Perjuangan Rumaisah Milhan (Cerpen)

4.8
(13)

Oleh: Fatin Nur Cintami

“Sesungguhnya islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya: “siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah?”. “orang –orang yang selalu memperbaiki (melakukan ishlah) di saat manusia merusak sunnah-sunnahku” jawab Rasulullah”. (H.R At-Tirmidzi, dinyatan Hasan Shahih oleh Imam At-Tirmidzi).

Rumaisha Milhan, itulah nama pemberian Abah dan Umi. Saat ini umurku baru beranjak 25 tahun, berkat ridlo dari orang tua, sekarang aku telah menjadi seorang Dokter sekaligus Hafidzah, Perjalananku mencapai semua itu tidaklah mudah, banyak sekali lika-liku kehidupan yang membuat mataku terbuka. Ada apa gerangan? Kemana kamu pergi? Siapa wanita tua itu? rasa penasaran itu yang hingga saat ini tak beranjak dalam hati. ^-^

Dua tahun sudah aku belajar di ma’had pesantren dan mendapatkan ijazah sanad (gelar hafidz) dengan nilai yang mumtaz. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya untuk menjadi seorang Hafidzah, tapi saat ini pula aku dapat merasakan keberkahan menjadi si penghafalnya.

Saat ini rasa bahagia tak dapat kupungkiri. Aku pun mengadakan perkumpulan dengan para Murobbi dan teman-temanku untuk menngadakan acara perpisahan. Esoknya aku berangkat ke Bandung untuk memberi kabar bahagia kepada kedua orang tuaku. Setibanya di terminal, aku menaiki bus kota. Setelah aku berhasil mendapatkan tempat duduk yang tepat, aku pun dengan nyaman duduk disebelah seorang wanita yang sedang menggunakan headseat tanpa jilbab.

Tak mampu ku pungkiri, mungkin karena aku hidup dilingkungan yang agamis dan sudah terbiasa melihat teman sebayaku mengenakan jilbab, aku merasa risih melihat penampilan seorang wanita disebelahku. Beberapa menit kemudian, bus sudah mulai terlihat kosong karena banyaknya penumpang yang mulai turun satu per satu.

Aku bertanya-tanya dalam benakku kapan wanita disebelahku ini akan turun. Wanita itu pun menarik headseat dari telinganya dan mulai memperhatikan jalanan. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya lebih awal.

“Assalamu’alaikum, teh turun dimana?”, tanyaku. Wanita itu langsung menoleh kepadaku dengan keheranan. “Bandung, emang bus ini baru sampai mana?”, timpal wanita itu. “Udah masuk Bandung teh, emang teteh Bandungnya di daerah mana?”, tanyaku lagi. Wanita itu terkaget dan menyuruh pengemudi bus untuk berhenti, ia pun turun dengan tergesa-gesa. Pandanganku pun mengikuti arah wanita itu yang sempoyongan. ^ – ^

“Assalamu’alaikum Umi, Abah”, salamku penuh gembira. “Wa’alaikumusalam.. Rum, Rumaisah!”, jawab Umi sambil menghampiriku tak percaya. “Ya Allah, anak Umi beda banget sekarang, jadi ndut, makan terus ya disana”, Lanjut Umi.

“Iya Umi hehe.. Umi sehat? Abah kemana Umi?”, Jawabku dengan berbagai pertanyaan.“Alhamdulillah sehat, Abah masih di masjid bentar lagi juga pulang. Pasti seneng deh kalo tau putrinya udah pulang”. Ucap Umi turut senang.

Setelah shalat, aku meilirik jam dinding yang menandakan pukul 14.00. karena tak bisa menahan rasa lelahku akhirnya aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku dan tidur sejenak.

“Assalamu’alaikum, Umi.. Umi.. ”, Abah terburu-buru masuk rumah. “Mi, kata tetangga Rum udah pulang?”, tanya Abah tak sabar. Umi hanya melempar senyuman dan menuntun Abah masuk ke kamar memperlihatkan anaknya yang sedang tidur terlelap. Abah yang tak kuasa untuk membangunkannya pun tak dapat berbuat apa-apa lagi, akhirnya Abah keluar dari kamar dengan perasaan lega.

Beberapa jam setelah aku bangun, aku mendapati Abah yang sedang berbincang-bincang dengan Kang Yusuf, murid Abah sewaktu di pondok, baru tahun ini Kang Yusuf lulus dari universitas Al Azhar, Kairo. Aku hanya memperhatikan keduanya dibalik tirai jendela, Yusuf berpamitan disertai Abah yang membuka pagar lalu masuk. Aku yang terlalu lama mengintip, akhirnya membuka pintu dan menunggu Abah dengan kerinduan yang mendalam.

Abah pun tersenyum dan duduk dengan nyaman, aku pun mengikuti tingkah Abah. Abah menceritakan tentang tawaran Kang Yusuf supaya aku melanjutkan kuliah kedokteran di Bogor dengan beasiswa bagi seorang hafidz quran dan menetap di Asrama yang tak jauh dari Universitas. Beberapa hari setelah banyaknya pertimbangan, akhirnya Abah dan Umi mengizinkan.^-^

Fajar menjelang menyinari langit gelap gulita, sesudah shalat shubuh, aku dan Umi mempersiapkan segalanya. Umi yang dari semalam membasahi pipiku dengan air mata kini telah merelakanku. Umi menuntunku keluar rumah dengan Abah yang sedang menyiapkan mobilnya.

Setelah aku pamitan kepada Umi dengan pelukan erat yang begitu lama, akhirnya tibalah diujung perpisahanku dengan Umi. aku memasuki mobil yang sudah dibukakan oleh Abah. Suasana yang kian ramai disertai kicauan burung menghiasi perjalananku. Abah yang mengemudikan mobilnya yang begitu lembut bisa membuatku terlelap kapan saja. Akan tetapi, aku menyayangkan moment kebersamaan ini dan menebas niatku itu,untuk lebih memilih menemani Abah menikmati suasana indah ini.

Sunyi ini pun terpecahkan oleh suara Abah yang begeram. “Rum, lingkungan yang ada di sekitar kita ini berbeda-beda, kamu harus bisa hati-hati dalam memilih teman sehari-harimu nanti. Mungkin saja waktu itu memang Allah menakdirkan kamu untuk bertemu dengan orang-orang Sholih, tetapi ujian sekarang ini sangatlah berbeda, nanti kamu berada di daerah yang belum tentu orang-orangnya sepaham dengan kamu.

Kamu harus bisa istiqomah dengan apa yang kamu kerjakan selama ini, jangan lupa murojah terus hafalanmu, jangan lalay akan kesibukan duniawi. Berbaurlah pada Ustadzah-Ustadzah disana, atau paling tidak kamu sering-sering aja main kerumah bibinya Kang Yusuf, biar ngga terlalu menyendiri”, jelas Abah sambil melirikku berulang kali.

Aku mencoba memahami setiap perkataan Abah dan mengiyakan tentang hal itu dengan melempar senyuman supaya Abah tak khawatir.
Setibanya aku di pondok daerah Bogor. Aku pun turun dari mobil dan mengangkat tas gendongku ke pundak, beserta Abah sambil membawakanku koper.

Aku dan Abah disambut hangat oleh bibinya Kang Yusuf dan suaminya, Pak Otong. Kami dipersilakan untuk melihat-lihat kamar yang ada di gedung asrama itu, setiap kamar hanya menampung dua orang saja. Setelah puas melihat-lihat akhirnya Abah berpamitan dengan Pak Otong dan juga istrinya.

Aku pun menemani Abah sampai ke mobil. Beberapa menit selepas aku berpamitan dengan Abah, aku pun telah berada disebuah kamar yang nyaman, lalu tiba-tiba seorang wanita masuk ke kamarku tanpa permisi lalu menjatuhkan dirinya ke kasur yang masih berantakan.

Aku pun tersontak saat akan membereskan tempat tidurku. Aku pun perlahan melirik dan memperhatikan wanita itu yang sedang asik mendengarkan lagu dengan menggunakan headseat-nya, dan menutupi wajahnya dengan boneka. Aku yang begitu penasaran akhirnya memutuskan untuk menghampiri wanita itu.

“Assalamu’alaikum Teh?”, ucapku sambil menyentuh tangannya. Karena tingkahku, wanita itu spontan terbangun dan melihatku kaget. Ia pun menarik headseat yang ia kenakan dan melihatku dengan heran. Saatku perhatikan wajahnya, ternyata tak asing lagi bagiku, pipi yang cubby merah merona dengan tahi lalat disebelah kanan, yang membuatku mudah untuk mengenalinya.

Tanpa ragu aku mulai memperkenalkan diriku padanya. “Asalamu’alaikum teh, nama saya Rumaisah. Teteh ingat saya tidak?”. “Ngga, emang pernah ketemu?”, jawabnya heran. “Saya itu yang duduk sebelahan sama teteh waktu itu di bis, ingat tidak?”, tanyaku. “Mmm.. iya kali ya, tau ah lupa”, jawabnya ketus. Wanita itu pun berniat untuk memasang headseatnya kembali ketelinganya.

“Jadi, nama teteh siapa?”, tanyaku penasaran. Wanita itu pun mulai terlihat kesal dan dia pun menjawab seadanya “Nita”. Aku yang cukup puas dengan perkenalan ini, lalu meninggalkan dia dengan membereskan tempat tidurku.
^-^

Sepertiga malam aku terbangun, dan segera mengambil air wudlu. Dengan penuh pengharapan aku memohon kepada Sang Khaliq untuk selalu menjaga Umi dan Abah disetiap waktunya. Ketika dipenghujung bait doa aku tak kuasa membendung air mataku dan mencurahkan keluh kesahku kepada Sang Rabbi, setelah hatiku kian tenang aku membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imran.

Karena isak tangis, membuat suaraku menjadi serak bergeming di ruangan hampa itu. Mendengar suara lantunan yang kubacakan, akhirnya Ranita terbangun dari tidurnya dan memperhatikanku dengan seksama.
“Rum, Rum.. itu kamu?”, tanya Ranita keheranan. Mendengarkan keluh kesah Ranita aku pun berhenti membaca sepotong ayat yang hampir usai.
“Iya Ta, ya ampun terganggu ya”, jawabku merasa bersalah.

“Kalo tau ngeganggu, yang ngga usah ngaji jam segini dong Rum, besok-besok juga kan bisa”, ujar Ranita kesal. Ia pun berbaring kembali ke posisi tidurnya dan terlelap tanpa memberiku kesempatan untuk membalas ucapannya. Aku yang merasa bersalah akhirnya menutup Al-Qur’an ku dan mempersiapkan diri untuk pergi ke kuliah. ^-^

Suasana dipagi hari, dimana matahari masih enggan menampakan sinarnya, aku melangkahkan kakiku dijalanan setapak yang masih berkabut, dengan ditemani suara ayam berkokok, pedagang sayuran yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya, dan kicauan burung pak Otong yang hendak siap dimandikan. Sekitar 20 menit, semenjak aku meninggalkan Asrama kini aku telah berada didepan gerbang Universitas Bogor. Perlahan tapi pasti aku mulai memasuki gerbang dan menuju Fakultas Kedokteran.

Setelah waktu menunjukan pukul 08.30, akhirnya namaku dipanggil untuk wawancara. aku masuk ruangan yang berisi seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk santai dengan ditemani dua orang pemuda yang terlihat gagah menggunakan jas berwarna putih dengan atribut kedokteran.

“Oke silakan duduk”, ujar lelaki tua itu tanpa melirikku. Aku pun mengangguk dan mulai duduk tenang sebisa mungkin. Sebelum Bapak itu mulai mengutarankan pertanyaan, ia mempersilahkan dua rekannya untuk mengajukan berbagai pertanyaan.
“Rumaisah Milhan, bener itu nama kamu?”, tanya pemuda dari samping kanan, tersenyum.

“Iya Pak”, jawabku gugup. “No, no, no jangan panggil saya bapak, saya belum setua itu, panggil saya kakak aja ya”, canda pemuda. “Oh iya iya kak, afwan”, jawabku mulai tenang.

“Kenapa kamu mau jadi dokter Aisah?”, tanya pemuda itu dengan melihatku tajam. Mendengar panggilan pemuda itu yang belum pernah terdengar ditelingaku membuatku merasa geli dan begitu risih melihat tatapannya. Aku pun memutar bola mataku untuk tidak terlalu lama menatap pemuda itu.

