Wednesday, October 28, 2020

Muktamar dari Masa ke Masa; Menuju Muktamar Persis Ke XVI

Must Read

Perbedaan Alkurhu dan Alkarhu (Dhammah dan Fathah)

Oleh : Ainun Firdaus Rabbanie  Dalam Al-Qur’an terdapat dua kata yang memiliki padanan kata yang sama tetapi dalam bentuk mashdarnya...

Bagaimana Hukum Zakat Menggunakan Uang

Oleh: Divisi Syariah-Dewan Lembaga Islamiyyah Mukaddimah Zakat adalah rukun ketiga dari rukun-rukun Islam yang lima, Rasulullah SAW bersabda: بني الاسلام على خمس؛شهادة...

[Tashawwuf dan Shufiyah] Antara Pendukung dan Penentang

Oleh: Akmal Burhanudin, lc Muqaddimah Permasalahan tashawwuf dan shufiyah adalah permasalahan lama yang tak pernah kunjung selesai. Para ulama salaf hingga...

5
(2)

Oleh: Hafizh Dhya Ulhaq

Muqaddimah

Jamiyyah Persatuan Islam (Persis) sebagai organisasi massa Islam terbesar ketiga di Indonesia, setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, akan menyelenggarakan muktamar ke-16 pada April 2021 mendatang di Soreang Kabupaten Bandung. Dibandingkan dengan organisasi lain yang sama-sama melaksanakan Muktamar pada tahun 2021 ini, seperti Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta tanggal 12 November 1912 menyelenggarakan Muktamar ke-48,  sementara Persis yang lahir di Bandung pada tanggal 12 September 1923 baru melaksanakan Muktamar yang ke-16, mengapa?

Bila ditelusuri dalam catatan sejarah, muktamar pertama hingga keempat Persis tidak disebut muktamar sebagaimana pada muktamar kelima hingga ke-16 yang akan datang, karena kegiatan sejenis muktamar tidak pernah digelar secara besar-besaran, cukup kumpulan beberapa orang pimpinan dan anggota untuk membicarakan perjalanan roda organisasi. Muktamar pertama hingga keenam berlangsung di Bandung, dan tidak disebut muktamar sebagaimana lazimnya.

Tanggal 12 September 1923 ketika Persis didirikan bisa disebut sebagai Muktamar Pertama, disusul kemudian ketika Persis mendirikan Pesantren Persis pada tanggal 4 Maret 1936 bisa disebut Muktamar kedua. Berikutnya pada tanggal 24-25 Desember 1936 berlangsung konferensi Persis yang bisa disebut muktamar ketiga, lalu pada tahun 1948 -tanggal dan bulan tidak tercatat– ketika Persis direorganisasi kembali oleh KH. Isa Inshary sejak dibubarkan pada jaman Jepang bisa disebut Muktamar keempat.

Kemudian Muktamar ke lima (17-20 September 1953), Muktamar keenam (15-18 Desember 1956), Muktamar ke tujuh  berlangsung di Bangil (2-5 Agustus 1960), Muktamar kedelapan kembali di Bandung (25-27 Nopember 1967), Muktamar ke sembilan dalam bentuk Muakhot (16-18 Januari 1981) di Bandung, Muktamar kesepuluh berlangsung di Garut (6-8 Mei 1990),  Muktamar ke-11 (2-4 September 1995) di Jakarta, Muktamar ke-12  (9-11 September 2000) di Jakarta, dan Muktamar ke-13 (3-5 September 2005) juga di Jakarta;  lalu Muktamar ke-14 (25-27 September 2010) di Tasikmalaya; dan Muktamar ke-15 (20-23 November 2015) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta; insya Allah Muktamar ke-16 direncanakan akan diselenggarakan di Soreang Kabupaten Bandung tanggal  23-26 Oktober 2020. Dari Muktamar ke muktamar nampaknya tidak konsisten waktu penyelenggaraannya, dan baru mulai tahun 1990 berlangsung secara periodik lima tahun sekali.

Muktamar Di Jaman Kolonial

Muktamar pertama sesungguhnya adalah berkumpulnya suatu kelompok tadarusan (penelaahan agama Islam) di kota Bandung yang dipimpin oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Bersama-sama jamaahnya dengan penuh kecintaan menelaah, mengkaji serta menguji ajaran-ajaran Islam, sehingga mereka -kelompok tadarusan yang berjumlah sekitar 20 orang itu- semakin tahu akan hakikat Islam yang sebenarnya, dan mereka pun menjadi sadar akan bahaya keterbelakangan, kejumudan, penutupan pintu ijtihad, taqlid buta, dan serangkaian praktek bid’ah, sehingga mereka mencoba melakukan gerakan tajdid dan pemurnian ajaran Islam dari faham-faham yang sesat dan menyesatkan.

Pada tanggal 12 September 1923 bertepatan dengan tanggal 1 Shofar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mengadakan kegiatan “muktamar” pertama untuk mendirikan organisasi baru yang kemudian  diberi nama “Persatuan Islam” (Persis). Nama Persatuan Islam ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad; berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam.

Karena itu, mulai saat berdiri, Persis pada umumnya kurang memberikan penekanan bagi kegiatan organisasi. Ia tidak terlalu berminat untuk membentuk banyak cabang atau menambah sebanyak mungkin jumlah anggota. Pembentukkan sebuah cabang tergantung semata-mata pada inisiatif peminat dan tidak didasarkan pada suatu rencana yang dilakukan oleh pimpinan organisasi itu sendiri. Namun demikian, pengaruh organisasi ini jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah cabang maupun anggotanya.

Muktamar pertama Persis mendasari kegiatan organisasi berikutnya untuk lebih memperluas aktivitasnya. Sayang, beberapa dokumen sejarah yang saya telaah tidak menunjukkan waktu yang tepat penyelenggaraan Mukatamar Persis kedua. Hanya berdasarkan interpretasi faktual dapat ditemukan bahwa Muktamar kedua berlangsung ketika Persis mulai merancang sistem pendidikan sebagai sarana dakwah, karena pada dasarnya, perhatian Persis ditujukan terutama pada penyebaran faham Al-Qur’an dan Sunnah melalui dakwah dan pendidikan.

Berbagai lembaga pendidikan yang telah didirikan kemudian dimusyawarahkan untuk melahirkan satu lembaga pendidikan yang khas dan terpadu berbentuk pesantren melalui Muktamar kedua Persis yang berlangsung  pada tanggal 4 Maret 1936.  Musyawarah Persis inilah yang kemudian melahirkan suatu keputusan penting dengan  didirikannya  secara resmi Pesantren Persatuan Islam yang pertama  di Bandung pada  tanggal 4 Maret 1936.

Muktamar yang cukup besar dan melibatkan banyak pihak baru digelar pada tahun 1936 yang bisa disebut muktamar ketiga dan diselenggarakan dalam bentuk konferensi Persis pada tanggal 24- 25 Desember 1936 di Gedung Persis Jalan Pangeran Sumedang.

Muktamar itu dihadiri oleh 300 orang anggota dari berbagai cabang sera para undangan diantaranya R.A.A. Wiranatakoesoemah Bupati Bandung, para wakil dari berbagai perkumpulan seperti Muhammadiyah dan Muhammadiyah bagian Pemuda Cabang Bandung, Al-Islah,  Perguruan Islamiyyah, dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Cabang-cabang Persis yang hadir dalam konferensi ini antara lain Cabang Kutaraja Aceh, Betawi, Tanah Abang, Bogor, Cianjur, Cimenteng, Bandung, Cirebon, Majalaya, Mr. Cornelis (Jakarta) ditambah pula Cabang Persistri Bogor, Tanah Abang, dan Bandung. Konferensi itu diliput oleh pers yang hadir saat itu antara lain; pers Amal, A.I.D., Nicorck, Pemandangan, Perbintjangan, dan Sin Po. Demikian pula wakil-wakil dari pemerintahan ikut hadir.

Muktamar ini membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan pembinaan internal organisasi, bukan memperluas jumlah cabang maupun anggota. Adapun keputusan dalam Muktamar Persis ketiga itu adalah:  (1) Menetapkan Qanun Persis yang baru, (2) Menetapkan Qanun Persistri, sebagai bagian Istri dari Persis, dan (3) Menetapkan Qanun Pendidikan Islam, sebagai bagian sekolah dari Persis.

Untuk memantapkan roda jamiyyah dan legalisasi gerakan organisasi, Mohammad Natsir berusaha keras untuk mendapatkan status badan hukum organisasi dari pemerintah kolonial Belanda. Pengajuan badan hukum Persis oleh Mohammad Natsir diajukan pada tanggal 3 Agustus 1938, namun baru dapat disetujui pada tanggal 24 Agustus 1939 dengan keluarnya status badan hukum bagi Persis dari Directeur van Justitie (Badan Kehakiman) dengan nomor: A.43/30/20, tertanggal 24 Agustus 1939.

Pada masa pendudukan Jepang, ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Nipponisasi dan pemusyrikkan gaya Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, para pimpinan dan anggota Persis menerjunkan diri dalam pergolakan kemerdekaan, dan karenanya tidak pernah ada lagi muktamar organisasi. Bersambung

 

 

[1] Disadur dari akun Facebook @Wildan Anas; Prof. Dr. H. Dadan Wildan Anas, M. Hum. (Anggota Majelis Penasihat PP Persis Masa Jihad 2015-2020)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Tertunda Wabah Covid-19, Tasykil PCI Persis Mesir Resmi Dilantik

Kairo – Tasykil (pengurus-red) Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir masa jihad 2019-2021 akhirnya resmi dilantik oleh...

Mampukah Islam Menyikapi New Normal?

Oleh: Hafizh Dhiya`Ulhaq Empat belas abad yang lalu, terdapat beberapa kelompok (Musyrikin dan Kafirin) yang enggan mengakui eksistensi Allah swt sebagai pemilik alam dan seluruh...

Hukum Menambahkan Kalimat “Sayyidina” Pada Shalawat

A. PENDAHULUAN Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada kita sampai kita...

Muslim Harus Progres

Oleh : Muhammad Ghifari “Why was is that they were able to make progress while we became so backward? Why is that we , who...

Mengenal Sosok Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf Oleh : Anton H. Sultonan A. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah dan inayah-Nya. Shalawat dan salam...

More Articles Like This