Saturday, August 8, 2020

Mengenal Gagasan Islamisasi Sains Kontemporer

Must Read

Tarikat Tashawwuf

Oleh: Arif Rahman Hakim Al-Kufuwwi I. Pendahuluan Manusia pada masa sekarang ini yang sudah terjangkiti matrealisme, hedonisme dan penyakit hubbudunya lainnya,...

Mengenal Sosok Ibnu Katsir dan Metode Penafsiranya

Oleh : Pardan S. Sambas A. Pendahuluan Secara garis besar, para ulama membagi kepada empat jenis tafsir. Pertama, tafsir tahlîlî, kedua,...

Mengenal Persatuan Islam Sebagai Gerakan Dakwah Di Indonesia

Oleh: Naufal Syauqi Fauzani PENDAHULUAN Dalam perjalanan bangsa indonesia dari masa ke masa baik itu sebelum kemerdekaan hingga sekarang setelah 73...

5
(2)

(Sebuah Pengantar)

Oleh :
Muhammad Ghifari

Dalam filsafat Ilmu pengetahuan, khususnya pada aspek ontologi (hakikat) dan epistemologi (asal mula ilmunya) bahwa ilmu pengetahuan itu tidaklah bebas nilai (value free) melainkan sarat nilai (value laden).

Para saintis di Barat mengakui bahwa ilmu pengetahuan tidaklah terlepas dari konteks fenomena agama, kultur, ideologi dan worldview (pandangan hidup) dsb. Hal ini, sebagaimana ditegaskan oleh T Thomas S. Khun, selaku pakar filsafat ilmu pengetahuan, dia menyebutkan bahwa “…normal-scientific research is directed to articulation of those phenomena and theories that paradigm already supplies”, (The Structure of Scientific of Revolusion, International Encylopedia of Unified Science, vol. 2, no. 2, (Chicago: Chicago Universty Press, 1970), hlm. 24.

Oleh karena itu, segala fenomena baik motif agama, budaya ataupun ideologi serta worldview (pandangan hidup) sangatlah mempengaruhi terhadap segala aspek ilmu pengetahuan.

Di samping itu, memang dalam aspek aksiologis (kegunaan) ilmu pengetahuan sebagiannya ada yang bebas nilai (value free). Di mana ilmu pengetahuan tidaklah dimonopoli oleh tradisi kultur agama, budaya, ideologi tertentu dalam implementasinya, akan tetapi umum dan bisa digunakan secara universal.

Dari aspek inilah yaitu dimensi bebas nilai (value free) dan sarat nilai (value laden) merupakan salah satu alasan penting mengapa gagasan islamisasi sains kontemporer ini muncul. Hal tersebut karena pada era ke-21 kontemporer sebagaimana menurut Seyyed Hossein Nasr di dominasi oleh pemahaman sekularisme yang bermakna kebebasan (Islamic Life and Thought, (Lahore: Suhail Academy, 1999), hlm. 16).

Lebih lanjut bahkan dia menyebutkan bahwa masyarakat modern saat ini, melihat alam dan realitas bukan sebagai ciptaan tuhan namun sebagai kekuatan dan kekayaan (Man and Nature The Spiritual Crisis in Modern Man, (London:Unwin, 1990), hlm. 6).

Sedangkan bagi Rosnani Hashim dan Imron Rossidy berpendapat bahwa sumber Barat yang sekuler kontemporer serta metode pengetahuannya hanya semata-mata hanya mengandalkan aspek empiris dan makna rasional.

lebih lanjut mereka berdua menjelaskan juga bahwa pengetahuan Barat tidak berlandaskan terhadap nilai trasendental (diluar jangakaun) maupun yang terhubung dengan keimanan agama maka karenanya sains Barat seluruhnya telah tersekulerkan (“Islamtitation of knowledge: A Comparative Analyis of the Conceptions of Al-Attas and Al-Fārūqī” dalam jurnal Intelectual Discourse, vol. 8 (2000), hlm. 23).

Berdasarkan ekspansi pandangan alam (worldview) sekuler yang telah menglobalisasi di dunia ini, maka ilmu pengetahuan di era kontemporer ini telah mengalamai proses sekularisasi.

Oleh karena itu dari sini kemudian lahir gagasan dengan apa yang disebut “Islamisasi Sains Kontemporer”. Di mana disiplin ilmu pegetahuan tidak hanya memandang alam dan manusia sebagai sumber sain, namun melibatkan dimensi yang lebih tinggi yaitu tuhan.

Gagasan islamisasi sains kontemporer -kadang disebut juga dengan Islamisasi Pengetahuan- dalam sejarah kemunculannya muncul dalam koferensi internasional pendidikan Islam di Makkah tahun 1977. Maka setelah itu, mulailah muncul lembaga-lembaga yang mencoba untuk merumuskan konsep Islamisasi Sains kontemporer beserta pelopornya.

Di antaranya International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Herndon Virgania pada tahun 1987 oleh Ismail Raji Al-Faruqi, kemudian International Institute of Islamic Thouht and Civilization (ISTAC) di Kuala pada tahun 1987 oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas serta satu organisasi lagi yang tercatat sebagai pelopor yaitu International Institute of Islamic Science and Technology oleh Seyyed Hossein Nasr dan Dr. S. Waqar Ahmad Husaini di Washington D.C. pada tahun 1998 (lihat secara lengkap Rafiu Ibrahim Adebyo, “From Islamicizing the Science to Strategezing for Muslims’ Scientific Breakthrough” dalam International Journal of Islamic Thought, vol. 7 (2015), hlm. 28)

Setiap lembaga tersebut, tentu memiliki coraknya masing-masing dalam mengembangkan terhadap gagasan islamisasi sains kontemporer. Akan tetapi meskipun semua corak metodologi muslim reformis terhadap gagasan tersebut berbeda-beda tetapi semuanya dapat bertemu dalam satu titik temu (common platform) yang sama yaitu “Sains Islam”.

Di mana Sains Islam ini, merupakan upaya revitalisasi dari cahaya Islam yang telah berjaya pada beberapa abad yang lalu. Hal ini, sebagai bukti proyek usaha para cendikiawan muslim yang berusaha untuk menunjukan bahwa betapa pentingnya sains dan agama dalam menghidupkan peradaban Islam.

Oleh karena itu, perlu ditanamkan terlebih dahulu bahwa gagasan islamisasi sains kontemporer yang tujuan melahirkan Sains Islam, BUKANLAH difahami sebagai “terdapatnya ilmu yang bukan dari Allah SWT sehingga perlu diislamkan”. Tapi ini lebih kepada shif paradigm (perubah paradigma) dan membersihkan dari ideologi atau budaya yang berbeda atau menyimpang dalam tradisi agama Islam.

Dengan demikian gagasan islamisasi sains kontemporer merupakan gagasan yang sangat mulia dalam rangka serta cita-cita untuk mewujudkan kembali peradaban Islam (Islamic Civilization)

Wallahu A’lam bi Shawāb

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan...

Falsafah Blasphemy [Penistaan]

Oleh: Muhammad Ghifari Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa agama memiliki peran sentral dalam kehidupan umat manusia di dunia ini. Di samping itu, tidak dapat...

Siapa sosok Ulama Mufassir Al-Fakhru Al-Razi

Oleh: Arif Rahman Hakim "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Pendahuluan Sebagai salah satu khazanah ilmu pengetahuan islam,...

Dilema Dalam Pusaran Virus Corona

Oleh: Ainun Firdaus Rabbani عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ» Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi...

Muslim Harus Progres

Oleh : Muhammad Ghifari “Why was is that they were able to make progress while we became so backward? Why is that we , who...

More Articles Like This