Tuesday, December 1, 2020

Menyingkap Tabir Gelap Alam Semesta

Must Read

Mengenal Sosok Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf Oleh : Anton H. Sultonan A. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah...

Tarikat Tashawwuf

Oleh: Arif Rahman Hakim Al-Kufuwwi I. Pendahuluan Manusia pada masa sekarang ini yang sudah terjangkiti matrealisme, hedonisme dan penyakit hubbudunya lainnya,...

HAGIA SOPHIA DI AMBANG PINTU PENGHARAPAN

Oleh : Fatin Nurcintami Hagia Sophia (Ayasofya dalam bahasa Turki), bangunan yang pernah dijadikan salah satu lokasi syuting film 99...

4.8
(27)

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar

A. Pendahuluan

قال تعالى :  سنريهم أياتنا فى الآفاق و فى أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق

“kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda tanda kekuasan kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-quran itu adalah benar. Dan apakah tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya dia menyaksikan segala sesuatu”.

قال تعالى : قل انظروا ماذا فى السموات والأرض وما تغني الأيات والنذر عن قوم لا يؤمنون

“Katakanlah : “perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda tanda kekuasaan allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Jika kita cermati ayat-ayat dalam kitab suci Al-Quran, kita akan mendapati ayat-ayat yang bersangkutan dengan agama ini ada empat yang asasi, yaitu : Aqidah, Ibadah, Akhlak, dan Muamalah. Semua ayat-ayat tersebut adalah “muhkamah” (yang dapat di pahami maknanya secara bahasa), yang tidak mengandung banyak kemungkinan-kemungkinan pada makna ayat-ayat tersebut.

Adapun ayat-ayat yang berbicara tentang alam semesta tidak mungkin dapat kita fahami hanya dengan bantuan bahasa saja, akan tetapi harus dibantu dengan penelitian atau temuan-temuan ilmiah dengan bantuan tehnologi masa kini.

Pemahaman makna dari ayat-ayat tersebut akan terus berkembang, sejalan dengan perkembangan tehnologi yang terus berkembang. Tujuannya, agar ilmu pengetahuan yang berkembang ini membenarkan kenabian Muhammad SAW dan membenarkan, bahwasanya Al-Quran adalah kalamullah yg beliau SAW mensifatinya dengan sebuah kitab yg penuh dengan keajaiban di dalamnya dan tidak ada kontradiksi diantara ayat-ayatnya.

قال تعالى : وما ينطق عن الهوى . إن هو إلا وحي يوحى

“Dan tiadalah yang di ucapkannya itu (Al-quran ) menurut kemauan hawa nafsu. Ucapannya itu tiada lain hanyalah Wahyu yang diwahyukan ( kepadanya ).

Berhubungan dengan hal ini juga, Nabi SAW bersabda :

” أعربوا القرآن والتمسوا غرائبه “

“pahamilah Al-quran dan singkaplah tabir rahasianya”.

Disini, ketika kita ingin mengupas dan memaparkan keajaiban isi Al-Quran ditinjau dari aspek ilmu pengetahuan modern. kita dapat menunjukan kepada dunia bahwasanya Al-Quran adalah sumber ilmu pengetahuan, dan Al-Quran telah lebih dahulu memaparkan –dalam bentuk isyarat– hal-hal ilmiah yang baru-baru ini di temukan oleh para ilmuan barat. Juga kita ingin menyatakan bahwasanya apa-apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW bersumber dari Allah SWT.

Al-Quran -dengan segala keajaibannya– mengajak orang-orang yang mau berfikir untuk beriman kepada kebesaran Allah SWT yang telah memperlihatkan kepada mereka hidayah-Nya dalam bentuk Kitab Suci Al-Quran. Dan Al-Quran memotifasi orang-orang yang beriman agar lebih maju dari orang-orang yang tidak beriman.

Para ulama Islam terdahulu telah banyak mengupas keistimewaan-keistimewaan Al-Quran dari berbagai aspek yang terkandung dalam Al-Quran, antara lain : dari sisi sejarah, berita akan masa depan, syariat, akhlak dan lain sebagainya.

Salah satu pembahasan yang menyatakan Al-Quran itu istimewa dan penuh keajaiban adalah pemaparan Al-Quran tentang ayat-ayat Kauniah (yang berbicara tentang jagad raya beserta isinya), yang sekarang ini banyak di bahas oleh para ilmuwan Islam maupun barat dengan topik Al-I’jaz Al-I’lmi li Al-quran Al-karim (mu’jizat sainc dalam al-Qur’an al-Karim).

Di zaman ini, zaman ilmu tekhnologi sedang berkembang dengan pesatnya, banyak rahasia-rahasia alam yang tersingkap, yang pada abad sebelumnya belum bisa tersingkap. Oleh karena itu, penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut dapat kita jadikan sebagai bukti nyata dari Al-I’jaz Al-ilmi dalam al-Qur’an.

Yang lebih indah dari itu adalah, ayat-ayat Kauniah yang ada dalam al-Qur’an semuanya dibawah kesaksian Allah SWT. Dialah yang menciptakan semua itu dengan ilmu, kemampuan dan hikmah-Nya. Dengan demikian –setelah kita menyaksikan semua temuan penelitian tersebut– kita dituntut untuk lebih beriman kepada-Nya, tunduk dan beribadah semata-mata hanya kepada-Nya.

Mari kita lihat beberapa kesaksian Allah SWT tersebut dalam al-Qur’an.

قال تعالى :  لكن الله يشهد بما أنزل إليك أنزله بعلمه والملائكة يشهدون وكفى بالله شهيدا

“mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu, tetapi Allah mengakui al-Qur’an yang di turunkannya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah SWT yang mengakuinya”.

و قال تعالى :  قل أي شيئ أكبر شهادة, قل الله شهيد بيني وبينكم. و أوحي إلي هذا القرآن لأنذركم ومن بلغ. أ إنكم لتشهدون مع الله آلهة أخرى. قل لا أشهد. قل إنما هو إله واحد و إنني بريء مما تشركون

“katakanlah : “ siapakah yang lebih kuat persaksiannya ?”. katakanlah : “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kalian. Dan Al-quran ini di wahyukan kepada ku supaya dengan nya aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang sampai kepadanya Al-quran. Apakah kalian mengakui bahwasanya ada Tuhan_Tuhan yang lain selain Allah ?”, katakanlah : “Aku tidak mengakui”, katakanlah : “sesungguhnya dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan (dengan Allah)”.

قال تعالى : و يعبدون من دون الله ما لا يضرهم ولا ينفعهم ويقولون هؤللآء شفعاؤنا عند الله. قل أتنبئون الله بما لايعلم ما فى السموات ولا فى الأرض. سبحانه و تعالى عما يشركون

“Dan mereka menyembah selain dari pada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata : “Meraka itu pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah : “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah yang tidak di ketahui Nya baik dilangit dan tidak pula di bumi ?”. maha suci Allah dan maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

Maka dengan demikian, tidak ada seorang pun –yang telah mengetahui hal ini– dapat mengingkari bahwasannya yang menciptakan semua ini adalah Allah SWT, kecuali orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya.

B. Perbedaan Antara Tafsir I’lmi Dengan I’jaz I’lmi

Sebuah Hakekat Tafsir I’lmi yaitu, penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dengan bantuan ilmu pengetahuan yang berlaku saat itu. Dan ilmu pengetahuan tersebut sudah berbentuk hyphotesis dan mungkin juga masih berbentuk teoritis.

Adapun I’jaz I’lmi yaitu, sebuah gambaran yang ingin kita tunjukan kepada khalayak ramai -secara umum– bahwasanya al-Qur’an -yang diturunkan 1423 tahun yang lampau kepada seorang Nabi yang buta huruf- mengandung sebuah hakekat (kebenaran) dari gambaran alam jagad raya ini. Yang mana para ilmuan belum dapat memastikan gambaran tersebut kecuali pada tahun-tahun belakangan ini.

Kemudian yang perlu di ketahui dalam pembahasan ini ialah keunggulan dan keterlebihdahuluan al-Qur’an –dengan pemaparannya– menjadikan penelitian-penelitian tersebut menjadi sebuah hakekat yang benar-benar nyata.

Akan tetapi, yang perlu menjadi perhatian kita semua yaitu mereka para ilmuan tidak bisa menyatakan bahwasanya penelitian, hyphotesa atau teori yang mereka buat adalah sebuah hakekat -sebagai contoh dalam masalah penciptaan alam semesta, kemudian kesudahannya (hal fana), juga penciptaan ulang atas alam yang sudah fana tersebut- karna mereka tidak menyaksikan langsung hal-hal tersebut, melainkan dari hasil penelitian atau teori yang mereka buat. Akan tetapi, apabila mereka mempercayai gambaran yang di paparkan oleh al-Qur’an teori yang mereka buat dapat naik ke tingkat hakekat.

Maka dengan demikian, kita (umat Islam) telah lebih dahulu mengetahui perihal-perihal tersebut dibanding mereka. Karena kita berpedoman dengan al-Qur’an dan al-Hadits yang keduanya adalah wahyu Ilahi yang 100% kebenarannya.

قال تعالى : لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد

“Yang tidak datang kepadanya (Al-quran) kebathilan baik dari depan maupun dari belakang nya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bisaksana lagi Maha Terpuji”.

C. Hakekat Penciptaan Alam Semesta

Tidak seorang pun yang pernah menyaksikan awal dari penciptaan alam semesta ini. Oleh karena itu, tidak seorang pun ilmuwan –yang berjiwa besar– boleh mengatakan : “Beginilah Tuhan menciptakan alam semesta ini”. Karena penelitian mereka tidaklah lebih dari sebuah teori dengan bantuan alam yang mereka raba/ baca.

Akan tetapi, umat Islam memiliki sebuah kitab suci dan kumpulan-kumpulan sabda utusan-Nya yang dapat mengangkat derajat teori-teori dari penelitian-penelitian tersebut ke derajat hakekat yang nyata kebenarannya. Dan walaupun kita tidak menemukan teori-teori tersebut, akan tetapi kita telah mendapatinya -dalam al-Qur’an maupun al-Hadits– sejak ratusan tahun yang lampau sebelum para ilmuan tersebut membuat atau menemukan teori-teori tersebut.

Sekali lagi, kita telah unggul dua derajat, pertama, teori-teori tersebut sudah kita ketahui jauh hari sebelum mereka. Kedua, kita telah dulu sampai ke alam hakekat dengan bantuan wahyu Ilahi yang 100% kebenarannya.

D. Beberapa Contoh Dari Penciptaan Alam Semesta

Jika kita mengambil contoh dari ayat-ayat al-Qur’an tentang penciptaan alam semesta ini, maka kita dapat mengambil enam ayat yang bercerita secara detil tentang penciptaan, alam fana dan penciptaan ulang alam semesta ini, sebagai berikut :

قال تعالى : فلا أقسم بمواقع النجوم. و إنه لقسم لو تعلمون عظيم

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu sangat agung kalau kamu mengetahui”.

و قال تعالى : والسماء بنيناه بأيد و إنا لموسعون

“Dan langit itu kami bagun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”.

و قال تعالى :  أولم ير الذين كفروا أن السموات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu kemudian kami pisahkan antara keduanya”.

و قال تعالى :  ثم استوى إلى السماء وهي دخان

“Kemudian dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap (gas)”.

و قال تعالى :  يوم نطوي السماء كطي السجل للكتب. كما بدأنا أول خلق نعيده. وعدا علينا إنا كنا فاعلين

“Pada hari kami gulung langit sebagaimana men ggulung lembvaran-lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama kali, begitulah kami akan mengulanginya”.

و قال تعالى :  يوم تبدل الأرض غير الأرض والسموات

“(yaitu) pada hari ketika bumi di ganti dengan bumi yang lain dan (demikioan pula) langit”.

Pada ayat yang pertama, kita mendapati disitu Allah bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Yang menjadi pertanyaan, apa rahasia di balik sumpah Allah ini bila ditinjau dari sisi I’lmiahnya ???.

Bintang, yang merupakan salah satu ciptaan Allah yang terbesar di alam semesta ini, tidaklah dia melainkan kumpulan gas yang terang menyala, yang memiliki cahaya sendiri (seperti matahari). Cahayanya tetap terlihat terang walaupun bintang tersebut telah hancur oleh sebuah proses penggabungan atom pada bintang tersebut yang biasa kita sebut dengan teori “The Big Crunh Theory”.

Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan contoh berikut ini, matahari planet yang terdekat dengan planet bumi berjarak kurang lebih 150 juta km. Ketika matahari memancarkan cahayanya, maka cahaya itu baru akan sampai ke kita setelah 8,33 detik.

Matahari berputar pada porosnya sesuai perputaran bintang Eagle dengan kecepatan 19,4 km/detik, ia berputar di galaksi Bima Sakti ini dengan kecepatan 220 km/detik. Maka ketika ia bergerak, kita tidak dapat melihatnya dan ketika kita melihat ke arahnya sesungguhnya kita melihat tempat perputarannya.

Para Astronom barat memprediksikan bahwasanya planet yang terdekat dengan bumi kita (Venus) setelah matahari berjarak 4,3 tahun cahaya, dan apabila planet tersebut memancarkan cahayanya, maka cahaya tersebut baru akan sampai ke bumi setelah lebih dari lima bulan. planet tersebut selama pembiasan cahayanya telah bergerak dari tempatnya ke tempat yang sangat jauh jaraknya.

Bahkan bukan itu saja, akan tetapi ada banyak bintang yang masih nampak cahayanya (di tempat beredarnya) di malam hari di langit dunia, padahal telah di buktikan secara ilmiah bahwasanya bintang tersebut telah hancur/punah sejak ribuan tahun yang lalu. Ini termaksud salah satu rahmat Allah yang kita rasakan. Karena jika kita melihat langsung bintang tersebut niscaya mata kita akan buta !!!. Inilah sebuah gambaran al-Qur’an yang sangat detil.

قال تعالى : فلا أقسم بمواقع النجوم

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang”.