“Menurutku menjadi seorang dokter itu sangat mulia, dan pasti banyak sekali yang membutuhkannya, cita-cita saya ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan, dimana pun seperti contohnya di Palestina banyak sekali penduduknya yang terluka oleh peperangan.

Maka dari itu Saya selalu merenung, mereka keluarga semuslim dan seiman dengan saya mampu mempertahankan Islam disana, sedangkan Saya belum bisa melakukan apa-apa. Maka dari itu, saya ingin membantu untuk sedikit meringankan beban mereka dan siapapun yang membutuhkan”, jawabku mengalir begitu saja. Setelah mendengar tanggapanku, barulah lelaki tua itu melirikku dengan seksama.

“Hmm.. kamu ingin jadi Mujahidah ya, bagus-bagus”, ucap pemuda tersenyum.
“Tapi prinsip jadi dokter itu simple”. sela Bapak tua itu. “Jangan ribet-ribet, contohnya jilbab kamu tuh, kamu yakin bakal seterusnya pake jilbab sebesar itu?” lanjut Bapak tua.

“Emang ada apa dengan jilbab Saya, Pak?”, tanyaku heran. “Begini anak muda, seorang dokter itu harus gesit, nah sekarang liat jilbab kamu tuh terlalu rumit, jika kamu memakai jilbab sebesar itu malah nantinya kamu bakal kewalahan”, timpal Bapak tua sambil menujuk-nunjuk jilbabku.

“Pak, Saya sudah terbiasa memakai jilbab seperti ini, Saya tidak merasa kewalahan ko saat beraktivitas, saya masih bisa mengendarakan motor, masih bisa menjemur pakaian, masih bisa kerja paruh waktu saat di Bandung. Apa Bapak baru lihat seorang dokter wanita yang memakai jilbab besar?”, tanyaku memastikan.

“Justru itu saya belum pernah lihat, karena para calon dokter yang datang kemari mengetahui prinsip” timpal Bapak tua lugas. “Baik, tapi saya mengetahui hukum Bapak, seorang wanita itu harus memakai jilbab, sudah menjadi kewajiban seorang wanita menutup auratnya”, jelasku penuh kesopanan.

“Saya tidak menyuruh kamu untuk melepas jilbab kamu, Saya hanya ingin kamu berpenampilan sewajarnya, dan tidak terlihat ribet”, ujar Bapak tua kesal.
“Tapi saya saya tidak bisa, Pak. Insya Allah saya akan tetap gesit meski harus memakai jilbab seperti ini”, jawabku meyakinkan. Setelah itu aku bersikeras jika lelaki tua itu masih tidak mengizinkanku untuk memakai jilbab seperti ini maka aku berniat untuk mengundurkan diri. Tetapi sebelum mengutarakan niatku, akhirnya pemuda yang sedari tadi terdiam memecahkan keheningan.

“Maaf pak, mempersoalkan jilbab itu sudah masuk keranah keyakinan, kita tidak bisa bersikeras mengubah prinsip seseorang, lagipula masalah pakaian itu sesuatu yang tidak bisa dipertimbangkan dalam hasil wawancara seperti ini, hemat saya kita lihat dari sisi objektif saja, kita lihat hasil tes ujian tulisannya dan pemahamannya terkait kedokteran, itu sudah cukup”, timpal pemuda berpihak kepadaku. Bapak itu hanya mengangguk dengan melirikku sinis.
^-^

Aku terbangun di sepertiga malam, senantiasa mencurahkan keluh kesahku kepada Sang Khaliq. Dilanjut dengan tilawah Qur’an dan muroja’ah. Setelah selesai, pandanganku langsung tertuju pada Ranita yang terlelap tanpa berkutik sedikitpun, tak seperti biasanya. Adzan Shubuh berkumandang dengan merdunya, aku pun langsung mengambil air wudlu.

Beberapa menit setelah aku sholat, aku mendapati Ranita yang telah terbangun entah sejak kapan dengan tatapan kosong. Astagfirullah benakku kaget.
“Nit, kamu terbangun gara-gara aku lagi ya?”, tanyaku tanpa ragu. Ranita tak menjawab, dia hanya menatapku tajam. Aku heran melihat tingkahnya.

“Udah berapa lama kamu ngejalanin itu? Sholat ngaji sholat ngaji?”. Tanyanya.
“Kenapa memangnya?”. Jawabku, Ranita turun dari kasurnya dan perlahan menghampiriku.

“kamu membiarkan aku terjerumus sendirian Rum”, keluh Ranita. “Sepertinya hidup kamu enak ya, tidak memiliki beban sedikitpun”, lanjutnya. Aku mencoba memahami ucapannya, dia mengutarakan segala masalahnya, dia ingin hijrah dan menanyakanku berbagai hal, aku pun mencoba memberinya berbagai nasihat dengan kata-kata yang mudah dimengerti. Akhirnya ia pun paham dan menerima nasihatku. ^-^

Lambat laun, aku telah menjalani hidup bersama Ranita selama 3 tahun. Aku dan Ranita sudah menjadi teman yang cukup akrab. Banyak sekali perubahan padanya, aku senang karena ia memutuskan untuk memakai jilbab dengan bertahap. Ia sudah mulai menjauhi musik pop dan sering mengikuti pengajian di rumah Pak Otong.

Aku terbangun dari tempat tidurku lalu berjalan menghampiri jendela untuk membuka gordeng, matahari pun memancarkan sinarnya. Karena tingkahku akhirnya Ranita pun mulai terbangun dari tidurnya lalu kita bersama-sama mengambil air wudlu dan sholat shubuh berjamaah. Lalu aku bersiap-siap untuk kuliah.

“Nita, aku kuliah dulu ya kalo kamu mau ngajar jangan lupa ya kuncinya simpen diatas pintu”, ucapku sambil memakai sepatu “Ok, oiya Rum, aku pulangnya agak telat ya soalnya aku mau ikut pengajian dulu di masjid Pak Otong”, ucapnya sambil merapikan bukunya.

“Boleh aja, asal pesanku yang waktu itu jangan terlupakan ya..”, ujarku sambil keluar dari kosan. Pesan yang ku sampaikan setelah shalat shubuh, bahwa ia harus bisa menjaga perasaannya dan selalu ingat dengan Allah, karena yang aku tahu saat ini Ranita sedang tertarik dengan seorang pemuda yang baru hijrah seperti dirinya, selalu sama-sama mengikuti pengajian Pak Otong. ^-^

Aku menuju kelas dengan melewati lorong gedung, sambil merasakan kejanggalan dan melamunkan perkataan ibu tua yang tak dapat kupahami. Setelah aku berada di dalam kelas yang kosong, aku duduk dan berdiam diri disana merenungi apa yang akan berlanjut setelahnya, karena aku yakin ibu itu akan terus mengganggu aku dan Ranita.

“Ekhem.. sendirian aja Rum? Kemana yang lain?”, tanya seorang lelaki hingga membuyarkan pikiranku. Aku yang spotan mengangkat wajahku tersontak melihat wajahnya yang sangat dekat.
“Astagfirllah, bisa ngga jangan terlalu dekat”, ucapku sinis.

“Nah, nah ini.. ini ni yang buat orang-orang suka ngomongin kamu.. emang kenapa sih, aku kan bukan setan aku juga orang islam, emang haram ya kalo aku sedeket ini sama kamu, jangan terlalu berlebihanlah Rum..”, ujarnya kesal.

“Cukup Bob, aku ngga mau berdebat terus sama kamu”, jawabku dengan nada tinggi. “Jangan munafik dong Rum, kamu juga pasti senengkan kalo kamu berhadapan langsung denganku, secara aku itu populer di kampus ini, jangan so jual mahal deh”, ejek Bobi.
“Terserah..”, jawabku sambil beranjak dari tempat duduk dan pergi keluar. ^-^

Aku melangkahkan kakiku yang hampir sampai di depan Asrama, aku mendapati ibu tua itu lagi yang sedang menunggu seseorang. Aku pun mulai mendekati ibu tua itu.

“Assalamu’alaikum, ada apa bu?”, tanyaku sopan. “Dasar anak munafik ya kamu.. jangan pura-pura berlaga so alim, kalo sebenernya kamu tuh punya kebiasaan buruk sama temen-temen kamu!”.

