Saturday, August 8, 2020

Metode Istidlal Imam Abu Hanifah

Must Read

Manusia Paling Baik

Oleh: Firas Sarah Anrisya بَابُ مَا جَاءَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ Matan Hadits حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ...

Konsep Nasikh dan Mansukh Dalam AlQuran

Oleh: Edward Maufur PENDAHULUAN Bahwasanya sudah menjadi sebuah aklamasi yang tidak dipertentangkan lagi bagi Umat Islam, Salaf maupun Khalaf mengenai keabsolutan...

Kisah Hidup dan Karya Imam Ath Thabari

Oleh : Yandi Rahmayandi Iftitâh Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,"Tidak pernah ditemui satu umat...

4.9
(7)

Oleh: Anwar Musthafa Shiddiq

MUQADIMMAH

Islam adalah merupakan din yang syamil dan mutakamil. Disamping Islam merupakan sebuah solusi juga Islam merupakan suatu undang-undang yang validitasnya tak diragukan lagi, mashlahat likulli zama walmakan.

Dengan syamil dan kekamilannya Islam mampu menjawab segala problematika yang ada, dengan tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Hukum Islam yang demikian telah dibuktikan dari waktu ke waktu dan dari generasi kegenerasi lain. dengan tanpa ada perubahan.

Khazanah keilmuan islam senantiasa ditantang ke-validannya oleh permasalahan-permasalah yang ada dan lahir dizaman sekarang yang sebelumnya belum pernah lahir akan tetapi hukum yang tersirat sudah ada isyarat ke arah sana. sebagai bukti, bagaimana islam menjawab suatu permasalahan yang dinamakan anatomi tubuh atau kloning yang pada dasarnya dahulu belum pernah lahir hal semacam ini.

Adalah Imam abu hanifah yang merupakan pencetus madzhab tertua dan merupakan guru bagi madzhab yang lain telah menjadi pelopor bagi pembaharuan fiqh Islam dan merupakan khazanah baru dalam hukum Islam dan merupakan sebuah solusi dalam menjawab permsalahan permasalahn yang ada dan bahkan dianggal musykil pada awalnya. sehingga pada mulanya metode hukum yang diambil oleh imam abu hanifah ra banyak ditentang oleh para fuqaha lainnya.

Sebagai bukti keunggulannya adalah dengan memiliki metode tersendiri dalam membahas ilmu fiqh dengan ilmu ushul yang tidak memakai metode yang telah ada.

Madrasah ra`yu di kuffah merupaka cikal bakal lahirnya madzhab ini, dimulai dengan hadirnya Abdullah bin Mas`ud ra yang menjadi mu`allim, qadhi sekaligus mufti dizaman khalifah Umar bin khatab ra dalam fatroh yang sangat lama. sehingga dalam masa ini akibat lahirnya hadits-hadits maudhu`, maka sangat sedikit sekali hadits yang bisa diterima didaerah ini dikarenakan takutnya mengambil hadits sebagai tindak ikhtiaty.

Abu hanifah sendiri hidup dalam dua lingkungan sosio-politik, yakni masa akhir dinasti Umayyah dan awal dinasti Abbasiyyah. dimana saat itu kota kuffah merupakan daerah basis militer dan tentunya sangat memungkinkan berdatangannya para sahabat yang dikirim kesana pada zaman itu baik sebagai prajurit ataupun mu`allim.

SIAPAKAH ABU HANIFAH.

Beliau adalah Abu Hanifah An Nu`man Bin Tsabit Bin Zauthi lahir di kuffah pada tahun 80H/699M. Para sejarawan muslim menggolongkannya ke dalam generasi tabi’u at-tabi’in. Menurut pengakuan riwayat para pengikutnya, Abu Hanifah pernah menemui sahabat Nabi di tempat yang berbeda. Misalnya, Anas ibn Malik di Basrah, Abdillah ibn Abi Aufa di Kufah, Sahl ibn Sa’ad as-Sa’idi di Madinah, dan Abu at-Tufail Amr ibn Wailah di Makkah. Ia mempunyai paling banyak pengikut pada masa itu. beliau meninggal di baghdad pada tahun 150H/767M.

USHUL MADZHAB

Akibat sosio politik yang berlangsung saat itu dan perpindahan kekuasaan dari dua dinasty yang berkuasa saat itu mengakibatkan lahirnya hadits2 maudhu yang menyebar sat itu, madzhab ini terkesan sangat hati-hati dalam mengambil hadits sebagai dalil. sehingga terkesan mengedepankan alasan2 ra`yi dalam berhujjah.

Selain itu Abu Hanifah terkenal orang pertama yang memperluas wawasan dalam istimbat hukum fiqh dibanding imam yang lain yang ada pada zaman itu. ia lebih moderat dalam menangani segala permasalahan yang menyangkut fiqh dan bahkan hal yang saat itu mustahil dan jarang bahkan tidak terjadi sama sekali.

Pada kenyataannya ulama pada saat itu sangat tidak memperdulikannya dan hanya menghabiskan waktu sia-sia saja untuk mempertentangkan masalah-masalah yang dikiranya tidak akan terjadi pada saat itu. sehingga Zaid bin tsabit ketika ditanya tentang suatu permasalahan beliau bertanya: apakah hal tersebut terjadi? maka apabila jawabannya tidak maka hal tersebut tidak usah dipermasalahkan hingga benar-benar terjadi.

Sehingga pada zaman itu beliau dan para pengikutnya terkenal dengan sebutan: “Al Aroaytiyyuun” disebabkan terlalu banyak membahas hal-hal yang dianggap belum lahir pada saat itu.

1. Al-Qur’an

Al-Qur’an mencakup kaidah-kaidah umum, sementara hukum perihal manusia tidak berubah sepanjang masa. Dan Sunnah Nabi berperan menjelaskan makna al-Qur’an bila dipandang perlu. Menurut Abu Hanifah hukum ‘aam (parsial) yang telah terpolarisasikan adalah qath’i ad-dalalah (kekuatan hukumnya pasti) tanpa memerlukan penjelasan (bayaan).

Karena itu, kekhususan al-Qur’an adalah kepastian kekuatan hukumnya. Dia pun berpendapat bahwa segala nash yang telah diubah hukumnya dipandang naskh (terhapus). Sebagai penggantinya, nash yang berfungsi sebagai naasikh (pengganti) mesti sama kuatnya dengan mansukh (yang diganti), terutama dari segi reposisinya.

Karenanya, Hadis-Hadis Ahad tidak berperan dalam takhshiish al-‘aam al-Qur’aan bi an-naskh (mereposisi kepastian hukum ayat-ayat al-Qur’an yang parsial lantaran terdapat ayat penggantinya). Perihal bayan al-Qur’an, Dia berpendapat bahwa Hadis Nabi bisa berfungsi sebagai penjelas al-Qur’an dalam tiga bentuk.

A. Bayaan Taqriir. Misalnya, peran Hadis Nabi, “Berpuasalah kamu lantaran melihat bulan dan berbukalah kamu lantaran melihatnya”, sebagai penjelas bagi QS. al-Baqarah 2:183.

B. Bayan Tafsir, yakni Hadits yang berperan sebagai penjelas bagi ayat mujmaal (umum) atau musytarak (banyak arti) al-Qur’an. Misalnya, uraian perihal tata cara salat, haji, memotong tangan pencuri, perhitungan nisab zakat, dll.

C. Bayaan Tabdiil atau Bayaan Naasikh, dalam hal ini Hadis mutawaatir, Hadis masyhuur dan Hadis mustafid bisa menasakh al-Qur’an.

2. Al Hadits.

Awal abad kedua hijrah ini adalah merupakan masa keemasan fiqh Islam. dimana pada saat itu bermunculan Imam-Imam hujtahid, menjamurnya munadharah dan jidal antara para fuqaha. hal ini tidak lain disebabkan karena banyaknya terjadi masalah-masalah baru dalam ilmu fiqih yang membutuhkan dalil hukum yang kuat.

Sementara madzahab-madzhab fiqih lahir dimana-mana. sehingga keluarlah istilah-istilah fiqh baru dengan hukum yang berbeda menurut pendapat masing-masing madzhab. Selain daripada itu khazanah ilmu Islam sudah mulai bersentuhan dengan budaya luar yang memerlukan istilah dan hukum baru. sementara kebutuhan terhadap hadits sebagai sumber hukum begitu sangat besar, akan tetapi sangat terbatas sekali dan hati-hati dalam mengambil maraji` yang satu itu dikarenakan lahirnya hadits-hadits maudhu` yang menjamur dan hampir tak pernah terkendali lagi.

Abu Hanifah dikenal sangat berhati-hati dalam meneliti orang-orang yang meriwayatkan Hadis (rijaal al-hadiis) serta kesahihan Hadis yang mereka bawa. Ia menerima Hadis Nabi, kecuali yang diriwayatkan oleh orang banyak atau yang disepakati oleh ahl al-Kuffah, lantas statusnya menjadi Hadis masyhuur.

Kondisi demikian ini, bagi Abu Hanifah, menyebabkan peluang penggunaan Hadis menjadi sempit. Abu Hanifah senantiasa memprioritaskan hadis mutawatir dan masyhur, kendati tidak menafikan keberadaan Hadis Ahad. Ia memakai Hadis Ahad sebagai dasar hukum dengan beberapa syarat, yakni :

  • Kandungan matan tidak bertentangan dengan realitas perilaku rawinya
  • Bila ada dua Hadis Ahad yang berbeda kandungan maknanya, maka harus dipilih yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih berkualitas
  • Hadis Ahad harus tidak bertentangan dengan qiyas dan rawinya harus orang yang faqih. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, maka Hadis Ahad itu tidak bisa diterima.

||| Baca juga Artikel Lainya, Gaya Leadership Nabi Muhammad S.AW

3. Ijma’

Fatwa Sahabat. Abu Hanifah menerima fatwa sahabat sebagai sumber istidlaal serta mengharuskan umat Islam mengikutinya. Jika terdapat beberapa pendapat sahabat yang menggagas suatu masalah, maka bisa diambil salah satu darinya.

Menurut Said al-Baradza’i, tujuan Abu Hanifah menggunakan fatwa sahabat sebagai istidlaal hukum adalah dalam rangka memperkuat ijtihadnya sendiri. Menurut Abu Hanifah, fatwa sahabat juga merupakan ijtihad. Karenanya, ia hanya akan mempergunakan fatwa sahabat setelah diketahui “kebenarannya” melalui qiyaas.
Ijmaa’. Menurut Ulama Hanafiyah, Abu Hanifah menerima Ijmaa’ qaulii dan Sukutii. Ini berbeda dengan Jumhur Ulama yang tidak mengakui Ijmaa’ Sukutii sebagai hujjah.

4. Ar ra`yu

Sementara ar-Ra’yu yang terdiri dari qiyaas, ‘urf dan istihsaan. Menurut Hanafiyah, Istihsan adalah “perpalingan” dari kehendak suatu qiyas ke qiyas lain yang lebih kuat atau pengkhususan qiyas berdasarkan dalil yang lebih kuat, yang mendekati apa yang dimaksud.

Misalnya, perihal sisa minuman burung buas. Burung buas menyerupai binatang buas yang dagingnya tidak boleh dimakan karena najis. Sisa air yang diminum oleh binatang buas adalah najis. Bila menerapkan logika qiyaas, maka sisa burung buas seharusnya najis. Sisa air minum binatang buas dianggap najis lantaran air liurnya lekat dengan daging dan darah mangsanya, maka air liurnya pun menjadi najis.

Sementara burung buas yang minum dengan paruhnya, air liurnya tidak bertemu daging. Karena itulah, air sisa minuman burung buas tidak najis, melainkan dipandang makruh pemakaiannya.

  • Qiyas; qiyas dianggap asli dari segi karena hukum dalam furu` bersandar kepada asal dalam dhahirnya dan dia dianggap furu` dari segi karena membutuhkan kepada asal, dari kitab atau sunnah atau ijma`. Karena qiyas dibangun diatas `illat yang diistinbath dari salah satunya (al Qur`an, as Sunnah dan Ijma`).
  • Istihsan: istihsan yang pada dasarnya adalah `adilnya seorang mujtahid dalam menentukan hukum suatu masalah dari qiyas yang jelas kepada qiyas yang samar (khoffy). Jadi merupakan perpalingan dari qiyas yang dhahir demi membahas qiyas yang masih samar sifatnya berdasarkan dalil yang kuat.

Ulama Hanfiyyah membahas masalah ini dengan terlebih dahulu mentarjih qiyas khoffy dari pada qiyas dhahir berdasarkan suatu dalil. Ini dinamakan Istihsan-qiyas atau qiyas khoffy. Kemudian mengecualikan hukum juziyyah dari hukum kulliyyah.

  • Masalih Mursalah: suatu ketetapan hukum yang diterapkan demi kemanfaatan dan menghindari madharat bagi manusia dan tidak terdapat suatu dalil syara apapun untuk mengabadikan dan mengekalkannya. Fuqaha Hanafiyyah memakai istilah ini manakala penetapan hukum yang berdasarkan qiyas itu akan mengakibatkan suatu kejangalan dan ketidak adilan
  • `Urf; Merupakan adat istiadat yang biasa dilakukan manusia baik itu berupa sikap tindkana dan ucapan dan ersebut secara kontinyu dimiliki oleh manusia.`Urf tersebut bisa dipakai selama tidak berentangan dengan hukum syara` dan tidak menimbulkan efek negatif bagi keberlangsungan manusia dan tidak mengakibatkan adanya kemadharatan bagi kemashlahatan semua. `Urf juga bisa dipakai bila benar-benar dimiliki dan biasa dilakukan oleh aghlabiyyah manusia baik dalam lingkungan yang skupnya kecil ataupun besar.
  • Istishhab: Istishab yang merupakan ketetapan suatu hukum satu peristiwa yang telah ada dan tetap berlaku hingga terjadi peristiwa berikutnya dan akan berubah jika ad dalil yang akan mengubah status sesuatu hukum tersebut. Ulama Hanafiyyyah memakai metode ini untuk menghindari akibat-akibat hukum yang timbul dari penetapan hukum yang berbeda dengan ketetapan hukum semula dan bukan untuk menetapkan suatu hukum baru.
    Dengan kata lain, istishhab bukan sebagai hujjah untuk menetapkan hukum suatu perkarayang belum tetap hukumnya.
  • Asy Syar`u man qoblana: Ulama hanafiyyah memandang hal ini sebagai syari`at yang harus diikuti oleh umat Islam, selama tidak ada dalil yang akan membatalkannya. Hukum merupakan hukum Allah yang telah disyari`atkan melalui rasul-Nya dan tidak ada dalil yang menghapuskannya. Olehnya jumhur Hanafiyyah berpendapat, seorang Muslim yang membunuh kafir dzimmi ataupun seonag laki-laki mebunuh seorang wanita maka wajib diqishash. Melihat hukum yang ditetapkan kepada bani israil terdahulu. Maka syari`at tersebut masih bisa berlaku bagi ummat Islam.

Islam merupakan rahmatan lil `alamin, dengan demikina Islam akan senantiasa menjawab segala permasalahan yang terjadi hingga hari kiamat. Hukum yang ada bisa saja berubah dikarenakan kondisi tanpa merubah ketentuan hukum yang baku. Sementara kebutuhan manusia terhadap hukum akan terus bertambah disebabkan peristiwa dan permasalahn yang timbul setiap masa.

Oleh karenanya ummat Islaman masih tetap akan membutuhkan metode-metode hukum fikih yang bisa dijadikan hujjah dan fleksibel, membutuhkan para faqih yang brilian yang benar-benar tafaqquh fid din. Dengan demikian hal tersebut bisa semakin memperluas khazanah keilmuan Islam sebagai bukti kemampuannya menjadi solusi dimana dan kapan saja. Allahumma faqqihnaa fid din.

Allahu `alam bish shawab.


DAFTAR PUSTAKA

(1) DR. Rosyah hasan khalil Abul Fattah Abdullah Albarshumi, Assami fi atatrikh atasyri`)162

(2) as Sunnah wamakanatuha fit tsayri` al islami, musthafa asysyiba`i

(3) DR. Rosyah hasan khalil Abul Fattah Abdullah Albarshumi, Assami fi atatrikh atasyri`)162

(4) Prof.DR. Mukhtar Yahya/ Prof. Drs.Fatchurrahman.Dasar-dasar pembinaan hukum fiqh Islam. Al Ma`arif 1986.

5. Tafsir ayat Ahkam, As Saiy
6. As Sunnah wamakanatuha fit tsyri` al Islamy
7. Dasa-dasar pembinaan hukum Islami
8. As Sami fi at tarikh at tasyri` al Islamy
9. Syarakh mukhtashar al manar fi ushuli alfiqhi al Hanafy
10. Ushul Fiqh Hanafy Ushulul fiqhi al Islamy
11. Al Qawa`id al fiqhiyyah fi al madzhab al Hanafy wa asy Syafi`I

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan...

[Tashawwuf dan Shufiyah] Antara Pendukung dan Penentang

Oleh: Akmal Burhanudin, lc Muqaddimah Permasalahan tashawwuf dan shufiyah adalah permasalahan lama yang tak pernah kunjung selesai. Para ulama salaf hingga kini masih mempersalahkan boleh dan...

Responsibilitas Bani Israil terhadap Dakwah Para Nabi

Oleh: Ainun Firdaus Rabbani Pendahuluan Setiap umat beragama memiliki batas waktu tertentu untuk terus eksis di muka bumi. Berangkat dari usia bahasa dan bangsa mereka, dalam...

Konsep Nasikh dan Mansukh Dalam AlQuran

Oleh: Edward Maufur PENDAHULUAN Bahwasanya sudah menjadi sebuah aklamasi yang tidak dipertentangkan lagi bagi Umat Islam, Salaf maupun Khalaf mengenai keabsolutan dan kekhasan Al-Quran sebagai satu-satunya...

Bagaimana Hukum Zakat Menggunakan Uang

Oleh: Divisi Syariah-Dewan Lembaga Islamiyyah Mukaddimah Zakat adalah rukun ketiga dari rukun-rukun Islam yang lima, Rasulullah SAW bersabda: بني الاسلام على خمس؛شهادة أن لااله الاالله وأن محمدا...

More Articles Like This