Wednesday, October 28, 2020

Sejarah Singkat Ilmu Balaghah

Must Read

[Tashawwuf dan Shufiyah] Antara Pendukung dan Penentang

Oleh: Akmal Burhanudin, lc Muqaddimah Permasalahan tashawwuf dan shufiyah adalah permasalahan lama yang tak pernah kunjung selesai. Para ulama salaf hingga...

Perang Salib dan Pengaruhnya Terhadap Peradaban Barat

Oleh : Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama...

Mengenal Sosok Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf Oleh : Anton H. Sultonan A. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah...
4.8
(26)

في النحو والبلاغة والتفسير والأدب، الوسيط في الأدب العربي وتاريخه، تاريخ آداب اللغة العربية مناهج تجديد

Resensi kitab
Oleh: Saepul Islam

Tidak ada suatu ilmu itu muncul sekaligus sempurna dalam suatu masa, kecuali mengalami fase sejarah dimana ilmu tersebut ada, berkembang dan maju atau bisa saja mengalami kemunduran dan kepunahanan.

Ilmu Balaghah sebagai cabang dari Bahasa Arab pun mengalami fase kemunculan, perkembangan, dan seterusnya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasannya ilmu ini memiliki tiga cabang, yaitu: Ilmu Bayan, Ilmu Ma’ani dan Ilmu Badi’. Tidaklah ada pada awalnya sistematis seperti ini. Dahulu, sama sekali tak dikenal sebagai istilah balaghah adalah sebuah ilmu.

Pembahasan mengenai sejarah Balaghah menurut Amin Al-Khuli meliputi tiga bagian, yaitu:

(1) Sejarah tentang materi Balaghah dan ketentuan-ketentuannya, meliputi masalah awal kemunculan, tahapan perkembangan dan bagaimana ilmu ini pada akhirnya.

(2) Kajian tentang tokoh-tokoh ilmu balaghah.

(3) Kajian tentang tulisan atau karangan dalam ilmu Balaghah.

Pengetahuan tentang sejarah Balaghah sangat penting sekali, karena ilmu ini tidak serta merta merupakan ilmu ajaib yang tiba-tiba muncul begitu saja, dengan mengetahui sejarah maka kita akan tau hakikat tentang ilmu ini.

Munculnya Ilmu-Ilmu Bahasa Arab tidak terlepas dari turunnya Al-Qur’an.

Ilmu Bahasa Arab berkembang pesat tidak lain karena Al-Qur’an diturunkan dengan Bahasa Arab, sebagaimana firman Allah s.w.t:

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”. (Q.S.Yusuf: 2)

Maka dengan turunnya Al-Qur’an ini dijadikan inspirasi bagi para pakar Bahasa Arab untuk mengkonsep berbagai macam ilmu pengetahuan, tiada lain untuk menjaga keasliannya, membantu memahaminya dan juga menilai sisi keindahan kemukjizatan Al-Qur’an itu sendiri.

Para pakar Bahasa ketika ingin menafsirkan suatu ayat atau kalimat dalam Al-Qur’an, yang itu sulit dipahami, maka mereka mendatangkan sya’ir jahiliy yang memuat kata tersebut sebagai rujukan dengan gaya dan makna bahasanya. Dalam hal ini contohnya adalah Tafsir yang menggunakan pendekatan linguistic (kebahasaan) yaitu Tafsir Al-Kasyaf karya Imam Az-Zamakhsyari (538 H).

Interaksi para pakar bahasa dengan berbagi teks Sya’ir dan kesastraan lainnya menjadikan mereka menulis berbagai macam karya mengenai kumpulan syair, puisi ataupun prosa, dan sastra yang lainnya, mereka menulisnya demi kekhidmatan kepada Al-Qur’an.

Dari sinilah muncul berbagai macam ilmu kebahasaan, seperti Nahwu, Sharaf, ‘Arudh, Ma’ani, Bayan, Badi’ dan seterusnya.

Pra Kodifikasi Ilmu Balaghah.

Secara historis istilah Balaghah muncul belakangan setelah benih-benih ilmu ini muncul dengan berbagai istilahnya sendiri. Bahkan sebelum ilmu ini dikenal, esensinya telah tertanam dalam praktek berbahasa orang-orang Arab terdahulu.

Berbagai macam pengetahuan manusia, mulai dari ilmu, filsafat, seni dan yang lainnya telah ada di akal dan lisan manusia dalam kehidupannya jauh sebelum ilmu itu terkodifikasi secara sistematis nan sempurna.

Tak terkecuali Ilmu Balaghah, ilmu yang terkait dengan mengekspresikan bahasa dengan literatur yang sangat indah sebagai pengetahuan telah menghiasi berbagai perkataan Orang Arab baik dalam bentuk syi’ir didalamnya, bahkan jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan.

Setiap bangsa memiliki bahasa masing-masing, tentunya dengan bahasa tersebut mereka berkomunikasi dengan sangat baik, dapat membedakan antara bahasa yang baik maupun buruk dalam bahasanya masing-masing yang menjadi fitrah setiap manusia.

Mereka pun telah menggunakan berbagai macam gaya bahasa yang indah. Tak terkecuali bangsa Arab dan bahasa mereka.

Sebagaimana telah disampaikan dimuka, Al-Qur’an adalah salah satu factor munculnya berbagai ilmu bahasa. Kemukjizatan dan keindahan bahasa Al-Qu’an yang tak tertandingi menjadikannya sebagai puncak tertinggi dalam hal ketetapan dan keindahan Bahasa Arab.

