Tarikat Tashawwuf

4.8
(47)

Oleh: Arif Rahman Hakim Al-Kufuwwi

I. Pendahuluan

Manusia pada masa sekarang ini yang sudah terjangkiti matrealisme, hedonisme dan penyakit hubbudunya lainnya, tidak terkecuali umat Islam, sedang mencari sesuatu yang bisa menjadi obat sekaligus mengisi satu dimensi yang hilang dari hati mereka.

Mereka sering merasa gelisah dan bosan dalam menjalani hidup ini, karena yang mereka hadapi setiap hari ialah materi yang nampak yang harus selalu sesuai dengan rasio mereka. Tetapi semenjak kegelisahan dan kebosanan itu datang mereka baru menyadari bahwa ada satu dimensi yang tidak terlihat yang ikut mempengaruhi kehidupan mereka.

Dimensi itu tiada lain adalah dimensi spiritual. Mereka baru menyadari bahwa melalui dimensi inilah penyakit yang “menggerogoti” hati mereka bisa terobati. Oleh karena itu tidak heran kalau sekarang banyak muncul aliran-aliran yang berbau spiritualisme menawarkan diri untuk menjadi “dokter” mereka.

Mulai dari aliran meditasi seperti yoga sampai aliran yang mengaku sebagai pengikut setan ikut meramaikan macam dan jenis aliran yang muncul ke permukaan saat ini. Memang sebenarnya aliran-aliran itu sudah ada sejak dahulu kala, tetapi setelah manusia mempertuhankan teknologi aliran-aliran tersebut tidak muncul ke permukaan.

Barulah setelah manusia merasa kehilangan dimensi spiritualnya, aliran-aliran itu ramai muncul kembali ke permukaan. Tidak terkecuali tasawwuf, ajaran yang berbau spiritualisme yang sudah ada sejak abad ke-2 hijriyah ini banyak diminati oleh umat Islam khususnya, yang merasa ikut terjangkiti oleh penyakit di atas. Dan ajaran inilah yang menjadi objek pembicaraan kita kali ini.

Namun demikian, keterbatasan ilmu yang mereka miliki membuat mereka terjebak dalam aliran yang menurut kacamata Islam sesat dan menyesatkan. Tidak sedikit umat Islam yang “tertipu” oleh aliran tasawwuf yang notabene menisbahkan diri kepada Islam tetapi dalam kenyataannya praktek amaliyah yang mereka ajarkan sama sekali jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Berdasarkan fenomena di atas, pada makalah ini penulis ingin berusaha ikut memberikan kontribusi dalam usaha mengembalikan umat kepada Al-Quran dan As-Sunnah, dengan cara membuat deskriptif tentang praktek amaliyah yang dilakukan oleh beberapa aliran tasawwuf yang ada sekarang ini. Benarkah ajaran yang mereka sebarkan itu dari Islam atau sebaliknya.

Makalah ini terdiri dari beberapa pembahasan, antara lain; pendahuluan, makna tarikat tasawwuf, contoh tarikat tasawwuf yang ada sekarang, kritikan terhadap beberapa praktek amaliyyah dalam tarikat tasawwuf, penutup.
Pada penyusunan makalah ini, penulis banyak mengambil referensi dari beberapa situs Islam yang ada di Internet, karena penulis merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi yang aktual dan sedikit lengkap tentang tarikat tasawwuf yang sudah tersebar sekarang ini.

||| Baca juga, Persfektif Kebenaran & Penyimpangan Tashawwuf

II. Makna Tarikat

Di dalam tasawwuf kita mengenal beberapa istilah khusus seperti; syariat, tarikat, hakikat dan ma’rifat. Syariat diartikan sebagai seluruh ajaran yang diajarkan oleh Islam kepada umatnya baik itu yang bersifat a’mal dzohiriyah maupun a’mal bathiniyah. Sedangkan tarikat diartikan sebagai cara atau metode dalam melakukan a’mal bathiniyyah. Dan hakikat diartikan sebagai tersingkapnya segala rahasia (maksyufat) hatta hal yang ghaib, sebagai buah dari reformasi a’mal bathiniyyah. Adapun ma’rifat sebagai proses dalam tersingkapnya rahasia tersebut.

Syariat, tarikat dan hakikat merupakan tiga hal yang saling bertingkat yang satu dengan yang lain. Syariat merupakan tingkat pemula, tarikat tingkat menengah dan hakikat sebagai tingkat tertinggi dan menjadi ghayyah ajaran tasawwuf. Dengan demikian seseorang yang berada pada tingkat pemula yang ingin mencapai tujuan akhir dari ajaran tasawwuf harus melewati dulu tingkat menengah yaitu tarikat.

