Wednesday, October 28, 2020

Mengenal Pola Dasar Ilmu Takhrij

Must Read

Kisah Hidup dan Karya Imam Ath Thabari

Oleh : Yandi Rahmayandi Iftitâh Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,"Tidak pernah ditemui satu umat...

Tarikat Tashawwuf

Oleh: Arif Rahman Hakim Al-Kufuwwi I. Pendahuluan Manusia pada masa sekarang ini yang sudah terjangkiti matrealisme, hedonisme dan penyakit hubbudunya lainnya,...

Mengenal Sosok Imam As Suyuthi

Oleh: Danis Wijaksana Pendahuluan Menguak sejarah seorang tokoh, seperti memasuki belantara hutan yang luas, butuh kecermatan, ketelitian, kehati-hatian. Sebab warisan sejarah...

4.9
(7)

Oleh : Agus Setiawan, Lc.

I. Definisi Takhrij

Kata takhrij (تخر يج) merupakan masdar yang bermakna “tampak dan jelas” dari kata خرّ ج dan terkadang pula digunakan kata إخراج yang bermakna sama. Arti secara bahasa : “Berkumpulnya dua hal yang berbeda dalam satu tempat”. Adapun dalam penggunaannya kata تخريج dapat berarti :

• Bermakna “Istinbath”
• Bermakna “Tadrib”
• Bermakna “Taujih”

Dalam sejarah ilmu hadits kata takhrij mengalami beberapa penggunaan :

a. Periode Mutakaddimin

Para ulama hadits menjadikan batas masa mutakaddimin dengan mutaakhirin dengan bermula pada tahun 300 H. Yaitu setelah adanya penulisan hadits secara sistematis. Ulama mutakaddimin sering menggunakan kata-kata takhrij.

Maksud dan maknanya menurut mereka adalah : “Penulisan ataupun penyebutan hadits oleh ahlinya (muhaddits) lengkap dengan sanadnya dalam buku-buku rujukan hadits. Namun definisi ini kurang dikenal atau lebih tepatnya tidak disepakati penggunaannya menurut ahli hadits.

b. Periode Mutaakhirin

Periode mutaakhirin ditandai dengan kemunculan dan semaraknya penulisan hadits dalam bentuk tahdzib hadits kurang lebih tahun 375 H. Serta munculnya buku-buku rujukan hadits yang menggabungkan beberapa sumber dan memeriksa kesahihan atau tidaknya.
Menurut para ulama mutaakhirin takhrij ialah : “Menyandarkan hadits -setelah diketahui status hukum sah atau tidaknya- kepada imam-imam hadits dari kitab-kitab yang muktabar menurut ulama hadits yang meriwayatkan dengan sanadnya sendiri.

II. Urgensi dan Faedah Ilmu Takhrij

Sebagaimana telah disepakati bahwa hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al Quran. Demikian besar peranan hadits dalam ajaran Islam sehingga para ulama menyatakan dipertanyakan keislamannya bagi orang-orang yang tidak mengakui eksistensi hadits dalam syari’ah islamiyyah.

Beberapa pakar hadits konteporer seperti DR. Yusuf Qardawi dalam bukunya ‘Bagaimana berinteraksi dengan as sunnah‘ atau DR. Mustafa As Siba’i dalam buku ‘Kedudukan As Sunnah dalam syari’at islamiyyah‘ menjelaskan bahwa di antara peranan dan posisi hadits terhadap Al Quran ialah:

  • Menjelaskan yang mubham
  • mengkhususkan yang umum
  • menspesifikasikan yang mutlaq
  • menjabarkan yang global
  • mensyari’atkan hal-hal yang disebutkan dalam Al Quran secara tersirat (talmih).

Mengingat demikian pentingnya hadits dalam hukum Islam, maka mengetahui sumber dan hukum sebuah hadits tentunya lebih penting. Adapun diantara faedah mempelajari ilmu takhrij ialah:

1. Membantu para pengkaji hadits untuk mengetahui secara langsung sumber-sumber sebuah hadits. Misalnya sebuah hadits diriwayatkan oleh siapa saja (Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah rahimahumullah ajma’in dan lainnya).

2. Mengumpulkan sanad yang lebih banyak untuk sebuah hadits. Dengan jumlah sanad yang lebih banyak seorang pengkaji hadits dapat mengetahui bersambung atau tidaknya sebuah hadits ke nabi Muhammad SAW. Ia juga dapat mengetahui adanya hadits senada lainnya yang dapat mengangkat derajat satu hadits dari satu tingkat kepada tingkat selanjutnya (dari dlaif ke hasan bighairi, dari hasan ke shahih bighairih dll).

3. Mengetahui status hukum sebuah hadits dengan mengadakan komperatif pada sanad yang lain dalam matan (teks hadits) atau makna yang sama. Misalnya sebuah hadits dapat menjadi syadz setelah diadakan study komperatif dengan sanad lain yang lebih banyak atau lebih shahih.

4. Dapat menjelaskan makna kata-kata yang gharib dalam matan sebuah hadits. Dimana dalam riwayat lain menjelaskan kata yang kurang jelas.

5. Dapat mengetahui nama-nama rawi yang majhul atau laqab dan kunyahnya.

6. Dapat mengetahui dan membedakan antara periwayatan dengan lafadz atau periwayatan dengan makna.

7. Membantu seorang pengkaji hadits untuk menguasai hadits yang sarat dengan sanad-sanadnya. Itu semua adalah bagian dari khazanah seorang muhaddits.

8. Dapat mengetahui alur pemikiran (baik madzhab fikihnya, akidahnya atau yang lain). Juga dapat mengetahui metode penulisan buku tiap-tiap ulama.

III. Sejarah Ilmu Takhrij

Dalam sejarahnya, ilmu takhrij sangat erat kaitannya dengan sejarah As Sunnah secara umum. Namun ada baiknya kita mengkaji secara sederhana tentang sejarah ilmu takhrij. DR. Abdul Maujud, pakar hadits dari Univ. Al Azhar menjelaskan bahwa sejarah takhrij hadits melalui tiga fase:

a). Fase pra kemunculan ilmu takhrij

Masa pra kemunculan ilmu takhrij ditandai dengan berkembang dan beragamnya penulisan kitab-kitab hadits yang muktabar. Dalam fase ini sedikitnya ada tiga perkembangan

  • Catatan-catatan para sahabat dalam bentuk suhuf ataupun kitab.
  • Karya-karya para tabi’in sampai adanya penulisan hadits secara sistematis. Yang berakhir di penghujung tahun 125 H.
  • Karya-karya di bidang As Sunnah, yaitu dimulai pada penghujung tahhun 125 H sampai awal tahun 275 H. Dimana semakin semaraknya penulisan-penulisan dalam bidang hadits.

b). Fase pertumbuhan awal

Pertumbuhan ilmu takhrij secara permulaan diawali pada tahun 275 H (setelah fase sebelumnya) sampai penghujung abad keempat hijriah. Saat itu penulisan hadits telah mencapai taraf kesempurnaan, juga telah dimulainya fase tahdzib, taqrib, istidraak dan lainnya.

c). Fase perkembangan ilmu takhrij sebagai ilmu tersendiri

Perkembangan ilmu takhrij sebagai sebuah ilmu tersendiri yang memiliki kaedah-kaedah dan sistematisnya berawal di penghujung abad keempat sampai saat ini.

IV. Metode Takhrij Hadits

Sampai saat ini untuk metode Takhrij hadits dikenal Lima cara. Sebagian ulama menambah metode induksi ke dalam metode takhrij hadits, namun sebagian lainnya tidak menjadikannya sebagai metode takhrij. Berikut kita akan mengkaji kelima metode takhrij tersebut

Pertama. Takhrij dengan mengenal awal kalimat Hadits.

Jika kita ingin mengkaji takhrij hadits dengan metode ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu awal hadits yang akan kita cari. Kemudian kita lihat huruf awal, huruf kedua dan selanjutnya. kita mencari dari bab Mim dan Nun. Kemudian Ghin, Sin, Nun, kelebihan cara ini ialah kita dapat mengetahui hadits yang kita cari dengan cepat. Kekurangannya yaitu jika ada perbedaan awal hadits yang kita ketahui dengan sebenarnya, maka kita akan kesulitan untuk membuktikannya.

Buku-buku yang membantu metode pertama ini adalah: Al-Jami’ Ash-Shaghir min hadits Al-Basyir An-Nadzir, karya I‎mam Jalaluddin Asy-Syuyuti (W 911 H), Jam’ul jawami atau Al-Jami’ Al-Kabir juga karya Imam Asy-Syuyuthi, Al-Jami’ Al-Azhar min hadits An-Nabiyyil Anwar karya Imam Abdul Ar-Rauf Al-Manawi (L 952 H) dan Mausu’ah Athraf Al-Hadits An-Nabawi karya Sayiyid bin Basyuni Zaglul.

Kedua. Takhrij dengan menggunakan kata-kata dalam teks hadits.

