Mengenal Persatuan Islam Sebagai Gerakan Dakwah Di Indonesia

5
(2)

Oleh: Naufal Syauqi Fauzani

PENDAHULUAN

Dalam perjalanan bangsa indonesia dari masa ke masa baik itu sebelum kemerdekaan hingga sekarang setelah 73 tahun merdeka, sudah banyak yang di alami bangsa Indonesia. Tercatat dalam sejarah bahwa bangsa kita telah mengalami fase-fase untuk tetap ada,terjaga serta diakui eksistensinya oleh bangsa lain hingga sekarang. Dan bangsa ini pun tercatat sudah 7 kali berganti kepemimpinan dari mulai bapak proklamator kita Sukarno Hatta dengan orde lama yang dibawanya, berlanjut ke orde baru setelah estafet kepemimpinan berpindah tangan kepada Suharto.

Setelah eksis dari tahun 1966-1998 bangsa ini kembali mengalami fase perubahan, dengan ditandai mundurnya Suharto dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia dan menyerahkanya kepada Baharudin Yusuf Habibi yang sebelumnya menjabat wakil presiden. Maka sejak saat itu bangsa kita mengalami fase perubahan lagi dan bertahan hingga kini yaitu era reformasi, yang mana setelah masa pemirintahan Habibi dilanjukan kepada KH. Abdurrahman Wahid, Megawati sukarno putri, Susilo Bambang Yudhoyono dan sekarang Joko Widodo.

Dari fase-fase yang telah disebutkan di atas teredapat banyak gerakan-gerakan yang memiliki peran yang sangat berpengaruh di dalamnya, baik itu gerakan seperti partai politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya. Setiap gerakan-gerakan tadi di Indonesia sangat terpengaruhi dengan corak masyarakat madani (civil society) yang terdapat di Indonesia. Dari gerakan-gerakan tersebut mempunyai ciri khas tertentu dalam mengamalkan setiap aksi konkretnya dan sumbangsinya bagi bangsa Indonesia.

Dalam perjalanannya civil society di Indonesia sudah mulai dicita-citakan semenjak terjadinya perubahan sosial ekonomi pada masa kolonial, terutama ketika kapitalisme mulai diperkenalkan oleh Belanda. Hal ini ikut mendorong terjadinya perubahan sosial melalui proses industrialisasi, urbanisasi, dan pendidikan modern. Hasilnya antara lain munculnya kesadaran baru di kalangan kaum elite pribumi yang mendorong terbentuknya organisasi sosial modern.

Selain itu munculnya gerakan-gerakan yang bercorak civil society di Indonesia dilatarbelakangi dengan imperialisme yang dibawa oleh belanda, dengan kapitalismenya menjajah Indonesia dengan cara meraup semua sumber daya dan kekayaan yang terdapat di Indonesia hingga menyebabkan rakyat menjadi sengsara secara ekonomi. Selain itu rakyat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam merasa terjajah ketika mereka tidak leluasa menjalankan ajaran atau syari’at agamanya, dengan tekanan dari pihak belanda kepada rakyat Indonesia khususnya umat islam.

Dengan demikian hal itu semakin terdorong bagi rakyat Indonesia untuk bersatu padu, bekerjasama dan berupaya untuk membuat gerakan-gerakan dengan corak civil society.
Umat islam pada saat itu yang merupakan mayoritas dan bagian dari bangsa Indonesia, mulai berfikir bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan belanda yang sangat merugikan mereka pada saat itu.

Banyak umat Islam di Indonesia mulai menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin berkompetisi dengan kekuatan-kekuatan yang menantang dari pihak kolonialisme Belanda, penetrasi Kristen dan perjuangan untuk maju di bagian-bagian lain Asia apabila mereka terus melanjutkan kegiatan dengan cara-cara tradisional dalam menegakkan Islam.

Mereka mulai menyadari perlunya perubahan-perubahan, apakah ini dengan menggali mutiara-mutiara Islam dari masa lalu yang telah memberi kesanggupan kepada kawan-kawan mereka seagama di Abad Tengah untuk mengatasi Barat dalam ilmu pengetahuan serta dalam memperluas daerah pengaruh, atau dengan mempengaruhi metode-metode baru yang telah dibawa ke Indonesia oleh kekuasaan kolonial serta pihak missi Kristen.

Maka tidak heran sebagaimana telah di uraikan sebelumnya (dengan mengutip pendapat Deliar Noer) muncul gerakan-gerakan umat Islam di Indonesia dengan corak civil society. Mereka sadar akan kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai wadah untuk menjalankan syari’at yang mereka jalankan dan sebagai jalan hidup mereka.

Gerakan-gerakan terbebut muncul baik dari sosial politik, sosial pendidikan dan dakwah, sosial budaya dsb. Contoh gerakan-gerakan yang muncul antara lain; Sarekat Islam dan Masyumi sebagai bentuk perjuangan umat Islam dalam gerakan partai politik, atau dari gerakan-gerakan organisasi masyarakat seperti; Al-Irsyad, Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), Nahdhatul Ulama (NU) dsb.

Dari semua gerakan yang muncul lewat corak civil society tersebut walaupun nama organisasinya berbeda, namun memliki kesamaan yaitu berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah dan pada masa itu sama-sama ingin melepaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda dan Imperialis Barat. Walaupun tidak dapat dipungkiri, dari setiap gerekan akan timbul perbedaan dari segi penyampaian ideologi dan khitah dari masing-masing gerakan tersebut.

Latar Belakang (civil society) itulah menjadi salah satu sebab organisasi masayarakat bernama Persatuan Islam (dibaca: PERSIS) tumbuh dan berkembang, menjadi salah satu ormas Islam yang berorientasi pada pergerakan sosial dakwah serta pendidikan.

Maka dengan ini penulis mencoba memperkenalkan (kembali) Persis sebagai salah satu ormas Islam yang sudah ada sebelum bangsa Indoneisa itu sendiri merdeka, yang tentunya memliki posisi tersendiri dan sumbangsinya terhadap bangsa Indonesia yang kita cintai.

Dengan keterbatasan Ilmu yang dimiliki, penulis akan memaparkan dalam makalah ini mulai dari latar belakang dan sejarah berdirinya Persis sebagai gerakan dakwah di Indonesia, khitah Persis sebagai gerakan dakwah, gerakan dakwah persis di Indonesia dari masa ke masa, kontribusi Persis bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian kita bisa sama-sama mengambil pelajaran dari gerakan dakwah Persis itu sendiri.

LATAR BELAKANG DAN SEJARAH BERDIRINYA PERSIS SEBAGAI GERAKAN DAKWAH DI INDONESIA

Berdirinya Persatuan Islam di Indonesia tentu bukan tanpa alasan atau latar belakang. Yang menjadi latar belakang berdirinya Persis sebagaimana telah dipaparkan pada pendahuluan bahwa Persis berdiri dengan latar belakng faktor civil society sendiri yang memilki keinginan yang kuat untuk melaksanakan syari’at Islam dengan cara ingin lepas dari imperialisme Barat dan penjajahan Belanda.

Tampilnya Prsis dalam pentas Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan pemikiran Islam. Persis lahir sebagai jawaban ataas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisme, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, takhayul, dan syirk serta umat terbelenggu oleh penjajahan kolonial Belanda yang memadamkan cahaya Islam. Situasi demikian kemudian mengilhami munculnya gerakan “reformisme” Islam, yang pada gilirannya, melalui kontak-kontak intelektual, mempengaruhi mempengaruhi masyarakat Islam di Indonesia untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam .

Adapun sejarah berdirinya Persis sebagai ormas di awali dengan munculnya kelompok kajian di Bandung yang dipimpin oleh kyai Zamzam dan Muhammad Yunus . Maka dari hasil kelompok kajian itu pada tanggal 12 Sepember 1923 bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok kelompok kajian atau tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama “Persatuan Islam” (PERSIS).

Nama Persatuan ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul jihad, ijtihad, dan tajdid, serta berusaha sekuat tenaga utnuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak cita-cita JAM’IYYAH, yaitu persatuan pemikiran Islam, Persatuan rasa Islam, perstuan suara Islam, persatuan usaha Islam.

Maka dengan latar belakang di atas dan tekad Persis untuk menjadi satu gerakan pembaharu yang ada di Indonesia, sudah sepatutnya gerakan dakwah menjadi khitah atau cita-cita Persis itu senidri. Dan cita-cita itu senantiasa dijaga oleh Persis sejak berdirinya hingga sekarang dan menjadikan hal itu sebagai jalan perjuangan menggapai rida Allah SWT.

KHITAH PERSATUAN ISLAM SEBAGAI GERAKAN DAKWAH DI INDONEISA

Ketika sesudah berdirinya, eksistensi Persis sebagai gerakan dakwah tidak langsung terlihat. Adapun salah satu yang bisa dijadikan alasan yang menjadikan itu terjadi dalam internal Persis karena sedikitnya SDM yang dimiliki Persis pada masa itu.

Barulah gebrakan Persis sebagai gerakan dakwah itu terlihat kemunculannya ketika tuan A. Hassan datang ke Bandung dari Surabaya dan bergabung bersama Persis, bahkan kala itu bergabung juga M. Natsir ke dalam internal Persis dan pada akhirnya merupakan salah satu murid dari A. Hassan.

Penyebab keduanya tertarik kepada Persis didasari karena khitah tersebut bahwa; Persis sebagai gerakan dakwah dengan corak reformis atau pembaharu. Dengan corak Persis seperti itu seolah menjadi angin segar dalam belantika pergulatan pemikiran keagamaan di Indonesia, yang pada masa itu arus dan isu pemikiran keagaman terbagi kepada dua poros yaitu kelompok pembaharu dan kelompok tradisional.

Setelah dua tokoh sentral tersebut masuk di Internal Persis, Persis terlihat leluasa dalam menjalankan pergerakan dakwahnya pada saat itu. Ibarat dua mata pisau A. Hassan dan M. Natsir saling berkolaborasi dalam gerakan dakwah yang telah menjadi menjadi khitah dari Persis itu sendiri.

Dalam Perjalanan Dakwahnya Persis mengalami pasang surut, sebagaimana mestinya roda kehidupan yang berputar. Maka Arus pemikiran Islam di Indonesia pun berubah.

Berikut ini merupakan pergerakan dakwah Persis dari masa ke masa.

1) Pergerakan Dakwah Persis pada Masa Pra Kemerdekaan dan Orde Lama

Pada masa pra kemerdekaan umat Islam saling bahu-membahu ikut andil dalam merumuskan kemerdekaan bangsa Indonesia. Begitupun Persatuan Islam ikut andil dalam hal ini dengan kader-kadernya yang berada dipartai Masyumi.

Selain itu Persis sendiri sadar akan pendidikan sebagai cara mendidik dan mepersiapkan kader-kadernya untuk berdakwah. Maka dari itu Persis membuka lembaga pendidikannya yang di sebut Pendidikan Islam (PENDIS) yang dilancarkan oleh M. Natsir, dan terdiri dari beberapa buah sekolah: Taman Kanak-kanak, HIS (keduanya tahun 1930), sekolah Mulo (1931) dan sebuah sekolah guru (1931).

Inisiatif ini mulanya merupakan jawaban terhadap tuntutan dari beragai pihak, termasuk beberapa orang yang mengambil pelajaran privat dalam Bahasa Inggris dan berbagai pelajaran lain kepadanya. Tuntutan ini dikemukakan setelah melihat berdirinya beberapa sekolah di Bandung pada waktu itu, di mana tidak di ajarkan pelajaran agama.

Selain itu, Persis juga mendirikan sebuah pesantren (disebut Pesantren Persis) di bandung pada bulan Maret 1936 untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan untuk menyebarkan agama. Usaha ini terutama merupakan inisiiatif A. Hassan.
Dalam melaksanakan Pendis dan Pesantren Persinya Persis pun mengalami pasang surut.

Pendis yang didirkan oleh M. Natsir harus terhenti karena kesibukannya dibidang politik dan diangkatnya belaiu menjadi bagian staff pendidikan kota Bandung. Adapun Pesantren Persis harus terbagi menjadi dua disebabkan pindahnya A. Hssan ke Bangil karena faktor ekonomi, dan pesantren Persis di Bangil ini disebut Pesantren Besar.

Adapun Pesantren Persis di Bandung disebut pesantren kecil dan A. Hassan mengamanatkan pesantren tersebut kepada muridnya yang bernama E. Abdurrahman .

Bukan hanya itu saja tapi pada masa ini Persis melabarkan sayap gerakan dakwahnya ke arah dakwah bil-kitabah dengan menerbitkan majalah Pembela Islam. Dan pada masa ini A. Hassan termasuk produktif dalam menggalakkan dakwah bil-kitabah dengan karya-karyanya seperti karanyanya yang berjudul; Islam dan Kebangsaan atau kegiatan surat-menyurat degan salah satu pahlawan NKRI yaitu sukarno saat ia di asingkan ke endeh.

Adapun pasca kemerdekaan atau orde baru di mana pada saat itu isu yang sedang ramai diperbincangkan tentang “konsep Negara”. Persis sebagai organisaisi dakwah masih belum kehilangan tajinya dan masih menunjukan eksistensinya, khusunya dijalur politik. Pada saat itu Persis dan dua orang kadernya yang menonjol dalam medan dakwah politik yaitu M. Natsir dan Isa Anshory. Mereka termasuk tokoh-tokoh yang mempublikasikan kemungkinanya dasar penggabungan Negara dan Islam dalam konsep bernegara.

Bahkan ketika majelsi Konstituante (1959) dan kemudian Masyumi dibubarkan (1960) oleh sukarnu, lalu sukarno mendeklarasikan Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunisme) melalui persatuan Islam Isa Anshary tetap lantang menentang kebijakan itu. sikap ini tentu saja sesuai dengan khitah perjuangan dakwah Persis, karena ini bentuk kehati-hatian Persis agar umat selamat dari pemikiran-pemikiran yang dapat mempengaruhi umat dang mengarahkannya kepda kesesatan.

Kemudia langkah Persis tahun 1957 M mengeluarkan resolusi, sebagai ungkapa kemarahannya pada Sukarno, yang dikirim kepada seluruh aktivis Persis yang diberi judul “Persis Menolak Konse-konsep Sukarno”. Akhirnya dibubrkannya Masyumi dan ditangkapnya Isa Ansyari 1962, suara politik Persatuan Islam benar-benar sudah tidak didengar lagi.

Maka setelah kejadian ini menandakan berakhirnya gerakan dakwah Persis dikancah politik praktis. Dan momentum ini seolah menjadi awal perubahan bagi dakwah Persis sendiri. Pada Fase berikutnya gerakan dakwah Persis cenderung mengisolasi diri dari khusunya dari gerakan politik praktis, adapunn pemaparannya akan di uraikan pada bahasan selajutnya.

2. Pergerakan Dakwah Persis Pada Masa Orde Baru

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa pada masa Orde Baru merupakan babak baru bagi pergerkan dakwah Persatuan Islam. Di mana pada masa ini kita akan menemukan bahwa gerakan dakwah Persis seperti menghilang bahkan tidak dirasakan sama sekali pengaruhnya , khususnya dalam sekala Nasional.

Tidak seperti masa sebelumnya Persis menjadi salah satu ormas atau gerakan pembaharu yang disegani, dengan berbagai tokohnya yang berani tampil diranah politik praktis menjadi salah satu faktor.

Namun hal itu tidak ditemui pada masa orde baru bahkan masih terasa hingga masa awal reformasi, dan setidaknya sekarangpun masih sedikit terasa kevakuman Persis dalam pergerkarakan arus pemikiran Islam di Indonesia khususnya.

Dalam menyikapi hal ini ada beberapa faktor yang bisa menjadi sebabnya, antara lain:

Pertama, Depolitisasi kepada umat Islam yang semaik meluas. Rupanya Suharto ingin menerapkan strategi rust en orde (stabilitas dan pembangunan). Siapa saja orang atau kelompok yang berpotensi menciptakan unrust (kacau tidak terkendali) yang bisa menghambat laju pembangunan yang di inginkan akan disingkirkan . Dan kelompok Islam masuk kedalamnya selain PKI.

Kedua, Dengan kebijakan Suharto yang sangat ketat terhadap pergerakan Islam, membuat Persis mengambil langkah sangat hati-hati dalam melaksanakan pergerakan dakwahnya. Hal itu dibuktikan oleh Persis dengan cara menarik diri dari Politik praktis dan Pesantren Persis tidak melaksanakan ujian persamaan yang dilaksanakan oleh Pemerintah.

Ketiga, Munculnya dua poros gerakan dakwah di Internal Persis. Yang mana pada setiap keduanya memiliki coraknya masing-masing, yaitu Persis Bandung yang mempunyai corak mengisolasi diri dan Persis Bangil yang lebih terbuka.

Faktor-faktor tersebut mempengaruhi Persatuan Islam dalam mewujudkan cita-cita dakwahnya. Maka dari itu pantaslah pada masa orde baru ini Persis “membatasi” pergerakannya lewat dakwah dan Pendidikan. Apalagi dengan pengaruh ketua PP. Persis saat itu KH. Endang Abdurrahman yang mengarahkan Persis kepada Khitah awal sebagai gerakan dakwah.

Bergerak dibidang pendidikan dan dakwah yang beliau pahami, yaitu mendidik calon pendakwah dan guru agama, lalu mereka terjun sebagai da’I dan pengajar. Visinya ini ia jelaskan pada pidato mua’akhat (muktamar) Persis 16 Januari 1981. Yang berjudul “Kita Sekalian Adalah Pelengkap”.

Dalam pikiran beliau yang dimaksud “pelengkap” adalah bahwa Persis tidak perlu ikut terjun langsung dalam kegiatan politik, karena tugas Persis adalah mempersiapkan agama bagi bangsa ini, yaitu dengan agama dan mengajar.

Pemaparan di atas dikuatkan dengan bukti dilapangan bahwa pada masa ini, pergerakan dakwah persis lebih fokus ke pelosok-pelosok pedesaan, walaupun cakupannya masih sekitar tanah sunda atau di jawa barat. Ditambah juga jika ada santri yang lulus dari pesantrennya dan telah berhasil menjadi seorang muballigh, maka dia biasanya akan membangun pesantren di kampung halamannya.

3. Pergerakan Dakwah Persis pada Masa Reformasi sampai Sekarang

Setelah turunnya orde baru yang dipimpin Suharto (1998) maka perubahan arus pemikiran Islan di Indonesia pun berubah, maka berubah pula pergerakan dakwah Persis sejak era ini. Sesuai dengan semangatnya sebagai gerakan pembaharu atau reformis, sudah seharusnya ada pembahruan juga dari perjalanan dakwah Persis.

Karena merupakan sunnatullah sesutau itu berkembang dan berubah sesuai realitas zamannya. Al-Ustadz E. Abdurrahman sering mengungkapkan dalan tausyiahnya : “Kita bukan pengikut dari generasi terdahulu, melainkan sebagai pelanjut.” Maksudnya; pemikiran dan perjuangan Persis hendaklah tidak taqild buta, melainkan harus kreatif dan inovatif sesuai perkebangan zaman dalam batas-batas Al-Quran dan As-Sunnah .

Situasi perubahan ini disebabkan juga bergantinya estafet kepemimpinan PP. Persis. Pada tahun 1983 KH. Abdurrahman meninggal dunia dan yang menggantikan beliau pada saat itu sebagai ketua umum Persis adalah KH. Latief Muchtar . Yang mana beliau ini bukan saja seorang ulama,namun soerang cendekiawan juga akademisi dan menyelesaikan jenjang kuliahnya di Darul Ulum dan Ma’had Diraa Islamiyah universitas Kairo, Mesir.

Dalam perkembangannya Persis sejak saat itu serasa memili wajah atau corak baru dalam dakwahnya terhadap dinamika peta dakwah di Indonesia. Persis tidak tampil lagi dengan gebrarkan-gebrakan shock therapy tetapi melalui persuasif edukatif. Persis tidak lagi “garang” dan “menantang” dalam masalah penyampaian dakwahnya yang selalu disampaikan pada forum debat atau diskusi.

Hal itu tidak dipungkiri karena pada perkembangannya isu pemikiran Islam di Indonesia antara gerakan “Pembaharu” dan gerakan “tradisional” tidak menjadi isu utama seperti sebelumnya, bahkan sekat antara dua golongan ini pun semakin kabur dan hubungan antara keduanya lebih cair, apalagi setelah era reformasi berjalan.

Selain itu dalam gerakan dakwah dan pendidikan Persis berhasil mendirikan universitasnya pada tahun 1988, yang kemudian mengalami beberapa penyesuaian nama antara lain Pondok Pesantren Tinggi (PPT), kemudian Sekolah tinggi Ilmu Ushuludin (STIU) dan terakhir Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) . Dalam hal pendidikan yang bersifat akademis Persis pun mulai mengarahkan kader-kader muballigh dakwanya agar melanjutkan kejenjang kuliah, baik itu kuliah di universitas dalam dan luar negri, khususnya ke ngera-negara di Timur Tengah. Hal ini disebabkan juga dengan sikap Persis sendiri yang sudah mulai terbuka pada awal masa ini.

Dengan keterbukaan ini dakwah Persis tidak hanya fokus ke dalam masalahah-masalah fikih dalam hal ibadah, tapi meluas juga kepda masalah-masalah kontemporer. Hal ini bisa dilihat ketika Majelis ulama Persis (sekarang Dewan Hisbah) dalam sidangnya selalu menyertakan masalah ibadah dan kontemporer untuk dirumuskan .

PENGARUH DAN KONTRIBUSI DAKWAH PERSIS BAGI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Persis sebagai organisasi yang berfokus kepada gerakan dakwah tentu memiliki pengaruh dan kontribusniya bagi NKRI. Dengan semangat dakwahnya Persis memberikan warna tersendiri bagi pemikiran Islam di Indonesia.

Persis ikut serta dan berperan aktif dalam memberikan arah dan dasar-dasar berdinya NKRI serta serta memberikan keteladanan kepada umat agar kembali keapda Al-Quran dan As-Sunnah dalam segala aspek kehdupan melalui gerakan dakwah, pendidikan, ekonomi , dan sosial kemasyarakatan.

Tekad Persis dengan khitah dakwahnya diwujudkan dengan berbagai pengaruh dan kontribusinya bagi Indonesia. Sejak zaman pra kemerdekaan misalnya sebagai mana telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa Persis berperan aktif dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda, dengan kader-kadernya yang aktif dipartai poitik Masyumi yang di dalamnya banyak tokoh islam lain yang sngat berpengaruh bagi bangsa Indonesia.

Bahkan setelah kemerdekaan di mana keadaan Indonesia belum stabil, masih banyak wilayah Indonesia yang belum benar-bnear terlepas dari jajahan belanda.

Contoh pada saat itu sesaat setelah penyerahan diri Jepang, oleh pihak Sekutu sebagai pihak pemenag pada perang pasifik (PD II) RI hanya akan diberi pulau Sumatera, Jaawa dan Madura. Sisanya berada di bawah control Belanda. Wilayah ini dipastikan melalui perundingan Malino dan Linggarjati. Keduanya diselenggarakan tahun !946. wilayah ini semakin sempit sejak digealarnya perundingan Linggarjati 17-19 Januari 1949. RI hanya diberi wilayah Banten, Yogyakarta, dan delapan keresidenan di Jawa Tengah.

Setelah itu terjadi Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Hag Belanda. KMB inilah yang melahirkan RIS (Republik Indonesia Serikat) tahun 1949 yang tetap mimilih Sukarno sebagai Presidennya. Tidak lama setelah RIS berdeiri dan mendapat pengakuan internasional, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bergasil didirikan lewat Mosi Integral Natsir yang terkenal itu.

M. Natisr sendiri merupakan kader Persis menunjukan kepeduliannya dalam hal berbangsa dan bernegara dengan Mosi Integralnya tersebut yang berhasil menyatukan semua daerah di Indonesia. Bukan itu saja, bahkan ia sempat di angkat menjadi Perdana Mentri Indonesia dan Menteri Penerangan dalam kabinet pemerintahan yang dirancang oleh Sukarno pada saat itu.

Kontribusi lainnya yang lahir dari dakwah Persis adalah karya-karya berupa tulisan, yag mana dengan tulisan itu bisa menyampaikan gerakan dakwah dan pemikiran Persis kepada khalayak umum. Tentu saja itu menjadi hal penting bagi Persis dikarenakan dari sisi keanggotan persis tidak memiliki anggota yang banyak, maka tulisan itu menjadi cara yang efektif dalam gerakan dakwah Persis.

Contohnya dalam hal ini karya A. Hassan berupa tafsir Al-Quran berbahsa Indonesia yang diberi nama Tafsir Al-Furqan. Di mana pada masa itu masih sulit kiranya untuk menemukan tafsir Al-Quran yang berbahasa Indonesia dan A. Hassan menjadi pelopor pada saat itu. Tidak lain, hal memudahkahkan kepada umat Islam di Indonesia khususnya yang tidak mengenyam pendidkan pesantren untuk lebih mudah memahami agamanya.

Selain itu dakwah bil-kitabah yang dilakukan Persatuan Islam dengan menerbitkan majalah-majalah seperti Pembela Islam yang terbit di Bandung dari tahun 1929-1933. Sirkulasinya mencapai 2000 eksemplar. Dan setelah itu A. Hassan sendiri mendirikan sebuah percetakan majalah sendiri, dan berhasil mencetak Al-Fatawa sekitar 1000 ekslempar. Sebuah majalah lain turut terbit yaitu Al-Lisan yang diharapkan pengganti dari pembela Islam terbit pada bulan Desember 1935. Sirkulasinya kira-kira 2000 ekslemplar dan terhenti ketika Jepang masuk di Indoensia.

Bahkan sampai masa kini dakwah bil-kitabah masih terus digalakkan oleh Persis, lewat pena-pena para ulama yang aktif didalamnya.seperti majalah Risalah yang terbit pada masa Orde Baru yang pada mulanya berisi tentang masalah-masalah fiqih ibadah dalam Islam, dan sekarng majalah Risalah sudah lebih berkembag bukan hanya terfokus pada masalah-masalah fiqih ibadah saja.

Selain itu masih banyak karya-karya lainnya yang ditulis oleh ulama yang ada di dalam gerakan dakwah Persis, seperti karya-karya KH. Aceng Zakaria berupa kitab-kitab berbahasa arab contohnya Al-muyassar fii ‘ilmin-nahwi, al-kaafi fii ‘ilmis-sharfiy, al-hidayah dan semuanya telah diterjemahkan juga kedalam bahasa Indonesia.

Manfaat dakwah Persatuan Islam terutama dirasakan jamaah yang tidak pernnah mendapatkan studi di pesantren atau generasi muda yang tidak pernah mendapat kitab sumber ajaran-ajaran Islam. Hal ini sangat dirasakan pada awal berdirinya masjid Pajagalan di Bandung. Aktivitas dakwah dan khutbah Jumat Persatuan Islam dirasakan oleh jamaah sebagai sebagai pesantren terbuka yang membuka cakrawala pemahaman ajaran Islam.

KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah ini kita dapat menyimpulkan bahwa berdirinya Persatuan Islam dilatar belakangi dengan timbulnya arus pemikiras Islam di Indonesia, yang pada saat itu isu pemikirannya terfokus pada gerakan “Pembaharu” dan “Tradisional”.

Ditambah dengan adanya kesadaran umat islam pada saat itu utuk terlepas dari penjahan Belanda. Adapun Persis sebagai gerakan dakwah mulai terlihat eksistensi dan pengaruhnya ketika A. Hassan masuk ke dalam internal Persis dan menjadi guru utama Persatuan Islam.

Dalam dakwahnya dari masa ke masa Persis cenderung menyesuaikan dengan dengan kedaan pada masa itu. Contohnya ketika masa pra kemerdekaan dan orde lama persis dalam menyampaikan dakwahnya ikut andil dalam pergerakan politik umat islam pada saat itu dan sering menggalakan diskusi ilmiah atau debat dalam menyampaikan pemirikannya, baik dengan golongan tradisional, kebangsaan bahkan dengan golangan non-muslim.

Ketika masa orde baru pergerakan dakwah Persis seoalah tidak terlihat disebabkan kecenderungan Persis pada saat itu untuk tidak ikut andil dalam pergerakan politik dan isu pergerakan pemikiran Islam di Indonesia.

Namun sebenarnya pergerakan dakwah persis masih ada pada masa orde baru, tapi dakwahnya cenderung mengarah kepelosok-pelosok pedesaan itu pun berkisar di daerah Jawa barat.

Pada masa reformasi persis kembali merubah gaya dakwahnya yang asalnya cenderung terlihat “garang” dan seolah-olah menjadi “antagonis”. Yang pada akhinya Persis melakukan revitalisasi terhdap khitah dakwahnya lebih terbuka terhadap gerakan lainnya, hal ini tentu dipengaruhi dengan berubahnya peta pemikiran Islam yang tidak terfokus pada gerakan “pembaharu” dan “Tradisional” di Indoesia dan tentunya umat Islam di Indoesia memiliki agenda yang lebih penting lagi dari itu semua.

Walaupun gerakan dakwah Persis berubah menyesuaikan zamannya ada yang belum berubah, yaitu dakwah bil-kitabahnya yang dilakukan oleh ulama-ulama yang ada di dalam internal Persis.
Kini Persis dituntut untuk lebih mengembangkan konsep perjungan (jihad) yang dinamis dalam menghadapi tantagan dakwah yang semakin kompleks.

Persis dituntut menuntut koordinasi internal secara intensif, peka, responsif, dan selalu datang dengan soulusi-solusi terhadap problem keumatan. Hal ini tentu dengan terus memperkuar dan memperdalam bacsic keilmuan dan kajian hukum serta pemikiran keislaman sesuai dengan tntutan perkembangan zaman .

Demikian Persis sebagai salah satu gerakan yang muncul karena adanya civil society yang begitu pesat di Indonesia. Tentunya masih banyak lagi gerakan yang muncul karena civil society tersebut, yang memiliki corak atau gerakan yang berbeda dengan Persis sebagai gerakan dakwah. Itu semua menjadi kesatuan yang saling menguatkan, bekerjasama dan bergotong royong membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), walaupun dalam praktiknya akan didapati perbedaan-perbedaan tapi tidak menjadi penghalang tentunya untuk sama-sama membangun.

Karena pada dasarnya semua gerakan civil societ timbul karena peduli dengan Indonesia. Apalagi dilatar belakangi dengan iman yang sama, itu seharusnya menjadi modal lebih bagi kita untuk terus maju membawa bangsa ke arah yang lebih baik.
Wallahu a’lam bis-shawab.

DAFTAR PUSTAKA

🖋️Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah Jilid I (Jakarta: Salmadani, cet. Ke-2 : 2015)

🖋️Deliar Noer, Gerakan Moderenis Islam di Indonesia (Jakarta: PT LP3S Indonesia, cet. Ke-2: 1982)

🖋️Dewan HIsbah Persatuan Islam, Keptusan Sidang Dewan Hisbah Jilid I (Bandung: PersisPress: 2001)

🖋️Shidiq Amien, Panduan Hidup Berjama’ah dalam Jam’iyyah Persis (Bandung: PersisPress, cet. Ke-1: 2007)

🖋️Suroto, Konsep Masyarakat Madani di Indonesia di Masa Post Modern (Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, vol. 5, no 9: 2015)

🖋️Tiar Anwar Bachtiar, Sikap Intelektualitas Persatuan Islam Terhadap Politik Orde Baru (Tesis : 2008)

🖋️Tiar Anwar Bachtiar, Jas Mewah Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan Dakwah (Yogyakarta: Pro-U Media : 2018)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *