Kebangkitan Islam (الصحوة الإسلامية)

4.5
(10)

Oleh: Ayif Saifuddin

Tidak dipungkiri bahwa umat Islam sekarang sedang berada di persimpangan jalan, hidup dalam ketersesatan, yang belum pernah sejarah Islam menyaksikan hal ini sebelumnya, kehilangan tanah , tempat tinggal dan hartanya, hidup dalam keadaan gelisah dan tidak menentu.

Akan tetapi meskipun demikian, orang-orang yang percaya pada sunnah Allah dalam perubahan serta punya bashirah yang kuat tidak pernah ragu bahwa kehancuran akan menimpa musuh-musuhnya, dan semboyan mereka adalah:

نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فإذا إبتغينا العزة في غيره أذلنا الله

Oleh karena itu, mereka segera memeriksa ( محاسبة ) diri dan berusaha untuk menemukan penyakit dan kelemahan yang ada pada dirinya, kemudian menindaklanjutinya dengan usaha maximal memperbaiki diri dengan kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya.

Maka dengan demikian Allah pun mengangkat kehinaan dari mereka dan menolong mereka dalam menegakkan Kalimat-Nya di muka bumi.

Sebelum menginjak pada pembahasan “KEBANGKITAN ISLAM”, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu realita umat Islam sekarang sesuai dengan apa yang pernah disabdakan oleh Rasul S.A.W.

Realita Umat Islam

Sejak 14 abad yang silam Rasul S.A.W. telah memberitahukan kepada kita, bahwa akan datang suatu masa di mana kondisi “al-wahn” dan “al-dakhn” menimpa umat Islam. Kita bisa melihat dan merasakan ternyata dua kondisi ini sudah nampak jelas pada realita umat Islam sekarang yang menyebabkan ia kehilangan keseimbangannya.

⇒ Kondisi Pertama : Al-Wahn.

Sabda Rasul SAW tentang kondisi ini :

يوشك أن تداعى عليكم الأمم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها، فقال قائل : إو من قلة نحن يومئذ؟ قال صلى الله عليه وسلم : بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل ولا ينزعن الله في صدور عدوكم المهاببة منكم ولا يقذفن الله في قلوبكم الوهن، قالوا يا رسول الله : وما الوهن ؟ قال صلى الله عليه وسلم : حب الدنيا وكراهية الموت . ( رواه أبو داود وأحمد ) .

Terdapat beberapa point yang terkandung dalam hadits di atas, diantaranya:

  • Bahwa musuh-musuh Islam selalu mengintai pertumbuhan dan kebangkitan umat Islam dan negaranya,apabila mereka menemukan kelemahan,maka mereka menjadikan sebagai kesempatan untuk menghantamnya.
  • Bahwa musuh-musuh Islam mengajak sesamanya dan berkumpul untuk mengadakan konspirasi jahat terhadap Islam, negara, umat dan para da’inya.
  • Bahwa tempat-tempat dan tanah kaum muslimin merupakan sumber kekayaan dan barokah, yang mana musuh-musuh Islam berusaha merampas dan menguasainya.
  • Bahwa musuh-musuh Islam telah berani memakan harta kaum muslimin dan mencuri kekayaannya dengan bebas tanpa ada yang mencegah.
  • Bahwa musuh-musuh Islam, telah mencabik-cabik dan memecah belah kaum muslimin dan negaranya.
  • Bahwa musuh-musuh Islam tidak lagi merasa segan terhadap kaum muslimin, karena mereka telah kehilangan wibawanya di dimata musuh.
  • Unsur-unsur kekuatan umat Islam bukan pada jumlahnya,akan tetapi pada akidah dan manhajnya.
  • Bahwa umat Islam kurang, bahkan tidak diperhitungkan lagi oleh musuh, bagaikan buih dilautan.
    9.Bahwa umat Islam menjadikan dunia sebagai prioritas dan tujuan.