Aku yang mendengar ucapanya tersentak dan bingung. “I-ibu,, apa salah saya, sampai ibu berkata seperti itu, maaf Bu tapi ini udah kelewat batas, saya cukup sabar dengan ibu, tolong mencela saya terus Bu”. Jawabku tak kuasa menahan air mata.

“Selama ini, kamu dan temenmu itu sembunyi-sembunyi berhubungan sama laki-laki, iya kan?”, ucap ibu tua lantang.
“Ya Allah.. .”, jawabku tercengang.
“Halah, jangan bawa-bawa nama Tuhan, wanita hina sepertimu tak pantas mengucapkannya.

Pokonya sekarang juga kamu keluar dari kosan ini, atau saya panggilkan pihak berwajib.. sana pergi!!”, bentak ibu tua. Aku yang kebingungan tak dapat mengelak perkataan ibu tua itu, dan pergi meninggalkan dia dengan tertatih-tatih.

Setelah aku sampai di koridor Asrama, aku melihat teman-temanku yang sinis memperhatikanku yang membuatku tambah penasaran. Ada apa sebenarnya? Setelah aku membuka gagang pintu kamar yang setengah terbuka, aku mendapati kamarku yang berantakan dan tak beraturan.

Baju-baju yang tergeletak di bawah kasur secara awut-awutan, Al-Qur’an yang sudah tak terbentuk, dan atribut yang lainnya membuat mataku terbelalak dan tak dapat berpaling. Aku perlahan melangkah masuk keruangan itu dan melihat-lihat segalanya yang telah berubah drastis, kakiku tak mampu tuk berdiri begitu lama, akhirnya aku tersungkur di dekat kasurku yang berantakan.

“Ya Allah, ada apa ini Rum?”, tanya Bu Sekar terkejut. “Justru itu bu, aku ngga tau kenapa kamar ini bisa berantakan”, meluapkan panik yang sedari tadi terpendam.

“Yaudah, kalo gitu Rum istirahat aja dulu di rumah ibu, biar nanti Bi Asri yang membereskannya”, jawab Bu Sekar istrinya Pak Otong, sambil menuntunku keluar.

“Assalamu’alaikum..”, sahut Bu Sekar
“Wa’alaikumsalam, eh ono mbak Rum, Mi ono opo to?”, tanya Pak Otong.
“Gini ustadz, Ranita katanya ikut pengajian di rumah Ustadz, apa Ranita tadi udah kesini ?”, timpalku heran.
“Oohh.. ndak Rum, ane belom liat mbak Ranita”, garuk-garuk kepala. Aku yang mendengar penjelasan Pak Otong lalu terdiam dan melamun. ^-^

Setahun setelah peristiwa itu, aku tak pernah bertemu dengan Ranita lagi. Aku yang sudah mendapatkan gelar S1 kedokteran, akhirnya memutuskan untuk pulang ke Bandung. Aku menunggu bus kota ditemani Kang Yusuf yang seminggu lalu tiba untuk menjenguk Pak Otong dan Bu Sekar, di satu waktu Abah jatuh sakit dan meminta Kang Yusuf untuk menjemputku pulang karena khawatir.

Tiba-tiba Kang Yusuf menyodorkan sepucuk surat berhias pita merah yang Bu Sekar temukan di kamarku kala itu. Aku memungut surat itu dari tangan Kang Yusuf. Selama diperjalanan aku tak pernah ambil pusing dengan apa yang ada disekitarku, karena aku hanya memperhatikan jalanan, sambil menggenggam erat surat itu dan melamunkan bayangan Ranita.

Sesampai dirumah aku disambut hangat oleh banyak tetangga, dan mereka sangat bangga padaku karena telah menjadi seorang dokter. Beberapa hari setelah aku pulang, aku merawat Abah hingga kian pulih, setelah segalanya kian membaik aku mendapat tawaran oleh ahli kesehatan untuk magang di rumah sakit yang tak jauh dari rumahku, tanpa pikir panjang aku pun menerima tawaran itu. ^-^

Adzan dhuhur berkumandang, aku yang sedari tadi duduk di taman masjid sambil memperhatikan setiap anak-anak yang sedang asik berlari-lari kesana dan kemari dengan didampingi oleh para suster. Setelah shalat dan berdzikir, aku dengan spotan memasukan tangannku ke jas yang sedang aku kenakan, aku pun tercengang dan menarik suatu benda didalamnya, ternyata aku mendapati sepucuk surat berhias pita merah yang belum kubuka setelah berpisah dengan Kang Yusuf.

