Tuesday, December 1, 2020

Responsibilitas Bani Israil terhadap Dakwah Para Nabi

Must Read

Mengenal Sosok Al-Imam Al-Zarkasyii (745 – 794)

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar, Lc. Abad VIII, adalah abad yang sangat menyeramkan untuk diceritakan. Pada abad ini, cobaan banyak...

Perang Salib dan Pengaruhnya terhadap Peradaban Barat

Oleh: Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua...

Mengenal Sosok Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf Oleh : Anton H. Sultonan A. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah...

5
(2)

Oleh: Ainun Firdaus Rabbani

Pendahuluan

Setiap umat beragama memiliki batas waktu tertentu untuk terus eksis di muka bumi. Berangkat dari usia bahasa dan bangsa mereka, dalam menurunkan tradisi nenek moyang, hingga lenyap binasa dimakan waktu.

Kebinasaan umat terdahulu disinyalir karena penolakannya terhadap ajaran para nabi yang Allah utus. Mungkin dalam membangun kejayaan dan adidaya, mereka mampu untuk membumikan nama mereka di kancah peradaban. Tapi justru persoalan akidad dan akhlak yang menyebabkan Allah utus para nabi dengan maksud supaya umat tersebut berlaku baik serta kembali untuk hanya menyembah Allah semata. Hal ini yang mempertegas akan usia umat terdahulu begitu variatif dan tidak berlangsung lama.

Diantara umat yang dipotret oleh Allah dan disimpan dalam lembaran-lembaran Alqur’an dalah kaum Bani Israil. Banyak para nabi yang turun kepada mereka, juga hal ini menjadi dalil bahwa umat tersebut sangat bandel untuk tidak ingin diatur oleh sang Maha Pelindung. Bahkan kisah bani Israil menjadi top trending dan topik utama dalam konteks pembangunan perdaban serta kesejahteraan umat.

Allah menegaskan setiap kali para nabi datang kepada mereka, selalu saja mendustakan bahkan mengultimatum menjadi jawaban atas dakwah para nabi. Allah berfirman[1] :

أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

“Apakah setiap kali datang kepada kalian (Bani Israil) dengan membawa (sesuatu) yang tidak kami inginkan, lantas kalian menjadi sombong. Sebagian dari kalian mendustkannya dan sebagian yang lain membunuhnya?”

Sudah barang tentu bila tugas dakwah menyimpan konsekuensi yang sangat besar, ialah nyawa taruhannya. Padahal tidak pernah sedikit pun terkait kedatangan para nabi selain membawa berita gembira bagi yang beriman dan ancaman kepada yang menolaknya. Akhirnya potret perilaku Bani Israil diabadikan dalam Alqur’an supaya menjadi pelajaran untuk umat setelahnya.

Di setiap tugas para nabi, disertai pula kitab atau panduan dalam menghadapi kaumnya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah[2] :

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

“Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi sebagai pembawa berita gembira dan pemberi ancaman. Juga diberikan kepada kitab dengan benar supaya berhukum dengannya atas persoalan yang diperselisihkan oleh manusia”

Maka dalam hal, penulis mencoba menyingkap tabir yang termaktub dalam potongan ayat Q.S. 2 : 61 dan Q.S. 3 : 21. Atas apa yang terjadi saat proses dakwah para nabi kepada bangsa Bani Israil. Dengan merentet beberapa riwayat dalam kitab-kitab tafsir, menjelaskan apa keterkaitannya atau bagaimana responbilitas bani Israil atas dakwah para nabi yang bahkan dintaranya sampai dibunuh.

Dakwah Musa dan Harun

Sebenarnya “istilah Bani Israil” sendiri diambil dari julukan kepada seorang nabi yaitu nabi Yakub dengan sebutan Israil. Maka anak dan turunya dinamakan bani Israil (keturunan nabi Yakub). Dalam catatan sejarah, kehidupan nabi Israil begitu sangat sederhana. Sehingga belum muncul persoalan besar dari keturunannya.