⇒ Kondisi kedua: Al-dakhn.

Hal ini dapat ditemukan dalam isyarat Nabi saw, yang datang dalam hadits Hudzaifah ibn Al-Yamani dimana ia berkata:

كان الناس يسألون رسول الله ( ص) عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني، فقلت : يا رسول الله : إنا كنا في جاهلية وشر وجاء الله بهذا الخير، فهل بعد هذا الخير من شر ؟ قال رسول الله : نعم، قلت : وهل بعد هذا الشر من خير ؟ قال رسول الله : نعم وفيه دخن، قلت: وما دخنه ؟ قال رسول الله : قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر، قلت : فهل بعد هذا الحير من شر ؟ قال رسول الله : نعم، دعاة على أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها، قلت : يا رسول الله ؟ صفهم لنا، قال رسول الله : هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا، قلت : فما تأمرني إذا أدركني ذلك ؟ قال الرسول : تلزم جماعة المسلمين وإمامهم، قلت : فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال : فاعتزل تلك الفرق كلها ولو تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك . رواه البخاري ومسلم

Sesungguhnya racun yang mematikan, yang menghilangkan kekuatan kaum muslimin, melumpuhkan gerakannya dan mencabut barakahnya, bukan pedang-pedang kaum kafir, akan tetapi virus-virus busuk yang menjalar dan merasuk kedalam tubuh umat Islam, seperti yang telah disabdakan oleh Rasul di atas.

Adapun mengenai mafhum “al-dakhan”, Ibn Hajar dalam kitabnya “Fathul Bari” (13/36) menyebutkan bahwa: ”al-dakhan adalah dengki (hasad), atau kerusakan/cacat (daghal) atau rusaknya hati. Tiga makna tersebut berdekatan, ini mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tidak sepenuhnya jernih, akan tetapi ada nodanya, atau boleh dikatakan al-dakhan adalah semua perkara yang tidak disukai”.

Abu Ubaid berkata, ada hadits lain yang memberikan interpetasi terhadap mafhun “al-dakhan” pada Hadits ini : لا ترجع القلوب على ماكانت عليه “Hati tidak kembali seperti semula”.

Imam Al-Baghawi dalam “Syarah Al-Sunnah” mengatakan : “bahwa yang dimaksud : “ فيه دخن “ adalah tidak ada kebaikan secara murni, akan tetapi didalamnya ada noda kekeruhan dan kegelapan, dan asal kata al-dakhan itu adalah adanya noda kehitam-hitaman pada warna binatang “.

Dalam kitab “Aunul Ma’bud” (11/316), imam Al-Adzim Al-Abadi menukil dari Alqori sbb: “Dan asal al-dakhan itu adalah noda atau kekeruhan dan warna yang cenderung kehitam-hitaman ,maka dari sini dapat dipahami bahwa al-dakhan itu adalah kebaikan yang bercampur dengan keburukan.”

Syekh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly menyimpulkan dari semua mafhum “al-dakhan” sebagai berikut:

1. Bahwa ini adalah fase yang mana kebaikan tidak semuanya jernih, akan tetapi tercampur oleh noda yang mengotori kejernihannya.

2. Bahwa noda ini merusak hati, dan menjadikannya lemah, dimana penyakit dan racun mudah masuk dan menjalar padanya.
Kita tidak perlu membahas setiap syarah “al-dakhan” satu persatu, karena Rasul saw telah menetapkan beberapa perkara yang mempunyai dilalah dalam masalah ini, sbb:

a. Bid’ah. Sesungguhnya ‘al-dakhan’ itu merupakan penyimpangan dari manhaj Nabawi, bukankah Rasul saw telah bersabda mengenai tafsir ‘al-dakhan’ sebagaimana dalam Hadits diatas :

قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر

Inilah asal penyakit dan pangkalnya mala petaka. Sesungguhnya ‘al-dakhan’ itu adalah penyimpangan dari Sunnah dalam manhaj dan berpaling dari petunjuk Nabawi dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan.

||| Baca juga, Mahasantri Solusi Reformasi

b. Terancamnya benteng pertahanan dari dalam. Sebagaimana yang disinyalir oleh Rasul saw dalam sabdanya diatas, bahwa terancamnya pertahanan dari dalam, yaitu : dengan adanya para juru dakwah yang sesat dan menyesatkan.

Mengenai juru dakwah ini Rasul telah memberitahu kita dua sifat yang ada padanya, sebagai tanda pengenalnya, yaitu:

  • Mereka dari kalangan orang Arab, keturunan dan bahasanya,sebagaimana sabdanya :

هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا

  • Berhati syetan, sebagaimana Sabdanya SAW. Dalam H.R. Muslim

سيقوم فيهم رجال قلوب الشياطين في جثمان الإنس

3. Tahun-tahun yang menipu. Kita melihat lahiriyah fase ini baik, akan tetapi dalamnya rusak dan busuk, sebagaimana sabdanya SAW: سيقوم فيهم رجال قلوب الشياطين في جثمان الإنس , Inilah yang sering menjebak sebagian kaum muslimin.

Sesungguhnya ‘al-dakhn’ tumbuh merusak dan meluluhlantakan kebaikan dan mendominasinya. Di sinilah fase keburukan sepenuhnya , dan dari sinilah para juru dakwah yang sesat dan menyesatkan bermunculan dan menebarkan racunnya yang mematikan.
Dalam hadits Abi Hurairah , Rasul SAW. Bersabda:

ستأتي سنوات خداعات، يصدق فيهن الكاذب، ويكذب فيهن الصادق، ويؤتمن الخائن، وينطق فيهن الرويبضة؟ فقيل وما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافيه يتكلم في أمر العامة . رواه أحمد

Kebangkitan Islam sebagai suatu Keniscayaan, bagaimanapun gencar dan dahsyatnya konspirasi jahat dari musuh-musuh Islam , di luar maupun di dalam, maka Allah adalah penyempurna cahaya-Nya, akan tetapi musuh-musuh Islam tidak menyadarinya, mereka tidak tahu bahwa ada tiga hakikat yang mendasari keniscayaan kebangkitan Islam, yaitu:

  • Sejak awal, mereka buta bahwa semua urusan milik Allah, sebelum maupun sesudahnya, bukan milik mereka ataupun yang lainnya , baik jin ataupun manusia. Allah berfirman:

والله غالب على أمره ولكن أكثر الناس لا يعلمون. سورة يوسف ٢١

Allah telah mencatat kelanggengan Islam di muka bumi ini, bagaimanapun dahsyatnya tipu-daya musuh-musuh Islam. Sebagaimana FirmanNya :

يريدون ليطفئوا نور الله بأفواههم والله متم نوره ولو كره الكافرون . هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون. سورة الصف 8-9

Ini mengandung arti bahwa akan tinggalnya segolongan umat yang terus berusaha menegakkan Kalimat Allah di muka bumi ini.

  • Kaum Muslimin telah menemani agama ini berabad-abad lamanya sebelum musuh-musuh Islam berusaha menebarkan racun Salibi, Yahudi dan Ilhadi di kalangan kaum Muslimin, akan tetapi mereka menutup mata.

Maka apabila kaum Muslimin lalai dari Islam pada suatu saat, maka itu hanya awan musim panas yang akan segera menghilang dengan hadirnya para penegak Kalimat Allah yang mengarahkan umat dan memberi penjelasan menuju jalan yang benar.
3. Islam merupakan satu-satunya agama yang benar dan diridlai Allah. Kebenaran akan tetap eksis di muka bumi ini , karena memberi manfaat kepada manusia.

Realita Kebangkitan Islam
Ketika kaum muslimin bangun dan sadar dari kelalaiannya, kemudian menyaksikan kenyataan yang pahit, dan negara yang tercabik-cabik, serta berbagai orientasi yang ada yang menarik mereka untuk menanggalkan Islam dan meninggalkan sumber kemuliaannya, maka mulailah setiap golongan dari kaum muslimin melihat pada realita dari arah yang berbeda satu sama lainnya.

Benar sebagaimana yang dikatakan, bahwa banyak jamaah yang eksis di medan dakwah sekarang ini, berbeda satu sama lain, dengan perbedaan yang luas, sekitar manhaj dakwah dan titik pemberangkatan.

Adapun perbedaan yang paling berbahaya adalah:

  • Tidak atau kurang mengenali volume jamaah.

Sering kita menyaksikan kepartaian ( kehidupan bergolongan ) yang sempit yang tidak pernah mengakui keberadaan yang lain, kemudian mengklaim bahwa golongannya itu jamaah al-muslimin dan pendirinya sebagai imam al-muslimin, lalu di atas landasan itu mereka bangun jargon-jargonnya.

Sebagian mereka mengklaim atas wajibnya baiat kepada pemimpin mereka, sebagian ada yang mengkafirkan semua kaum muslimin yang tidak masuk jamaah mereka, dan sebagian mereka ada yang beranggapan bahwa mereka merupakan jamaah induk yang mewajibkan yang lain untuk merada di sekelilingnya dan bernaung di bawah benderanya.

Kebanyakan dari mereka lupa bahwa mereka berbuat untuk mengembalikan jamaah al-muslimin. Kalaulah jamaah al-muslimin sudah ada berikut imamnya, tentulah kita tidak menyaksikan kenyataan seperti sekarang, timbulnya perselisihan dan banyaknya jamaah.

Oleh karena itu, maka yang benar adalah bahwa mereka yang bekerja untuk Islam merupakan beberapa jamaah dari kalangan kaum muslimin ( ahli kiblat ) dan bukan jamaah al muslimin.

  • Perbedaan sumber penerimaan dan pemahaman terhadap Al-Kitab dan Al-Sunnah.

Rasul SAW memerintahkan Hudzaifah untuk mengasingkan diri dari semua golongan yang sesat pada masa di mana masa itu penuh dengan keburukan dan fitnah, ketika tidak ada jamaah al-muslimin dan imamnya.

Perintah Nabi SAW tersebut adalah perintah wajibnya komitmen pada kebenaran, membela ahlinya dan bekerjasama di atas landasannya, dengan alasan sebagai berikut:

a. Bahwa ini adalah perintah berpegang teguh kepada Al-Kitab dan Al-Sunnah dengan pemahaman salaf al-ummah, dengan dalil sabda Rasul SAW dalam hadits ‘irbadh ibnu Sariyah sebagai berikut:

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن كان عبدا حبشيا فمن يعش منكم فسيرى إختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة، فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين عضوا عليها بالنواجذ . رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه

Dalam hadits Hudzaifah, Rasul SAW menyuruhnya menggigit akar pohon di waktu terjadi perbedaan dan perpecahan dan mengasingkan diri dari firqah-firqah sesat.

Dan dalam hadits Al-‘Irbadh, Rasul SAW menyuruhnya menggigit Al-Sunnah dengan pemahaman para Shahabat dengan gigi-gigi geraham ketika terjadi perpecahan, dan menyuruhnya untuk menjauhi perkara-perkara bid’ah , karena itu adalah kesesatan.

Jika kita gabungkan dua hadits tersebut di atas, maka makin jelaslah apa yang di maksud, yaitu memegang teguh Al-Sunnah al-Nabawiyyah dengan pemahaman ‘al-salaf al- shaleh’ di masa bermunculannya firqah-firqah sesat dan tidak ada jama’ah al muslimin dan imamnya.

b. Bahwa perintah menggigit akar pohon dalam hadits Hudzaifah bukan zhahirnya yang dimaksud, melainkan perintah tetap dan shabar dalam memegang teguh kebenaran dan mengasingkan diri dari firqah-firqah yang sesat.

c. Wajibnya orang muslim pada saat seperti itu mengulurkan tangannya untuk membantu dan membela golongan yang berpegang teguh pada kebenaran, karena golongan inilah yang mendapat jaminan Allah.

Dengan demikian, ada tiga point penting yang terkandung dalam hadits Hudzaifah, yaitu sebagai berikut:

  • Wajibnya berpegang teguh pada jama’ah al-muslimin dan menta’ati imamnya.
  • Jika tidak ada jama’ah al-muslimin dan imamnya, maka seorang muslim harus mengasingkan diri dari firqah-firqah sesat.
  • Tidak cukup mengasingkan diri saja, akan tetapi dibarengi dengan komitmen kepada kebenaran.

Kiat-kiat Menuju Kebangkitan Islam
Ada beberapa petunjuk menuju kebangkitan Islam, di antaranya:

  • Realita umat Islam sekarang banyak yang jauh dari tuntunan Rasul SAW, bahkan banyak yang melakukan penyimpangan dari al-Sunnah al-Nabawiyyah. Oleh karena itu, para teoritisi amal Islami, haruslah mereka yang memahami al-Kitab dan al-Sunnah, bukan mereka yang menyerahkan ukuran semua perkara kepada percobaan, akal dan inspirasi. Para teoritisi tersebut harus mengambil posisinya dalam mengarahkan para pelaku lapangan.
  • Al-tashfiyah : Membersihkan Islam dari berbagai kotoran yang menodai kejernihannya.
  • Al-tarbiyah : Mendidik generasi umat ini dengan ajaran Islam yang jernih.
  • Adanya kesungguhan dari semua pelaku amal Islami untuk mewujudkan jama’ah al-muslimin.
  • Adanya titik temu dan titik tumpu dalam usaha mewujudkan jama’ah al-muslimin.

Kita berdoa dan berharap mudah-mudahan Allah mengaruniakan taufikNya kepada para pelaku dakwah dan amal Islami yang ikhlas di jalanNya dalam upaya mewujudkan jama’ah al-muslimin dengan mengikuti jejak langkah Rasul SAW dan para Shahabatnya, agar daulah Islam kembali mengibarkan benderanya, dan kaum muslimin gembira dengan kemenangan yang diraihnya sebagai karuniaNya dan atas berkat pertolonganNya.

Inilah makalah ringkas yang bisa penulis sajikan, mudah-mudahan jadi amal shaleh dan dapat menembah khazanah wawasan keislaman kita.

Akhirnya penulis mohon ma’af jika banyak kekurangan di sana-sini, ditunggu saran dan kritik dari semuanya.

Daftar Pustaka

1. ‘Abd al-Malik al-Jazairi, IDRAK AL-NAZHAR FI-AL-SIYASAH, Dar Ahl al-Hadits, cetakan ke-2, 1418H.

2. Salim bin ‘abd al-Hilaly, LIMADZA IKHTARTA AL-MANHAJ AL-SALAFY, Dar Ibn al-Qayyim, cetakan pertama, 1422H.

3. Yusuf al-Qardhawy, AL-SHAHWAH AL-ISLAMIYYAH BAINA AL-JUMUD WA AL- TATHARRUF, Dar al-Syuruq, cetakan pertama, 1421H.

4. MENUJU JAMA’AH AL-MUSLIMIN

5. Salim bin ‘abd al-Hilaly, AL-BID’AH WA ATSARUHA AL-SAYYI FI AL-UMMAH ,Dar Ibnu al-Qayyim, cetakan pertama, 1422H.

6. Rabi’ ibn Hady al-Madkhaly, MANHAJ AL-ANBIYA FI AL-DA’WAH ILALLAAH, Maktabah al-‘Ashr li al-thiba’ah, tt.

Wallahu’alam

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *