazhad fikih dalam masalah ahwal syakhsiyyah dan menjadikannya sebuah undang-undang. Diantaranya ia mengambil dari mazhab Malik dalam hukum membebaskan istri yang ditinggalkan suaminya lebih dari empat tahun untuk kawin lagi.

Langkah yang terbesar adalah yang ditempuh oleh pemerintahan Mesir pada than 1922 yang mengambil seluruh mazhab fikih sebelum mengeluarkan undang-undang no. 25 tentang akhwal syakhsiyyah. Sampai imam al-Maraghi pada waktu itu menulis sebuah buku dengan judul “Buhuts fit Tasyri’ al-Islamy” yang isinya membela orintasi baru di bidang perundang-undangan ahwal syakhsiyyah ini. Menjawab para ulama-ulama yang keras dan mewajibkan mengikuti satu mazhab saja dan tidak boleh mengikuti selain mazhab yang empat.

Memang diberbagai negri islam saat ini orintasi seperti ini sering kita temukan. Jangan jauh-jauh di negara kita banyak permasalahan yang sebelum di undang-undangkan terlebih dahulu diserahkan kepada MUI atau ormas-ormas islam untuk membahasnya. Begitupun dinegara lain seperti Mesir, Saudi, dan sebagainya.

2. Ijtihad Fatwa

Ijtihad dalam bentuk fatwa cakupannya lebih luas, dan coraknya sangat beragam. Ada fatwa dari instansi-instansi resmi yang memang dibentuk untuk itu seperti Dar Ifta di Mesir, Lajnah Fatwa di Azhar, Riasah Ifta di Saudi, dan lain sebagainya.
Ada juga fatwa yang dimuat dimajalah-majalah yang intinya menjawab petanyaan-pertanyaan yang muncul dari pembaca. Seperti fatwa dalam majalah al-Manar yang dijawab langsung oleh syaikh Rasyid Ridla, fatwa-fatwa pada majalah al-Azhar, Nur Islam, Minbarul Islam, (semuanya di Mesir), majalah al-wa’yul islami di Kuwait, minbarul Islam di Abu Dhabi, As-Syihab di Beirut dan sebagainya.

Di Indonesia (Persis) kita mengenal tanya jawabnya A. Hassan, Istiftanya majalah Risalah yang di kelola oleh K.H.E Abdurrahman yang kemudian oleh team TMD (tha’ifah mutafaqqihin fiddin).
Demikian juga fatwa-fatwa yang bersifat individu dari para ulama terkenal dan ahli dibidangnya yang menjadi rujukan kaum muslimin didalam segala permasalahan, yang kemudian fatwa tersebut disebarkan baik melalui media cetak ataupun elektronik. Seperti fatwa syekh Mahmud Sayaltut dahulu, syekh Athiyyah Saqr dalam acara “Fatawa wa Ahkam” nya channel 2 ditelevisi Mesir, atau fatawa Qardhawi dalam acara “ Min Hudal Islam” nya di televisi Qatar yang telah dikodifikasikan dalam bukunya “Fatawa Mu’ashirah” dan sebagainya.

3. Ijtihad Riset dan Kajian (Bahs wa Dirasah)

Bentuk ijtihad ini mencakup kajian-kajian yang pernah dilakukan para ulama yang ahli di bidangnya. Baik dalam bentuk kajian yang dipresentasikan dalam konfrensi-konfrensi keilmuan tertentu atau dalam bentuk risalah (desertasi) untuk mencapai gelar Magister atau doktor. Atau apa yang dipresentasikan oleh seorang dosen untuk dari penelitiannya untuk mencapai gelar guru besar misalnya.

Semua ini bisa menjadi lapangan ijtihad jika dilakukan oleh orang yang memenuhi syarat auntukitu terutama ijtihad farsial (Juz’i) yang tidak memerlukan persyaratan sebagaimana ijtihad mutlak.

Kesalahan-kesalahan Ijtihad Kontemporer

1. Melalaikan Nash

Seorang mujtahid wajib kembali kepada nash dari Quran dan sunnah, jika tidak ditemukan baru ia boleh menggunakan ra’yu nya untuk berijtihad dengan tetap berpegang kepad dua sumber tadi. Inilah urutan yang pernah dilegimitasi rasulullah SAW ketika mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman. Adalah keslahan besar jika ada seorang mujtahid yang meninggalkan nash dan menggunakan akalnya saja, karenanya para ulama mengatakan “Tidak ada ijtihad bersama nash”

Salah satu contoh kelalaian terhadap nash adalah fatwa yang pernah dikeluarkan oleh al-Mahkamah as-Syar’iyyah al-‘Ulya di Bahrain mengenai anak temuan (al-Luqhatha). Inti fatwa tersebut membolehkan kita mengambil anak temuan dan mengadopsinya menjadi anak kita dan mempunyai hukum sebagaimana hukum anak sendiri seperti masalah nasab, nafaqah, warits dsb. Fatwa ini dengan jelas membolehkan “tabanni” yang jelas-jelas dilarang oleh al-Qur’an dalam firmanNya :

Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja.Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu….. (QS. 33:4-5)

2. Salah Memahami Nash atau Memalingkan dari Maksudnya

Bisa jadi kesalahannya tidak terletak pada kelalaian terhadap nash, tetapi salah dalam memahami nash itu sendiri. Seperti nash yang mestinya ‘am ia katakan khas, yang mestinya mutlak ia katakan muqayyad, ataupun sebaliknya.

Hali ini bisa disebabkan oleh ketergesa-gesaan didalam menentukan satu hukum tanpa meneliti secara mendalam terlebih dahulu terhadap nash yang berkaitan, atau dorongan hawa nafsu dan kepentingan pribadi atau orang lain.
Diantara contohnya adalah pemahaman keliru yang pernah dilontarkan oleh seorang pengacara bernama Said al-‘Asymawi mengenai haramnya khamr.

Mengenai khamr ini dengan tegas al-Qur’an telah mengharamkannya dalam ayat :

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah:”Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya” (QS. 2:219)

Kemudian ayat :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (QS. 4:43)

Dan firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:90)

Ketiga ayat ini telah dengan tegas mengharamkan khamr, akan tetapi Said ‘Asymawi mempertanyakan kembali : “apakah khamr itu diharamkan atau hanya diperintahkan untuk dijauhi saja ?” dan apa perbedaan antara “tahrim” dengan “ijtinab” dan kaitan ayat diatas dengan firman Allah :

Katakanlah:”Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – “. (QS. 6:145) dan ini termasuk diantara ayat-ayat yang teralkhir turun.

Sebuah pertanyaan yang sangat bodoh, karena pengharaman khamr termasuk hal-hal yang qath’i dalam islam dan ma’lumun minaddin bidharurah. Juga pertanyaannya mengenai perbedaan antara tahrim dan ijtinab menunjukkan kebodohannya terhadap arti dua kata tersebut.

3. Berpaling dari Ijma’ yang sudah yakin

Dalam persyaratan ijtihad dijelaskan bahwa salah satu syaratnya adalah harus mengetahui hal-hal yang telah menjadi kesepakatan ulama (ijma) agar hasil ijtihadnya tidak bertentangan dengan ijma tersebut. Diantara contohnya adalah fatwa yang membolehkan seorang wanita muslim menikah dengan laki-laki dari ahli kitab dizaman sekarang sebagaimana bolehnya seorang laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab.

Padahal keduanya jelas berbeda karena seorang mukmin mengakui kebenaran agama ahli kitab sedangkan mereka tidak mengakui kebenaran agama islam maka bagaimana seorang wanita muslim bisa hidup dibawh kekuasaan seorang yang tidak mengakui kebenaran islam.

4. Qiyas Bukan Pada Tempatnya

Diantara keteldoran ijtihad pada zaman sekarang ini adalah qiyas yang bukan pada tempatnya, seperti mengqiyaskan nash yang qath’i terhadap nash yang dhanni, atau mengqiyaskan perkara ta’abbudi terhadap masalah-masalah adat dan mu’amalat, dan sebagainya.

Kesalahan dalam mengqiyaskan ini adalah kesalahan klasik yang sudah ada sejak zaman dulu, sejak iblis menolak untuk sujud terhadap Adam dengan alasan analogi yang salah “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. 7:12) juga ketika kaum Yahudi membolehkan riba mereka pun beralasan dengan qiyas yang salah terhadap dagang “Keadaan mereka yang demikian itu,adalah isebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. 2:275)

Diantara contohnya adalah fatwa yang membolehkan pemerintahan meminjam uang dari rakyatnya dengan sistem riba dengan alasan qiyas pada perkataan (tidak ada riba antara bapak dengan anak), maka tidak ada riba antara pemerintahan dengan rakyatnya karena antara pemerintahan dengan rakyat bagaikan antara anak dengan bapaknya. Padahal perkataan (tidak ada riba antara bapa dengan anak ) itu sendiri tidak jelas dasarnya baik dari nash atau pun ijma’.

Kemudian jikapun perkataan itu benar –danitu tidak benar- kita tidak bisa menerima qiyas itu karena adanya perbedaan yang jelas antara pemerintah dengan rakyatnya dan bapak dengan anaknya.

5. Tidak memperhatikan Realitas Zaman

Selain ada kelompok yang terlalu tergantung dengan reallitas yang ada dan berusaha untuk mentabrir semua kenyataan sehingga fatwanya terkesan longgar dan serba membolehkan, ada juga kelompok yang seolah menutup mata dari realitas yang ia hadapi dan berijtihad tanpa memperhatikan apa yang terjadi disekitarnya. Hingga fatwanya terkesan keras dan serba melarang.

Hal ini bisa jadi disebabkan mereka mengurung dirinya dalam kubangan taklid buta dengan salah satu mazhab saja sehingga mempersempit diri mereka sendiri terhadap apa yang telah Allah luaskan. Atau karena mereka hidup tergantung dengan zaman dahulu tanpa memperhatikan yang tengah terjadi dan menatap kemasa depan yang akan datang, ia tejerat dalam kungkungan turats dan menganggap bahwa apa yang ditinggalkan para ulama dahulu itu cukup untuk menjawab tantangan zaman.

Mereka lupa bahwa ulama terdahulu pun pernah berkata : bahwa fatwa bisa berubah seiring berubahnya waktu dan tempat. Atau bisa jadi karena mereka “kuper” tehadap wawasan keilmuan dan pemikiran kontemporer, hingga kurang mengetahui dan memahami apa yang terjadi, padahal untuk menentukan suatu hukum terlebih dahulu ia harus mempunyai tashawwur yang benar terhadap masalah yang akan ia bahas.

Apapun sebabnya tidak memperhatikan realitas yang terjadi merupakan kesalahan dan dapaat menimbulkan fatwa yang salah dan kurang sesuai dengan tuntutan syari’ah dan tuntutan zaman. Seperti mereka yang memfatwakan tidak boleh menyembelih dengan mesin sembelih akan tetapi hewan iti harus disembelih satu persatu oleh tangan. Fatwa ini cocok jika diterapkan di masayarakat yang terpencil dengan jumlah penduduk yang sedikit yang hany membutuhkan beberapa ekor hewan saja tiap harinya.

Adapun di masyarakat yang membutuhkan ratusan ekor hewan setiap harinya maka dibutuhkan mesin untuk memotong hewan tersebut. Jika masalah “tasmiyyah” yang dipersoalkan maka kita boleh hany sekali saja membaca basmallah diwaktu pertama menyembelih saja, sebagaimana ketika kita mengucapkan bismillah ketika melepaskan hewan buruan untuk berburu. Bahkan mazhab syafi’i idak mensyaratkan tasmiyyah untuk halalnya sebuah sembelihan

6. Berlebih-lebihan dalam menganggap Maslahan Mursalah

Ini pun termasuk kesalahan yang banyak terjadi dalam ijtihad kontemporer, yaitu terlalu berlebihan menganggap mashlahah mursalah didalam menentukan suatu hukum. Seperti sebagian orang yang menghalalkan riba dengan alasan kemaslahatan dan kebutuhan tidak bisa dihindari lagi pada zaman ini. Padahal riba adalah merupakan hal yang qath’i keharamannya dalam islam dan termasuk tujuh perkara yang mencelakakan (as-Sab’ul Mubiqaat).

Pedoman Ijtihad Kontemporer

1. Tidak Ada Ijtihad tanpa Kerja Keras
2. Tidak ada Ijtihad dalam Masalah yang Qath’i
3. Tidak Boleh Menjadikan Masalah Dhanniyyah Menjadi Yakiniyyat
4. Menghubungkan Antara Fikih dan Hadits
5. Jangan Sampai Tertekan Realitas
6. Menerima Sesuatu Yang Baru Tapi Baik
7. Tidak Melalaikan Tuntutan Realitas
8. Beralih Pada Ijtihad Kolektif
9. Berlapang Dada Terhadap Mesalahan Mujtahid

Wallahu’alam


Daftar Pustaka

1. Lihat : Lisanul Arab, Ibnu Mandhur : 2/297

2. Irsyadul Fuhul, As-Syaukani : 2/715

3. Ushul Fiqh al-Islami, Dr. Wahbah Zuhaili : 2/1065

4. Al-Wajiz, Abdul Karim Zaidan : 399

5. Al-Qamus al-Fiqhi, Sa’id Abu Jaib : 71

6. Al-Wajiz fi Ushulil Fiqh, Abdul Karim Zaidan : 399

7. Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, Al-Amidi : 4/921

8. Al-Wajiz : 400

9. lihat Ushulul Fiqh Islami : 2/ 1067-1068
ibid : 2/ 1083-1084

10. lihat : Irsyadul Fuhul 2/716, al-Muwafaqat : 4/76

11. Tentang syarat-syarat ini bisa dilihat di Al-Wajiz hal : 400-403, Ushul Fiqh al-Islami : 2/1071-1079, Irsyadul Fuhul : 2/716-721

12. lihat : Ushul Fiqh Islami : 2/1080-1082, Irsyadul Fuhul 2/721-722

13. lihat Al-Wajiz : 406, Ushul Fiqh al Islami 2/1103-1106, Irsyadul Fuhul : 2/727-728

14. lihat : Ushul Fiqh Islami : 2 1107-1109
Buhuts fil Fiqh al Islami al Muqarin, hal 181-182

15. Prof.Dr. Rasyad hasan Khalil, Prof . Dr. Abdul Fattah Abdullah Barsyumi As-sami fi at-Tarikh Tasyri Al-Islami tahun 1418 H-1993M Hal, 82

16. Muhammad Ali Sayis tarikh fiqh al-Islami dar kutub ilmiyah cet.1 tahun1411H 1990 M hal,38

17. Prof.Dr. Rasyad hasan Khalil, Prof . Dr. Abdul Fattah Abdullah Barsyumi As-sami fi at-Tarikh Tasyri Al-Islami tahun 1418 H-1993M Hal, 168

18. lihat : Ushul Fiqh Islami : 2/1113-1114
lihat Al-Wajiz : 404-405

19. Lebih lengkap mengenai ijtihad kontemporer baca buku : “Al-Ijtihad al Mu’ashir baina al-Indhibath wa al –Infirath” karya Dr. Yusuf Qardhawi

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Yang Terhanyut Setelah Jatuh

Oleh: Amelia Ruu Adalah aku Buah yang jauh dari dekapmu, ibu Mengalir memburu hilir Tercekat melawan arus Dari hulu netramu yang menganak sungai Di kelopak...

Tarikat Tashawwuf

Oleh: Arif Rahman Hakim Al-Kufuwwi I. Pendahuluan Manusia pada masa sekarang ini yang sudah terjangkiti matrealisme, hedonisme dan penyakit hubbudunya lainnya, tidak terkecuali umat Islam, sedang...

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan ajarannya. Dengan menunjukan peribadatan-peribadatan yang...

Gaya Leadership Ala Nabi Muhammad SAW

Oleh : Muhammad Ghifari My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be...

Mengenal Pola Dasar Ilmu Takhrij

Oleh : Agus Setiawan, Lc. I. Definisi Takhrij Kata takhrij (تخر يج) merupakan masdar yang bermakna "tampak dan jelas" dari kata خرّ ج dan terkadang pula...

More Articles Like This