Sumpah Allah ini benar-benar sangat indah untuk lebih di fahami. Dari tempat peredaran tersebut para ahli astronomi dapat mengetahui gambaran awal dari penciptaan alam semesta ini. Ketika mereka mulai meneliti keberadaan bintang-bintang tersebut, mereka memulai penelitian tersebut dari tempat peredaran tersebut, dan mereka mendapati, bahwasanya alam jagad raya ini terus meluas, Subhanallah, sungguh sesuai penelitian mereka dengan gambaran al-Qur’an semenjak 1423 tahun yang lampau.

قال تعالى : و السماء بنيناها بايد و إنا لموسعون

“Dan langit itu Kami bagun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”.

Dengan adanya perluasan yang terjadi di jagad raya ini para ahli astronomi memprediksikan, bahwasanya apabila kita kembali ke belakang –ke jutaan tahun di masa lampau– maka kita dapat mengatakan bahwasanya semua yang ada sekarang –pelanet, bintang dan benda-benda lainnya di jagad raya ini– berasal dari sebuah benda (yang dalam ilmu astronomi dinamakan titik awal).

Kemudian benda tersebut meledak –sesuai keinginan Allah– kemudian ledakan-ledakan tersebut berubah bentuk menjadi gumpalan-gumpalan/lapisan-lapisan gas, yang kemudian dari salah satu gas ini terbentuklah bumi, matahari, dan lain sebagainya.

Para Astronom barat menamakan teori ini “The Big Bang Theory”. Dengan teori ini mereka dapat menggambarkan bagaimana awal mula adanya alam jagad raya ini. Akan tetapi jauh sebelum para Astronom tersebut menemukan teori ini, al-Qur’an telah lebih dahulu menceritakan perihal ini, sebagaimana dalan firman-Nya :

قال تعالى : أولم ير الذين كفروا أن السماوات و الأرض كانتا رتقا ففتقناهما و جعلنا من الماء كل شيئ حي أفلا يؤمنون

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu kemudian Kami pisahkan antara keduanya”.

Ya subhanallah, sungguh detil gambaran al-Qur’an di atas. Siapa yang mengajarkan Muhammad SAW semua ini kalau bukan yang menciptakan alam jagad raya ini ?. dia lah Allah SWT yang telah memilih Muhammad SAW sebagai utusan-Nya kepada semua umat di muka bumi ini.

Para Astronom barat di awal abad 20-an mengatakan bahwasanya lapisan gas yang berasal dari ledakan benda –titik awal– tersebut adalah debu (bukan gas). Akan tetapi, penelitian para ilmuan tersebut tidak berhenti sampai di situ. Para Astronom barat meneruskan penelitian tersebut, yang akhirnya mereka membuat kesimpulan, bahwasanya lapisan-lapisan/gumpalan-gumpalan tersebut berbentuk gas, dan hal ini baru ditemukan pada akhir abad 20 kemarin.

Sementara al-Qur’an sudah jauh hari menggambarkan hal ini dalam fiman-Nya.

قال تعالى : ثم استوى إلى السماء و هي دخان

“Kemudian dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap ( gas )”.

Dalam bahasa arab, definisi ilmiyah dari kata dukhon ialah:

أنه جسم أغلبه غاز, به بعض الجسميات الصلبة له شيء من السواد أو الدكنة وله شيء من الحرارة

Artinya : Sebuah benda atau materi yang kebanyakannya gas, yang di sana ada sedikit benda-benda padat dan keras yang berwarna kehitam-hitaman dan memiliki sedikit sumber panas.

Kemudian setelah kita berbicara tentang awal penciptaan bumi dan alam semesta ini juga perluasan yang terjadi dari awal adanya alam ini hingga saat ini. Maka sekarang kita masuk kepada permasalahan baru.

Dimulai dengan sebuah pertanyaan, akankah alam ini terus meluas dan melebar ?.

Para peneliti berpendapat bahwasanya perluasan yang terjadi pada alam ini tidak mungkin tidak ada ujung kesudahannya. Karena alam ini terjadi dari hasil ledakan yang pertama, dan setelah kita mengetahui dan merasakan lambatnya frekwensi perluasan pada masa lampau – maka pasti akan datang suatu zaman pada alam ini dimana dua kekuatan (ledakan titik awal dan penggabungan dari ledakan yang terjadi) mempunyai frekwensi yang sama dalam bekerja.

Jika pada awal penciptaan alam ini frekwensi ledakan lebih besar dan kemudian melemah dan terus melemah frekwensinya, maka akan datang satu masa di mana frekwensi penggabungan sama besar dengan frekwensi peledakan. Maka dapat dipastikan, nanti akan datang satu masa di mana frekwensi penggabungan menjadi lebih besar dari frekswensi peledakan, dan pada saat itulah alam semesta ini kembali lebur menjadi satu benda (titik awal) seperti awal penciptaannya dahulu. Teori ini, oleh para astronom dinamakan “The big crunch theory”.

Akan tetapi jauh-jauh hari al-Qur’an telah menggambarkan hal ini dalam firman-Nya :

قال تعالى :  يوم نطوي السماء كطي السجل للكتب. كما بدأنا أول خلق نعيده. وعدا علينا إنا كنا فاعلين

“Pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama kali, begitulah Kami akan mengulanginya”.

Perhatikan ta’bir qurani di atas, dalam arti lain bahwasanya proses penciptaaan alam ini akan kembali dengan sendirinya –dengan izin Allah- seperti proses awal penciptaannya, yaitu kembali menjadi satu kesatuan dalam sebuah materi (titik awal). Inilah yang kita sebut dengan alfana (hari kiamat).

Akan tetapi, para Astronom barat tidak berhenti sampai di situ -keadaan fana- akan tetapi mereka menggambarkan bahwa materi tersebut (titik awal) akan kembali meledak dan menjadi alam seperti sekarang ini.

Sungguh maha suci Allah SWT yang telah menggambarkan hal ini dalam firman-Nya jauh-jauh hari sebelum ada penelitian yang dilakukan oleh para Astronom barat.

قال تعالى :  يوم تبدل الأرض غير الأرض والسموات

“(yaitu) pada hari ketika bumi di ganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit”.

Dengan semua ini, kita semakin bertambah yakin bahwa al-Quran adalah kalamullah.

1. Contoh Tafsir I’lmi

قال تعالى :  إن ربكم الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش يغشى اليل النهار يطلبه حثيثا

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat”.

Maksud dari menutupi malam dengan siang dan sebaliknya pada ayat di atas, adalah sebuah kinayah dari perputaran bumi pada porosnya. Karena jika tidak terjadi perputaran bumi pada porosnya, niscaya tidak akan terjadi pergantian malam ataupun siang. Karena setengah dari belahan bumi menghadap ke planet matahari, maka terjadilah siang dengan adanya pancaran sinar matahari dan setengah belahan bumi lainnya membelakangi matahari maka terjadilah malam, karena tidak adanya sinar matahari yang meneranginya. Inilah tafsir dari firman Allah SWT “menutup siang dengan malam” dan sebaliknya.

Adapun potongan akhir dari ayat itu : (يطلبه حثيثا) “mengikutinya dengan cepat” termasuk i’jaz ‘ilmi. Sebagaimana di ketahui baru-baru ini, bahwasanya ayat di atas menceritakan tentang awal permulaan dari penciptaan bumi. Pada awal permulaannya, bumi memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam proses perputaran pada porosnya.

Pada kecepatan waktu itu dalam setahun ada 2200 hari, karena bumi pada saat itu berputar pada porosnya dalam satu hari kurang dari 4 jam (malam 2 jam dan siang 2 jam). Lambat laun kecepatan itu berkurang dan berkurang sampailah pada putaran 24 jam perhari. Kecepatan tersebut berkurang 2 detik/100 tahun.
Para ahli Astronomi memperediksikan pengurangan kecepatan bumi pada porosnya dari 4 jam perhari sampai 24 perhari, membutuhkan waktu 4600 juta tahun. Dan pengurangan kecepatan ini akan terus berlangsung.

Kebenaran ini, yang para ilmuwan belum sampai kepada hakikat tersebut kecuali pada akhir abad 20 kemarin. Telah jauh di dahului oleh pengkhabaran al-Qur’an semenjak 1423 tahun yang lampau dengan sangat detil.

Kemudian, pengurangan kecepatan ini, yang di teliti oleh para astronom barat saat ini dengan nama“Dendrochronolgy” (sebuah cabang ilmu tehnologi yang mempelajari umur bumi dengan perantara tumbuhan yang terpendam di tubuh bumi) mengharuskan bumi pada satu masa nanti, proses perputarannya akan berbalik yang tadinya berputar ke arah kanan, nanti akan berputar ke arah kiri, seperti perputaran jarum jam.

Maka Matahari akan terbit dari sebelah barat dan terbenam di sebelah timur. Ya, subnahallah…siapa yang memberitahu Muhammad SAW tentang hal ini .(tentang proses perputaran bumi dari kanan ke kiri) ketika beliau mensifati tanda tanda hari kiamat ?!!.

عن عبد الله بن عمرو قال : سمعت رسول الله – صلى الله عليه والسلم – يقول : ( إن أول الآيات خروجا طلوع الشمس من مغربها …) رواه أحمد

Dari Abdullah bin Amr dia berkata : aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya tanda yang pertama nampak dari tanda-tanda kiamat adalah terbitnya matahari dari sebelah barat….”.

Kemudian, siapa yang memberi tahu Beliau tentang pengurangan kecepatan perputaran bumi pada porosnya, ketika beliau mensifati hari-hari Dajjal di muka bumi ini ?

عن النواس ابن سمعان قال : ذكر رسول الله – صلى الله عليه والسلم – الدجال … قلنا يا رسول الله: وما لبثه في الأرض ؟ قال – صلى الله عليه والسلم – ( أربعون يوما, يوم كسنة, ويوم كشهر, ويوم كجمعة , وسائر أيامه كأيامكم ). قلنا يا رسول الله : فذلك اليوم الذي كسنة أيكفينا فيه صلاة يوم ؟ قال – صلى الله عليه والسلم – ( لا, اقدروا له قدرة ).

Dari Annawwas bin Sam’an dia berkata : Rasululllah pernah bercerita tentang dajjal…” kami bertanya, wahai Rasulullah : berapa lama ia tinggal di muka bumi ini ?, Beliau SAW menjawab : “Empat puluh hari, ada yang satu harinya seperti satu tahun, ada yang satu harinya seperti satu bulan, ada yang satu harinya seperti satu minggu dan hari-hari setelahnya seperti hari-hari kalian ini”. kami bertanya lagi, hari apakah hari yang seperti satu tahun tersebut cukup bagi kami untuk shalat lima kali dalam satu hari tersebut ? Beliau SAW menjawab: “tidak akan, tetapi kira-kirakanlah oleh kalian”.

Sesuai dengan gambaran hadits ini, para ilmuwan barat memprediksikan, bahwasanya nanti sebelum terjadinya perpindahan putaran (dari kanan ke kiri), akan terjadi ketidakstabilan masa putaran bumi pada porosnya. Wallâhu a’lam bish-shawâb.

2. Contoh I’jaz Tarikh (gambaran keajaiban alquran dalam mengkisahkan sebuah sejarah)

قال تعالى :  ألم تر كيف فعل ربك بعاد , إرم ذات العماد, التي لم يخلق مثلها في البلاد

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad ?, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah di bangun (suatu kota) seperti itu, di peradaban bangsa lain”.

قال تعالى :  وفي عاد إذ أرسلنا عليهم الريح العقيم . ما تذروا من شيء أتت عليه إلا جعله كالرميم

“Dan juga pada (kisah) ‘Aad ketika Kami kirimkan pada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilandanya melainkan dijadikannya seperti serbuk”.

قال تعالى : فأما عاد فاستكبروا في الأرض بغير الحق وقالوا من أشد منا قوة, أولم يروا أن الله الذي خلقهم هو أشد منهم قوة وكانوا بآياتنا يجحدون. فأرسلنا عليهم ريحا صرصرا في أيام نحسات لنذيقهم عذاب الخزي في الحياة الدنيا ولعذاب الآخرة أخزى وهم لا ينصرون

“Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar, dan berkata : “Siapakah yang lebih besar kekuatrannya dari kami ?” dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatannya dari mereka ?. dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan, sedang mereka tidak diberi pertolongan”.

Dulu, sebagian sejarahwan tidak percaya akan keberadaan bangsa Iram (bangsa Aad) karena mereka pada saat itu belum menemukan peninggalan sejarah bangsa tersebut. Akan tetapi, pada abad 20 kemarin, pesawat luar angkasa NASA dengan radarnya yang dapat menembus permukaan bumi sedalam 10 meter, ketika melewati padang pasir -yang kosong dari pepohonan dan kehidupan- di kerajaan Arab Saudi, pesawat tersebut merekam dan mengambil gambar dua aliran sungai yang sudah mengering.

Aliran yang pertama mengalir dari arah barat ke timur, dan yang kedua dari selatan menuju utara. Maka dengan ditemukannya bekas dua aliran sungai tersebut, sejarawan Amerika dan barat dibuat tercengang oleh padang pasir yang kosong tersebut. Karena padang pasir tersebut termasuk dari bagian bumi yang paling banyak daerah keringnya, dan ditemukan bahwasanya dahulu kala ada sungai-sungai yang mengalir di daerah itu.
Tidak sampai di situ saja, dalam

penjelajahan yang kedua, pesawat NASA dengan radarnya yang dapat menembus permukaan bumi lebih dalam dari penjelajahannya yang pertama, dapat merekam dan mengambil gambar aliran dua sungai tersebut dan didapati keduanya mengalir ke sebuah danau yang berdiameter kurang lebih 40 km, yang terletak di bagian timur padang pasir tersebut. Pada penjelajahannya yang ketiga kalinya, pesawat NASA dapat mengambil gambar bangunan-bangunan yang megah yang tiada duanya berada disekitar dua aliran sungai tersebut dan di tepi-tepi danau tersebut.

Maka diadakanlah sebuah pertemuan antara para sejarawan, arkeolog dan para ulama di bidang agama. Yang menjadi pertanyaan mereka adalah : “bangunan apakah ini ?”. Yang pada akhirnya mereka menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut dan mengambil kesimpulan, bahwasanya bangunan-bangunan tersebut adalah istana-istana kota Iram (bangsa Aad) yang digambarkan oleh al-Qur’an :

قال تعالى :  إرم ذات العماد, التي لم يخلق مثلها في البلاد

“(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah di bangun (suatu kota) seperti itu, di peradaban bangsa lain”.

Setelah itu, para Arkeolog mengatakan : “bahwasanya sepanjang peradaban manusia belum didapati adanya bangunan-bangunan semegah bangunan-bangunan tersebut”. Mereka juga menemukan -ketika mulai penggalian dikota tersebut- sebuah benteng dengan delapan menara di depan pagar kota tersebut.

Benteng tersebut dibangun di atas tiang-tiang yang sangat besar sekali, yang dalam al-Qur’an disebutkan dengan kalimat : إرم ذات العماد “yang memiliki bangunan-bagunan (di atas tiang-tiang) yang tinggi-tinggi. Kemudian diprediksikan bahwa peradaban tersebut -yang tidak ada bandingannya- pada saat itu tertimpa hujan batu (krikil) yang dahsyat.

Al-Qur’an telah menggambarkan kejadian ini pada 1423 tahun yang lampau.

قال تعالى : وفي عاد إذ أرسلنا عليهم الريح العقيم . ما تذروا من شيء أتت عليه إلا جعله كالرميم

“Dan juga pada (kisah) ‘Aad ketika Kami kirimkan pada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilandanya melainkan dijadikannya seperti serbuk”.

3. Contoh I’jaz at-Tanabbui (keajaiban berita yang diceritakan al-Qur’an yang belum terjadi ketika itu)

قال تعالى :  ألم غلبت الروم في أدنى الأرض وهم من بعد غلبهم سيغلبون في بضع سنين

“Alif Lâm Mîm , Telah dikalahkan bangsa Romawi , di negri yang rendah (dekat) dan mereka setelah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun mendatang”.

Ayat-ayat ini dipakai sebagai gambaran keistimewaan khabar dalam al-Qur’an oleh para ahli tafsir. Karena ayat-ayat tersebut mengkhabarkan tentang perperangan yang terjadi antara Persia dan kekaisaran Romawi, yang belum terjadi ketika ayat-ayat ini diwahyukan kepada Muhammad SAW. ayat-ayat ini memberitahukan prihal peperangan tersebut akan terjadi beberapa tahun mendatang. Dan benar saja apa yang dikhabarkan oleh al-Qur’an.

Pada tahun 613 M Persia mengalahkan kekaisaran Romawi timur yang berkedudukan di Palestina, kemudian juga pada tahun yang sama tentara Persia merebut tanah al-Quds dan Damaskus kemudian Mesir pada tahun 614 M. Kemudian pada tahun 615 M kekuatan Persia melakukan invansi ke tanah Anadhol (Turki) tanah kekuasaan Romawi yang membuat takut Bezantium Kostantinovel pada tahun 616 M yang bertepatan dengan tahun 7 dari kenabian.

Akan tetapi 8 tahun kemudian kekaisaran Romawi dapat memukul balik serangan kekuatan Persia dan mengalahkan Persia, kemudian menduduki kembali tanah-tanah jajahan Persia pada tahun 624 M bertepatan dengan tahun kemenangan ummat Islam di perang Badar.

Disini akan penulis kupas juga i’jaz i’lmi dari potongan ayat diatas أدنى الأرض “di bumi yang rendah (di negri yang terdekat)”. Ulama tafsir dahulu kala, ketika menafsirkan ayat ini mereka berkata : maksud dari kalimat adna (rendah) adalah aqrob (dekat) yaitu daerah yang terdekat dengan Jazirah Arab yaitu Palestina.

Memang benar bahwa peperangan tersebut terjadi di tanah Palestina -yang mesti kita bebaskan dari bangsa Zionis Yahudi-. Akan tetapi, ulama geologi mendapati maksud dari kata adna di ayat tersebut ialah daratan terendah yang ada di permukaan bumi yang kita pijak ini. Karena mereka mendapati tanah Palestina, tanah tempat terjadinya peperangan tersebut hanya memiliki tinggi 400 meter dari permukaan laut (laut mati yang pernah menenggelamkan kaum Luth). Inilah salah satu keajaiban khabar dalam al-Qur’an ketika menggunakan kata adna (rendah) tidak menggunakan kata aqrob (dekat).

E. Penutup

Maka yang menjadi pertanyaan besar bagi ummat manusia terutama para ilmuan dan sejarawan adalah; siapa yang mengajarkan Muhammad SAW semua ini ? dan perihal apa yang menjadikan Muhammad SAW membicarakan tentang hal ini pada 1423 tahun yang lalu, sebelum akal manusia sampai ke situ ?

Siapa lagi kalau bukan Allah SWT yang memilih beliau sebagai utusan-Nya, yang mengajarkannya semua itu. Maka gambaran-gambaran wahyu di atas menjadi bukti kenabian Muhammad SAW

قال تعالى : وما ينطق عن الهوى . إن هو إلا وحي يوحى

“Dan tiadalah yang di ucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsu. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Kemudian pertanyaan kedua : kenapa harus ditangan ilmuwan-ilmuwan barat tabir rahasia keajaiban al-Qur’an tersingkap ?. Kalau boleh penulis komentari secara subyektif, kenapa hal itu bisa terjadi ?, karena kita kaum Muslimin tidak menganggap hal itu sesuatu yang baru, karena sebenarnya hal-hal tersebut telah kita ketahui semenjak diturunkannya al-Qur’an.

Merekalah –para ilmuwan barat- yang menganggap hal-hal tersebut sebuah penemuan baru. Sebagai contoh, pada abad 20 kemarin seorang ilmuwan biologi mengumumkan bahwasanya dia menemukan sebuah penemuan dari hasil penelitiannya terhadap laba-laba.

Setelah ia meneliti kehidupan laba-laba, maka ia mendapati kesimpulan bahwasanya yang bekerja membuat sarang/rumah laba-laba ialah laba-laba betina. yang kemudian penemuan ini di expos di banyak surat kabar dan majalah.

Kita sebagai penganut agama Islam yang setiap hari membaca kitab suci al-Qur’an dan merenungi isinya, baik dalam shalat maupun di luar shalat, apakah kita menganggap hal ini sebuah penemuan baru ?. Bukankan al-Qur’an semenjak 1423 tahun yang lalu sudah memberitahukan kita tentang hal tersebut ?.

Mari kita baca dan renungi ayat 41 dari surat al-Ankabut (laba-laba)

قال تعالى :  مثل الذين اتخذوا من دون الله أولياء كمثل العنكبوت اتخذت بيتا, وإن أوهن البيوت لبيت العنكبوت لو كانوا يعلمون

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”.

Perhatikan gambaran sempurna dari firman Allah di atas, kata اتخذت “mengambil” dengan dhamîr mutashil (ta ta’nits) menunjukkan bahwa yang melakukan pekerjaan tersebut adalah betina. Yaa subhanallah….!!!, perkataan siapa lagi kalau bukan kalamullah azza wazalla !.

Sebagai kata penutup penulis ingin mengatakan, bahwasanya inti dari firman- firman Allah di dalam al-Qur’an mempunyai satu tujuan yang sangat penting, yaitu hidayah (petunjuk buat ummat manusia) dan supaya mereka segera dan bergegas untuk beriman kepada Allah SWT Sang pencipta alam semesta beserta isinya. Yang menjadikan Muhammad SAW Rasul pilihan-Nya, yang menjadikan kalimat La Ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah berada diantara surga dan neraka. yang beriman dan mengucapkan kalimat tersebut akan mendapatkan surganya dan yang mengingkari kalimat tersebut akan masuk ke dalam nerakanya.

Maka hendaklah ayat-ayat di atas -yang terbatas ini- dapat memotivasi kita, ummat Islam untuk lebih maju dari mereka yang di luar Islam.

قال تعالى : قل انظروا ماذا فى السموات والأرض وما تغني الأيات والنذر عن قوم لا يؤمنون

“Katakanlah : “perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Wallahu walyu at-taufiq

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 27

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Zaawiyatul ‘Arabiyyah

لِمَاذَا نُزِّلَ القُرْآنُ بِلُغَةِ قريشٍ؟ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ مِنْ عُمْرِهِ أَرْسَلَ اللهُ إِلَيْهِ رِسَالَةً...

(Ijtihad)Sebuah Bukti Islam Relevan Untuk Semua Zaman

Oleh: Divisi Syari’ah (LBI) PENGERTIAN IJTIHAD Lughah Ijtihad menurut bahasa diambil dari kata (الجهد) yang berarti kesulitan (al masyaqqah) dan kekuatan (at-thaaqah), yang dimaksud disini khusus untuk...

Hukum Sistem Jual Beli Dropship

Oleh: Sana Mulyna KATA PENGANTAR Segala puji hanya bagi Allah ‘azza wajalla ,Tuhan semesta alam yang telah memberikan Rahmat dan kasih sayangnya kepada kita semua,sehingga senantiasa...

Pandemi; Semua Bisa Mengambil Peran

Oleh: Alfy Isa Muharram Pandemi virus corona (Covid-19) selain mengguncang tatanan negara, juga mengguncang psikis manusia di belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Banyak orang...

Ekonomi Islam Sebagai Wacana Baru Perekonomian Dunia

Oleh: Divisi Ekonomi Dewan Buhûts Islâmiyyah Mukadimah Segala puji bagi Allah Swt. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’în serta pengikutnya. Âmîn. Globalisasi...

More Articles Like This