Saturday, August 8, 2020

Perbedaan Alkurhu dan Alkarhu (Dhammah dan Fathah)

Must Read

Bagaimana Islam Tanpa Madzhab

Oleh: Dewan Buhûts Islâmiyyah Association For Reseach And Islamic Studies Iftitâh Islam sebagai agama yang syâmil dan mutakâmil mempunyai pegangan dan...

Sejarah Singkat Ilmu Balaghah

في النحو والبلاغة والتفسير والأدب، الوسيط في الأدب العربي وتاريخه، تاريخ آداب اللغة العربية مناهج تجديد Resensi kitabOleh:...

Siapa sosok Ulama Mufassir Al-Fakhru Al-Razi

Oleh: Arif Rahman Hakim "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Pendahuluan Sebagai salah...

4.8
(5)

Oleh : Ainun Firdaus Rabbanie 

Dalam Al-Qur’an terdapat dua kata yang memiliki padanan kata yang sama tetapi dalam bentuk mashdarnya berbeda, yakni الكُره dengan didhommahkan huruf Kaf nya serta الكَره dengan memfathahkan huruf Kaf nya.

Dua kata di atas berasal dari kata yang sama yakni كَرِهَ – يَكْرَهُ yang artinya adalah membenci, menolak, enggan atau memaksa. Artinya lafazh Kariha menunjukan kepada suatu sikap yang lazim ada pada sifat manusia. Sikap membenci ini bermula atas keterpaksaan untuk melakukan sesuatu sehingga dalam penerjemahannya menjadi membenci.

Para Ulama berbeda pendapat dalam memaknai dua isim mashdar di atas dalam penggunannya di beberpa tempat dalam Al-Qur’an. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Lisanul ‘Arab, bahwa para Ulama Qiro’āt diantaranya Imam Nāfi’ dan Ahli Madinah berpendapat hanya satu kata saja yang huruf Kaf nya dhommah yaitu ada dalam surat Al-Baqarah ayat 216, sebagaimana berikut:

وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ

Namun Imam ‘Āshim juga berpendapat bahwa ada juga huruf Kaf nya didhommahkan yakni dalam surat Al-Ahqaf : 15

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً

Begitu pun Imam Al-A’masy, Imam Hamzah dan Imam Al-Kisā’i berpendapat bahwa ada juga yang didhommahkan huruf Kaf nya yakni dalam surat An-Nisa ayat 19, sebagai berikut:

لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّساءَ كَرْهاً

Walau pun begitu, Imam Ahmad bin Yahya memandang tidak ada perbedaan makna pada kedua mashdar di atas. Kecuali Imam Al-Farrā dan Ibn Sidah saja yang mendeskripsikan adanya perbedaan makna pada kedua mashdar di atas.

Imam Al-Farra mengatakan bahwa الكُرْه adalah kebencian terhadap diri sendiri sedangkan, الكَرْه adalah kebencian yang datang dari pihak luar atau orang lain terhadap dirinya.

Senada dengan definisi di atas, Ibn Sidah juga berpendapat bahwa الكَرْه adalah keengganan atau ketidaksukaan atau kesulitan yang dibebankan lalu engkau memikulnya. Sedangkan الكُرْه adalah kesulitan yang dipikul bukan atau selain kesulitan yang dibebankan.

Dalam kitab Jawahir Qur’aniyyah juga dijelaskan adanya perbedaan makna pada dua kata mashdar di atas. Jika lafazh الكُرْه dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا

Ialah suatu kesulitan yang dirindukan atau dipinta oleh si pemiliknya. Sedangkan makna dari lafazh الكَرْه dalam Fushshilat ayat 11:

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا

Ialah sikap keengganan atau kebencian karena adanya paksaan yang datangnya dari pihak luar. Artinya dalam dua padanan mashdar di atas menunjukan sikap keengganan atau kebencian atas dasar paksaan utnuk melakukan sesuatu.

Bahkan perintah untuk berperang pun Allah gunakan lafazh الكُرْه. Hal ini semata-mata bukan sikap kebencian umat Islam terhadap hukum atau perintah Allah melainkan karena adanya sifat yang melekat pada diksi perang yang mengharuskan adanya luka karena adanya gesekan benda yang kasar serta terdapat kesulitan juga saat melaksanakannya.

Karena bagaimana pun umat Islam tetap meyakini semua hukum Allah pasti menyimpan sebuah hikmah, pesan moral serta kes-islāhan.

Begitu pun apa yang dirasakan oleh seorang wanita sangat menginginkan hadirnya buah hati di tengah-tengah keluarga kecilnya. Dan hal ini harus melalui proses persalinan yang bahkan harus mempertaruhkan nyawa demi si jabang bayi. Tentu bentuk kesusahan ini dilandasakan atas dasar cinta. Rasa sakit yang diterima oleh si calon ibu tidak menjadi beban besar, bahkan rela mengorbankan nyawanya. Inilah yang dimaksud الكُرْه yang kesusahan atas kebencian itu datang murni dilakukan dari dalam (diri sendiri).

Tetapi saat berkaca pada padanan kata sebaliknya yakni الكَره, ghālibah nya manusia akan berpaling darinya. Karena tekanan, paksaan yang datang dari luar dirinya mengharuskan untuk melakukan sesuatu.

Santri pun menjadi pesanan bagi bangsanya di masa depan untuk bisa membangun peradaban walau itu harus bersusah payah. Walau itu harus mengorbankan segalanya. Jika dahulu santri dengan sigapnya bisa angkat senjata melawan para penjajah kolonial bahkan melawan pemberontakan PKI, maka santri masa kini pun harus melakukan hal yang sama walau dalam konteks panggung yang berbeda.

Memang benar, semua hal yang manis harus melalui dulu rintangan terjang. Bak mengupas buah durian. Penuh duri namun saat berhasil mengupasnya, terdapat buah manis yang bisa dinikmati di dalamnya.

Terkadang sebagai manusia dia hanya mampu menjalani asa kehidupan berdasarkan yang ia pilih. Tetapi, patut diberi perhatian besar juga manusia harus mampu mengemban beban yang tidak ia pilih.

Belajar adalah pekerjaan yang sangat sulit dan menyusahkan. Sehingga banyak orang yang terbengkalai memilih jalur “kesusahannya” pada apa yang ia inginkan. Walhasil, imbasnya banyak kejumudan, kemunduran dan dekadensi moral bangsa.

Belajar tidak hanya cukup beberapa saat saja. Semua misteri dunia bersifat pragmatis yang sewaktu-waktu membutuhkan kunci jawaban dari pada warisan ilmiah bangsa. Siapa mereka? Maka sorot mata dunia akan mengarah para pelajar, santri masa depan.

Apa yang bisa disuguhkan santri, semua bermuara pada sikap yang menerima segala konsekuensi atas pelbagai persoalan. Tidak untuk memilih atas dasar “zona nyaman” atau sesuatu yang serba instan. Jika demikian adanya memilih zona nyaman, maka tidak akan ada bibit kehidupan yang bermoral.

Semua rantai ilmu dan sejarah akan terputus dan akan susah juga untuk memulai langkah awal sebagaimana yang telah dibangun dan dicita-citakan para tokoh-tokoh bangsa.

Sebagai anak bangsa yang dilahirkan dalam kondisi الكُرْه yakni perjuangan tetesan darah dan keringat ibu yang sekian lamanya telah mengandung, melahirkan serta merawatnya hingga usia matang, maka akan datang setelah itu الكَره, Apa itu? Tentu persoalan orang banyak. Bukan persoalan tentang dirinya sendiri lagi.

Wallahu a’lam bishshawab

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan...

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan ajarannya. Dengan menunjukan peribadatan-peribadatan yang...

Mengenal Gagasan Islamisasi Sains Kontemporer

(Sebuah Pengantar) Oleh : Muhammad Ghifari Dalam filsafat Ilmu pengetahuan, khususnya pada aspek ontologi (hakikat) dan epistemologi (asal mula ilmunya) bahwa ilmu pengetahuan itu tidaklah bebas nilai...

Muktamar dari Masa ke Masa; Menuju Muktamar Persis Ke XVI

Oleh: Hafizh Dhya Ulhaq Muqaddimah Jamiyyah Persatuan Islam (Persis) sebagai organisasi massa Islam terbesar ketiga di Indonesia, setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, akan menyelenggarakan muktamar ke-16...

Mengenal Sosok Imam As Suyuthi

Oleh: Danis Wijaksana Pendahuluan Menguak sejarah seorang tokoh, seperti memasuki belantara hutan yang luas, butuh kecermatan, ketelitian, kehati-hatian. Sebab warisan sejarah adalah barang yang mahal. Mengambil...

More Articles Like This