Tuesday, December 1, 2020

Muhammad Imarah dan Pembaharuan Islam

Must Read

Rihlah Makam Auliya; Rekam Jejak Para Pejuang Ilmu Agama

Kairo, (27/11) — Setelah Musyawarah Kerja (Musyker) selesai dilaksanakan, program Rihlah Makam Auliya pun tuntas terealisasi. Pada Kamis, (19/11/2020)...

Dakwah Para Nabi Kepada Bani Israil

Oleh : Ainun Firdaus A. Pendahuluan Setiap umat beragama memiliki batas waktu tertentu untuk terus eksis di muka bumi. Berangkat dari...

Muslim Harus Progres

Oleh : Muhammad Ghifari “Why was is that they were able to make progress while we became so backward? Why...

3.8
(4)

Oleh: Muhammad Ghifari

Mesir merupakan negeri para nabi utusan Allah swt., berkali-kali nama tersebut sering diungkapkan dalam Al-Qur’an. Terlepas dari perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai term tersebut apakah asli dari bahasa Arab atau bukan (a’jamy)? Akan tetapi jelas eksistensinya telah disebut dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, inilah yang membat nilai lebih dari nama tersebut. Maka karena itu, tidaklah heran secara antropologis sisi religiulitas sangatlah menonjol di negeri atau tempat tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya kepercayaan-kepercayaan berupa mitologi teritorial tersebut sehingga lebih popular dikenal dengan sebutan “agama Mesir Kuno”.

Tidak hanya itu, Mesir juga secara historis memiliki khazanah peradaban keilmuan. Eksistensi wujud berupa perspustakaan Iskandariyah Mesir merupakan bukti dan fakta secara ekplisit sebagai perpustakaan pertama dan terbesar di dunia. Perspustkaan ini sudah dibangun sejak tahun 323 SM oleh raja Ptolemey (ptolemaeus) Soter (322-285 SM), raja pertama dari dinasti Diadoch (Primaindisoft.com diakses 01/05/2020). Di samping itu, peran Al-Azhar As-Syarif sejak berabad-abad sampai sekarang sangatlah signifikan dalam membangun peradaban keilmuan, khususnya ilmu-ilmu keagamaan Islam.

Oleh karena itu, jelaslah secara antropologis dan historis menunjukan bahwa territorial Mesir ini kaya dengan sisi relegiulitas dan ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini, maka tidaklah heran banyak sekali tokoh-tokoh yang mempengaruhi dunia berasal dari territorial ini. Salah satunya adalah Prof. Dr. Muhammad Imarah -selanjut disebut Muhammad Imarah-, sang pemikir besar muslim dunia Islam abad ke-21.

Muhammad Imarah merupakan pemikir muslim, pengarang, muhaqqiq,  anggota lembaga penelitian Islam di Al-Azhar As-Syarif, serta pula menjadi anggota dewan ulama senior Al-Azhar As-Syarif. Ia dilahirkan di perkampungan Sharwah daerah Qalīn provinsi Kafr Syeikh, Mesir pada tanggal 27 Rajab 1350H bertepatan pada tanggal 8 Desember 1931M dalam keluarga sederhana secara materi. Di mana keluarganya merupakan petani dan orang yang teguh dan taat beragama. Sebelum ia lahir orang tuanya bernadzar kepada Allah swt bahwa jika anaknya laki-laki akan dinamai Muhammad serta akan dihibahkan untuk menuntut ilmu agama di Universitas Al-Azhar.

Sejak kecil ia sudah hafal Al-Qur’an dan belajar ilmu agama di Kuttāb yang bertempat di desanya. Pada tahun 1945 M ia belajar di Ma’had Da’sŭqi, serta memperoleh ijazah ibtidaiyyah pada tahun 1949 M. Pada fase ini, ia sudah mulai aktif dalam berbaga kegiatan yang memperhatikan perihal urusan kenegaraan, keagamaan, sastra, dan pengetahuan. Salah satu contohnya adalalah dia ikut menyuarakan aspirasi kenegaraan dengan isu kemerdekaan Mesir dan Palestina. Upaya itu ia lakukan dengan memulainya dengan khutbah di berbagai masjid, dan menulis sebagai bentuk perantara untuk menyalurkan aspirasi gagasanya di surat kabar. Tercatat artikel pertama kali yang diterbitkannya adalah di surat kabar Misrha al-fattāh dengan judul “jihad” di Palestina pada tanggal 1948 M.

Pada tahun 1949 M ia masuk ma’had Thanthâ Al-Ahmady jenjang Tsanawiyyah, serta menyelesaikan pendidikan di sana sampai tahub 1954 H. Pada fase ini perhatianya terhadap politik, sastra, dan budaya berkembang pesat sampai dia aktif menulis di berbagai media surat kabar di antaranya: Misra Fattâh, Minbar as-syarq, al-mashry, al-kâtib.

Di jenjang pendidikan tinggi atau universitas, Muhammad Imarah masuk fakultas Darl Ulūm, Universitas Kairo pada tahun 1954 M. Pendidikan tersebut selesai pada tahun 1960 M, serta meraih ijazah licence dalam bahasa Arab dan Ilmu-ilmu keIslaman. Kelulusanya agak lambat dikarenakan faktor kegiatan Politik yang seharusnya ia lulus tahun 1958 M menjadi 1960 M. Pada tahun1970 M ia menyelesaikan studi Magisternya di universitas yang sama dengan judul Al-Muktazilah wa musykilah al-Hurriyyah al-Insâniyyah (Muktazilah dan Problematika Kebebasan Manusia). Sedangkan pada jenjang doktoralnya masih dalam universitas yang sama, di mana ia selesaikan jenjang tersebut pada tahun 1975 M dengan judul disertasi al-Islam wa Falsafah al-Hukm (Islam dan Filsafat Hukum).

Demikian jejak latar belakang pendidikan Muhammad Imarah yang begitu luar biasa. Tak heran dengan usahanya tersebut dia layak menyandang berbagai penghargaan yang luar biasa. Sebut misalnya pada tahun 1972 mendapatkan penghargaan dari organisasi penulis di Libanon. Sedangkan pada tahun 1976 menjadi tokoh terbaik nasional dalam seni dan sains di Mesir dan lain-lain. Uniknya pada tahun 2017 dia diberi gelar sebagai “Jamâluddin Al-Afghâni” oleh presiden Afganistan. Oleh karena itu, maka jelaslah keilmuan Muhammad Imarah tidak dapat diragukan kembali khususnya dalam studi ilmu-ilmu keIslaman.

Keilmuan dan kejeniusan pemikiran Muhammad Imarah sangatlah mempengaruhi terhadap dunia Islam serta generasi umat muslim sampai sekarang. Meskipun dia wafat tanggal 20 Maret 2020 tetapi gagasan-gagasan mengenai Islam akan tetap hidup untuk memberikan inspirasi-inspirasi bagi generasi muslim setelahnya. Karya-karyanya yang sangat banyak selalu menjadi rujukan dalam kajian keislaman dan kehidupan kontemporer dunia Islam. Hemat penulis hal tersebut merupakan bukti secara real dan ekplisit bahwa memang pembaru Islam atau biasa kita sebut dengan mujaddid Islam.

Dari sekian gagasan cemerlang pemikiran Muhammad Imarah yaitu adalah upaya pembahuran Islam atau tajdīd Islâmy. Jika bicara mengenai pembaharuan Islam, maka nama Muhammad Imarah layak disanjingkan dengan pemikir-pemikir muslim perubahan seperti Hasan Hanafi, Yusuf Qardhawi, Tareq Ramadhan -keempatnya sama berasal dari negeri Mesir- Muhammad Abid Al-Jabiri dari Maroko, Moehammad Arkoun dari Al-Jazair, bahkan Nurcholish Madjid/lebih akrab Cak Nur dari Indonesia. Perbedaanya  dengan tokoh-tokoh muslim liberal yaitu bahwa Muhammad Imarah ini tidak jatuh kedalam apa yang disebut “Sepilis (sekularisme. liberalisme, dan Pluralisme)” dalam mengupayakan pembaharuan Islam.

Di samping itu, Muhammad Imarah menekankan pentingnya untuk merevitalisasi turâts (warisan) Islam dalam konteks kekiniaan. Gagasan pembaruan Islamnya terus ia salurkan lewat berbagai karyanya. Di antara karya-karya yang concern terhadap upaya pembaruan Islam yaitu; (1). al-Islâm fi Muwâjihat at-Tahâddiyât yang mana mengupayakan wasatiyyah (moderat) dalam ijtihad dan pembaharuan (tajdīd), (2007: 90), (2.) al-Islâm bayna at-Tanwīr wa at-Tazwīj, yang membedakan antara pembaruhan Islam dan renaisans (tanwīr) Barat, di mana diferensialnya secara fundamental yaitu antara menghidupkan jiwa religiulitas agama (ihyâ diny) dan tidak (2002:223), (3). Azmah al-Fikr al-Islâmy al-Muâshir dalam sub pembahasan ikatan baru dan pembaruan dengan warisan, di mana singkatnya ia membedakan antara tajdīd yang berdasarkan ruh ketuhanan sang maha pencipta dan al-hadâtsah yang dimaknai abrogasi (an-naskh) (t.t: 20), (4). al-Islâm wa Dharūrat at-Tagyīr, di mana mendorong secara signifikan untuk melakukan pembaharuan dalam hukum-hukum Islam serta memberikan ruang kesempatan untuk dikontekstuliasasikan secara temporal dan lokalitas tertentu (2007: 71) serta dalam karya-karyanya yang lain membicarakan mengenai pembaharuan Islam.

Perlu ditegaskan bahwa Muhammad Imarah menngkonseptualkan bahwasanya pembaruan Islam sejatinya adalah pembaharuan pemikiran Islam. Di mana pemikiran tersebut beranjak dengan semangatnya dalam upaya untuk terus membuka pintu ijtihad terhadap perkara duniawi. Di samping itu, Muhammad Imarah memaksudkan bahwasanya pembaharuan Islam itu menjalankan sesuatu yang berubah (muthagayyirât) dengan memperhatikan aspek nilai-nilai yang stagnan (at-tsawâbit), dan ruh peradaban serta kontinuitasnya. Tidak hanya itu, ia juga menyebutkan bahwa pembaharuan Islam bisa dikatakan sebagai renaisans Islam (2002: 276).

Uniknya gagasan pembaharuan Islam Muhammad Imarah ini juga pernah didialogkan dengan para cendikiawan Muslim Indonesia, serta mendapatkan kesepakatan bersama mengenai gagasan tersebut. Di mana mereka mendefinisikanya sebagai: “Kebangkitan dan menghidupi kembali kepada pokok agama serta nilai-nilai stagnanya disertai perkembangan terhadap pemahaman furū’i yang mengawali perubahan realitas kehidupan, dan penjagaanya atas nilai reformasi serta relevansinya dengan pokok agama dan nilai-nilai stagnan dalam setiap konteks temporal dan lokalitas” (2003: 7).

Relevansi gagasan pembaharuan pemikiran Islam ala Muhammad Imarah ini sangatlah penting dalam menghadapi realita-realita kehidupan modern saat kini. Di mana Islam tidak hanya dipahami secara ibadah ritual semata. Tetapi jauh melebihi itu, Islam sendiri harus jadikan sebagai paradigma atau worldview yang memotorik aktivitas umat Islam. Untuk mewujudkan hal tersebut hemat penulis bahwa gagasan pembaharuan pemikiran Islam ala Muhammad Imarah layak sebagai sebuah solusi.

Memang agama tersebut lahir di era Arab-paganis yang terbelakang. Akan tetapi ajarannya terus relevan dalam setiap era kehidupan manusia. Bukti-bukti sejarah menunjukan kejayaan peradaban Islam sejak berabad-abad. Dalam konteks era komterporer itu merupakan tinta manis sejarah umat Islam. Untuk merevitalisasi peradaban tersebut, maka sekali lagi perlu upaya pembaruan pemikiran Islam. Hal tersebut karena agama Islam tiada lain datang kepada umat manusia melewati perantara Nabi Muhammad saw itu melainkan sebagai rahmat bagi semetsa Alam. Allah swt befirman: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S Al-Anbiyâ: 107).

Wallahu a’lam bi as-shawwâb.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Zaawiyatul ‘Arabiyyah

لِمَاذَا نُزِّلَ القُرْآنُ بِلُغَةِ قريشٍ؟ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ مِنْ عُمْرِهِ أَرْسَلَ اللهُ إِلَيْهِ رِسَالَةً...

Mengenal Gagasan Islamisasi Sains Kontemporer

(Sebuah Pengantar) Oleh : Muhammad Ghifari Dalam filsafat Ilmu pengetahuan, khususnya pada aspek ontologi (hakikat) dan epistemologi (asal mula ilmunya) bahwa ilmu pengetahuan itu tidaklah bebas nilai...

Bagaimana Islam Tanpa Madzhab

Oleh: Dewan Buhûts Islâmiyyah Association For Reseach And Islamic Studies Iftitâh Islam sebagai agama yang syâmil dan mutakâmil mempunyai pegangan dan pedoman (al-Qur’an dan as-Sunah) yang...

Falsafah Blasphemy [Penistaan]

Oleh: Muhammad Ghifari Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa agama memiliki peran sentral dalam kehidupan umat manusia di dunia ini. Di samping itu, tidak dapat...

Manusia Paling Baik

Oleh: Firas Sarah Anrisya بَابُ مَا جَاءَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ Matan Hadits حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الأَشَجِّ، عَنْ عَطَاءِ...

More Articles Like This