Wednesday, October 28, 2020

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Must Read

Dampak Covid-19: Sebuah Perspektif Muslimah

Oleh: Fatin Nurcintami Akhir Desember 2019 lalu, kita digemparkan dengan wabah virus yang bernama Covid-19. Wabah ini muncul pertama kali...

Muslim Harus Progres

Oleh : Muhammad Ghifari “Why was is that they were able to make progress while we became so backward? Why...

Pandemi; Semua Bisa Mengambil Peran

Oleh: Alfy Isa Muharram Pandemi virus corona (Covid-19) selain mengguncang tatanan negara, juga mengguncang psikis manusia di belahan dunia, tak...

5
(2)

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan ajarannya. Dengan menunjukan peribadatan-peribadatan yang tertera di dalam kitabnya masing-masing. Demi mempermulus gerak langkah dakwahnya dan demi memperluas jangkauan gerak langkahnya, maka suatu waktu yang dirayakan menjadi muara dari seluruh peribadatan agamanya yang mengundang objek dakwahnya untuk mengikuti serta ambil bagian dalam perhelatan hari rayanya. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi pemuka agama mengajak orang lain masuk kedalam agamanya.

Islam juga adalah agama yang memiliki hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha. Namun dalam makalah ini, yang akan dibahas hanya seputar momentum hari raya Idul Adha saja. Terlebih sebagai mahasiswa muslim yang posisinya sangat vital dalam mensyi’arkan agama Islam pada hari raya Idul Adha.

Rangkaian hari raya Idul Adha tidak bisa terlepas dari jejak rekam perjuangan dakwah nabi Ibrahim a.s. Dia adalah sosok hamba yang sholeh lagi ta’at kepada seluruh perintah Allah. Sosok seorang nabi yang cerdas, apalagi di usianya ketika masih muda sudah melakukan penelitian dalam mencari kebenaran tentang keberadaan sang Pencipta. Wajar saja, karena di saat yang bersamaan, kondisi masyarakat sekitarnya tengah melakukan kemusyrikan menyambah berhala, ditambah dengan kehadiran sosok raja yang angkuh lagi sombong yang kita kenal dengan sebutan Namrud. Tapi Allah berkehendak lain, mengirimkan seorang yang hanif (lurus aqidahnya) di tengah-tengah mereka. Maka nabi Ibrahim a.s pada saat itu mencari kebenaran dari sang Pencipta  (QS. 6: 74-78), setelah itu dilanjut ddengan menghancurkan berhala (QS. 21:58), kemudian diuji dengan kekosongan sang buah hati sampai menjelangnya tuanya (QS. 37:100-101), bahkan harus berpisah dengan sebagian istrinya dan membiarkannya sendiri di tanah tandus yang kita kenal sekarang dengan sebutan kota Mekkah Al-Mukarromah (QS. 14:37). Kemudian diperintahkan berkhitan (HR. Bukhari Muslim dan QS. 14:123), dilanjut dengan ujian untuk menyembelih anaknya, nabi Isma’il a.s yang baru menginjak usia remaja (QS. 37:102) dan dipungkas dengan membangun Ka’bah bersama anaknya nabi Isma’il a.s sekaligus mengajarkan tata cara manasik haji (QS 2:127-128).

Semua itu merupakan sepak terjang dakwah nabi Ibrahim a.s demi mencari keridhoan sang ilahi, Allah Swt. Dan nabi Muhammad Saw bersama para pengikutnya yang paling dekat dan yang paling mengenal ajaran yang dibawa nabi Ibrahim a.s (QS. 3:68).

Namun  sayang, dewasa ini, perayaan Idul Adha tak semeriah akan syi’ar Islam tempo dulu ketika zaman nabi Muhammad Saw. Mereka yang mampu berqurban pun seolah tidak mampu untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk membeli hewan qurban. Ditambah dengan berbagai isu yang menodai kesucian hari raya Idul Adha, seperti hewan qurban dewasa ini tidak sedikit ada yang “tidak layak” dijadikan sembelihan karena diracuni, ricuh dalam pembagian daging qurban bahkan sampai memakan korban, diteror saat melaksanakan sholat ‘Id dsb. Lebih dari itu, dikalangan umat Islam pun ternyata masih ada yang berqurban karena mengikuti hawa nafsunya semata dan ia persembahkan qurbannya itu kepada ilah-ilah yang tidak bisa memberi manfaat atau madhorot sedikit pun.

Tentu ini menjadi masalah yang serius bila kita mau menengok dan mencermati juga menyelesaikannya serta mengembalikan mereka yang “salah kaprah” ini kepada ajaran yang sebenarnya. Oleh karena itu dalam makalah ini penulis mencoba mengangkat sebuah judul yaitu Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejateraan Umat Islam.

Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari ‘Ied dan Adha ?
  2. Apa saja sunnah-sunnah ketika perayaan Idul Adha ?
  3. Pelajaran apa saja yang bisa diambil dari perayaan Idul Adha ?
  4. Sikap seperti apa yang harus dilakukan mahasiswa dalam menghadapi hari raya Idul Adha ?

Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui pengertian dari ‘Ied dan Adha
  2. Untuk mengetahui sunnah-sunnah ketika perayaan Idul Adha
  3. Untuk mengetahui pelajaran-pelajaran dari perayaan Idul Adha
  4. Untuk mengetahui serta mengamalkan tentang sikap dalam mengahadapi hari raya Idul Adha

Pembahasan

Pengertian ‘Ied dan Adha

Secara bahasa, A.W. Munawwir menjelaskan bahwa lafadz عيدا berasal dari lafadz عاد  يعيد عيدا berarti kembali, mengulangi, menjadi, mendatangkan manfaat, mengunjungi, mendatangi, mengadakan, menolak, membiasakan, tua, membiasakan dan merayakan (1007, hal: 982-983). Sedangkan untuk lafadz اضحى, beliau mengartikannya dengan mengorbankan, menyembelih, menerengkan, pelan-pelan, melahirkan, menjadi, makan pada waktu dhuha (1997, hal: 813-814).

Kalimat ‘Ied  menurut Ar-Raghib Al-Asfani (2017, II: 820) adalah segala sesuatu yang biasa dilakukan oleh seorang manusia. Sedangkan lafadz عائدة artinya segala kemanfaatan yang didapat seseorang karena sebuah hal. Adapun lafadz معاد biasa dugunakan untuk mengartikan kembalian atau untuk mengartikan sebuah masa dimana masa tersebut merupakan masa tempat kembali. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (QS. Al-Qashas: 85).

Menurut Ar-Raghib Al-Asfani )2017, III: 524), lafadz أضحى atau أضحية adalah jamak dari lafadz أضاحي. Ada yang mengatakan berasal dari lafadz ضحايا – أضحاة – أضحي – ضحية artinya hewan qurban. Dinamakan demikian karena sesuai sabda nabi Muhammad Saw:

من ذبح قبل صلاتنا هذه فليعد

“Barang siapa yang menyembelih hewan qurban sebelum sholat ‘Idul Adha kita, maka hendaklah ia mengulangi (sembelihannya).”[1]

Di dalam kitab Mu’jam Mufrodat Alfadz AL-Qur’an (2008 : 393), Ar-Raghib juga menjelaskan lafadz عيدا atau عودا sebagai berikut:

الرجوع الى شيئ بعد الانصراف اما انثراف بالذات او بالقول والعزيمة

Kembali kepada sesuatu setelah perubahan. Adapaun perubahan tersebut karena dzatnya, ucapannya, hukumnya.

Sunnah-sunnah seputar Idul Adha

Shaum Arafah

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : صَوْمُ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ سَنَةٍ قَبْلَهُ وَسَنَةٍ بَعْدَهُ

“Dari Abi Qatadah, nabi Muhammad Saw bersabda: Shaum Arafah itu kifarat dosa untuk dua tahun sebelumnya dan dijaga dari segala dosa satu tahun setelahnya[2].”

Sebelum kita menginjak Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, disunnahkan bagi mereka yang tidak pergi haji untuk Shaum Arafah dan tidak disyari’atkan untuk mereka yang tengah melaksanakan ibadah haji.

Mandi dan Berhias

Dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempat sholat, memakai wewangian dan berhias diri dalam menyambut hari raya.

عن علي سئل عن الغسل فقال الجمعة و يوم عرفة ويوم الفطر ويوم الاضحى

Dari Ali bahwa ia pernah ditanya perihal mandi, ia menjawab yaitu pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, ‘Idul Fitri dan Idul Adha[3].

Memakai Pakaian yang Terbaik

Dianjurkan untuk memakai pakian yang yang terbaik walau bukan pakaian yang mahal atau bukan pakaian yang baru.

عن عباس قال كان رسول الله يلبس يوم العيد بردة حمراء

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah menggunakan kain Yaman pada hari raya[4].

Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha

Berbeda dengan Idul Fitri yang justru dianjurkan terlebih dahulu untuk sarapan sebelum berangkat ke tempat sholat, tapi tidak dengan sholat Idul Adha yang tidak diperkenankan sarapan terlebih dahulu karena akan melaksanakan ibadah qurban setelat melaksanakan sholat Idul Adha.

ان رسول الله كان يخرج يوم الفطر حتى يطعم ولا يطعم يوم النحر حتى يذبح

Rasulullah Saw tidak berangkat (ke lapangan) pada hari raya Idul Fitri sebelum sarapan dan tidak sarapan pada hari raya Idul Adha hingga beliau menyembelih hewan qurbannya.[5]

Bertalbiyah

عن بن مسعود انه كان يكبر ايام التشريق الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Dari Ibn Mas’ud bahwa ia bertakbir pada hari-hari Tasyriq (dengan lafadz) ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR LAA ILAHA ILLAH ALLAHU AKBAR WALILAHIL HAMD.”[6]

Mengucapkan talbiyah ketika perayaan Idul Adha, boleh dilakukan satu hari sebelumnya. Sedangkan untuk Idul Fitri hanya ketika hendak berangkat ke lapangan untuk menunaikan sholat ‘Ied.

Melaksanakan Sholat Ied

Semua jumhur ulama sepakat hukum melaksanakan sholat adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), walau pun begitu ada beberapa ulama yang menghukumi wajib.

عن ام عطية قالت امرنا ان نخرج العواتف وذوات الخدور

Dari Ummi ‘Atiyyah ia berkata: kami diperintahkan untuk membawa keluar anak perempuan yang sudah baligh dan anak perempuan yang masih perawan (pada hari raya).[7] 

Tentang waktu sholat ‘Ied dijelaskan dalam sebuah hadits

خرج عبد الله بن صاحب رسول للله صلى الله عليه وسلم مع الناس في يوم عيد الفطر او اضحى فانكر ابطاء الامام ففقال انا كنا قد فرغنا ساعنتا هذه وذلك حين التسبيح

Abdullah bin Busr seorang sahabat Rasulullah Saw keluara dengan orang-orang pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, kemudian ia menyayangkan keterlambatan sang imam, maka ia berkata: sesungguhnya kami telah meluangkan waktu kami ini yaitu dikala bertasbih (matahari mulai meninggi).[8]

Sholat Idul Fitri atau Idul Adha juga tidak perlu dikumandangkannya adzan

عن ابن عباس و جابر بن عبد الله قالا لم يكن يؤذن يوم الفطر ولا يوم الاضحى

Darin Ibn Abbas dan Jabir bin Abdillah mereka berkata: tidak pernah dikumandangkan adzan baik pada hari raya Idul Fitri atau hari raya Idul Adha.[9]

Tetapi jika hari raya jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban shalat jum’at

عن زيد بن ارقم قال صلى النبي صلى الله عليه وسلم العيد ثم رخص في الجمعة فقال من شاء ان يصلى فليصل

Dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Nabi Saw sholat ‘Id, kemudian memberi keringanan, dispensasi dalam hal (pelaksanaan) shalat Jum’at yaitu beliau bersabda: barang siapa yang mau shalat (Jum’at), maka shalatlah.[10]

Mendengarkan Khutbah

Diwajibkan kepada seluruh umat islam untuk mendengarkan khutbah ‘Ied layaknya mendengarkan khutbah jum’at.

عن  بن عباس قال شهدت العيد مع رسول الله وابي بكر و عمرو عثمان فكلهم كانوا يصلون قبل الخطبة

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Aku menghadiri sholat ‘Ied bersama Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Mereka semua shalat sebelum khutbah.[11]

Datang dan Pulang dengan Berbeda Jalan

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah jika hendak pergi ke lapangan dan pulang dari stelah melaksanakan sholat ‘Id itu berbeda jalan.

عن جابر قال كان النبي صلى الله عليه وسلم اذا كان يوم عيد خالف الطريق

Dari Jabir, ia berkarta adalah nabi Saw apabila hari raya melewati jalan yang berbeda (antara datang dan pulang).[12]

Melaksanakan Ibadah Qurban

Sebagai bentuk penyempurna dari pada Idul Adha, berqurban merupakan bukti keimanan seorang hamba kepada Allah dan bukti kasih sayang kepada sesama makhluk dalam menggapai keridhoan Allah dan kasih sayang mahluk. Ibadah qurban juga sebagaimana telah disinggung di awal, tidak bisa terlepas dari peristiwa antara nabi Ibrahim dan nabi Ism’ail alihimassalam.

Pada saat itu nabi Ibrahim tengah terlelap dalam tidurnya. Ia bermimpi bahwa ia melihat dirinya akan menyembelih anaknya. Lalu ia mengabarkan mimpi nya itu (ru’yah sholihah, mimpi yang haq) kepada anaknya. Ia bercerita bahwa ia melihat dalam mimpinya tengah menyembelih anaknya. Beliau menanyakan dulu bahwa agaknya beliau merasa mimpi tersebut tidak dinyatakan sebagai paksaan. Karena bilamana anaknya menolak, maka itu ursan dia dengan Allah layaknya anak durhaka seperti anaknya nabi Luth a.s.[13]

Maka nabi Ibrahim meminta saran dan pandangan anaknya tentang mimpinya itu, yaitu meminta pandangan atau pendapat yang lurus dan benar.[14] Kalimat ارى- اذبحك – تؤمر mengisyaratkan bahwa apa yang beliau lihat itu seakan-akan masih terlihat hingga saat penyampaiannya itu. Sedang, penggunaan bentuk tersebut untuk kata menyembelihmu untuk mengisyaratkan bahwa perintah Allah yang dikandung mimpi itu belum selesai dilaksanakan, tetapi hendaknya segera dilaksanakan[15]. Sampai akhirnya Allah menggantikan sembelihannya itu dengan domba gemuk.

Itulah sepenggal sejarah yang tercantum di dalam al-Qur’an yang menjadi cikal bakal dari pada ibadah qurban. Walau pun sebagiannya berpendapat yang menjadi cikal bakal qurban itu adalah kisah Habil dan Qabil. Kisah tercantum di dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 27-31.

Saat datangnya Islam, maka peribadatan qurban tersebut dilanjutkan, dipertahankan dan diamalkan oleh nabi Muhammad Saw beserta umatnya sampai akhir zaman. Ibadah qurban tidak berarti menyiksa hewan sampai mati. Rasulullah Saw pernah melintas pada seseorang yang sedang meletakan kakinya di atas bada hewan (yang mau disemebelih) sementara ia sedang mengasah pisaunya. Lalu beliau bersabda:

افلا قبل هذا؟ أتريد ان تميتها موتتين

“Mengapa kamu tidak mengasah pisaumu sebelumnya. Apakah kau hendak membunuhnya dua kali?”[16]

Kemudian ada beberapa hal yang mesti diperhatikan saat hendak menyembelih diantaranya:

  • Mengenai alat sembelihan, semua alat yang digunakan untuk menyembelih hukumnya boleh kecuali gigi dan tulang, Rasulullah Saw bersabda:

ما انهر الدام وذكر وذكراسم الله فكل ليس الظفر و السن اما الظفر مدى الحبشة واما السن فعظمز

Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah (waktu menyembelihnya) maka makanlah, selain kuku dan tulang. Adapun kuku adalah alat sembelih orang-orang kafir Habsyah sedangkan gigi adalah tulang.[17]

  • Tentang tata cara menyembelih. Hewan terbagi dua: ada hewan yang bisa disembelih dan ada yang tidak bisa disembelih. Adapaun hewan yang bisa disembelih, maka tempat penyembelihannya adalah pada tenggorokan dan di bawah leher. Sedangkan hewan yang tidak bisa disembelih adalah dengan jalan menikamnya.[18]

عن بن عباس قال الذكات في الحلق واللبة

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: penyembelihan adalah di tenggorokan dan di pangkal leher.[19]

  • Menyebut asma Allah ketika menyembelih

Hukum membaca asma Allah saat menyembelih adalah wajib. Jika tidak, maka status makanan tersebut menjadi haram, Allah berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya.[20]

  • Mengahadapkan hewan sembelihan ke kiblat

عن جابر بن عبد الله قال ذبح النبي صلى الله عليه وسلم يوم الذبح كبشين اقرنين املحين موجؤين فلما وجههما

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: pada hari Idul Adha, Nabi Saw pernah menyembelih dua ekor kambing yang bertanduk, yang berwarna putih campur hitam dan dikebiri, lalu beliau menghadapkan keduanya (ke arah kiblat)…[21]

Momentum-momentum di dalam Idul Adha

Integritas (Persatuan Umat Islam dan kerukunan antar agama)

Kalang kabut yang mewarnai bumi pertiwi ini adalah sikap intoleran yang memaksa atau menuntut untuk terjadi permusuhan dan pertumpahan darah. Rasa benci yang silih berganti menempati sanubari tiap insan yang lemah imannya pada sang ilahi. Kemudian dengan jalur kotornya, gaya berpolitik yang digunakannya pun memposisikan diri sebagai “pahlawan” yang berprikemanusiaan. Mencari ketenaran dan dukungan  dari bebagai komponen lapisan masarakat. Terlihat layaknya pejuang, berakhir dengan kediktaktoran.

Dewasa ini memang tidak bisa dipungkiri, apa yang Rasulullah Saw sabdakan telah terjadi secara signifikan dan intens, bahwa umat Islam seolah seperti sebuah makanan yang tengah diserbu segerombolan burung-burung yang lapar. Atau seperti mengenggam bara api, yang tidak bisa tidak harus tetap menyala walau pun harus terbakar. Apakah seburuk itukah umat Islam saat ini, sampai-sampai semua landihan buruk, tersematkan dengan syari’at Islam.

Tapi Rasulullah Saw tidak hanya memberi kabar yang begitu mengerikannya saja, melainkan jalan keluar dari semua permasalahan di atas adalah dengan bertaqwa dan kembali kepada al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun tetap tak semudah itu untuk diamalkan.

Termasuk, rasa persaudaraan kita sebagai umat Islam adalah jalan keluar dari semua polemik ini. Karena pada faktanya, secara historis, Islam belum pernah terkalahkan secara peperangan kontak fisik. Beratus tahun musuh umat Islam disetiap kali mereka kalah, mereka terus berfikir dan belajar dengan tekun tentang bagaimana mengahancurkan Islam. Sampai akhirnya, mereka bersepakat menghancurkan Islam adalah dengan mencerai-beraikan tali persaudaraan Umat Islam.

Apakah itu dengan cara menebar isu bohong, mengadu doma, menyebarluaskan barang haram, mengsosialisasikan riba dari mulai tingkat sistem yang tinggi kepada sistem yang rendah. Menebar pola fikir yang memperturut hawa nafsu serta mengganggu peribadahan umat Islam dengan cara menunggangi otak, hati dan perut para pemimpin di ranah pemerintahan. Maka semoga momentum Idul Adha yang dipersatukan oleh Allah melewati shaum Arafah, sholat ‘Id dan berqurban bisa menjadi wasilah kita terhadap sesama umat Islam dan semoga menjadi “bumerang” bagi musuh Allah dan rasul-Nya.

Kesejahteraan Masyarakat

Allah menganugrahkan kepada kita tidak hanya akal, mata atau telinga, tetapi qolbu pun turut serta Allah hadiahkan sebagai pelengkap dan penyeimbang. Apa yang ada di dunia ini tidak hanya dipandang berdasarkan akal semata, karena ilmu tidak akan jadi berkah kalau tidak diamalkan dengan ikhlas. Maka Allah memposisikan qolbu sebagai pemimpin organ tubuh.

Mungkin dengan akal kita bisa berfikir seberapa jauhnya kita bisa melangkah bertahan hidup tanpa menghiraukan baik buruknya yang justru akan jadi ancaman ke depan. Tapi hadirnya qolbu dalam kehidupan seseorang, ia bisa memilah-memilih diantara jalan kehidupan. Dengan qolbu juga ia bisa merasakan manisnya cinta, dengan qolbu juga bisa merasakan pedihnya duka. Dan qolbu pun menjadi tempat bersemayamnya keimanan seorang hamba, dan qolbu pun menjadi muara kejahatan seorang hamba.

Perhelatan Idul Adha diharapkan bisa mengetuk pintu-pintu hati manusia yang di dalamnya penuh noda dan dosa.  Mengajak para qolbu untuk mempererat “urat saraf”nya denga qolbu yang lain agar saling terhubung, yang jika sakit satu organ maka akan menyebar sakitnya ke sekujur tubuh, dan itulah qolbu yang kuat.

Para insan yang menggelandang di jalanan seminimalnya, bisa ikut bahagia menyantap makanan (daging qurban) yang biasanya hanya bisa dikonsumsi untuk kalangan tertentu saja. Mereka yang tadinya tidak saling mengenal, menjadi saling mengenal dengan wasilah Idul Adha. Mereka yang tadinya menyimpan permusuhan, sekarang menjadi pahlawan bagi yang memusuhinya. Mereka yang tadinya penuh dosa, maka denga Idul Adha, semoga lunturlah, semoga terhapuslah segala dosa-dosanya.

Mendekatkan Diri kepada Allah

Shaum Arafah, sholat ‘Ied dan berqurban menjadi bukti, menjadi simbol, menjadi tanda keimanan di antara cabang-cabang keimanan seseorang kepada Allah. Selain berfungsi sebagai pembersih jiwa dan harta, diharapkan menjadi barometer munasabah diri, munasabah diri dan muqorobah diri kepada Allah. Salah satunya ibadah qurban, tidak hanya menjadi simbolis persaudaraan saja, melainkan “menyembelih” sifat “hewani” di dalam diri manusia.

Kita tidak bisa pungkiri, dalam ruang lingkup ilmu mantiq, manusia termasuk ke dalam golongan jenis hewan. Begitu pun dalam sudut pandang biologi, manusia termasuk jenis hewan mamalia. Namun perbedaan yang mendasar di antara seluruh mahluk adalah akal. Karena akal-lah manusia bisa mencari kebenaran. Karena akal-lah manusia bisa mengenal siapa penciptanya. Karena akal-lah manusia bisa melangkah jiwa raganya ke surga kelak.

Pada Hakikatnya, semua  yang kita usahakan dalam hal aqidah, mu’amalah, syari’ah, jinayah atau munakahah, semua itu karena mengaharap ridho dan maghfiroh Allah. Tak sepatutnya kita bangga dengan keberhasilan kita sebelum kita menyadari semua itu hanya anugrah dan nikmat yang Allah berikan.

Tapi sebaliknya, sebuah kesia-siaan yang jelas manakala anugrah dan nikmat yang Allah berikan itu tidak digunakan bukan pada tempat dan waktunya. Dan inilah sebuah penyakit yang menjangkit di tiap jati diri muslim, saat dalam keadaan lapang, seolah tidak mampu merelakan jiwa raganya untuk sang pemiliknya. Naif bagi kita memiliki barang yang bukan milik kita, lantas datang pemiliknya kepada kita untuk mengambil kembali tapi kita tidak mau mengembalikannya, maka inilah yang disebut al-Qur’an sebagai orang bodoh, cinta dunia dan takut mati.

Sikap Mahasiswa Menghadapi Idul Adha

Sudah menjadi strategi ampuh dalam menjaring orng-orang  untuk masuk dan ikut ambil bagian dalam dakwah agamanya. Mengasosiasikan ayat-ayat yang dibungkus dengan aneka ragam pagelaran acara. Sehingga para peserta terpikat hatinya untuk ikut menjadi bagian mereka.

Apa yang diulas ini, maka Islam yang memiliki umat manusia berjumlah di atas tujuh milyar adalah sedikitnya hasil dari ditebarnya syari’at Islam oleh para Ulama dengan gigih, lemah lembut, dan teliti.

Mementaskan berbagai macam pengetahuan yang diaplikasikan dengan wujud akhlaq mulia, merupakan visi misi yang dirancang para ulama demi terealisasinya dakwah. Idul Adha hadir sebagai “pembeda” di antara har-hari raya lainnya.

Di saat mereka yang harus merogoh kocek uang sedalam-dalamnya untuk menebus dosa, maka sebaliknya Idul Adha menebar rahmat atau kasih sayang tidak hanya kepada umat Islam, umumnya kepada non-Islam. Di saat mereka yang tabdzir-kan hartanya untuk hal yang tidak bermanfaat seperti membeli petasan, pohon cemara, jimat-jimat dsb, maka Idul Adha dengan segala kelebihannya, membeli bahan pokok bukan hanya dikonsumsi sendiri tapi untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Maka sikap kita sebagai mahasiswa berperan sebagai Anshorullah (penolong agama Allah) di saat umat Islam “diobok-obok” oleh musuh Islam. Menjadi perisai dalam membendung fitnah-fitnah yang dilontarkan kepada umat Islam.

Menjadi mujahid, dengan belajar yang giat. Menjaga ukhuwwah, meramaikan masjid, menegakan sholat, menundukan pandangan kepada wanita, amanah terhadap urusanya. Menjadi mujadid dengan memasok langkah-langkah mulia dalam rangka membangun kesejahteraan Islam, menjadi akses masa sekarang dan masa depan yang gemilang. Menjadi mujtahid yang anti terhadap pola fikir yang menyeleweng dengan aqidah Islam, menjadi dermawan dan tawadhu dengan keluhuran ilmunya.

 

______________

[1] (HR Bukhari : 954 dan Muslim : 1962 dari Anas bin Malik).

[2] (Sunan Al-Kubro lil Baihaqi juz IV bab Shaumu ‘arafata lighori hajji hal:283, Mu’jam Al-Ausat juz V bab manismuhu ‘abdus hal: 133, Muslim Kitab Puasa Bab Shaum Arafah no. 1162, Riyadhu Sholihin juz III bab Keutamaan Shaum Arafah 227 hal. 17, Mu’jam Ash-Shogir At-Thobroni juz II bab manismuhu ‘abdus hal. 27 An-Nasa’i juz II bab shaumu yaumi ‘arafata wal fadhlu wa dzikr hal. 151 ).

[3]  (HR. Ibn Majah no: 1057, Misya’atul Mashobih no: 144 dan Ibn Majah juz I 407 no: 1279).

[4] (As-Shahihah no. 1279, Majma’u Zawaid juz II: 201).

[5] (HR. Tirmidzi 447, Ibn Khuzaimah juz II 341 no: 1426, Tirmidzi juz II 27 no: 540).

[6] (HR. Ibn Abi Syaibah juz II : 167, Baihaqi juz III : 315, Irwa’ul Ghalil juz III : 125)

[7] (Fathul Bari juz II 463 no: 974, Muslim juz II 605 no: 890, ‘Aunul Ma’bud juz III 487 no: 1124, Tirmidzi juz II 25 no: 537, Ibn Majah juz I 414 no: 1307, Nasa’i juz III 180, Al-Wajiz 311)

[8] (HR. Abu Dawud no. 1005 ‘Aunul Ma’bud juz III 486 no: 1124 dan Ibn Majah juz I 418 no: 1317)

[9] (Fathul Bari juz II 451 no: 960 dan Muslim juz II 604 no: 886).

[10] (Ibn Majah no: 1082, ‘Aunul Ma’bud juz III 407 no: 1057 dan Ibn Majah juz I 415 no: 1310).

[11] (Fathul Bari juz II 453 no: 962, Muslim juz II 602 no: 884).

[12] (Al-Misykah no: 1434 dan Fathul Bari juz II 472 no: 968).

[13] (Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, 2010: 280).

[14] (Abu Bakar Jabir, 2009: 241).

[15] (Quraish Shihab, 2009:281)

[16] (HR Tobroni dalam al-Kabir no: 11916, al-Ausath no: 3614 dan Baihaqi juz IX no: 280, Mausu’ah al-Manahia asy-Syari’atifi shohih as- Sunnati An-Nabawiyyati juz III no: 535).

[17] (Fathul Bari juz IX 631 no: 5503, Muslim juz III 1558 no: 1986, ‘Aunul Ma’bud juz VIII 17 no: 2804, Tirmidzi juz III 25 no: 1522, Nasa’i juz VII 226 dan Ibn Majah juz II 1061 no: 3178).

[18] (Abdul ‘Azim, 2008:768).

[19] (Ash-Shohihul Jami’ no: 2185).

[20] (QS. Al-An’am : 118)

[21] (Abu Dawud no: 2425, ‘Aunul Ma’bud juz VII 496 no: 2778).

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Tertunda Wabah Covid-19, Tasykil PCI Persis Mesir Resmi Dilantik

Kairo – Tasykil (pengurus-red) Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir masa jihad 2019-2021 akhirnya resmi dilantik oleh...

Gaya Leadership Ala Nabi Muhammad SAW

Oleh : Muhammad Ghifari My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be...

Bagaimana Hukum Zakat Menggunakan Uang

Oleh: Divisi Syariah-Dewan Lembaga Islamiyyah Mukaddimah Zakat adalah rukun ketiga dari rukun-rukun Islam yang lima, Rasulullah SAW bersabda: بني الاسلام على خمس؛شهادة أن لااله الاالله وأن محمدا...

Perjuangan Rumaisah Milhan (Cerpen)

Oleh: Fatin Nur Cintami “Sesungguhnya islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya: “siapakah...

Siapa sosok Ulama Mufassir Al-Fakhru Al-Razi

Oleh: Arif Rahman Hakim "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Pendahuluan Sebagai salah satu khazanah ilmu pengetahuan islam,...

More Articles Like This