Saturday, April 17, 2021

Rihlah Makam Auliya; Rekam Jejak Para Pejuang Ilmu Agama

Must Read

Mengenal Sosok Al-Imam Al-Zarkasyii (745 – 794)

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar, Lc. Abad VIII, adalah abad yang sangat menyeramkan untuk diceritakan. Pada abad ini, cobaan banyak...

Kebangkitan Islam (الصحوة الإسلامية)

Oleh: Ayif Saifuddin Tidak dipungkiri bahwa umat Islam sekarang sedang berada di persimpangan jalan, hidup dalam ketersesatan, yang belum pernah...

Melacak Akar Pemikiran Mu’tazilah

Oleh: Divisi Aliran Keagamaan (ALIGA) Dewan Buhûts Islâmiyyah FOSPI Mukadimah Makalah yang kami presetasikan sekarang ini, hanyalah usaha kecil dan ala...

5
(4)

Kairo, (27/11) — Setelah Musyawarah Kerja (Musyker) selesai dilaksanakan, program Rihlah Makam Auliya pun tuntas terealisasi. Pada Kamis, (19/11/2020) lalu, sedikitnya ada 18 anggota dan simpatisan Perwakilan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir mengikuti salah satu program milik Bidang Garapan (Bidgar) Kaderisasi itu.

Menurut Farhan al-Sauri selaku koordinator Bidgar Kaderisasi, program tersebut resmi ketuk palu pada Musyker yang mereka gelar satu minggu sebelumnya. Kemudian dipantik semangat dan cetusan ide dari angkatan M. Natsir, mahasiswa kedatangan tahun 2019, maka Rihlah Makam Auliya itu pun terlaksana.

Makam Jalaluddin as-Suyuti menjadi destinasi rihlah yang pertama. Dengan dipandu oleh Muhammad Riansyah, para peserta tampak khidmat dalam tuntunan doa dan materi seputar ziarah kubur. Tidak terlepas dari background Universitas Al-Azhar Kairo yang sarat dengan balutan moderasi, Riansyah menyampaikan bahwa hukum ziarah kubur itu mustahab, yaitu berpahala jika dikerjakan, dan tak ada siksa jika ditinggalkan.

Beranjak dari tempat tersebut, peserta bertolak menuju makam Waki’ bin Jarrah. Makam dari salah satu gurunya al-Syafii itu terletak di jalan al-Atress, kompleks Pemakaman Kairo Lama,  sekitar 20 menit dari makam Jalaluddin al-Suyuti. Tampak sederhana, makam Waki’ bin Jarrah itu di dalamnya tersemat petikan syair al-Syafii yang dinilai fenomenal, yaitu nasihat al-Waki’ untuk meninggalkan maksiat atas keluhan al-Syafii dari menurunnya kualitas hafalannya.

Masih dalam lingkup kompleks pemakaman yang sama, para peserta berjalan kaki menuju makam al-Syafii. Karena masih dalam tahap perbaikan dan renovasi, makam tersebut hanya bisa dikunjungi sampai pagar halamannya saja. Di situ, para peserta kembali mendengarkan materi dan beberapa info seputar hikayat hidup dan fatwa imam ketiga dari empat imam mazhab terbesar dunia itu.

Mengutip nasihat sang Imam, Riansyah mengatakan, “Dalam menyebarkan Islam, jangan mendebat kembali orang yang mendebat kita. Karena dalam pendapat benar yang kita kemukakan, ada potensi salah di dalamnya. Pun dalam pendapat salah yang orang lain kemukakan, ada potensi benar di dalamnya.”

Di antara makam-makam yang usai mereka kunjungi, makam al-Syafii disinyalir memiliki ciri yang khas dan mengesankan, yaitu adanya miniatur perahu layar di puncak kubah bangunan makamnya.

Kala itu, sempat tidak terlihat, Azmi Fauziyah yang menjadi salah satu peserta mengingatkan, “Miniatur perahu layar di puncak kubah itu mengandung filosofi dari laut yang dianalogikan imam Syafii sebagai luasnya ilmu, dan kita para penuntut ilmu sebagai penumpang dari perahu yang dilayarkan, di atas lautan ilmu tersebut. Amanatnya, teruslah arungi lautan ilmu, sebagaimana lautan yang tak pasti menemui batas akhirnya.”

“Menuntut ilmu mulai dari mahdi (buaian), sampai lahdi (liang lahad),” lanjutnya lagi.

Ditutup doa dan foto bersama, para peserta melanjutkan rihlah pada destinasi selanjutnya, yaitu makam al-Laits. Tidak begitu jamak terdengar, nama al-Laits ini akan santer ditemui sebagai perawi hadis, dalam kitab hadis Shahih Bukhari misalnya.

Ketika memasuki pintu utama makam sekaligus masjid al-Laits, para peserta langsung disuguhi dengan pemandangan penjaga masjid yang tengah menyetorkan hafalan matannya kepada sosok yang lebih tua dari dirinya.

Tampak bersemangat dengan hafalannya. Benar saja, setelah dipandu oleh Muhammad Riansyah, para peserta mendengarkan nasihat dari penjaga makam, dalam formatur yang melingkar para peserta tidak hanya dijejali informasi terkait al-Laits, nasihat agar senantiasa menghafal matan-matan pun ia diberikan.

Penjaga yang tidak sempat mengenalkan diri itu mengatakan, menghafal matan-matan ilmu merupakan sebuah upaya mencari ilmu dengan metode para ulama salaf. Ada pun mematangkan pemahaman dari fan ilmu tersebut, cukuplah mengkaji satu atau dua syarah saja.

Setelah disuguhi hidangan khas makanan lokal, para peserta pun menuju makam Ibnu Hajar al-Asqalani, pemilik buku hadis Bulughul Maram. Di kalangan masyarakat Persatuan Islam sendiri, kitab tersebut dipelajari sedari jenjang MTS/SMP sederajat. Dari sana, nama Ibnu Hajar al-Asqalani sudah sering terdengar, lebihnya sekarang mereka bisa secara netra menapaki peristirahatan terakhirnya.

Menjelang sore, Rihlah Makam Auliya diakhiri dengan kunjungan ke makam al-Uqbah bin Amir. Merujuk pada informasi yang tertera di depan makam, al-Uqbah adalah salah satu sahabat Rasulullah yang juga ikut serta dalam memerdekakan tanah Mesir bersama Amr bin Ash.

Dari 6 makam aulia yang mereka kunjungi, tiap momennya diabadikan dalam bidik kamera lengkap beserta perwakilan dari peserta. Sebelum kembali ke kediaman masing-masing, Ainun Firdaus menengahi, rihlah tersebut diadakan untuk lebih mengingat pada kematian, sekaligus meneladani semangat-semangat hebat dari para aulia dalam menuntut ilmu dan memahami agama.

Reporter: Imas Dera Fadilah (Pimpinan Umum Majalah Al-Furqan 2020-2021)

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Melacak Kontribusi Awal  Alumni Pelajar Timur Tengah Untuk NKRI: Dari Era Kolonial sampai Pasca Kemerdekaan

Ekspansi proses pembelajaran para Pelajar Indonesia luar negeri, khususnya ke negara Timur Tengah sebenarnya sudah dimulai sejak era kolonial...

Muhammad Imarah dan Pembaharuan Islam

Oleh: Muhammad Ghifari Mesir merupakan negeri para nabi utusan Allah swt., berkali-kali nama tersebut sering diungkapkan dalam Al-Qur’an. Terlepas dari perbedaan pendapat di antara para...

SENDU DI MALAM SYAHDU

Di malam sunyi turun cahaya redup Menghangatkan hati di setiap sudut Aku layangkan satu tanda tanya Membumbung terbang di gelap gulita Biar lama berjuang ku tak terlirik Sampai lelah...

Apakah Hadist Ahad Bisa Dijadikan Hujjah Dalam Aqidah

Oleh: Divisi Tafsir-Hadits (LBI) Ta’rîf Hadîts Al-Âhâd Untuk membahas bagaimana kedudukan hadîts al-âhâd dalam aqîdah, terlebih dahulu harus dilihat ta’rîf hâdits, selanjutnya pembagian al-Hadîts berdasarkan jumlah...

Kisah Hidup dan Karya Imam Ath Thabari

Oleh : Yandi Rahmayandi Iftitâh Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,"Tidak pernah ditemui satu umat pun yang pernah hidup dimuka...

More Articles Like This