Wednesday, October 28, 2020

Konsep Nasikh dan Mansukh Dalam AlQuran

Must Read

Muktamar dari Masa ke Masa; Menuju Muktamar Persis Ke XVI

Oleh: Hafizh Dhya Ulhaq Muqaddimah Jamiyyah Persatuan Islam (Persis) sebagai organisasi massa Islam terbesar ketiga di Indonesia, setelah Nahdlatul Ulama dan...

Ulama Sebagai Pewaris Para Nabi

Oleh: Ayip Saefudin Dalam Hadits riwayat Imam Al-Bukhary dari Abdillah bin Amr bia Ali’Ash, ia berkata: سمعت رسول الله صلى الله...

Apakah Hadist Ahad Bisa Dijadikan Hujjah Dalam Aqidah

Oleh: Divisi Tafsir-Hadits (LBI) Ta’rîf Hadîts Al-Âhâd Untuk membahas bagaimana kedudukan hadîts al-âhâd dalam aqîdah, terlebih dahulu harus dilihat ta’rîf hâdits,...

4.7
(19)

Oleh: Edward Maufur

PENDAHULUAN

Bahwasanya sudah menjadi sebuah aklamasi yang tidak dipertentangkan lagi bagi Umat Islam, Salaf maupun Khalaf mengenai keabsolutan dan kekhasan Al-Quran sebagai satu-satunya sumber hukum dan solusi dalam menuntaskan pelbagai problematika.

Statemen ini didasari sebuah premis bahwa Al-Quran disamping sebagai kitab petunjuk (hudan linnas), ia pula merupakan mu’jizat yang memiliki kelenturan dan fleksibilitas dengan kaum dan perkembangan jaman, sebagaimana pula sampai keharmonisan ini diabadikan oleh Allah SWT pada sumpahnya dalam surat Al-Waqi’ah: 75-80, sehingga dapat disaksikan eksistensi Al-Quran yang selalu bersentuhan dengan semua aspek dan sisi kehidupan tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Fleksibilitas yang berarti pula kekal, memiliki indikasi yang logis bahwa sebenarnya problematika-problematika insaniah pada inti dan ushulnya tidak berubah sama sekali. Adapun perubahan-perubahan yang sering terlihat selama ini lebih bersifat perubahan furu’ dan corak saja.

Problematika kekufuran, hipolonsi, dekadensi, kemerosotan kemajuan dan yang lainnya, adalah pupur yang memulas wajah manusia sepanjang zaman. Sedangkan dalam hal ini Al-Quran telah membuktikan secara tuntas semua bentuk solusi bersamaan dengan akhir ayat yang diturunkan.

Jika demikian, apakah logis qaidah-qaidah yang pada dasarnya tidak berubah atau sifatnya hanya pengulangan saja disikapi dengan cara mengebiri dan mengimplementasikan sebagian ayat gara-gara sebuah konsepsi Naskh dan Mansukh?, kecuali seandainya kita masih memiliki asumsi bahwa kitab suci hanya diperuntukan sebatas menganani masalah-masalah pendahulu kita.

Batasan-batasan Ilmu mengenai Nasakh dan Mansukh antara Salaf dan Khalaf

Sebelum menguak lebih mendalam sebuah fan ilmu, alangkah baiknya mengedepankan definisi atau batasan ilmu tersebut . Karena hal ini akan lebih meminimalisasi perbedaan persepsi. Istilah Nasikh telah muncul dan dikenal semenjak generasi pertama, hal ini terbukti dari beberapa atsar yang sampai seperti dari Ibn Abbas dan Ali bin Abi Thalib .

Namun Naskh menurut ulama salaf ini memiliki batas-batas pengertian yang berbeda sama sekali dengan ulama Ushul Fiqh seperti yang dikenal sekarang. Para ulama sekarang mendefinisikan nasikh sebagai pembatal hukum yang telah berlaku dengan hukum yang baru atau yang datang kemudian.

Munculnya nasikh, baik yang seperti yang dimaksud oleh generasi pertama atau terakhir pada intinya adalah upaya mencegah adanya kontradiksi antar nash, dalam hal ini ayat ayat Qur’an ,namun menyikapi pertentangan ini dengan menganulir sebagian ayat berakibat terdapatnya ayat-ayat qur’an yang mandul tedak lebih lagi dari bacaan biasa.

Konsepsi mengenai nasikh ini kadang pula dijadikan alat berkelit dan berdalih bukan pada tempatnya seperti yang dialami oleh syekh Muhammad Ghazali ketika membacakan syarah tafsir al-Khazin ayat 104-106 dari surat al-An’am tiba-tiba seorang memotong pembicaraannya bahwa ayat ayat tersebut tidak berlaku lagi, hal ini persis seperti seperti yang terjadi pada Dr. Yusuf Qardlawi ketika diamanati proyek oleh organisasi muktamar islam untuk mengangkat HAM dengan tema “konsep islam dalam menghormati akidah dan kepercayaan agama lain”

Sebagian anggota riset, beliau meminta tema ini dirubah dengan alasan bahwa islam tidak menghormati akidah yang lain juga menghukum sesat dan wajib diperangi kemudian ketika disodorkan ayat ayat yang menegaskan tidak ada paksaan dalam beragama, mereka menjawab bahwa ayat ayat tersebut sudah dimansukh bahkan Prof. Ahmad Amin mengintruksikan kepada umat islam untuk meninggalkan sebagian hukum yang tedapat dalam al-Qur’an dengan dalih bahwa zaman sudah berubah dan kondisi saat ini berbeda dengan masa-masa dimana rosululloh beserta sahabat-sahabatnya hidup dan seandainya hukum selalu berganti-ganti dalam tenggang waktu seperempat abad (dengan naskh) maka alasan pergantian hukum-hukum ini akan lebih logis lagi setelah melewati waktu empat belas abad .

Pernyataan ini akan melahirkan opini bahwa suatu saat nanti sama sekali al-Quran tidak memiliki relevansi dengan zaman alias mandul.

Para ulama salaf dalam mendefinisikan nasakh dalam al-Quran tiada lain adalah upaya memalingkan dilalah-dilalah yang dzahir dengan menunjukan makna yang dimaksud baik dengan mengkhususkan nasakh yang umum, mentakyiid yang mutlak atau menafsirkan nash-nash yang masih mubham.

Definisi ini lebih umum daripada menurut ulama mutaakhir, Ibnu Qayim berkata: Siapa saja yang cerdik mengamati perkataan-perkataan mereka (salaf) niscaya akan mendapatkan hal seperti ini banyak sekali dan akan menuntaskan kesulitan-kesulitan yang diharuskan diselesaikan menurut cara yang diistilahkan ulama setelahnya.

Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Syakiti dalam muwafaqat, walaupun masih beranggapan bahwa nasakh yang diistilahkan ulama mjutaakhir ini tidak ada bedanya dengan ulama salaf karena pengertiannya sama-sama memalingkan dilalah yang dzahir dengan menunjukan makna yang dimaksud namun secara substansi sangat berbeda sekali.

Mafhum Nasikh Mansukh

Sebagaimana telah dipaparkan diatas bahwa selama ini telah terjadi kesimpangsiuran dan tumpang tindih dalam memposisikan makna nasikh yang terdapat dalam al-qur’an selain disebabkan cara memahami naskh dengan pendekatan yang tidak pas para ulama kurang jeli dalam mendalami topik pembicaraan yang diantarkan oleh al-qur’an dimana didalamnya terdapat sebagian ayat-ayat yang berbicara tentang nasikh

Demikian sebagaimana yang disinyalir oleh Muhammad Ghazali bahwa kesalahan ini bersumber dari kebanyaka mufassir yang tidak mengindahkan penafsiran secara tematis (maudhu’i), baik dengan mengangkat satu permasalahan dengan mengkombinasikan beberapa ayat atau dengan berupaya menyingkap kesatuan pembahasan (wihdatul maudlu’) pada setiap bagian atau sub judul pada sebuah surat sehingga mengantarkan pada kesatua makna dan tujuan (wihdatul ma’na wal qasdu).

Juga tidak kalah pentingnya bahwa anggapan adanya ayat-ayat yang kotradisi sehingga harus menasakh salah satunya setelah mengetahui waktu penurunannya, tidaklah benar melainkan hal ini lebih tepatnya disebut sebagai sunnah tadaruj dalam penerapan sebuah syari’at yang diawali dengan sinyal-sinyal yang dapat ditebak, kemudian berangsur ke arah yang lebih jelas sampai menjadi hukum yang baku . Seperti pada syari’at pengharaman riba dan khamr tanpa perlu berpendapat bahwa dalam qur’an terdapat nash yang menghalalkan riba dan khamr.

Tafsiran ayat-ayat yang mengisyaratkan naskh dalam Al-Quran

A. Ayat 101-102 Surat an-Nahl

Dalam mengimplementasikan kedua ayat ini para mufassir lebih banyak merujuk dan bersandar kepada as-babun nuzul ayat yaitu cemoohan orang-orang musyrik Mekah kepada nabi Muhammad yang selalu memerintahkan sahabat-sahabatnya dengan perbuatan kemudian melarangnya keesokan harinya, sehingga memberikan tafsiran ayat ini sebagai berikutapabila kami menasakh hukum dari suatu ayat kemudian kami ganti pada tempatnya hukum yang lain, Allah maha apa yang diturunkan –yaitu hukum yang menasakh – dan apa yang maslahat bagi hamba-hambanya dan dari omongan orang-orang musyrik terdapat celaan kepada nabi Muhammad bahwasannya engkau orang pendusta yaitu dengan mengada-ada dari dirimu sendiri kemudian telah bertanya pada orang orang musyrik mengapa Muhammad dikatakan mengada-ngada gara-gara menggantikan hukum padahal ia hanya menyampaikan dari Allah SWT.

Bantahan

Tafsiran terhadap ayat-ayat seperti yang disebutkan diatas tidajk mendekati sasaran dan jauh dari yang hendak disampaikan bahkan secara sepintas dapat diketahui bahwa penyandaran perkataan tentang nasikh dan mansukh kepada orang-orang musyrik tidak lebih dari usaha pendekatan dalam memahami ayat ini saja dan tidak pula relevan seandainya dijadikan asbabunnuzul.

Hal ini didasari bahwa surat an-Nahl ini merupakan surat makiyyah kemudian sebelum diturunkannya ayat ini tidak terdapat hukum yang dimansukh baik dengan diganti kepada hukum yang lebih berat ataupun yang lebih ringan seperti halnya tidak dijumpai ayat ayat yang saling bertentangan sehingga mengharuskan melahirkan ucapan orang-orang musyrik seperti itu.

Adapun tafsiran yang lebih mendekati kebenaran menurut pandangan penulis adalah bahwa orang –orang musyrik Mekah tidak merasa puas dengan al-Qur’an sebagai kenabian rossulullah, kemudian meminta supaya didatangkan mu’jizat yang lebih meyakinkan sebagaimana yang telah didatangkan kepada para nabi sebelumnya karena al-Qur’an bisa jadi hanya perkataan muhammad atau ucapan-ucapan yang diajarkan oleh yang lainnya kepadanya, kemudian Allah membantah kepada ketamakan bahwa Allah SWT lebih mengetahui dari pada orang –orang musyrik tadi tentang bentuk mukjizat yang sesuai dengan semua keadaan baik pada waktu itu atau setelahnya yaitu alqur’an sebagaimana ia memiliki kelebihan dalam hal mengusik keimanan dan memperteguh keyakinan adapun sangkaan lain tentang nabi Muhammad belajar dari ahli kitab dan yang lainnyasangat tidak masuk akal pada tertib ayat setelahnya .

B. Ayat 106 Al-Baqarah

“ما ننسخ من آية أو ننسها نأت بخير منها أو مثلها “

Para ulama memandang kandungan ayat diatas sebagai dasar pijakan hukum dalam menetapkan konsep nasakh terlebih karna bentuk ayat ini terdiri dari fil syarat dan jawabnya juga tafsiran-tafsiran ini sudah tidak asing lagi dikalangan mufassirin seperti Ibnu Katsir, Ibnu jarir, Said Hawa dan yan lainnya.

Namun walaupun demikian sebagian menganggap bahwa penafsiran seperti ini belum tepat karena ia merupakan tafsiran yang berdiri sendiri tidak ada pertautan makna dengan pembicaraan ayat- ayat sebelumnya dan sesudahnya yang berkisar tentang ahli kitab dan pendustaan mereka terhadap kenabian Muahammad Abduh dalam tafsirnya Almanar menjelaskan bahwa maksud dari lapadz “ayat” pada ayat ini adalah dalil dalil atau mukjizat untuk menguatkan sifat kenabian

Maka penafsiran makna nasikh menjadi tidaklah kami menghilangkan mukjizat sebagai dalil nubuwah seorang nabi atau menetapkannya menjadi dalil untuk yang lainnya atau membuat lupa manusia dari mukjizat tersebut disebabakan panjangnya masa maka dengan kewenagan dalam setiap urusan kami mendatangkan mukjizat yang lebih meyakinkan dalil kenabian atau sebandingnya seolah olah Allah hendak berkata bahwa sesungguhnya kekuasaannya maha luas dan tidak dibatasi pada satu macam mukjizat saja.

Muhammad Ghazali dalam hal ini telah merincikan makna ayat dalam dua pengertian taklifiah dan takwiniah. Taklifiah yaitu kalimat-kalimat Allah yang berisikan sebagai petunjuk (tasyri’) seperti surat aljatsiah ayat7-8 dan surat Yusuf ayat 1, sedangkan ayat takwiniyah yaitu ayat yang berupa penguatan atas kenabian berbentuk yang luar biasa ( mukjizat hissiah) seperti surat Alan’am ayat 59 dan 109. Muhammad Ghazali juga menjelaskan bahwa nasakh ini hanya terjadi pada ayat takwinniyah tidak pada taklifiyah karena setiap mukjizat sesuai pada suatu tempat dan tidak sesuai pada tempat yang lain.

Jumlah ayat ayat mansukh dalam al-Qur’an

Para ulama yang berpendapat terjadinya naskh dalam Al-Qur’an tidak bersepakat mengenai jumlah ayat yang dimansukh dalam al-Qur’an. Sedangkan dalam kitab an-Nasikh wal Mansukh karya Dr Musthafa Zaid menghitung tidak lebih dari 290 ayat yang dimansukh dalam al-Qur’an. Sedangkan dalam kitab an-Nasikh wal Mansukh kkarya Ibnul ‘Arabi beliau menyebutkan jumlahnya antara 66-214 ayat. Ibnu Hajm menyebutkan 214 ayat , Abu ja’far an-Nuhas 134 ayat, Abdul Qadir al-Baghdadi 66 ayat, Imam Syuyuthi berpendapat tidak lebih dari 20 ayat.

Disamping itu ada beberapa jumlah ayat yang dimansukh lafadznya sehingga sulit dideteksi lagi kemana raibnya seperti riwayat yang menyatakan bahawa jumlah ayat surat al-Ahzab sama dengan surat al-Baqarah tidak seperti dalam mushaf sekarang sebanyak 73 ayat yang berarti hilang 213 ayat jika jumlah ayat al-Baqarah 286. Perbedaan dan ketidak jelasan jumlah ayat ini tidak bisa dijadikan alasan yang kuat terdapatnya nasikh dalam al-Qur’an.

Pernyataan hadits tentang ayat-ayat yang dimansukh

Dalam meriwayatkan ayat –ayat al-Qur’an para ulama telah mentapkan persyaratan mutawatir dan tidak menerima hadits ahad walaupun sampai kepada derajat shohih. Sebagaimana yang diketahui bahwa periwayatan-periwayatan hadits yang berkisar tentang ayat- ayat al-Qur’an yang dimansukh ini atau ayat-ayat yang hilang dari mushaf seperti ekarang ini tidak ada satupun yang mencapai mutawatir diantaranya seperti hadits yang diriwayatkan imam Muslim dari Aisyah RA tentang naskh syari’at Radla’ah dari sepuluh menjadi lima isapan juga hadits yang diriwayatkan imam Muslim dari Umar RA tentang ayat rajam.

Dari beberapa sanggahan diatas terdapat sesuatu yang lebih menarik untuk digaris bawahi, yaitu seandainya naskh lapadz itu memang benar-benar terjadi, kemanakah raibnya ayat-ayat ini? Sebagai perbandingan kita mengetahui melalui hadits-hadits tentang perbuatan nabi secara mendetail begitu pula riwayat-riwayat syair jahili dari ummu Qais. Jika demikian sampai sejauh mana perhatian para penghafal qur’an terhadap ayat-ayat yang dimansukh ini? Dan bagaimanakah qur’an yanng dimansukh ini lebih rendah derajatnya dari syair-syair jahily?

Penutup

Demikian paparan singkat mengenai naskh yang dipandang penulis tidak terjadi pada syari’at karena bertentangan dengan kekekalan al-Qur’an, penulis mohon maaf atas segala kekurangannya.


Daftar Pustaka

1. Dr. Muhyidin As-Shofy : “ Taudhih Al-Mantik Al-Qadim “. Al-Fajar Al-Gadid Hal : 11

2. Az-Zarqoni : “ Manahil Irfan “, Dar El-Kutub Ilmiah vol : 2 Hal : 189

3 Az-Zarqoni : “ Manahil Irfan “, Dar El-Kutub Ilmiah vol : 2 Hal : 189

4. Khudhary: “Ushul Fiqh” dar Fikry hal: 250

5. Muhammad Ghazaly, “Nadharaat fi al-Qur’an” nahdhah Misr hal: 195

6. Dr. Abdul Kadir Alawy, “Tesis Nasikh wa al-Mansukh fi al-Qur’an lil Qhadly Abi Bakar al-Arabi. Maktabah Tsaqafiyyah diniyyah vol I hal: 197

7. Dr. yusuf al-Qardhawy “Kaifa nata’amal ma’al Qur’an” Dar asSyuruk hal : 333

8. Abdul Muta’al al-Jabari: “an-Naskh fi as-Syari’ah

9. Muhammad al-Ghazaly “Mi’ah Sual ‘an al-Islam” halDar ats Tsaabet hal: 169

10. Al-wahidy, “Asbabun Nuzul” maktabah al-Mutanabbi hal : 159

11. Al-Qurtuby, “Jami al-Ahkam” Dar Ibnu Khaldun jilid 5 hal:116

12. Op.cit. muhammad Ghazaly, “Nadzaraat fil Qur’an” hal : 22
Rasyid Riha “tafsir al-Manar” jilid 1

13. Op. Cit. Muhammad Al-Ghazaly “Mi’ah su’al ‘an al-Islam” hal: 170

14. Op.cit Abdul Muta’al al-Jabary “an-Naskh fi as-Syari’ah” hal: 69

15. Op.cit Abdul Muta’al al-Jabary “an-Naskh fi as-Syari’ah” hal:83

16. Dr. Abdul Fattah Abdul Ghany “Mawahib arrahmaan fi ulumil Qur’an” hal: 183 (lihat syarah hadits ini)

17. Op.cit. Dr. Abdul Fattah Abdul Ghany “Mawahib arrahmaan fi ulumil Qur’an” hal: 189 (lihat syarah hadits ini)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 19

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Tertunda Wabah Covid-19, Tasykil PCI Persis Mesir Resmi Dilantik

Kairo – Tasykil (pengurus-red) Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir masa jihad 2019-2021 akhirnya resmi dilantik oleh...

Apakah Hadist Ahad Bisa Dijadikan Hujjah Dalam Aqidah

Oleh: Divisi Tafsir-Hadits (LBI) Ta’rîf Hadîts Al-Âhâd Untuk membahas bagaimana kedudukan hadîts al-âhâd dalam aqîdah, terlebih dahulu harus dilihat ta’rîf hâdits, selanjutnya pembagian al-Hadîts berdasarkan jumlah...

[Tashawuf] Persfektif Kebenaran dan Penyimpangan

Oleh Pardan Syafrudin Muqaddimah Tulisan ini merupakan lanjutan dari sidang Dewan Buhuts Islamiyyah Divisi Aliran Agama, yang telah dilaksanakan pada bulan April kemarin. Disini penulis mencoba...

Perang Salib dan Pengaruhnya Terhadap Peradaban Barat

Oleh : Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua abad perang ini selalu...

Musykercab Pertama PCI Persis Mesir, Naufal: Satukan Tekad Menjadi Organisasi yang Progresif

Kairo – persismesir.com, Setelah sukses meyelenggarakan Musyawarah Cabang (Musycab) Istimewa yang ketiga pada 21 November 2019 lalu, PCI Persis Mesir mengadakan Musyawarah Kerja Cabang...

More Articles Like This