Mungkin inilah saat yang tepat untuk membuka surat itu, dengan perlahan aku menarik pita merah tersebut dan mulai membuka surat tersebut, pandanganku pun langsung tertuju pada tulisan tersebut. Saatku mulai membacanya dengan perlahan.

“Dokter, dokter tolong dok, anak saya kambuh lagi”, ucapnya panik. Aku pun langsung mengikuti langkah ibu tua itu sambil melipat asal surat yang belum sempat kubaca dan memasukinya kedalam saku. Aku pun menangani seorang anak yang kondisinya kejang-kejang dan memberinya obat penenang.

Aku pun menoleh ke ibu tua itu dan ketika melihat raut wajahnya ku merasa ibu tua itu tak asing lagi di mataku, ibu tua itu pun menatapku lama sekali seperti ingin berkata banyak hal.
“I-ibu?”, tanyaku heran. “ibu yang waktu itu kan?”, lanjutku.

“Ya ampun, kau ini anak yang diasrama itu kan, nak maafkan ibu maafkan ibu”, jawabnya berderai air mata. “Tidak perlu bu, ibu sebenarnya apa yang terjadi?”, tanyaku penasaran. “Temanmu itu, jauhi dia nak, dia bukan wanita yang baik, dia suka keluyuran malem-malem, saya tak tahan melihat tingkahnya”.

“Ya Allah, tapi dia sudah berbubah bu, dia menggunakan jilbab sekarang, dan sering ke pengajian sama saya bu”. “Tidak nak, kebiasaannya masih..”, ujar ibu tua terpotong. Sebelum menyelesaikan ucapannya ia di perintahkan suster untuk mengurus administrasi rumah sakit.

Aku masih heran dengan ucapanya yang tak bisa kupahami. Hingga akhirnya aku langsung teringat pada sepucuk surat tersebut, yang mungkin saja itulah jawaban dari setiap penasaranku. Aku merogoh surat itu dan membuka kasar kertas itu.

“Assalamu’alaikum Ukhti, Rumaisah Milhan. Maafkan saya karena harus melalui surat ini, sungguh saya tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya kepada Ukhti. Ukhti yang sangat saya cintai dan saya banggakan, engkau yang selalu mengingatkanku dikala hati ini ternoda. Saya sangat malu, sangat malu.. harus mengatakan ini secara langsung menghadap wajah Ukhti yang begitu rupawan, dan harus menghadap langsung kepada Ukhti yang berakhlaq sholihah.

Maafkan saya karena harus meninggalkan Ukhti, tetapi menurutku inilah yang terbaik, dibanding engkau harus terus-menerus berdekatan dengan wanita hina ini. Iya, wanita hina ini, iya Ukhti.. saya melakukannya..saya melakukannya.. betapa kejinya saya ini Ukhti.. engkau selalu menasihati saya, tapi bodohnya saya yang tak pernah mendengar perkataanmu, maafkan saya Ukhti.. maafkan saya.

Lelaki itu, lelaki itu bukanlah lelaki yang baik Ukhti.. dia mengambil kesucianku, dia mengambilnya.. pasti berat rasanya untuk mengetahui kebenaran ini.. apalagi saya Ukhti, saya seperti sedang menaburkan kotoran pada diri saya..
Ukhti, saya tidak akan pernah melupakan janji persahabatan kita, kuharap Ukthi pun demikian. Semoga Allah mempertemukan kita lagi, jika tidak di dunia ku harap kita masih bisa bertemu di akhiratNya kelak”.

Setelah membaca surat mengecewakan itu, kakiku tak kuasa untuk berdiri, aku pun tersungkur ke lantai dan tertunduk. Mengapa ini bisa terjadi pada diriku, mengapa ini terjadi kepada Ranita, wanita yang bersemangat untuk hijrah, hatiku terasa tergores serpihan kayu.

Aku mulai tersadar bahwa hijrah dalam kebaikan pun tidak cukup, karena syetan akan selalu menggoda manusia dengan muslihatnya, keimanan akan terus bertambah disaat hati kian terjaga dan tetap Istiqomah dalam kebaikan karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *