Thursday, May 6, 2021

Melacak Kontribusi Awal  Alumni Pelajar Timur Tengah Untuk NKRI: Dari Era Kolonial sampai Pasca Kemerdekaan

Must Read

Siapa sosok Ulama Mufassir Al-Fakhru Al-Razi

Oleh: Arif Rahman Hakim "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Pendahuluan Sebagai salah...

Konsep Nasikh dan Mansukh Dalam AlQuran

Oleh: Edward Maufur PENDAHULUAN Bahwasanya sudah menjadi sebuah aklamasi yang tidak dipertentangkan lagi bagi Umat Islam, Salaf maupun Khalaf mengenai keabsolutan...

Sejumput hikmah dibalik Ramadhan kedua bersama Corona

Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam yang mesti ditunaikan, terlebih pada Bulan Ramadhan. Ramadhan adalah satu-satunya bulan dalam...

4.3
(6)

Ekspansi proses pembelajaran para Pelajar Indonesia luar negeri, khususnya ke negara Timur Tengah sebenarnya sudah dimulai sejak era kolonial (1910-1960). Sebut misalnya eksistensi Ruwaq al-Jawi dan Jamiyyah Khairiyah li At-Thabah Al-Azhahariyyah Al-Jawaniyyah (1927M) di Mesir sebagai sebuah bukti real dan kongkrit. Hal ini sejatinya menunjukan etos yang tinggi dalam belajar, khususnya terhadap ilmu-ilmu keIslaman bagi anak-anak bangsa nusantara kala itu. Namun kita patut bertanya bahwa apa sih kontribusi awal yang diberikan oleh mereka? Karena saat ini ketika kita mendengarkan alumni pelajar timur tengah, maka yang terbayang adalah sosok hebatnya dakwah Dr. Abdul Somad, MA (Mesir), atau salafinya Dr. Khalid Basalamah (Mekkah), juga mufasir Tafsir Al-Misbah, Prof. Quraish Shihab (Mesir) dan lain-lain. Tetapi tokoh-tokoh tersebut itu datang belakangan, dalam arti bahwa mereka sebagai generasi yang melanjutkan perjuangan thalab ilmu para pendahulu mereka.

Nah, tulisan ini hadir untuk melacak dan mencari bagaimana sih kontribusi awal yang mereka berikan untuk NKRI? Tetapi sebelum itu, dalam melacak nama dan detail penanggalan (dating) terhadap para pelajar awal di Timur Tengah terasa sangat sulit dan diskursus tersebut perlu dalam tulisan yang lebih luas lagi dari sekadar opini. Oleh karena itu, penulis menggunakan pendekatan historis (historical approach) untuk membaca dan mengamati bagaimana kondisi sosial-kultural pada saat itu. Di mana nanti dilihat kolerasinya serta respon apa yang terjadi dari era saat itu sehingga ditemukanlah kontribusi mereka.

Pelajar Timur Tengah Awal: Sebuah Pelacakan

Secara konteks historis-sosiologis dan politis era tersebut sangat kental diwarnai oleh isu-isu kelanjutan dari awal era modern di dunia atau biasa disebut dengan proses transmutasi (transmutation).[1] Berbagai macam ideologi hadir seperti empirisme, skeptime, sekularisme, prgamatisme dan lainnya sangatlah mempengaruhi dunia muslim, termasuk Mesir. Apalagi era tersebut bertetapan dengan runtuhnya Khilafah Usmaniyyah kemudian menjadi negara republik modern Turki yang dipimpin oleh Musthafa Kemal Ataturk. Di mana ia mereformasi sistem politik Turki itu sendiri dengan ideologi sekularismenya.[2]

Dalam konteks inilah, telah memicu banyak respon dari kalangan umat Islam terkait problematika tersebut di Mesir, termasuk para pelajar Indonesia. Secara lebih real, Prof. Azyumardi Azra menyebutkan 2 perioderisasi kondisi mahasiwa di Mesir. Di antaranya: Pertama; pada saat periode pra kolonial (1920-1960) yang ditunjukan lebih kepada pergeseran paradigma pembelajaran dari murni thalab al-‘ilm ke nilai limpah politis.[3] Sedangkan kedua; pada periode pasca kemerdekaan (1966-1993) tantangan para pelajar lebih dihadapkan terhadap pertarungan ideologi antara modernisme Islam ala M. Abduh dan fundamentalisme Islam ala Salafi-Wahabi.[4]

Perioderisasi tersebut telah menunjukan atas suatu hal,  baik terjadinya karena ada pergeseran dalam menuntut ilmu maupun pertarungan ideologi antara moderat dan fundamentalisme. Yaitu respon mahasiwa Mesir kala itu yang mengharuskan adanya Reformasi Islam. Di sinilah muncul bentuk dari kontribusi teoritis-kesarjanaan terhadap NKRI. Di samping itu, Jamiyyah Khairiyah li At-Thabah Al-Azhahariyyah Al-Jawaniyyah ikut merespon perubahan tersebut dengan mempelajari isu-isu serta berbagai macam pemikiran yang kompleks. Tentu semua upaya tersebut untuk menjawab perubahan era kolonial dan persoalan dunia Islam saat itu.

Alumni Timur Tengah: Sebuah Kontribusi Awal

Hemat penulis justru di sinilah letak “Kontribusi Awal” mahasiwa Indonesia di Mesir (pelajar di Timur Tengah) yaitu memberikan sumbangsih keilmuan Islam secara teoritis-kesarjanaan dengan mempelajari Islam sebagai sebuah solusi atas problematika umat manusia agar lebih baik dan progresif.

Tidak hanya itu, pertanyaan selanjutnya adalah siapa tokoh yang dapat dijadikan sampel saat itu? Sekadar menyebutkan bahwa terdapat dua tokoh penting yang perlu diperhatikan. Pertama: Syekh Thaher Djaluddin (1869-1956M), alumni Al-Azhar Kairo yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran modernime Muhammad Abduh serta menawarkan gagasan tersebut kepada Indonesia.[5] Dan kedua: Prof. Harun Nasution (1919-1998M), alumni Al-Azhar Kairo, kemudian melanjutkan program pascasarjananya di Institute of Islamic Studies McGill University. Di mana dalam tesisnya yang berjudul The Islamic State in Indonesia menawarkan kontribusi pemikiran Islam mengenai konsep bernegara terhadap NKRI yaitu membangun hubungan harmonis antara Islam dan nasionalisme.[6] Pemikiran ini berusaha untuk menengahi antara 2 kubu pemikiran dalam merumuskan status Negara Indonesia: 1). Golongan netral agama (nationalits or religious neutrals), dan 2). Golongan Islam (The Islamic Groups).

Demikianlah bentuk dari kontribusi awal alumni Pelajar Timur Tengah (yang diwakili oleh pelajar di Mesir) untuk NKRI di era kolonial sampai pasca kemerdekaan. Kontribusi ini sangatlah memiliki peran signifikan dalam menawarkan konsep pemikiran Islam yang bisa menerima kearifan lokal, moderat, serta kompatibel dengan semangat demokrasi. Karakteristik pemikiran ini perlu dilihat oleh seluruh dunia agar Islam tidak hanya dilihat sebagai agama yang penuh stigma negatif, biadab, atau teroris. Melainkan sejatinya menjadi sebuah ajaran yang dipenuhi dengan arti kedamaian (peacefulness) dan keharmonisan (harmony).

Bahan Bacaan

Abaza, Mona. (t.t). ‘A Profile of an Indonesian Azhari Living in Cairo, dalam           Archipiel, Vol. 52, hlm. 31-44.

Al Faruki, Jakir dan Siddky, Md. Roknuzzaman Siddky. (2017). Secularism   and The Muslim World: An Overview, dalam Journal of Social       Science Rajshahi College, Vol. 1 No. 1, 16-30.

Azra, Ayumardi. (1993). Melacak Pengaruh dan Pergeseran Orientasi         Tamatan Kairo dalam Studia Islamika, Vol. 2, No. 3, hlm. 199-219.

Hodgson, Marshall G.S. (1974). The Venture of Islam, Vol. III., Chicago: The            Universty of Chicago Press.

Nasution, Harun. (1965). The Islamic State in Indonesia: The Rise of The        Ideology, The Moevement for its Creation and The Theory of      Masjumi, Thesis (MA), Montreal: Institute of Islamic Studies McGill University.

Penulis: Muhammad Ghifari

(Pimpinan Umum Majalah A-Furqan 2021)

                [1] Lihat Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, Vol. 3, (Chicago: The Universty of  Chicago Press, 1974), hlm. 176.

                [2] Jakir Al Faruki dan Md. Roknuzzaman Siddky, ‘Secularism and The Muslim World: An Overview’, dalam Journal of Social Science Rajshahi College, Vol. 1, No. 1, 2017, hlm. 16.

                [3] Azyumardi Azra, ‘Melacak Pengaruh dan Pergeseran Orientasi Tamatan Kairo’, dalam Studia Islamika, Vol. 2, No. 3, 1993, hlm. 207-209.

                [4] Azyumardi Azra, ‘Melacak Pengaruh dan Pergeseran Orientasi Tamatan Kairo…’ hlm. 216-219. Lihat dan bandingkan dengan Mona Abaza, ‘A Profile of an Indonesian Azhari Living in Cairo, dalam Archipiel, No. 52, hlm. 41-44.

                [5] Harun Nasution, The Islamic State in Indonesia: The Rise of The Ideology, The Moevement for its Creation and The Theory of Masjumi, Thesis (MA), (Montreal: Institute of Islamic Studies McGill University, 1965), hlm. 5.

                [6] Harun Nasution, Ibid, hlm. 180.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Di Antara Lautan Aksara

Di antara lautan aksara Terdapat seorang gadis kecil Kerap kali ia merasa kurang Agaknya ia takut akan nalar sang dunia Di antara lautan...

Melacak Akar Pemikiran Mu’tazilah

Oleh: Divisi Aliran Keagamaan (ALIGA) Dewan Buhûts Islâmiyyah FOSPI Mukadimah Makalah yang kami presetasikan sekarang ini, hanyalah usaha kecil dan ala kadarnya untuk mencoba memaparkan kembali...

SENDU DI MALAM SYAHDU

Di malam sunyi turun cahaya redup Menghangatkan hati di setiap sudut Aku layangkan satu tanda tanya Membumbung terbang di gelap gulita Biar lama berjuang ku tak terlirik Sampai lelah...

Manusia Paling Baik

Oleh: Firas Sarah Anrisya بَابُ مَا جَاءَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ Matan Hadits حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الأَشَجِّ، عَنْ عَطَاءِ...

(Ijtihad)Sebuah Bukti Islam Relevan Untuk Semua Zaman

Oleh: Divisi Syari’ah (LBI) PENGERTIAN IJTIHAD Lughah Ijtihad menurut bahasa diambil dari kata (الجهد) yang berarti kesulitan (al masyaqqah) dan kekuatan (at-thaaqah), yang dimaksud disini khusus untuk...

More Articles Like This