Dan untuk mencapai tingkat tertinggi tersebut setiap muried menempuh tarikat yang diajarkan mursyid kepadanya. Dan ketika ia sudah mencapai tingkat tertinggi dan layak menjadi mursyid, ia pun membuat tarikat sendiri dan ia sebarkan kepada murid-muridnya, sehingga lahirlah banyak tarikat dalam tasawwuf yang setiap tarikat mempunyai ciri khusus masing-masing.Dan nama dari tarikat tersebut dinisbahkan kepada syaikh yang menyebarkan ajaran tersebut. Seperti tarikat Tijaniyah, dinamakan tijaniyah karena disebarkan oleh Syaikh Tijani, dan begitu pula tarikat yang lainnya.

III. Contoh tarikat dalam tasawwuf dan praktek amaliyyah yang mereka ajarkan

A. Tarikat Tijaniyah

Tarikat ini dinisbahkan kepada Syaikh Ahmad bin Malik bin Al-Mukhtar At-Tijani. Tijan merupakan nama sebuah kampung yang berada di Maroko. Ia mengakukan dirinya sebagai Khotamul Auliya dan Al-Ghoutsu Al-Akbar ketika masa hidup dan matinya.

Tarikat ini mempunyai beberapa ajaran yang mereka sebarkan, antara lain;

  • Mengakui adanya pantheisme
    Yaitu bersatunya tuhan dengan jasad manusia yang dikenal dengan istilah wihdatul wujud. Setiap makhluk berlaku baginya hukum syara kecuali orang yang telah bersatu dengan tuhan atau ber-wihdatul wujud.
  • Menganggap bahwa semua agama ini adalah benar. Seseorang yang menyembah selain kepada Alloh, itu hanya dhohirnya saja. Tetapi sebenarnya semua makhluk menyembah Alloh. Bukankah semua makhluq itu hanya bersujud kepada Alloh semata. Mulai dari bebatuan, air, binatang, manusia sampai yang disembah oleh manusia itupun semua hanya bersujud kepada Alloh.
  • Mereka lebih memuliakan dan mengutamakan membaca sholawat Al-Fatih daripada membaca Al-Qur’an

Sholawat ini dibacakan sebanyak 60.000 kali.

Adapun kalimatnya sebagai berikut:

أللهمّ صلّ على سيّدنا محمّد الفاتح لما أغلق و الخاتم لما سبق ناصر الحقّ بالحقّ الهادي إلى صراطك المستقيم و غلى آله و حقّ قدره و مقداره العظيم

  • Tijani mengakukan bahwa semua pengikutnya akan masuk surga walaupun berosa hatta kafir
  • Mengajak kepada syirik, Yaitu dengan ber-istighotsah kepada para syaikh dan berkeyakinan bahwa Alloh tidak akan menerima istighotsah kecuali melalui para syaikh tersebut.

B. Tarikat Chistia

1). Sejarah singkat

Tarikat ini berasal dari nama sebuah desa yaitu Chist yang terletak dekat Herat di Afganistan. Pencetus tarikat ini ialah Hazrat Khwaja Abu Ishaq Chisti yang berasal dari Siria. Ia pindah ke Afganistan di desa Chisti tepatnya dan menetap di sana berdasarkan perintah mursyidnya Hazrat Khwaja Mamsyad Ali Dirwani. Aliran ini mengakukan dirinya sebagai aliran yang bersambung silsilahnya sampai ke sahabat Ali ra. Kemudian tarikat ini menyebar ke India. Dan di Afrika Selatan terdapat beberapa cabang dari tarikat ini.

2). Kegiatan Spiritual yang mereka lakukan antara lain;

  • Khatme Khajegaan

Ketika seorang murid berada di bawah bimbingan seorang mursyid, maka mursyid tersebut bertindak sebagai seorang dokter. Ia mendiagnosis keadaan spiritual sang murid sebelum memberikan obat yang sesuai yaitu berupa bacaan-bacaan khusus yang dibuat oleh seorang syaikh yang mempunyai fungsi dan pengaruh tertentu terhadap pengobatan penyakit spiritual yang diderita sang murid.

Kemudian ia membacanya secara individu atau berkelompok dengan ijin sang mursyid. Itulah yang dinamakan upacara Khatme Khwajegaan. Di dalam upacara ini dibacakan beberapa bacaan yang mempunyai fungsi khusus, ayat-ayat Al-Quran dan Asma Alloh yang bersifat ketuhanan yang disusun oleh seorang Syaikh ke dalam rangkain nomor. Upacara ini bisa diadakan perminggu atau perbulan.

Setiap orang yang akan melakukannya haruslah berwudlu terlebih dahulu kemudian duduk dengan sikap yang baik sebagai tanda hormat terhadap mursyid. Di akhir upacara sang pemimpin memohon sesuatu kepada Alloh dan memindahkan pahala sebagai hadiah kepada Rasulullah saw., para nabi, para sahabat, keluarga Rasulullah saw., tabi’en, dan khususnya untuk seorang syaikh.

  • Upacara Urs Syarif

Upacara Urs Syarif merupakan upacara memperingati kematian seorang wali, yang mana hari kematian tersebut dikenal dengan sebutan yaumul wishal yaitu hari sampainya seorang wali bertemu Alloh. Karena kematian merupakan pintu untuk hidup kekal bersama Alloh.

Dalam upacara tahunan ini semua keluarga sang wali dan para pengikutnya berkumpul di sisi kuburan sang wali membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, bacaan-bacaan khatme khwajegaan, zikir dan syair-syair yang berisikan pujian kepada Alloh, rasulNya dan para wali. Dan menghadiahkan pahala tersebut untuk jiwa sang wali.

  • Melakukan Sama’/Qowwal

Sama’/qowwal mempunyai arti penting diantara kegiatan kegiatan spiritual tarikat Chistiya. Sama’ yang arti secara harfiahnya mendengar, setelah masuk ke dalam istilah tasawwuf mengalami perubahan arti. Di dalam istilah tasawwuf sama’ dikenal dengan musik spiritual yang didengarkan dengan telinga hati. Kegiatan spiritual ini dilakukan oleh para syaikh untuk menanamkan rasa cinta kepada Alloh, rasulNya, dan para wali di hati seseorang.

  • Wajd/Ecstacy

Kondisi kemabukan spiritual yang dialami seorang sufi sebagai hasil dari sama’ dikenal dalam istilah tasawwuf dengan wajd/ecstacy. Menurut mereka, rasa mabuk itu merupakan pemberian dari Alloh kepada orang yang Ia cintai. Salah satu contohnya, ketika mereka mendengarkan ayat yang menceritakan siksaan nereka mereka berteriak-teriak sampai pingsan tak sadarkan diri.

||| Baca juga, Tashawuf [Antara Pendukung dan Penentang

IV. Kritikan terhadap beberapa keyakinan dan kegiatan spiritual tarikat tasawwuf

Di dalam pembahasan ini perlulah kiranya kita melihat dari sudut pandang Islam tentang keyakinan dan kegiatan spiritual tarikat tasawwuf. Apakah keyakinan mereka tidak bertentangan dengan keyakinan yang diajarkan oleh Islam. Dan apakah kegiatan spiritual mereka tidak bersebrangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Marilah kita lihat kritikan tersebut satu persatu.

A. Wihdatul Wujud

Seseorang yang berkeyakinan tentang adanya wihdatul wujud sama saja ia telah melakukan penghinaan terhadap Alloh, karena ia telah menyandarkan sesuatu yang tidak layak untuk Alloh yaitu menyamakan antara Sang PenciptaYang Maha akan segalanya dengan mahluk yang tidak berdaya apa-apa.

Karena ia menganggap bahwa Tuhan telah bersatu dengan dirinya dan itu adalah suatu hal yang mustahil. Dan layakkah seseorang yang mengaku cinta kepada Alloh tetapi malah menghinanya dengan keyakinannya yang seperti itu. Bukankah Alloh telah berfirman:

ليس كمثله شيئ و هو السميع البصير (الشورى: 11

B. Semua Agama Benar

Alangkah bodohnya muslim yang berkata seperti itu. Apakah ia tidak pernah membaca Al-Quran yang ia akui sebagai kitab sucinya. Alloh berfirman:

إنّ الدّين عند الله الإسلام (آل عمران : 9

Alloh sendiri telah menetapkan bahwa hanya Islamlah agama yang Ia akui. Maka mafhum mukholafah dari ayat tersebut ialah semua agama selain Islam itu bathil dan sama sekali tidak diakui olehNya. Dan mafhum mukholafah tersebut sesuai dengan bunyi ayat:

و من يبتغ غير الإسلام دينا فلا يقبل منه و هو في الآخرة من الخاسرين (آل عمران : 85

Di dalam ayat tersebut Alloh menambahkan bahwa yang mencari agama selain Islam akan rugi di akhirat.

C. Meminta perlindungan selain kepada Alloh

Hal ini sudah jelas-jelas syirik yang dosanya tidak akan diampuni oleh Alloh, sebagaiman firmanNya:

إنّ الله لا يغفر أن يشرك به و يغفر ما دون ذلك .النساء: 48

D. Berdzikir dengan menentukan fungsi dan jumlahnya

Dzikir memang ada yang muthlaq dan ada yang khusus sesuai dengan yang diajarkan Nabi, contoh dzikir yang khusus, seperti :

بك أمسينا و بك أصبحنا بك نحيى و بك نموت

Dzikir ini Nabi ajarkan khusus untuk dibaca pada waktu sore. Maka jika ada yang menetapkan suatu dzikir yang mempunyai fungsi dan jumlah yang khusus, maka itu termasuk mengadakan hal yang baru di dalam agama, dan hal itu diancam oleh Nabi sebagaimana sabdanya:

من عمل عملا ليس عليه أمر فهو ردّ (مسلم

Terlebih lagi mereka mengaku-ngaku mendapatkan dzikir-dzikir itu langsung dari Nabi melalui mimpi, ini sudah jelas melebihi batas. Rasulullah bersabda:

من كذب عليّ متعمّدا فليتبوّأ مقعده من النّار (البخاري

E. Upacara Urs Syarif

Upacara kematian merupakan salah satu bid’ah yang sudah jelas kebid’ahannya. Sebagaimana kritikan Ibnul Jauzi yang ia tulis di dalam bukunya Talbis Iblis, bahwa upacara tersebut bertentangan dengan ajaran Islam dari 3 segi;

Pertama, dari segi menyiapkan makanan bagi orang-orang yang mengikuti upacara tersebut. Karena yang disunnahkan adalah justru sebaliknya para pelayatlah yang seharusnya menyediakan makan bagi keluarga yang terkena musibah.

Kedua, dari segi mereka bergembira ria karena kematian sang wali menunjukkan bahwa ia telah sampai kepada tuhannya, menurut mereka. Sedangkan itu sesuatu yang belum mungkin. Ketiga, dari segi mereka melakukan tari-tarian dimana seseorang seharusnya bersedih ketika meninggalnya seseorang. Hal ini sungguh bertentanan dengan tabiat alami manusia.

F. Wajd/Ecstacy

Sebenarnya sampai mabuk ketika mendengarkan al-Quran ataupun musik yang bernuansakan spiritual merupakan hal yang berlebihan di dalam agama, atau yang kita kenal dengan istilah gluw fi dien. Dan itu jelas-jelas dilarang, sebagaimana firmanNya:

قل ياأهل الكتاب لا نغلو في دينكم غير الحقّ

Mengenai wajd ini pun tidak lepas dari kritikan Ibnul Jauzi. Ia menerangkan bahwa sesungguhnya hati para sahabat itu lebih bersih dari mereka, tetapi tidak pernah sampai seperti keadaan mereka yang berteriak-teriak sampai tak sadarkan diri ketika mendengar ayat tentang adzab misalnya. Ia pun menyisipkan sebuah riwayat dari Amir bin Abdillah bin Zubair untuk memperkuat argumennya itu.

Berkata Amir: Aku datang kepada ayahku, lalu ia bertanya: dari mana kamu ? akaupun menjawab: aku meliha satu kaum yang belum pernah aku melihat kaum sebaik mereka, mereka berdzikir kepada Alloh sehingga seseorang diantara mereka bergemetar karena saking takutnya kepada Alloh maka akupun duduk bersama mereka. Ia berkata: jangan lagi kau duduk bersama mereka. Iapun melanjutkan perkataannya: Aku pernah melihat Rasulullah saw. membaca Al-Quran, juga Abu Bakar dan Umar dan keadaan mereka tidak sampai seperti keadaan mereka itu. Apakah kamu menganggap mereka itu lebih takut kepada Alloh dari pada AbuBakar dan Umar .

V. Penutup

Dari Uraian di atas mulai dari keyakinan sampai kegiatan spiritual yang dilakukan oleh kebanyakan tarikat tasawwuf, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Rasulullah tidak pernah mencontohkan apa yang mereka lakukan. Oleh karena itu patutlah kita katakan bahwa kebanyakan tarikat tasawwuf itu sesat dan menyesatkan.

Penulis bisa mengambil kesimpulan demikian walaupun memang yang dibahas disini hanya baru du tarikat saja, tetapi kita semua tahu kegiatan spiritual yang dilakukan oleh tarikat yang lain pun tidak jauh demikian. Kita tahu melalui berita banyak orang, pengalaman , dan kenyataan yang memang seperti itu adanya yang tidak bisa penulis tulis semua di dalam makalah ini.

Penulis akui bahwa di dalam mengambil kesimpulan penulis kurang akan argumen apalagi hanya dua tarikat yang dibahas dalam makalah ini, hal itu sama sekali tidaklah representatif.

Akhirnya hanya kepada Allohlah semua urusan kita kembalikan, karena hanya Dialah Yang Maha Tahu akan segalanya. Kita hanya berusaha untuk mengetahui saja melalui sedikit ilmu yang Ia berikan kepada kita. Allohu A’lau Bishowab.

VI. Referensi

1. Abdurahman Al-Kholiq, Al-Fikru Al-Sufi.
2. Ibnul Jauzi, Talbis Iblis. Kairo: Maktabah Tsaqofiah Diniyah, tanpa tahun
3. Jalaludin Rahmat, Reformasi Sufistik. Bandung: Pustaka Hidayah, 1998

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 47

No votes so far! Be the first to rate this post.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.