Diantara anak nabi Yakub ada seorang nabi yang mewarisi kenabiannya yaitu nabi Yusuf, yang mana singkat kisah akibat dari perbuatan saudara-saudaranya yang mendorong Yusuf kecil ke sebuah sumur. Nabi Yakub dan sekeluarga tinggal di Mesir.

Sejak fase kenabian Yusuf yang saat itu beroprasi sebagai bendahara negara, kehiudpan masyarkat Mesi begitu damai juga disanalah berkembangnya cikal bakal keturunan Bani Israil. Tepatnya saat-saat lahirnya kenabian Musa ‘alaihi salam.

Bangsa Mesir terbagi menjadi dua kutub , bani Qibthi dan bani Israil. Namun, sikap pemimpin saat itu, Fir’aun, tidak mengindahkan keadaan bahkan ada rasa kehawatiran akan dilengserkannya dari tahtanya. Maka setiap anak laki-laki akan disembelih hidup-hidup sebagai bentuk reaksi atas kehawatirannya.

Lalu Allah mewahyukan kepada Musa ‘alaihi salam  untuk membawa kaumnya Bani Israil menyebrang laut keluar dari Mesir serta menyelamatkan diri dari Fir’aun dan bala tentaranya.

Setalah sampai melewati laut, maka mulailah Musa ‘alaihi salam secara signifikan mendapat arahan langsung dari Allah untuk menerima sebuah hukum-hukum Allah yang dengannya Musa bisa menyelesaikan perkara-perkara manusia. Bahkan dijelaskan pula bagiamana proses dialog Musa dengan Allah di sebuah gunung :

فَقَالَ: مِنْ أَيْنَ تَنْزِعُ رُوحِي؟ أَمِنْ فَمِي وَقَدْ نَاجَيْتُ بِهِ رَبِّي! أَمْ مِنْ سَمْعِي وَقَدْ سَمِعْتُ بِهِ كَلَامَ رَبِّي! أَمْ مِنْ يَدِي وَقَدْ قَبَضْتُ مِنْهُ «3» الْأَلْوَاحَ! أَمْ مِنْ قَدَمِي وَقَدْ قُمْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ أُكَلِّمُهُ بِالطُّورِ! أَمْ مِنْ عَيْنِي وَقَدْ أَشْرَقَ وَجْهِي لِنُورِهِ.

Ketika (Musa) bertanya : “darimana Engkau mencabut ruhku?. Apakah dari mulutkan dan sungguh aku telah selamat (dari perbuatan dosa), atau dari pendengaranku dan sungguh aku telah mendengar kalam Rabbku. Atau dari tanganku dan sungguh aku telah memegang lembaran (papan) firman-Mu. Atau dari kakiku dan sungguh aku berdiri dintara pembicaraanku di Gunung Thur. Atau dari mataku dan sungguh wajahku bersinarnya karena cahaya-Nya.”. [3]

Namun tatkala nabi Musa kembali kepada kaumnya, bani Israil mulai melakukan kekufuran dengan menyembah patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri. Bahkan sampai memarahi sadaranya nabi Harun yang saat itu tidak berkuasa atas kaumnya melibihi nabi Musa.[4]

Masa Fatrah setelah Kenabian Musa

Imam Ibn katsir[5] menjelaskan bahwa ada masa peralihan tampuk kepemimpinan Bani Israil dari nabi Musa kepada nabi setelahnya. Hal ini disebutkan dalam Alqur’an[6] :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

“Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, ‘angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah. Nabi mereka menjawab : ‘apakah kalian berpaling jika telah ditetapkan berperang kepada kalian?’. Mereka menjawab : ‘bagaimana mungkin kami berpaling sedang kami telah terusir dari kampung halamn kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami’. Maka ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba mereka berpaling, kecuali sedikit dari mereka (yang berperang). Dan Allah Maha Mengetahui terhadap orang-orang dzolim”.

Bahwa ada masa fatroh yang sedang terjadi saat itu, dimana kondisi Bani kian hari tidak jelas kependudukan mereka. pasalnya mereka ada kaum yang terusir dari negerinya. Masa fatroh tersebut terjadi pada zaman permulaan kenabian Dawud ‘alaihi salam. Maka mereka meminta fatwa kepada sesosok nabi untuk menuntaskan persoalan besar mereka yakni mendiami suatu negeri. Saat itu memang sangat dibutuhkan sosok pemimpin yang cakap dan cerdik dalam ilmu berperang.

Nabi yang dimaksud dalam ayat di atas menurut para Ulama terbagi menjadi beberapa keterangan. Ada yang menyebut nabi di atas bernama Yusya bin Nun. Ada juga yang berpendapat bernama Ibn Afrotsim bin Yusuf bin Yakub. Ada juga yang berpendapat nabi di atas bernama Syam’un. Ada juga yang berpendapat bernama Syamwil ‘alaihi salam.  Ada juga yang berpendapat Syawil bin Bali bin ‘Arqomah bin Yarkhom bin Ilihu bin Tahwa bin Shouf bin ‘Alqomah bin Mahits bin ‘Amrosho bin Izriya bin Shufnaih bin ‘Alqomah bin Abi Yasif bin Qorun bin Yashar bin Qohats bin Lawi bin Yakub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihi salam[7].

Maka dalam penuturan selanjutnya, sebagaimana dijelaskan pada ayat setelahnya, sosok yang dilantik oleh Allah melalui sabda nabi mereka adalah Tholut. Dan dia menjadi raja pertama bagi Israil setelah pasukannya mampu mengalahkan pasukan Jalut yang dalam hal ini adalah sosok Dawud muda alaihi salam.

Lalu seberes kepemimpinan Tholut, beralih ke Dawud alaihi salam. lalu setelahnya beralih kepada anaknya Dawud, yakni Sulaiman alaihi salam.  dan inilah masa-masa keemasan bagi Bani Israil yang setelah sekian lama merasakan kepedihan dan asa hidup, mereka baru merasakan dan menikmati kesejahteraan hidup di masa kepemimpinan Sulaiman alaihi salam.

Huru-hara Bani Israil

Imam Asy-Sya’rowi[8] turut serta menjelaskan keadaan Bani Israil selepas wafatnya Sulaiman alaihi salam. pada masa ini menjadi pembuka huru-hara bagi Bani Israil karena sikap dan perlakuan mereka terhadap nabi-nabi mereka. sebenarnya, sikap buruk atas dakwah nabi-nabi mereka sudah membibit sejak kepemimpinan Musa, tatkala ia tengah menerima wahyu, lantas Bani Israil malam melakukan penyembahan terhadap patung anak sapi. Namun kesan saat zaman nabi Musa, Bani Israil masih ada keseganan dan ketakuan akan ucapan para rasul mereka yang mereka yakini pasti akan terijabah.

Sebagaimana djielaskan dalam muqoddimah, bahwa setiap kali datang kepada Bani Israil seorang nabi atau Rasul, sikap mereka menjadi angkuh, sombong, mencela, melaknat bahkan mengancam membunuhnya. dalam memang pada saat itu Bani Israil sudah terpecah dan hancur martabat mereka oleh sikap mereka sendiri yang merasa angkuh. Termasuk sikap ingkar janji adalah sifat yang melekat pada jati diri Bani Israil. Sikap ketidaksopanan mereka secara kontras dan gamblang tampilkan di depan para nabi mereka. oleh karenanyalah Allah abadikan sikap mereka hampir dalam setiap untaian ayat Alqur’an.

Allah ta’ala berfirman[9] :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi dengan cara yang tidak benar dan juga membunuh orang-orang yang menyeru kepada keadilan diantara manusia. Maka berilah mereka kambar gembira dengan adzab yang sangat pedih”

Para Ulama menjelaskan konteks dari ayat di atas[10], bahwa pernah ada seorang nabi dari Kalangan Bani Israil. diberikan wahyu oleh Allah namun dia tidak diberikan sebuah kitab (baca : layaknya Musa diberi Taurat). Maka dia mulai berdakwah kepada kaumnya. Maka kaumnya justru membunuhnya. lalu setelah itu, hadir juga para pengikut dari nabi yang telah dibunuh tadi. Lantas mereka meneruskan dakwah guru mereka, dan akhirnya mereka pun dibunuh oleh Bani Israil

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun ikut memberi komentar dan penafsiran atas ayat di atas sebagai berikut[11] :

بِئْسَ الْقَوْمُ قَوْمٌ يَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ، بِئْسَ الْقَوْمُ قَوْمٌ لَا يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ، بِئْسَ الْقَوْمُ قَوْمٌ يَمْشِي الْمُؤْمِنُ بَيْنَهُمْ بِالتَّقِيَّةِ

“Seburuk-buruknya suatu kaum adalah mereka yang membunuh orang-orang yang menyuruh berbuat adil diantara manusia, seburuk-buruk suatu kaum adalah mereka yang tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak melarang terhadap yang munkar. Dan seburuk-buruk kaum adalah seorang mukmin yang berjalan dengan sembunyi-sembunyi”.

Bahkan diantaranya, Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam  memberika pelajaran dan gambaran kepada para sahabatnya terkait dosa besar. Sebagaiman yang dijelaskan dalam hadits nabi :

عن أبي عبيدة بن الجراح قال: «قلت يا رسول الله: أىّ الناس أشد عذابا يوم القيامة؟ قال: رجل قتل نبيا أو رجل أمر بمنكر ونهى عن معروف، ثم قرأ الآية،

“Dari Abi ‘Ubaidah bin Al-Jrrah ia berkata : ‘wahai Rasulullah, adzab apa yang paling keras kelak di hari kiamat?.’ Maka beliau menjawab : ‘sesorang yang membnuh seorang nabi atau seseoarang yang mneyuruh berbuat munkar dan melarang berbuat kebaikan. Maka beliau membaca ayat”[12]

Ini mengindikasikan bahwa bahwa saking bejatnya akhlak Bani Israil, mereka berani membunuh utusa Allah azza wa jalla. Tentu hal ini ditenggarai bahwa sikap para nabi yang datang berdakwah kepada Bani Israil yaitu berusaha menyingkap tabir kebohongan mereka atas aturan atau hukum Allah. Oleh karenanya mereka dibunuh.[13]

Tetapi hal unik nya adalah bahwa mereka (para nabi) yang dibunuh oleh Bani Israil adalah mereka yang tidak berkapasitas sebagai Rasul. Yakni diidentikan datang dengan membawa manhaj  baru. Sehingga kehadirannya membuat para pemuka kafilah di tiap keturunan meresa tergeserkan. Maka pembunuhan menajdi langkah yang diambil oleh Bani Israil untuk menghentikan dakwah para nabi.[14]

Sedangkan para Rasul yang datang kepada mereka, seperti Musa, Dawud dan yang lainnya, mereka terma’shum dari segala kejahatan manusia.[15] Inilah yang dimaksud bahwa para nabi dibunuh dengan cara yang tidak haq adalah mereka yang beroprasi sebagai nabi, bukan sebagai Rasul. Karena seorang Rasul langsung mendapat pengawasan dan perlindungan dari Allah. Sebagaiman firman-Nya :

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلنَا

“Sesungguhnya Kami pasti akan melindungi para utusan Kami”[16]

Jadi dalam dalil naqlinya adalah memang betul Allah senantiasa menjaga hambanya yang selalu menegakan kalimatullah[17]. Namun jika terjadi kekerasan kepada para pelaku dakwah bahkan meninggal, hal ini bukan berarti Allah membiarkan atau menelantarkan hamba-Nya begitu saja.[18]

Sebagaimana yang termaktub dalam Alqur’an :

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

“dan janganlah kalian berkata bahwa mereka yang terbunuh di jalan Allah mereka betul-betul mati bahkan sesungguhnya mereka hiudp. Namun kalian tidak menyadari”[19]

Ayat di atas sudah sangat jelas bahwa ini menjadi dalil terkait siapa pun yang menolong agama Allah, lantas Allah akan medlindunginya. Bahkan dengan terbunuh pun di jalan Allah, hal itu sudah termasuk cara Allah menyelamatkan hamba-Nya. Jadi konteks para nabi yang sudah jelas-jelas menegakan risalah justru malah mendapat ancaman pembunuhan. Bukan Allah membiarkan mereka, melainkan karena Allah sayang mereka. bahkan mereka diberikan keluasan ilmu dan hikmah sehingga memiliki karomah  diantara manusia lainnya.

Makna “Membunuh Para Nabi”

Al-Hasan menjelaskan makna “makna membunuh para nabi” adalah pengunaan wazan قَتَلَ yang berarti membunuh menunjukan kepada suatu bilangan perbuatan yanng dilakukan sekali saja. Berbeda jika penggunaannya menggunakan wazan قَتَّلَ, maka akan bermakna berbilang atau pembunuhan dilakukan secara berskala atau beebrapa kali.[20]

Bahkan sahabat Ali bin Abi Thalib pun pernah membacanya dengan mentasydidkan lafazh قَتَلَ. Sebgai bentuk insyarat yang menunjukan kepada sebab berulang-ulangnya perbuatan maksiat Bani Israil dan menyalahi batas-batas hukum Allah dalam segala hal.[21]

Ada juga sebagian para Ulama yang membacanya dengan menambahkan alif sehingga menjadi وَيُقَاتِلُونَ النَّبِيِّينَ (memerangi para nabi). Namun yang masyhur digunakan adalah وَيَقْتُلُونَ. [22]

Dan ada pula sebagian Ulama yang berpendapat makna dhomir jama’ yang terkandung di dalam lafazh يقتلون menunjukan bukan hanya para pelakunya yang banyak, meliankan kepada banyak perbuatan (membunuh) tersebut dilakukan.[23]

Jumlah Para Nabi yang Dibunuh

Dalam Hal ini para Ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan jumlah para nabi yang dibunuh. Diantaranya sebagai berikut :

  1. Pendapat yang mengatakan, yang dibunuh sampai 43 nabi[24] :

رَوَى أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (قَتَلَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ ثَلَاثَةً وَأَرْبَعِينَ نَبِيًّا مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ فِي سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ

  1. Pendapat yang mengatakan, yang dibunuh sampai 70 nabi[25] :

وعن عبد الله: إن بني إسرائيل كانت تقتل في اليوم سبعين نبياً، ثم تقوم سوق بقلهم في آخر النهار.

  1. Pendapat yang mengatakan, yang dibunuh sampai 300 nabi[26] :

عَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ فِي الْيَوْمِ تقتل ثلاثمائة نَبِيٍّ ثُمَّ تَقُومُ بَقْلِهِمْ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ

Sebab-sebab Para Nabi Dibunuh

Dalam hal ini para Ulama berbeda pendapat terkait sebab para nabi dibunuh, diantaranya pertama[27] ada yang berpendapat bahwa pernah hidup seorang nabi dari kalangan Bani Israil. tetapi dia sendiri hanya diberikan wahyu tanpa diberikan kitab. Lantas ia mengingatkan (berdakwah kepada) kaumnya. Lalu kaumnya justru membunuhnya. setelah terjadi dibunuh, para pengikur setia nabi tersebut melanjutkan dakwah guru mereka[28], dan lantas mereka pun ikut terbunuh. Semua para du’at itu terbunuh di waktu yang sama yakni di waktu dhuha. Hal inilah yang dijelaskan dalam Alqur’an[29] :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi dengan cara yang tidak benar dan juga membunuh orang-orang yang menyuruh kepada keadilan diantara manusia. Maka berikanlah mereka kambar gembira akan adzab yang sangat pedih”.

Kedua, ada juga yang berpendapat bahwa pernah terjadi musim paceklik pada satu masa di zaman satu kepemimpinan Bani Israil. lalu sang Raja murka kepada langit bahkan sampai mencaci karena tidak lagi menurunkan hujan.  Bahkan sang Raja ingin membuat langit tersiksa. Maka para bawahannya berkata : “bagaimana caranya engkau menyakitinya, sedang dia ada di langit?”. Sang raja menjawab : “bunuh saja para hambanya (baca: para nabi) yang hidup di bumi, niscaya dia (langit) akan tersakiti”. Setelah itu Allah mengirimkan langit (baca: hujan) kepada mereka.[30]

Ketiga, ada juga yang berpendapat bahwa dulu saat zaman kenabian yahya ‘alaihi salam. ia pernah mendawamkan dakwahnya kepada Bani Israil. dan diantara dakwahnya adalah haramnya menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki. Saat itu memang ada seorang raja yang memiliki saudara perempuan dari saudara laki-lakinya. Ia sangat menyukainya hingga ingin menikahinya. Maka ibu dari anak perempuan tersebut berkata kepada anaknya : “jika kamu ditanya oleh raja apa keinginanmu, maka katakanlah bunuhlah yahya.” Maka sang raja pun suatu saat bertanya kepada anak perempuan tersebut. Lalu dijawablah sebagaimana instruksi ibunya. Maka sang raja bertanya kembali, “mintalah sesuatu selain ini”. Anak perempuan tersebut tidak mau menggubris permintaan yang lain. Akhirnya raja mengabulkan perminataanya dan menyuruh bawahannya untuk membunuh dengan cara menyembelih yahya ‘alaihi salam.[31]

Para Ulama menjelaskan siapa para nabi yang dibunuh, diantaranya nabi Zakaria, nabi Yahya, nabi Sa’ya, nabi Irmiya, nabi Hazkial dan nabi Isa ‘alaihimus salam.[32] dan juga para Ulama menyertakan keterangan terkait kalimat بغير حق dan بغير الحق yakni jika yang dibunuh merupakan para nabi-nabi yang masyhur maka digunakan alif lam ma’rifah pada lafazh Haq.[33]

Makna Bi Ghoiril Haq

Jika difahami bahwa membunuh para nabi dengan cara yang tidak haq dilarang, maka akan berakibat fatal jika digahami seperti ini. Bahwa boleh nya membunuh para nabi dengan cara yang hak.

Hal ini tidak dibenarkan oleh syariat dan aqidah Islam. Justru para ulama mengomentari bahwa makna dibalik Bi Ghoiril Haq sebagai bentuk celaan kepada mereka yang telah membunuh para nabi[34]. Ada juga yang berpendapat maknanya adlah bahwa para nabi tidak sediit pun melakukan tindakan kriminal yang menyebabkan harus dibunuh, justru mereka menyeru kepada keadilan dan kebenaran.[35] Ada juga yang berpendapat hal ini menunjukan kepada ketidakjelasan status hukum atau kesamaran hukum yang tiba-tiba mereka dibunuh begitu saja.[36]

Dan ada juga yang berpendapat maknanya adalah menunjukan kepada sifat yang melekat dengan kata membunuh. Karena di dalamnya mengandung dua unsur antara kebenaran dan kesalahan. Seperti hal nya perintah Allah kepada para nabi supaya menguhukum perkara manusia dengan benar. Hal ini berarti bisa saja terjadi proses penghukuman yang salah sehingga melahirkan akibat yang fatal.[37]

Daftar Pustaka

Al-‘Akbari, A.-B. b. (n.d.). At-Tibyan fi ‘Irob Al-Qur’an. ‘Isa al-Bab al-Halabi wa Syarikah.

Al-Baghowi, A. b. (1997). Ma’alimul Tanzil fi Tafsiril Qur’an – Tafsir Al-Baghowi. Dar Thoyyibah lin Nasyr wat Tauzi’.

Al-Baidhowi, N. b.-S. (n.d.). Anwaru At-Tanzil wa Asroru At-Ta’wil. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi.

Al-Husaini Al-Qinnauji Al-Bukhori, A. b. (1992). Fathul Bayan fi Maqoshid Al-Qur’an. Beirut: Maktabah Al-‘Ashriyyah lit Thoba’ah wan Nasyr.

Al-Kholuti , I. b.-I. (n.d.). Ruhul Bayan. Beirut: Dar Al-Fikr.

Al-Mahalli, J. b., & As-Suyuti, J. b. (n.d.). Tafsir Al-Jalalin. Kairo: Dar Al-Hadits.

Al-Maraghi, A. b. (1964). Tafsir Al-Maraghi. Mesir: Syarikah Maktabah wa Matba’ah Mushtafa al-Bab Al-Halabi.

Al-Maturidi, ’. A. (2005). Tafsir Al-Maturidi, Ta’wilat Ahli Sunnah. Beirut : Libanon: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

Al-Qoysi, A. b. (2008). Al-Hidayah ila Bulugh An-Nihayah fi ‘Ilmi Ma’ani al-Qur’an. Majmu’ah Buhuts Al-Kitab wa As-Sunnah.

Al-Qurtubi, A. b.-A. (1964). Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an Tafsir Al-Qurtubi. Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah.

An-Nasafi, A.-B. b. (1998). Tafsir An-Nasafi Madarik At-Tanzil wa Haqoiq At-Ta’wil. Beirut: Dar Al-Kalim Al-Thoyyib.

‘Arafah, M. (1986). Tafsir Al-Imam Ibn ‘Arafah. Tunisia: Marzkaz Al-Buhuts Az-Zaituniyyah.

Ash-Shobuni, M. A. (1997). Shofwatu Tafasir. Kairo: DAr Ash-Shobuni lit Thoba’ah wan Naysr.

As-Sam’ani, M. b. (19997). Tafsir As-Sam’ani. Riyadh: Dar Al-Wathon.

As-Samin Al-Halabi, A. A. (n.d.). Ad-Dur Al-MAshun fi ‘Ulum Al-Kitab Al-Maknun. Damaskus: Dar Al-Qolam.

As-Suyuti, A. J. (n.d.). Ad-Dur Al-Mantsur. Beirut: Dar Al-Fikr.

Asy-Sya’rowi, M. M. (1997). Tafsir Asy-Sya’rowi.

Az-Zamakhsyari, A. b. (n.d.). Al-Kasysyaf ‘an Haqoiq Ghowamidh  At-Tanzil. Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Arobi.

Ibn Abbas, A. (n.d.). Tanwirul Miqbas min Tafsir Ibn Abbas. Libanon: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

Ibn Abi Hatim, A. b.-R. (n.d.). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim libni Abi Hatim. Mamlukah ‘Arabiyyah Su’udiyyah: Maktabah Nazar Mushtafa al-Baz.

Ibn Asyur At-Tunisi, M. b. (1984). At-Tahrir wa At-Tanwil Tahrirul Ma’na Sadid wa Tanwilul Aql Jadid. Tunisia: Dar At-Tunisia lin Nasyr.

Ibn Katsir, A. b. (1999). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Dar Thoyyib li An-Nasyr wa At-Tauzi’.

 

[1] Q.S. Al-Baqarah : 87

[2] Q.S Al-Baqarah : 213

[3] Al-Qurtubi, Hlm 287, juz 7

[4] Q.S. Al-‘Araf : 150

[5] Ibn Katsir, juz 1, Hlm. 665

[6] Q.S Al-Baqarah : 246

[7] Ibn Katsir, juz 1, Hlm. 665

[8] Tafsir Sya’rowi, juz 1 Hlm 368, lihat juga Tafsir Maturidi, juz 1, Hlm 483

[9] Q.S. Ali ‘Imran : 21

[10] Al Baghowi, Hlm 20, juz 2, lihat juga Al-Qurtubi, Hlm 46, juz 4

[11] Al-Qurtubi, Hlm 46, juz 4.

[12] Tafsir Al-Maraghi Hlm. 122, juz 3

[13] Tafsir Sya’rowi, juz 1 Hlm 368

[14] Tafsir Maturidi, juz 1, Hlm 483

[15] Tafsir Sya’rowi, juz 1 Hlm 368

[16] Q.S. Ghafir : 51

[17] Q.S. Muhammad : 7

[18] Ruhul Bayan, juz 1, Hlm. 151

[19] Q.S. Al-Baqarah : 154

[20] Durul Manshur, hal 94, juz 3

[21] Al-Kasysyaf, juz 1, Hlm 146

[22] At-Tibyan fi ‘Irobil Qur’an, juz 1, Hlm. 249.  Lihat juga Tafsir An-Nasafi, juz 1, Hlm. 244. Lihat juga Durur Mashun, juz 3, Hlm. 94

[23] Tafsir Ibn ‘Arafah, juz 1, Hlm. 308

[24] Al-Qurtubi, Hlm 46, juz 4. Lihat juga Musnad Al-Bazzar no. 1285, juz 4, Hlm 109

[25] Al-Hidayah ila Bulughil Nihayah, juz 2, Hlm. 982

[26] Tafsir Ibn Abi Hatim, juz 1,  no. 632, Hal 126. lihat juga Tafsir Ibn Katsir, juz 1, Hlm 283.

[27] Al Baghowi, Hlm 20, juz 2, lihat juga Al-Qurtubi, Hlm 46, juz 4.

[28] Jumlah mereka sebanyak 112 orang. (Lihat Al-Qurtubi, Hlm 46, juz 4. Lihat juga Musnad Al-Bazzar no. 1285, juz 4, Hlm 109)

[29] Q.S. Ali ‘Imran : 21

[30] Durur Manshur, Hlm 169, juz 2

[31] Durur Manshur, Hlm 169, juz 2

[32] Tahrir wa Tanwir, Hlm 206, juz 3, dan juz 1, Hlm 530. Lihat juga Tafsir Baidhowi, juz 1, Hlm. 84, lihat juga Tafsir Jalalain, Hlm. 13. Lihat juga Fathul Bayan, juz 1, Hlm. 184. Lihat juga Tafsir Al-Maraghi, juz 1, Hlm. 132

[33] Durul Mashun, hal 94, juz 3

[34] Fathul Bayan, 208, juz 2. Lihat juga Shafwatu Tafasir, juz 1, Hlm 55

[35] Ibn ‘Abbas, Hlm 44

[36] Al Maraghi Hlm. 122, juz 3

[37] Tafsir As-Sam’ani, juz 1, Hlm 87

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Zaawiyatul ‘Arabiyyah

لِمَاذَا نُزِّلَ القُرْآنُ بِلُغَةِ قريشٍ؟ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ مِنْ عُمْرِهِ أَرْسَلَ اللهُ إِلَيْهِ رِسَالَةً...

Muslim Harus Progres

Oleh : Muhammad Ghifari “Why was is that they were able to make progress while we became so backward? Why is that we , who...

Bagaimana Islam Tanpa Madzhab

Oleh: Dewan Buhûts Islâmiyyah Association For Reseach And Islamic Studies Iftitâh Islam sebagai agama yang syâmil dan mutakâmil mempunyai pegangan dan pedoman (al-Qur’an dan as-Sunah) yang...

Perang Salib dan Pengaruhnya terhadap Peradaban Barat

Oleh: Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua abad perang ini selalu menarik...

Mengenal Sosok Al-Imam Al-Zarkasyii (745 – 794)

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar, Lc. Abad VIII, adalah abad yang sangat menyeramkan untuk diceritakan. Pada abad ini, cobaan banyak menimpa umat Islam, dari langit...

More Articles Like This