Santri [Antara Gelar dan Esensi]

4.9
(13)

Oleh :Naufal Syauqi Fauzani

Pasti kita semua sudah tidak asing lagi dengan istilah “santri”, apalagi istilah tersebut sudah cukup familier untuk masyarakat Indonesia. Pun dengan penulis yang bisa disebut santri, jika melihat latar belakang pendidikan, karena pernah mengenyam pendidikan selama 6 tahun di Pesantren.

Jika istilah santri tersebut dimaknai dengan demikian (seseorang yang belajar ilmu Agama dengan intens di Pesantren dan berguru kepada Kiai).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa santri adalah orang yang mendalami agama Islam, atau orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang saleh Lihat KBBI, vol. 0.2.1, 2016 (diakses pada tanggal 28 Oktober 2019, jam 23:30 CLT).

Pendapat lain menyebutkan bahwa santri berasal dari bahasa sanskerta, seperti dikutip dari buku Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur budaya Masa Peralihan (2001) karya M. Habib Mustopo. Istilah santri, menurut pendapat itu, diambil dari bahas sanskerta, yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”.

Versi ini terhubung dengan pendapat C.C. berg yang yang menyebut istilah santri berasal dari kata shastri yang dalam bahsa India berarti “orang yang mempelajari kita-kitab suci agama Hindu.” Dilansir dalam Tirto.id (24 Oktober 2019, jam 13:30 CLT). Akan tetapi KH. Ma’ruf Amin menegaskan, bahwa sebutan santri tidak terbatas kepada orang-orang yang belajar di pondok Pesantren dan bisa mengaji kitab. Namun, santri adalah orang-orang yang meneladani para kiai.

Dilansir Nu Online (24 Oktiber 2019, jam 13:30 CLT). Menurut Tiar Anwar Bachtar, bahwa dalam sejarahnya penyebutan istilah santri bukan pada orang yang menguasai ilmu agama. Karena tidak serta merta orang yang belajar agama secara langsung bisa disebut sebagai santri.

Penamaan santri sendiri diberikna kepada orang yang mempelajari agama (Islam) dan mengamalkan apa yang mereka pelajari itu. Jadi, boleh dikatakan bahwa santri diberikan kepada orang yang menjadi “wujud hidup” ajaran Islam. Lihat Tiar Anwar Bachtiar, Jas Mewah; jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan Dakwah, hal. 66, Pro-U Media, Yogyakarta, 2018.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa santri tidak bisa terlepas dari sisi agama (Islam). Terlepas ada yang berpendapat bahwa santri berasal dari agama hindu. Akan tetapi, kalau kita melihat realita yang terdapat di Indonesia, penyebutan gelar santri sering diperuntukan kepada orang-orang yang belajar atau mengenyam pendidikan di Pesantren, atau pernah belajar di Pesantren dan kiai.

Walaupun ada yang berpendapat bahwa santri itu tidak terbatas kepada orang-orang yang hanya belajar di Pesaantren, tapi opini yang tersebar di masyarakat bahwa santri, adalah mereka yang pernah mengalami kehidupan pesantren.

Hal ini didukung dengan ditetapkannya haris santri. Ketika hari santri itu ditetapkan (bahkan langsung dengan Keputusan Presiden), apakah semua kalangan merasa terwakili dan ikut dalam euforia di dalamnya? Ketika para santri di Pesantren-pesantren memperingati hari santri, apakah para siswa SD, SMP dan SMA ikut memperingati? Kita bisa melihat dari fenomena tersebut, bahwa tidak semua kalangan terwakili dengan gelar santri tesebut.

Memang sangat menarik jika lebih jauh membahas asal-usul dan sejarah istilah santri sendiri, tapi dalam kesempatan kali ini penulis tidak akan lebih jauh mengupas akan hal tersebut. Pada tulisan sederhana ini penulis hanya akan memaparkan pendapat pribadi mengenai esensi dari seorang santri dengan gelarnya tersebut di masa sekarang.

Bertepatan pada tanggal 22 Oktober 2015 lalu, Presiden Jokowi menetapkan tanggal tersbeut sebagai Hari Santri Nasional lewat Keputusan Presiden nomor 22 Tahun 2015. Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan penetapan ini dilakukan mengingat peran santri termasuk KH. Hasyim Asy’ari. Dilansir MNC.com (24 Oktober 2019, jam 13:45 CLT). Mulai pada saat itu sampai sekarang, tanggal 22 Oktober memiliki keistimewaan sendiri, khususnya dikalangan para santri. Tidak jarang kegiatan seremonial acap kali dilakukan para santri dilingkungan Pesantren, sebagai bentuk perayaan hari santri tersebut.

Terlepas dari adanya pro dan kontra dengan ditetapkannya hari santri Nasional pada tanggal 22 Oktober, dengan berbagai alasan dan isu yang berkembang di dalamnya, seperti memperlihatkan jasa satu golongan saja dan mendiskreditkan yang lain, yang dapat mengganggu persatuan bangsa (upaya dikotomi). Lihat Kompasiana. com, Alipir Budiman, Artikel; Hari Santri dalam Polemik (diakses pada tanggal 29 oktober 2019, jam 23:00). Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri merupakan “niat baik” Presiden untuk mengingatkan kepada Bangsa Indonesia, bahwa para santri dan kiai turut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Bangsa.

Selain itu, secara tidak langsung Presiden ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa umat Islam di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga NKRI. Tentunya hal ini bisa menjadi “oasis di tengah sahara” ketika suburnya tuduhan kepada umat Islam, bahwa mereka selalu menjadi pihak yang disalahkan ketika terjadi konflik di Negara yang kita cintai.

Ditambah isu-isu yang berkembang, seolah-olah NKRI dan Islam dua sisi yang tidak akan pernah saling bertemu dan menjadi sebuah refleksi bagi para santri milenial untuk kembali menengok sejarah; bagaimana para pendahulunya menjadi santri yang bisa tetap eksis dengan menebar manfaat untuk Agama, Bangsa dan Negara. Selain itu, dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional terangkatnya kembali derajat santri dimasrakat, yang sering dipandang sebelah mata.

Dalam hal ini, pasti akan muncul kebanggan tersendiri bagi orang yang memiliki gelar “santri” di masa sekarang (milenial) dan tidak perlu merasa dimarjinalkan, karena mereka memiliki bukti yang dikukuhkan untuk menunjukan peran mereka.

Melihat dari fakta sejarah yang melatar belakangi ditetapkannya Hari Santri Nasional (HSN), maka sudah seharusnya bagi seseorang yang memiliki gelar santri untuk melihat dan mengambil ‘ibrah dari fakta sejarah tersebut. Kita bisa melihat bagaimana para santri terdahulu begitu gigih memperjuangkan agama dan bangsa bisa menjadikan contoh bagi kita semua santri di era milenial. Bagaimana hakikat dari seorang santri. Bukan hanya gelar yang menghiasi semata.

Seorang santri harus berbeda dari yang lainnya, karena santri merupakan gelar yang tidak begitu saja melekat kepada seseorang. Namun, santri itu telah banyak mengaji kepada kiai, senantiasa belajar kehidupan dan seluk-beluknya yang terdapat di Pesantren, dsb. Semua itu hanya bisa didapatkan oleh santri dan menjadikannya memilki keistimewaan dan berbeda dari yang lainnya. Maka, seharusnya santri itu memiliki esensi, hakikat dan peran dalam tatanan dan aspek kehidupan.

Jika memang seseorang itu bergelar santri, sudah pasti, dia akan menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai penggugah hati dan penunjuk arah kita dalam mengarungi arus kehidupan ini. Maka salah satu ayat berikut bisa menjadi pegangan bagi kita sebagai santri :

لقد كان في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله و اليوم الاخر و ذكر الله كثير (الأحزاب[33] : 21

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Qs. Al-Ahzab [33] : 21).

Maka sebagai seseorang yang memiliki gelar santri, kita memiliki tanggung jawab untuk menunjukan esensi gelar santri tersebut dalam tatanan kehidupan, terlepas peran apa yang dimainkan. Dalam kehidupan bermasyarakat seorang santri harus menjadi uswah, bukan malah menjadi sampah masyarakat. Dalam dunia perpolitikan yang sangat pragmatis dan serba boleh, seorang santri harus menjadi politkus yang idealis sesuai tuntunan agama, bukan malah terbawa arus pragmatisme menghalakan segala cara.

Jika santri itu menjadi pihak yang memimpin, maka jadilah pemimpin yang mensejahterakan dan mengayomi kepada rakyatnya, bukan malah berbuat sewenang-wenang. Jika santri itu menjadi pihak yang dipimipin. Maka hendaknya ia selalu taat kepada pemimpinnya (jika itu adalah kebaikan), bukan malah menjadi rakyat yang bughat. Dalam hal ini, untuk menunjukkan esensi seorang santri tidak harus menunggu sampai hari santri tanggal 22 oktober dan meryakannya dalam euforia, yang bahkan bisa jadi tidak ada esensinya sama sekali bagi seorang santri Namun, seorang santri harus menunjukkan eksistensinya dalam setiap waktu dan keadaan.

Itulah gelar santri yang sebenarnya. Hal ini senada dengan apa yang telah Nabi saw. sampaikan dalam salah satu haditsnya :

“Bertakwalah kamu di mana saja kamu berada…” (Hr. Tirmizi)

Walla’lam bis-shawab

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *