Muslim Harus Progres

4.8
(6)

Oleh : Muhammad Ghifari

“Why was is that they were able to make progress while we became so backward? Why is that we , who were the masters of the world for centuries, became so weak and vulnerable as fall under the rule and control of Western power? (Nasr Hamid Abu Zayd, d.k.k, Reformation of Islamic Thought, Amsterdam: Amsterdam Universty Press, 2006, hlm. 21)

Kenapa mereka (Barat) progeresif sedangkan kita terbelakang?, mengapa pula hal ini, bisa terjadi padahal kita telah Berjaya di dunia sejak berabad-abad dan sekarang kita menjadi lemah dan mudah diserang semuanya di bawah kekuasaan Barat dan aturan kekuatan Barat).

Demikian pernyataan yang membuat kita setidaknya sedikit sadar terhadap realiata abad ke-21. Di mana mulai dari gaya hidup (life style), pendidikan, ekonomi, sosial politik bahkan juga peradaban saat kini kita tetap dibawah kekuatan Barat.

Memang tidak dapat diingkari lagi bahwa era kini merupakan cahaya dari peradaban Barat. Berbagai kontribusi Barat terhadap masyarakat dunia berupa teknologi, ekonomi, sosial dan lain-lain, telah memberikan banyak kemanfaatan untuk umat manusia di dunia ini.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa tidaklah semua yang datang dari Barat itu harus kita adopsi mealikan adaptasi. Bukan berarti ini, bermakna konservatif atau bahasa milenialnya adalah “kudet”. Tetapi di Barat terdapat beberapa hal yang dengan kita berbeda cara pandangnya atau worldviewnya dalam melihat realitas, misalnya cara kita berpolitik dan bernegara.

Peradaban Barat mengakui bahwa Sekularisme merupakan puncak keemasan untuk manusia dan biarlah tuhan menempati tempatnya serta jangan ikut campur terhadap kehidupan sosial, berbudaya dan masyarakat.

Hal ini, berbeda dengan cara pandang (worldview) muslim yang melihat adanya peran tuhan, agama dalam mengatur segala aspek kehidupan begitu juga politik dan bernegara, begitu juga dengan berbudaya. Oleh karena itu, melakukan seleksi atau adaptasi –bukan adopsi- merupakan langkah terbaik dalam apa yang penulis sebut sebagai “saling meminjam hasil peradaban”.

Dalam sejarahnya kita mengetahui bahwa Barat mengalami apa yang disebut dengan Dark Age (jaman kegelapan). Sebaliknya Islam sangatlah jaya beberapa abad yang lalu. Kontribusi peradaban Islam sangatlah nyata bagi umat manusia serta peradabanya.

Hadirnya tokoh seperti Al-Khawarizmi, Ibn Sina, Ibn Haiytam dsb jelas memajukan peradaban umat manusia sehingga banyak saintis di Barat mengakui bahwa mereka (saintis) muslim merupakan faktor kemajuan bagi peradaban Barat.

So kawan-kawan ku muslim dan muslimat, mari kita sama-sama untuk menghidupakan kembali cahaya peradaban Islam yang telah berjaya beberapa abad. Wahyu pertama (Q.S Al-Alaq : 1-5) sebagaimana kita ketahui bersama merupakan embrio peradaban Islam.

Bagi Imanuddin Khalil tumbuhnya peradaban Islam itu, dibawah syarat bentuk intruksi yang pokok yaitu agama dan kemudian peradaban itu terbentuk oleh rahim Islam bukan pada rahim yang lain (Imanuddin Khalil, Fi Al-Fiqih Al-Khadarah Haula Manhaj Jadid lidirâsah Al-Islam, Jamiah Al-Mausul, kulliyatu tarbiyyah. hlm. 146).

Tradisi intelektual Islam sebagai ciri dari peradaban Islam itu lahir dari kandungan wahyu kemudian menjadi sarat konsep-konsep keilmuan yang melahirkan berbagai disiplin keilmuan ilmu (Hamid Fahmy Zakarsyi, “Islamic Worldview Sebagai Paradigma Sains Islam” dalam Islamic Science; Paradigma, Fakta dan Agenda, ed Syamsyuddin Arif (Jakarta: Institute of Islamic Thought and Civilizations/INSISTS), hlm. 25).

Maka dengan demikian tradisi keilmuan serta cahaya peradaban Islam itu bermula dari wahyu, teologi. Sedangkan peradaban Barat justru sebaliknya yaitu bermula dari pemisahan antara dimensi sains dan wahyu. Oleh karena itu, dalam tradisi keilmuan hendak cara pikir (frame work) muslim haruslah berbeda dengan cara pikir masyarakat Barat.

Meskipun memang kita akui adanya titik temu atau keselerasan, netral pandangan. Kita akui hal tersebut tetapi harus bagi kita terhadap kenetralan tersebut dikaitkan dengan realita yang lebih tinggi yaitu dimensi ilahiyyah (ketuhanan).

So jadi umat Islam atau muslim seluruhnya perlu bangkit kembali atau revitalisasi peradaban Islam. Mulai dari adab kepada tuhan, diri sendiri, keluarga, pendidikan dan sebagai lainya. Ekonomi, politik, pendidikan serta kajian keilamuan apapun hendaklah dibarengi nilai ibadah kepada tuhan karena kita bagaimanapun hidup untuk beribadah.

Allah SWT befirman : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”(Q.S Ad-Dzariyat : 56).

So umat muslim seluruhnya, kita harus porgres, jangan sampai kita terus berada dibawah kekuasaan Barat serta marilah kita revitalisasi kembali peradaban Islam dengan moderat, toleransi dan berlandaskan ajaran Islam yang Shohih.

Wallah a’lam bi Shawāb

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *