Thursday, May 6, 2021

Pandemi; Semua Bisa Mengambil Peran

Must Read

(Ijtihad)Sebuah Bukti Islam Relevan Untuk Semua Zaman

Oleh: Divisi Syari’ah (LBI) PENGERTIAN IJTIHAD Lughah Ijtihad menurut bahasa diambil dari kata (الجهد) yang berarti kesulitan (al masyaqqah) dan kekuatan (at-thaaqah),...

Perkuat Program, PCI Persis Mesir Lakukan Konsolidasi ke PP Persis

Bandung – Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Persatuan Islam Mesir melakukan kunjungan atau pertemuan ke Pimpinan Pusat Persatuan Islam di...

Mengenal Pola Dasar Ilmu Takhrij

Oleh : Agus Setiawan, Lc. I. Definisi Takhrij Kata takhrij (تخر يج) merupakan masdar yang bermakna "tampak dan jelas" dari kata...

5
(3)

Oleh: Alfy Isa Muharram

Pandemi virus corona (Covid-19) selain mengguncang tatanan negara, juga mengguncang psikis manusia di belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Banyak orang semakin panik lantaran virus ini menular dengan mudah dari manusia ke manusia dan jumlah korbannya terus bertambah begitu cepat. Terlebih virus ini bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu dan pilih kasih. Bahkan tempat-tempat suci pun tak luput dari serangan virus ini. Meskipun virus corona bukan virus yang paling mematikan di dunia, tapi jika tidak cepat ditangani dengan tepat maka dapat berakibat fatal.

Sejak kemunculannya pertama kali di Wuhan pada akhir Desember 2019, publik digaduhkan dengan pernyataan kaum agamawan yang menafsirkan fenomena pq  ndemi Covid-19 secara teologis, dan mengaitkannya dengan tentara Tuhan untuk mengazab penduduk Tiongkok yang telah menindas dan menganiaya Muslim Uighur. Pemahaman itu menyakini bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doa yang menuntut pembalasan terhadap otoritas Tiongkok yang menindas kaum Muslim dengan virus corona. Pasalnya, virus tersebut pertama kali menelan korban dan menyebar secara masif di Tiongkok pasca dunia mengecam Tiongkok atas isu penganiayaan Muslim Uighur dan upaya mereka dalam melarang simbol-simbol keislaman di wilayah teritorialnya.

Pemahaman yang kurang tepat ini telah direspon oleh salah seorang tokoh cendekiawan Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya “Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya.” Menurutnya, Covid-19 adalah musibah (ujian) bukan azab (siksa), karena dari Alquran diperoleh kesan kuat bahwa azab selalu menimpa hamba yang durhaka, dan Allah Swt. pasti akan menyelamatkan hamba-Nya yang taat, sebagaimana dalam kisah nabi Nuh dan nabi Luth alaihimassalam. Sedangkan fakta realitas membuktikan bahwa pasien yang terjangkit virus corona tidak semuanya dari kelompok non-Muslim, melainkan banyak pula kaum Muslim yang ikut terjangkit virus ini. Realitas ini menegaskan bahwa Covid-19 bukanlah azab, melainkan musibah dari Allah Swt.

Kegaduhan semakin menjadi-jadi, tatkala pemerintah mengeluarkan kebijakan yang melarang perkumpulan massa, baik yang bersifat religi maupun non-religi. Terlebih ketika ada praktik keagamaan yang dilarang. Sedikit banyak kebijakan ini melahirkan benturan teologis-sosial karena umat dilarang berkumpul pada momen ritual, khususnya ketika bulan suci Ramadhan, seperti shalat berjamaah, i’tikaf, bahkan perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Umat menentang himbauan tersebut dengan dalih bahwa pada dasarnya konstitusi Indonesia melindungi kebebasan beragama dan praktek keagamaan, sebagaimana tertuang dalam pasal 28I UUD 1945 yang menyebutkan bahwa hak beragama termasuk dalam non derigable right, hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun, baik dalam keadaan perang, sengketa senjata dan keadaan darurat, dan oleh siapapun termasuk negara, pemerintah, dan atau anggota masyarakat. Sehingga sebagian masyarakat ada yang masih ngenyel menjalankan ibadah berjamaah di tempat ibadah.

Padahal dalam tataran implementasinya, kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaan dapat dibatasi oleh ketentuan hukum yang diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan dan kebebasan mendasar orang lain. Sehingga himbauan pemerintah yang melarang (sementara) masyarakat untuk menjalankan ibadah berjamaah di rumah ibadah sejatinya bukan membatasi kebebasan beragama atau mengurangi hak mendasar umat beragama, melainkan untuk menjaga ketertiban dan kesehatan orang lain yang harus dilindungi, khususnya pada masa pandemi Covid-19.

Tidak berhenti sampai di sini, ketika berita hoax tentang pandemi Covid-19 terus menggurita di media sosial, masyarakat semakin gaduh dan ricuh. Mereka menjadi terpecah-belah dan berubah menjadi soliter, bahkan paranoid. Memang benar virus corona itu berbahaya, tapi karena berita hoax, masyarakat menjadi keliru dalam memahami bahayanya. Bahkan akibat hoax dan kurangnya infromasi yang edukatif, sebagian masyarakat mengambil langkah pragmatis yang kontraproduktif dengan menolak pemakaman jenazah pasien corona dan mengucilkan korban Covid-19 yang masih hidup karena takut tertular. Kepanikan dan ketakutan yang berlebihan justru akan menimbulkan masalah baru.

Kegaduhan dan kesalahpahaman semacam ini, sering kali terjadi akibat informasi yang rancu, penjelasan yang tidak utuh, dan pembacaan yang tidak menyeluruh. Maka menjadi penting untuk memahami konten suatu informasi sebelum menghakimi dan melihatnya dengan cermat sebelum menggugat atau menghujat. Di sinilah peran ulama mutlak dibutuhkan untuk memberikan pengetahuan yang utuh dan meluruskan pemahaman yang holistik dan komprehensif kepada umat.

Ulama Berada di Garda Terdepan

Jika dalam penanganan medis pasien Covid-19 menjadi domain dan otoritas tenaga medis, maka penanganan masyarakat yang ricuh akibat kekeliruan teologis dan kesalahpahaman menjadi domain ulama. Ulama harus berdiri di garda terdepan untuk memberikan pemahaman yang utuh dan benar mengenai pandemi Covid-19 menurut prespektif agama.

Dalam kondisi gaduh semacam ini, sudah saatnya meletakkan sentimen pribadi dan konflik sektarian, demi kepentingan bersama, bersatu melawan corona. Sudah semestinya ulama itu berlaku moderat, merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, mengajak bukan membentak, mendidik bukan menghardik, membina bukan menghina, mengayomi bukan menyatroni, mempersuasi bukan memprovokasi, menenangkan bukan menegangkan, dan meluruskan bukan menjerumuskan.

Dengan demikian, ulama sejatinya mampu menampilkan agama yang sejuk dan teduh bukan buruk dan gaduh, karena semakin luas ilmu seseorang semestinya semakin bijak dalam menghadapi perbedaan, dan semakin tinggi derajat seseorang maka semakin matang pula kepribadiannya.

Kedudukan ulama sangatlah vital dalam kehidupan beragama di masyarakat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan maraknya acara tabligh akbar dalam setiap peringatan hari-hari besar keagamaan yang selalu menarik antusias umat. Terlebih di bulan suci Ramadhan. Bila bukan karena kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga diri (hifzdu an-nafs) yang harus diprioritaskan daripada kelima hal pokok lainnya (ad-dharuriyat al-khamsah, yang mencakup menjaga agama, akal, harta dan harga diri), maka tanpa diragukan lagi, masyarakat pasti akan berduyun-duyun menghadiri majlis-majlis taklim dan pengajian para ulama dimanapun berada.

Bila kita sandarkan itu, terlihat jelas peran sentral seorang ulama di tengah masyarakat sangat kuat. Ulama adalah panutan. Jika ia mengajarkan perdamaian dan persatuan, umat pun akan mengamalkannya. Sebaliknya, jika kebencian dan permusuhan yang ia ajarkan, maka umat pun akan mengikutinya. Untuk itu, jadilah ulama yang jadi panutan dalam kebaikan, terutama dalam membangun persatuan umat untuk melawan corona.

Dalam kondisi abnormal seperti saat ini, ulama diharapkan tetap mampu menjalankan amanahnya sebagai warasatul anbiya (penerus para nabi) dalam berdakwah dan mendidik umat, agar menjadi khaira ummah (sebaik-baik umat) sesuai dengan perintah Allah Swt. dan prinsip agama dan membimbing mereka agar terhindar dari wabah corona. Dengan otoritasnya sebagai panutan umat dalam urusan keagamaan, ulama sepatutnya mampu menjadi figur yang merangkul dan menenangkan, sebab dalam kondisi panik semacam ini, terdapat kelompok-kelompok tertentu yang ingin memprovokasi dan mempropaganda umat demi kepentingan individu atau kelompok.

Semakin jelas dalam pandangan kita semua, bahwa dalam situasi segmenting apapun, naluri seorang manusia adalah bertahan dan menentukan pilihan. Apa yang seharusnya ia lakukan kedepannya? Tentunya semua pribadi memiliki jawabannya masing-masing.

Ketika para ulama sudah bersikeras untuk mendedikasikan dan mewaqafkan dirinya untuk kemaslahatan umat. Di sini peran yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah “sami’na wa atha’na”, senantiasa mengikuti fatwa dan petunjuk para ulama, menaati regulasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah dan tetap beriktiar menjaga diri serta bertawakal kepada Allah SWT.

Pada akhirnya, pandemic bukanlah satu-satunya yang bisa menghentikan peradaban di muka bumi ini. Lebih dari itu, kita semua mengemban amanah sebagai seorang hamba yang mesti melakukan tugasnya; melaksanakan kewajiban beribadah, berikhtiar dan tentunya mengambil peran sebisa mungkin dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 COMMENT

  1. insya allah…mari kitangaji dan mengkaji dari setiap berita teritama dari dunia maya; ikuti arahan ahli IT yang berdasarkan tetap panduan dari ulama ulana yg twtap istiqomah mengawal dan senantiasa mengikuti petunjuk alquran dan sunahnya!

Leave a Reply

Latest News

Di Antara Lautan Aksara

Di antara lautan aksara Terdapat seorang gadis kecil Kerap kali ia merasa kurang Agaknya ia takut akan nalar sang dunia Di antara lautan...

Di Antara Lautan Aksara

Di antara lautan aksara Terdapat seorang gadis kecil Kerap kali ia merasa kurang Agaknya ia takut akan nalar sang dunia Di antara lautan aksara Terdapat sukma yang insomnia Nurani gundah...

Musykercab Pertama PCI Persis Mesir, Naufal: Satukan Tekad Menjadi Organisasi yang Progresif

Kairo – persismesir.com, Setelah sukses meyelenggarakan Musyawarah Cabang (Musycab) Istimewa yang ketiga pada 21 November 2019 lalu, PCI Persis Mesir mengadakan Musyawarah Kerja Cabang...

Konsep Nasikh dan Mansukh Dalam AlQuran

Oleh: Edward Maufur PENDAHULUAN Bahwasanya sudah menjadi sebuah aklamasi yang tidak dipertentangkan lagi bagi Umat Islam, Salaf maupun Khalaf mengenai keabsolutan dan kekhasan Al-Quran sebagai satu-satunya...

Dampak Covid-19: Sebuah Perspektif Muslimah

Oleh: Fatin Nurcintami Akhir Desember 2019 lalu, kita digemparkan dengan wabah virus yang bernama Covid-19. Wabah ini muncul pertama kali di Wuhan, Cina. Makhluk kecil...

More Articles Like This