Saturday, August 8, 2020

Mampukah Islam Menyikapi New Normal?

Must Read

Manusia Paling Baik

Oleh: Firas Sarah Anrisya بَابُ مَا جَاءَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ Matan Hadits حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ...

Ekonomi Islam Sebagai Wacana Baru Perekonomian Dunia

Oleh: Divisi Ekonomi Dewan Buhûts Islâmiyyah Mukadimah Segala puji bagi Allah Swt. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, para...

Menyingkap Tabir Gelap Alam Semesta

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar A. Pendahuluan قال تعالى :  سنريهم أياتنا فى الآفاق و فى أنفسهم حتى يتبين لهم أنه...

5
(5)

Oleh: Hafizh Dhiya`Ulhaq

Empat belas abad yang lalu, terdapat beberapa kelompok (Musyrikin dan Kafirin) yang enggan mengakui eksistensi Allah swt sebagai pemilik alam dan seluruh isinya. Karena hal itu, Allah Swt menantang mereka untuk mendatangkan ciptaan seekor lalat. Namun, tidak ada satu pun di antara mereka yang sanggup menerima tantangan tersebut walaupun mereka bersatu menciptakannya. Di awal abad ke-duapuluh, seluruh dunia dihebohkan dengan salah satu makhluk kecil ciptaan Allah yang tak kasatmata, bahkan ukurannya jauh lebih kecil dari seekor lalat. Makluk ciptan Allah itu adalah virus Coronavirus Disease 2019 (disingkat Covid-19). Menurut Stanley Perlman[1] diameter virus ini diperkirakan mencapai 125 nanometer atau 0,125 nanometer, artinya virus ini sangat kecil dan tak bisa dilihat kecuali menggunakan mikroskop khusus. Dengan demikian, manusia dengan segala keterbatasannya mesti sadar, bahwa percaya akan suatu hal tidak disyaratkan kasat mata dan masuk akal. Begitu juga kita mempercayai bahwa wabah ini benar-benar terjadi sebagaimana kita meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah Maha Pencipta.

Sejarah mencatat, wabah pernah terjadi di zaman Umar bin Khattab yang dikenal dengan “Thaun Amwas”, tepatnya terjadi pada tahun 18 H/640 M. Wabah yang terjadi di wilayah Syam ini menelan korban hingga 25 ribu jiwa termasuk di dalamnya sahabat Nabi, seperti Muadz bin Jabal, Abu Ubaidah bin al Jarrah dan masih banyak sahabat lainnya. Seiring berjalannya waktu, wabah menjadi sesuatu yang ditakuti kehadirannya di setiap abad kehidupan manusia. Mulai dari wabah Yustinaius pada 541-542 M, wabah black death pada 1347-1351 M, wabah flu spanyol hingga wabah Covid-19 yang terjadi saat ini.

Tercatat di laman Worldometers.com[2], jumlah kasus virus Covid-19 telah mencapai 10,984,294 (10,9 juta) kasus dengan 525,950 kematian dari 121 negara di dunia. Hari demi hari upaya penanganan juga pencegahan terhadap virus ini terus dilakukan, berbagai tips dan metode dari pakar kesehatan terus disosialisasikan. Akibatnya, masyarakat “terpaksa” harus mengubah kebiasaan dan pola hidup kesehariannya. Mulai dari kegiatan peribadahan pendidikan, hingga perkonomian dengan sistemd dan pola hidup yang baru, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), lock down hingga new normal. Dari semua sistem tersebut, nampaknya menuai pro dan kontra. Pasalnya, sistem tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi dalam pelaksanaannya, karena jika syarat-syarat tersebut belum terpenuhi justru menjadi sumber penyebaran Covid-19. Belum lagi sistem tersebut terkesan hanya menguntungkan sebagian pihak. Dengan kata lain, disusunnya sistem tersebut bukan murni sebagai solusi untuk menangani Covid-19, melainkan disusun kemudian dimanfaatkan segelintir orang yang berkuasa untuk mewujudkan tujuan pribadi  mereka, termasuk New Normal ini. Lalu, bagaimana Islam memandang New Normal?

Sekilas Tentang New Normal

New Normal adalah suatu skenario yang disusun untuk mengatasi penyebaran Covid-19 dengan menjadikan aspek kesehatan dan sosial-ekonomi sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaannya. New Normal disusun untuk mengembalikan kondisi perekonomian masyarakat yang terganggu sejak diterapkannya sistem lockdown dengan memperhatikan protokol dan pedoman kesehatan yang sudah diatur oleh World Health Organization. Dengan kata lain, New Normal adalah suatu sistem yang bertujuan untuk mengatasi penyebaran Covid-19 tanpa mencederai kondisi perekonomian masyrakat.

Disadur dari kompas.tv, New Normal adalah adaptasi kebiasaan baru dalam rangka menuju masyarakat produktif dan aman dari Covid-19. Diantara adaptasi tersebut adalah perubahan perilaku hidup ke arah yang lebih bersih dan sehat disertai dengan taat dan disiplin terhadap protokol-protokol kesehatan.

Islam dan New Normal

Islam adalah agama yang sempurna. Melalui Kesempurnaannya itu, Islam membangun pondasi yang kuat untuk meraih tujuan Islam itu sendiri, yaitu sebuah pondasi yang berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman hidup untuk meraih kemaslahatan di dunia dan di akhirat. Pondasi yang kuat itu adalah Rukun Iman & Islam yang diwujudkan melalui keimanan dan pengamalan dalam segala aspek kehidupan. Artinya, Islam bukan semata-mata agama yang hanya menunut pemeluknya beriman atau beribadah tanpa ada maksud tertentu di balik tuntutan itu, istilah ini dikenal dengan Maqashid as Syari`ah. Maqashid as Syari`ah adalah sebuah gagasan dalam hukum Islam untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu atas apa yang Allah syariatkan. Diantara bentuknya menurut Imam Asy Syatibi adalah hifzhu ad din (melindungi agama), hifzhu an nafs (melindungi jiwa), hifzhu al aql (melindungi pikiran) dan hifzhu an nasab (melindungi keturunan) dan hifzhu al mal (melindungi harta).

Menurut Ilal al Fasi dalam bukunya Maqashid as Syariah al Islamiyyah wa Makarimuha, Maqashid as Syari`ah adalah,

الغاية منها والأسرار التي وضعها الشارع عند كل حكم من أحكامها

“Tujuan dan rahasia-rahasia yang Allah letakkan pada setiap hukum (syariat) dari hukum-hukumnya”

Lalu, bagaimana implementasi Maqashid as Syari`ah dalam menghadapi New Normal ini?

Pada penerapan skenario New Normal ini, seorang muslim dituntut untuk mampu memanfaatkan keadaan tersebut menjadi momentum meningkatkan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala dengan berupaya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tanpa harus harus membahayakan diri sendiri. Karena pada kondisi tertentu, menghindari suatu perbuatan lebih diutamakan dari pada melaksanakannya, sekali pun perbuatan itu mendatangkan maslahat. Dalam kaidah fikih dinyatakan,

درء المفاسد أولى من جلب المنافع

Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan”

Meski pemerintah sudah memperbolehkan kembali melaksanakan aktivitas-aktivitas umum, seperti beribadah di masjid, menuntut ilmu di sekolah atau pesantren dan aktivitas lainnya, itu semua belum bisa diartikan sebagai kembalinya kondisi normal layaknya sebelum terjadi wabah Covid-19. Karena sampai saat ini angka kasus virus tersebut terus mengalami peningkatan. Oleh karenanya, sekalipun ibadah di masjid dan menuntut ilmu di pesantren memiliki keutamaan yang sangat besar akan tetapi mafsadah (kerusakan) berupa kekhawatiran adanya seseorang yang tertular atau menulari yang lainnya lebih menjadi pertimbangan. Seperti mengenakan masker, membawah sajadah dari rumah masing-masing hingga meregangkan shaf salat, sebagaimana yang telah difatwakan oleh Ulama Al-Azhar berkaitan dengan aturan-aturan beribadah di masa New Normal. Hal tersebut menjadi sebuah upaya meraih salah satu bentuk Maqashid as Syari`ah, yaitu hifzhu an nafs (melindungi jiwa). Terlebih lagi bagi daerah yang dikategorikan sebagai “zona merah”.

Satu hal yang mesti dipahami oleh kita semua adalah lebih mengutamakan atas pencegahan mafsadah (kerusakan) daripada mengambil kemaslahatan tidak bisa diartikan sebagai suatu upaya yang lebih mementingkan duniawi atau dengan istilah lain “cinta dunia dan takut mati”. Karena kita semua sepakat bahwa Covid-19 adalah suatu bahaya, dan bahaya itu mesti dihilangkan. Akan tetapi dalam upaya penghilangannya tidak bisa dengan sesuatu yang berpotensi mendatangkan bahaya pula. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk lebih cerdas dalam menghadapai suatu keadaan, bukan malah bertindak gegabah dan seenaknya sembari mengatakan: “Santai aja, kematian itu ada di tangan Allah, jadi tak perlu takut dengan virus corona”. Justru perkataan seperti itu lah mencirikan sebagai seseorang yang tak berilmu. Oleh karena itu, hal tersebut menjadi isyarat untuk kita semua supaya lebih mendahulukan ilmu dan dalil ketimbang perasaan dan hawa nafsu semata.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa, Islam mampu menyikapi New Normal dengan segala kekuasaan dan kesempurnaanya tanpa harus mengurangi kualitas peribadahan. Islam juga menyikapi skenario tersebut sebagai sebuah momentum untuk senantiasa mementingkan urusan akhirat tanpa harus melupakan urusan dunia. Dan yang terakhir, Islam menjadikan keadaan tersebut sebagai ajang perbaikan dan peningkatan kualitas iman dan takwa kepada Alllah Subhanahu wa Ta`ala untuk sebuah bekal menuju kehidupan yang kekal. Sebagaimana Ibnu Hajar al Asqalani menjelaskan dalam bukunya Badzlu al Ma`un fi Fadhli at Tha`un,

من فوائد الوباء والطواعين: تقتصرالأمل، وتحسين العمل، واليقظة من الغفلة، و التزود للرحلة

“Diantara faidah-faidah adanya wabah adalah: memangkas angan-angan, memperbaiki amalan, agar bangkit dari kelalaian dan supaya berbekal untuk perjalanan (menuju akhirat)”

Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta`ala senantiasa meridai segala bentuk amalan kebaikan kita, serta menjadikan kita semua sebagai hamba yang beriman juga penyabar yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran atas apa yang Allah takdirkan saat ini.

Wallahu`alam bi ash shawwab

 

_____________

[1] Dikutip dari situs Pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat

[2] Update data per 3 Juni 2020.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Latest News

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan...

Musykercab Pertama PCI Persis Mesir, Naufal: Satukan Tekad Menjadi Organisasi yang Progresif

Kairo – persismesir.com, Setelah sukses meyelenggarakan Musyawarah Cabang (Musycab) Istimewa yang ketiga pada 21 November 2019 lalu, PCI Persis Mesir mengadakan Musyawarah Kerja Cabang...

Perang Salib dan Pengaruhnya terhadap Peradaban Barat

Oleh: Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua abad perang ini selalu menarik...

Perang Salib dan Pengaruhnya Terhadap Peradaban Barat

Oleh : Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua abad perang ini selalu...

Responsibilitas Bani Israil terhadap Dakwah Para Nabi

Oleh: Ainun Firdaus Rabbani Pendahuluan Setiap umat beragama memiliki batas waktu tertentu untuk terus eksis di muka bumi. Berangkat dari usia bahasa dan bangsa mereka, dalam...

More Articles Like This