Saturday, August 8, 2020

Mahasantri Solusi Reformasi

Must Read

Perjuangan Rumaisah Milhan (Cerpen)

Oleh: Fatin Nur Cintami “Sesungguhnya islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang...

Menyingkap Tabir Gelap Alam Semesta

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar A. Pendahuluan قال تعالى :  سنريهم أياتنا فى الآفاق و فى أنفسهم حتى يتبين لهم أنه...

Responsibilitas Bani Israil terhadap Dakwah Para Nabi

Oleh: Ainun Firdaus Rabbani Pendahuluan Setiap umat beragama memiliki batas waktu tertentu untuk terus eksis di muka bumi. Berangkat dari usia...

5
(2)

Oleh : Resa Amelia Utami 

Upaya penjajahan belanda pasca ikrar proklamasi kemerdekaan Indonesia berhasil meningkatkan kewaspadaan rakyat untuk memegang kendali negaranya agar tidak kembali jatuh di tangan penjajah. Hal ini mengakibatkan banyak terjadi perlawanan yang kisahnya telah tertoreh dalam kanvas sejarah, seperti pertempuran ambarawa, peristiwa bandung lautan api, dan pertempuran surabaya.

Inisiasi perlawanan ini bukan hanya dilakukan oleh BKR (Badan Keamanan Rakyat), tetapi juga oleh elemen lain dalam masyarakat, salah satunya ulama. Pada tanggal 17 September 1945 KH. Hasyim Asy’ari memantik semangat jihad terhadap aktifitas melawan penjajah dan semangat membela tanah air. Gagasan ini disambut baik oleh ulama lain, yang pada puncaknya keluarlah fatwa jihad melawan penjajah sejauh radius 86 km adalah fardhu a’in. Fatwa ini menjadi kekuatan besar bagi para santrinya untuk turut terlibat dalam melawan penjajahan. Momen ini kemudian menjadi sebuah awal mula mahsyurnya sebuah konsepsi revolusi santri yang diabadikan melalui peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober (bertepatan dengan dikeluarkannya fatwa jihad).

Pesantren saat itu menjadi poros yang strategis dalam memberikan pendidikan moral bagi bangsa Indonesia. Adapun santri sebagai objek dari pembinaan pesantren memiliki budaya “taat kepada kiyai” yang sangat kuat. Alhasil, seruan jihad itu mendapat sambutan baik dari para santrinya. Sehingga tercatat sebagaimana dilansir NU Online sebanyak 30.000 rakyat surabaya gugur,diantara mereka banyak kiyai dan para santri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) santri memiliki arti orang yang mendalami agama islam, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh, dan orang yang shaleh. Pada kenyataanya santri identik sebagai pelajar yang menimba ilmu agama islam di pesantren. Namun, secara definisi dapat kita terapkan pada pelajar-pelajar umum yang juga belajar ilmu agama islam secara mendalam selain ilmu-ilmu umum. Terlebih saat ini pesantren modern menjadi wujud perkembangan di mana kita dapat menemukan santri yang juga mumpuni terhadap keilmuan lainnya. Sebaliknya, ada pula sekolah yang memiliki porsi kurikulum ilmu umum yang lebih banyak dari ilmu agama, tetapi memiliki nuansa kepesantrenan yang kental. Seperti MAN, SMAIT, dll.

Dinamika pergerakan santri pada masa petahanan pasca kemerdekaan begitu masif, berbeda dengan sekarang. Aktifitas santri saat ini tidak begitu terlihat karena fokus dibawah pembinaan pondok. Hampir mayoritas pondok menutup akses para santrinya dengan dunia luar selama program pondok berlangsung, dengan tidak membiarkan para santrinya memegang gawai. Di saat benda kecil itu mampu membuka cakrawala dunia, memfasilitasi dinamika pembaruan kejadian-kejadian setiap detik yang terjadi di seluruh dunia. Sehingga santri tidak vokal lagi menanggapi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan keindonesiaan secara praktis.

Hari ini imperialisme telah punah, kolonialisme zaman doeloe tidak lagi menjadi ancaman. Namun, perjalanan Indonesia merdeka hingga usianya yang telah senja memiliki banyak permasalahan yang kompleks. Di mana terkadang penguasa dan rakyat saling berpunggungan dalam menyikapi sebuah kebijakan yang dimaksudkan untuk kepentingan dan kebaikan bersama. Sehingga perlawanan rakyat dalam skala lebih kecil hari ini ditujukan untuk menggugat kebijakan pemerintah yang dipandang tidak bijak bagi masyarakat.

Ujung tombak rakyat itu tiada lain mahasiswa. Makhluk ini digagang-gadang memiliki daya kritis mumpuni dan fisik energik yang dapat meyusun pergerakan dan berekspresi sebebas-bebasnya. Tidak seperti santri dan pelajar yang masih dalam pengawasan sekolah/pesantren. Selain itu, pada zaman tercetusnya revolusi santri, massa mahasiswa tidak begitu banyak seperti sekarang. Seiring berjalannya waktu jumlah mahasiswa pun meningkat hingga pergerakannya mampu meruntuhkan orde lama 1998 dan mengajukan tuntutan reformasi.

Dua dekade berselang, tepatnya Sepetember 2019 mahasiswa kembali bergejolak akibat agenda reformasi yang tidak dijalankan pemerintah. Salah satunya pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Pengesahan Revisi UU KPK (17/09) menjadi pemicu utama pecahnya aksi mahasiswa yang dimulai dari #GejayanMemanggil. Puluhan ribu mahasiswa menunaikan haknya dengan berunjuk rasa menuntut hak-hak rakyat, diantaranya menuntut pencabutan kembali revisi UU KPK yang disinyalir akan melemahkan fugsi KPK sehingga KKN dikhawatirkan kembali merebak dan mengkhianati amanat reformasi.

Aksi-aksi susulan di berbagai wilayah dan almamater memenuhi jalanan hampir seluruh Indonesia. Mayoritas aksi berlangsung secara damai, tetapi ada beberapa yang mengalami kericuhan dan bentrok karena terprovokasi. Kericuhan ini akhirnya menelan korban jiwa. Akibatnya muncul sarkasme mengenai aksi mahasiswa ini. Banyak yang menuduh mahasiswa hanya banyak gaya, ditunggangi kepentingan,dan tidak benar-benar memperjuangkan kebenaran selain menyuarakan eksistensi diri mereka sendiri.

Padahal, tidak seharusnya siapapun mendiskreditkan aksi mahasiswa yang memang ada cacatnya sebab terjadi kericuhan. Sebagaimana Taha Husain mengatakan :

بورك من جمع بين همة الشباب وحكمة الشيوخ

“Diberikahilah orang yang memadukan antara semangatnya anak muda dan bijaksananya orang tua.”

Mengompromikan tabiat ini seharusnya menjadi solusi terbaik agar permasalahan yang ada segera mendapat solusi tanpa saling menjatuhkan. Para pemegang kekuasaan yang sejatinya menjadi sosok yang dituakan mahasiswa harus dapat memaklumi aksi mahasiswa ini sebagai bentuk penyaluran aspirasi. Dan para mahasiswa harus memahami bahwa tindakan yang dibuat para orang tua ada kebijaksanaan di sana. Sehingga bisa meredam energi yang dimilikinya agar tidak sampai melewati batas.

Jika saja dua hal ini dapat dipahami oleh anak muda dan orang tua, maka aksi-aksi kebiakan itu tidak berujung korban.
Dalam hal ini penulis bermaksud mengkorelasikan antara aksi mahasiswa 2019 dengan aksi damai 212. Ribuan masa sama-sama turun ke jalan, tetapi mengapa aksi 212 tidak ada kericuhan? Hal ini karena para pegiat aksi 212 memegang komitmen keislaman yang kuat sehingga tercermin dari akhlak mereka selama aksi. Dan aksi damai ini juga memungkinkan untuk dilakukan oleh mahasiswa, terutama mahasiswa muslim.

Salah satu komentar miring tentang aksi mahasiswa adalah adanya kesinabungan mereka dengan sejarah masa muda para tokoh penguasa yang bermasalah dalam pemerintahannya. Dulu para penguasa korup juga orang yang paling kritis dan suka berdemo saat masih mahasiswa.
Menjadi penegak kebenaran adalah amanah besar yang pasti akan terkena amukan badai kehidupan. Sebagai muslim, akidah yang tertanam dalam diri sudah sangat cukup menyadarkan bahwa tiada kekuatan selain Dia yang menguatkan. Saat kita merasa siap untuk menjadi ujung tombak kebaikan, maka pastikan pijakan kaki kita kuat. Pastikan hubungan dengan Sang Pencipta terjalin erat agar kebaikan yang kita tuntut tidak menjadi bumerang suatu hari nanti.

Maka dari itu mahasiswa muslim baik yang merupakan alumni pesantren ataupun bukan sudah seharusnya memahami agamanya secara kaffah sehingga akhlak mulia yang tercermin akan mendukung potensi mereka. Apalagi masa muda adalah masa emas yang apabila dimaksimalkan intelektual, spiritual, dan emosionalnya akan membawa kebaikan dunia dan akhirat. Mahasiswa yang santri atau mahasantri ini lah yang akan menegakkan kebeneran karena kebenaran itu sendiri, bukan karena kepentingan apapun. Sehingga pemberantasan korupsi bukan hanya menjaga amanat reformasi tapi lebih besar dari itu wujud atas komitmen keislaman yang kuat.

Hidup Mahasantri! Kritis, Intelek, Sholeh, dan Mushlih. Empat modal utama yang jika dimaksimalkan sudah lebih dari cukup untuk menegakkan reformasi indonesia. Bagiamana pun, pada mulanya umat muslim melalui darah kiyai dan santri telah susah payah merampas kemerdekaan dari penjajah. Umat muslim harus memonitor keberlangsungan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdemokrasi, yang lebih strategisnya dapat menjadi agenda besar para mahasantri ini.

Wallahu a’lam

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan...

Sejarah Singkat Ilmu Balaghah

في النحو والبلاغة والتفسير والأدب، الوسيط في الأدب العربي وتاريخه، تاريخ آداب اللغة العربية مناهج تجديد Resensi kitabOleh: Saepul Islam Tidak ada suatu ilmu...

Kisah Hidup dan Karya Imam Ath Thabari

Oleh : Yandi Rahmayandi Iftitâh Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,"Tidak pernah ditemui satu umat pun yang pernah hidup dimuka...

Mengenal Sosok Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf Oleh : Anton H. Sultonan A. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah dan inayah-Nya. Shalawat dan salam...

Menyingkap Tabir Gelap Alam Semesta

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar A. Pendahuluan قال تعالى :  سنريهم أياتنا فى الآفاق و فى أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق “kami akan memperlihatkan kepada mereka...

More Articles Like This