Para pakar yang biasa berbangga dengan karya sya’irnya dan saling mengkritisi satu sama lain, mulai mengahadapkan Al-Qur’an dengan pengetahuan mereka tentang keindahan berbahasa. Dari sini lah mulai berkembang benih-benih ilmu Balaghah.

Pada perkembangan selanjutnya, semakin luasnya Islam tersebar, maka disana otomatis terdapat banyak campuran antara orang Arab dan non Arab, seiring perkembangan zaman dan kemajuan Islam maka perlunya disusun suatu ilmu untuk mengukur ketepatan dan keindahan berbahasa Arab.

Hal ini karena orang-orang diluar Arab tidak dapat mengetahui dan memahami keindahan berbahasa kecuali dibuat kaidah. Hal ini penting karena mereka mempunyai keinginan besar untuk mengetahui kemukjizatan Al-Qur’an.

Munculnya Ilmu Balaghah

Tema-tema Balaghah belakangan muncul setelah berkembangnya Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf . Dulunya tema ini dinamakan sebagai kritik sastra (naqd al-adab) semakin berkembang lebih daripada masa Jajiliyah.

Mulai dari masa kekhilafahan Dinasti Umawiyyah, sebenarnya Ulama pakar bahasa mulai bicara tentang makna fashahah & balaghah dan berusaha menjelaskannya dari apa yang telah diriwayatkan dari orang-orang sebelum mereka.

Dari sini kemudian muncul balaghah ‘arabiyyah dari berbagai segi. Disusunlah berbagai buku yang membahas tentangnya hingga sampai pada fase pengajaran ilmu.

Kitab yang pertama kali disusun dalam bidang balaghah adalah tentang ilmu bayan, yaitu kitab Majaazul Qur’an karya Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna (208 H) muridnya Imam Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (170 H).

Untuk Ilmu Ma’ani tidak diketahui secara pasti orang yang pertama kali menyusunnya, tetapi menjadi perbincangan para ulama, terutama Al-Jahidz (255 H) tentang I’jazul Qur’annya.

Adapun penyusun Ilmu Badi’ yang dianggap sebagai pelopor adalah Abdullah Ibn Mu’taz (296 H) dan Qudamah bin Ja’far dengan kitab Naqd Asy-Syi’r dan Naqd An-Natsr (337 H).

Itulah ilmu Balaghah pada masa awal kemunculannya, terutama pada masa Abbasiy kedua (232-334 H). Dalam masa tersebut, ketiga cabang ilmu itu masih belum tersusun menjadi satu ilmu dalam nama Balaghah, nantinya masuk ke perkembangan abad kelima hijriyyah.

Pekembangan Ilmu Balaghah

Setelah kemunculan pertama, para Ulama setelahnya saling melengkapi dan khazanah ilmu ini, hingga hadhirlah seorang pakar Balaghah yaitu, Abu Bakar Abdul Qahir Al-Jurjaniy (471 H) yang mengarang kitab dengan Ilmu Ma’ani yaitu Dalaailul I’jaz dan tentang Bayan yaitu Asrarul Balaghah.

Kemudian setelah beliau muncul Abu Ya’qub Sirajuddin Yusuf As-Sakakiy Al-Khawarizmi (626 H) dengan kitabnya yang membahas lebih lengkap dari yang lainnya yaitu Kitab Miftah Al-‘Ulum.

Perkembangan Balaghah pada masa ini salah satunya disebabkan oleh persinggungannya dengan ilmu kalam dan filsafat terkait dengan I’jazul Qur’an. Munculah istilah madrasah adabiyyah dan madrasah kalamiyyah.

Madrasah Kalamiyyah memiliki ciri khas, mereka memfokuskan kepada definisi-definisi dan kaidah-kaidah tanpa banyak menunjukan bukti sastra, puisi ataupun prosa. Dan untuk menentukan indah dan tepatnya bahasa mereka menggunakan analogi filsafat dan logika.

Sementara Madrasah Adabiyyah memiliki ciri khas, mereka menunjukan kepada bukti sastra secara berlebihan, dengan sedikit sekali menggunakan analogi filsafat, kaidah-kaidah dan definisi-definisi. Mereka menentukannya berpegang pada rasa seni dalam menentukan keindahan bahasa.

Demikianlah perkembangan ilmu Balaghah dari masa ke masa. Wallahu a’lam

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 26

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Tertunda Wabah Covid-19, Tasykil PCI Persis Mesir Resmi Dilantik

Kairo – Tasykil (pengurus-red) Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir masa jihad 2019-2021 akhirnya resmi dilantik oleh...

Perang Salib dan Pengaruhnya terhadap Peradaban Barat

Oleh: Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua abad perang ini selalu menarik...

Muslim Harus Progres

Oleh : Muhammad Ghifari “Why was is that they were able to make progress while we became so backward? Why is that we , who...

Falsafah Blasphemy [Penistaan]

Oleh: Muhammad Ghifari Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa agama memiliki peran sentral dalam kehidupan umat manusia di dunia ini. Di samping itu, tidak dapat...

Metode Istidlal Imam Abu Hanifah

Oleh: Anwar Musthafa Shiddiq MUQADIMMAH Islam adalah merupakan din yang syamil dan mutakamil. Disamping Islam merupakan sebuah solusi juga Islam merupakan suatu undang-undang yang validitasnya tak...

More Articles Like This