Bila kita mengetahui sebuah kata dalam suatu hadits dan ingin mengetahui teks dan sumbernya secara lengkap, kita bisa menggunakan metode ini. Diantara kelebihanya yaitu, kita bisa cepat mengetahui hadits yang dimaksud. Kemudian para pengarang kitab-kitab ini juga telah menjelaskan secara rinci tempat hadits tersebut, (Kitab, bab, juz atau halaman).

Sementara kekurangannya adalah bagi pengguna metode ini harus mengetahui asal sebuah kata sebab kitab-kitab yang menggunakan metode ini menggunakan huruf asli dari kata-kata tersebut. Juga Kitab-kitab untuk metode ini tidak menyebutukan sahabat tertentu dalam periwayatanya, akan tetapi menyebutkan hadits yang diriwayatkan dari seluruh sahabat, sehingga kita diharapkan melihat kepada kitab aslinya. kita tidak cukup mentakhrij dengan metode ini dalam satu kata saja, sebab bisa jadi riwayat hadits tersebut tidak menggunakan kata yang dicari.

Buku-buku yang membantu metode ini diantaranya: Al-Mu’jam Al-Mufahras li-Alfadzil hadits An-Nabawi karya Orientalis Arent Jan Wensick dkk.

Ketiga, Takhrijdengan menggunakan rawi yang terdiri dalam sanad.

Yang dimaksud dengan rawi yang tertinggi ialah sahabat (jika hadits tersebut muttasil), atau bisa juga tabi’in (Jika hadits tersebut Mursal). Para pengarang kitab-kitab yang membentu mentakhrij dengan menggunakan metode ini telah mengumumpulkan seluruh hadits yang diriwayatkan oleh satu orang sahabat. Demikian pula mereka mengurut para tabi’in yang meriwayatkannya dari sahabat tersebut.

Kelebihan metode ini diantaranya, rata-rata pengarang kitab takhrij dengan metode ini telah menyebutkan siapa yang meriwayatkan sebuah hadits beserta kitabnya. Berbeda dengan metode pertama. Kemudian seorang pengkaji hadits akan banyak mendapat faedah, diantaranya ialah ia bisa mengadakan studi komparatif sanad, ditambah lagi faedah lainnya yang disebutkan oleh para pengarang kitab-kitab takhrij tersebut. Adapun kekurangannya, kita akan kesulitan mentakhrij sebuah hadits tanpa mengetahui rawi tertinggi.

Kitab-kitab takhrij dengan metode ini adalah : Tuhfatul Asyraf bi makrifatil Athraf karya Al- Hafidz Jamaluddin Al- Mizzy ad Dimisqy as Syafi’I (W 742 H), An-Nukad Adz Dzarraf ‘alal Athraf karya Ibnu Hajar, Dzakhair Al-Mawarits fid Dilalati ‘ala Mawadi’il Hadits karya Imam Abdul Ghani an Nablusy al hanafi ad Dimisqi, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (W 241 H)

Keempat. Takhrij dengan menggunakan Topik (Tema) sebuah Hadits.

Jika kita ingin mentakhrij suatu hadits tertentu, maka pertama kali kita kira-kirakan tema dari hadits tersebut apa? Kemudian kita cari tema tersebut dalam kitab-kitab takhrij yang menggunakan metode tematis ini. Bisa jadi hadits tersebut lebih dari satu tema, maka kita mencoba mencari pada tema lain dalam buku takhrij tadi.

Kelebihan metode ini diantaranya, seorang pencari hadits tidak perlu terlalu direpotkan dengan mengetahui ujung hadits ataupun rawi tertinggi, ia juga tidak terlalu dituntut untuk mengetahui asal kata dalam sebuah hadits. Akan tetapi ia cukup mengetahui isi dan pemahaman global dari hadits yang kita cari. Metode ini juga mendidik seseorang pengkaji hadits untuk memperkaya pengetahuan dan pemahaman haditsnya. Karena seorang yang sering menggunakan metode ini dalam mentakhrij hadits, ia akan memiliki maklumat yang luas akan sebuah hadits.

Seorang yang berusaha mencari hadits dengan metode ini akan mendapatkan keuntungan ganda yaitu ia akan mendapatkan hadits-hadits yang senada selain hadits yang dicarinya.

Diantara kekurangannya ialah terkadang seorang pengkaji hadits tidak mampu menentukan tema dari hadits yang ia cari, sehingga dengan demikian ia tidak dapat menggunakan metode ini dalam mentakhrij hadits tersebut. Dan bisa jadi pemahaman seorang pencari hadits akan berbeda dengan para pengarang kitab takhrij yang mempergunakan metode ini.

Adapun kitab-kitab Takhrij yang mempergunakan metode ini diantaranya adalah Kanzul umal fi sunanil akwal wal afal karya Al-Mutaki Al-Hindi, Miftah Kunuz As-Sunnah karya Vinsnick, Nasbur Rayah fi Takhrij Ahadits hidayah karya Imam Az-Zailai’, At-Talkhisul Habir fi Takhrij ahadits Ar Rafi’ Al- Kabir Karya Ibnu Hajar dan Takribul Asanid wa Tartibul Masanid Karya Imam Al-Iraqi

Kelima, Takhrij dengan mengenal sifat sebuah Hadits

Misalnya kita akan mentakhrij sebuah hadits Qudsi, atau hadits Mutawatir , Mursal, Maudu’ dan yang lainnya, maka kita dapat menggunakan metode ini. Dalam metode ini seorang pencari hadits akan mendapatkan kemudahan, karena kitab-kitab hadits yang berkenaan dengan sifat hadits tidak sebesar kitab lainnya. Namun tentunya pentakhrij hadits tadi hanya mampu mentakhrij hadits dalam jumlah yang terbatas.

Kitab-kitab yang menggunakan metode ini banyak sekali diantaranya : Al-Azhar Al-Mutanatsirah fil Akhbar Al-Mutawatirah karya Imam Suyuti, Al-Ithafat As saniyah gil Ahadits Al-Qudsiyyah karya Imam Al-Madani, Al-Marasil karya Imam Abu Daud, Tanzih As-Syariah Al-Marfu’ah ‘anil Akhbaril As- Sani’ah Al- Maudu’ah karya Ibnu Iraq, Al-Makasid Al-Hasanah karya Imam As-Sakhawi dan Kasyful Khafa karya Imam Al-Ajluni

VI. Epilog

Itulah kelima metode takhrij hadits yang telah dipaparkan secara singkat dalam tulisan ini sebagai gambaran umum Ilmu Takhrij. Tentunya akan lebih jelas dan mendetail lagi jika kita menambah maklumat dari buku-buku yang berkenaan dengan pembahasan ini.

Perlu diketahui untuk Ilmu Takhrij diperlukan Praktek dan latihan yang berkesinambungan, karena terkadang sebuah teori akan berbeda dengan Praktek lapangan. Disamping itu dalam mentakhrij hadits nantinya kita akan mendapatkan terminologi-terminologi, juga penggunaannya yang berbeda dari ilmu-ilmu lainnya. Wallahu A’lam


Daftar pustaka

– Kasyf Litsam, DR. Abdul Maujud cet. Afaq lil Fanniyat Kairo 1998

– Ushul Takhrij wa Dirasatul Asanid, DR. Mahmud Ath Tahhan cet. Maktabah Al-Ma’arif Riyad 1991

– Turuq Takhrij Hadits Rasul, DR. Abdul Muhdi cet. Dar ‘Itisham Kairo

– Makalah Abdul Malik Ghazali dalam orientasi pengenalan jurusan mahasisiwa baru juli 1998

– Miftahus Sunnah, Muh. Abdul Aziz Al khuly dikutip oleh DR. Abdul Maujud-26.

– Al Iraqi dalam kitab Taqriibul Asaanid wa tartiibul masaanid 1/19, dikutip oleh DR. Abdul Maujud – 27).

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Tertunda Wabah Covid-19, Tasykil PCI Persis Mesir Resmi Dilantik

Kairo – Tasykil (pengurus-red) Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir masa jihad 2019-2021 akhirnya resmi dilantik oleh...

Pandemi; Semua Bisa Mengambil Peran

Oleh: Alfy Isa Muharram Pandemi virus corona (Covid-19) selain mengguncang tatanan negara, juga mengguncang psikis manusia di belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Banyak orang...

Tarikat Tashawwuf

Oleh: Arif Rahman Hakim Al-Kufuwwi I. Pendahuluan Manusia pada masa sekarang ini yang sudah terjangkiti matrealisme, hedonisme dan penyakit hubbudunya lainnya, tidak terkecuali umat Islam, sedang...

Dilema Dalam Pusaran Virus Corona

Oleh: Ainun Firdaus Rabbani عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ» Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi...

Melacak Akar Pemikiran Mu’tazilah

Oleh: Divisi Aliran Keagamaan (ALIGA) Dewan Buhûts Islâmiyyah FOSPI Mukadimah Makalah yang kami presetasikan sekarang ini, hanyalah usaha kecil dan ala kadarnya untuk mencoba memaparkan kembali...

More Articles Like This