[Tashawuf] Persfektif Kebenaran dan Penyimpangan

5
(1)

Oleh Pardan Syafrudin

Muqaddimah

Tulisan ini merupakan lanjutan dari sidang Dewan Buhuts Islamiyyah Divisi Aliran Agama, yang telah dilaksanakan pada bulan April kemarin. Disini penulis mencoba menguraikan tasawuf serta menilai secara obyektif. Dan kita mencoba mengambil pelajaran untuk dijadikan standar dalam membumikan ajaran-ajaran Ilahî.

||| Baca, Tashawwuf antara Pendukung dan Penentang

Ketika perbedaan diketengahkan, dan menjadi sebuah wacana tentunya perlu suatu penelitian, penilaian, serta data yang kongkrit dan obyektif untuk memutuskan hal tersebut.

Islam adalah agama yang samil, mutakamil,serta tawâzun (balance). Tidak hanya memperhatikan unsur materi (mâdî), tapi juga memperhatikan norma-norma kehidupan (moral). Islam tidak mengatur manusia hanya bersifat sementara (duniawî), tapi juga berorientasi ke depan (ukhrawî). Islam tidak hanya berhubungan dengan sang Khalik saja (hablu-n min ‘a-Lla-I), tapi juga memperhatikan unsur sosial (hamlu-n min-a ‘n-nas-I).

Islam adalah ajaran yang memadukan antara unsur ruh, jasad serta akal. Dan masing-masing unsur tersebut harus di beri hak sesuai porsi dan kebutuhannya. Sehingga seorang muslim tidak bisa melakukan sesuatu yang hanya memprioritaskan satu sisi saja.

Ketika Rasûlullah mengetahui, bahwa sahabatnya ada yang mengprioritaskan untuk selalu mendekatkan diri terhadap Allâh swt dan mengesampingkan unsur yang lain. Maka Rasûlullah menegurnya .
Tasawuf, merupakan satu permasalahan yang sudah lama menjadi ajang konplik diantara para ulama. Mulai dari asal-usulnya, eksistensinya, komposisinya, pengaruh serta yang lainnya. Baik dalam permasalahan aqidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Sejak awal mulanya timbul, sekitar abad ke-2 hijriah. Telah melahirkan kontradiksi diantara para ulama pada masa itu.

Di satu sisi kelemahan(penyimpangan) tasawuf sangatlah nyata. Seperti, wihdatul wujud-nya Ibnu Arabî. Ibnu Arabî berpendapat bahwasannya mahluk bisa bersatu dengan Tuhan. Tentu hal ini menyerupai aqidah trinitas Nasrani, dan sangat bertentangan sekali dengan aqidah Islam yang menyakini bahwa Allâh lam yalid wa lam yûlad wa lam yakun –‘llâh-u kufuwwa-n ahad (Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia).

Begitu pula, Husen bin Manhsur al-Hallaj, atau yang mashur dengan sebutan Halaj, dan penganutnya (halajiyyiîn) yang terkenal dengan paham hulûl wal ittihâd (tuhan dapat menetes ke dalam benda), serta ia berkata “saya adalah tuhan”. Yang menyerupai ketakaburan fir’aun laknatullah. Sehingga ia mendapatkan hujatan dan kecaman para ulama masa itu serta dieksekusi hukuman mati.

Jika kita melihat timbulnya paham tersebut merupakan salam satu meditasi serta kontempalasi seorang halaj, yang menjadikan pendidikan akhlak dan penyucian jiwa paling prioritas. sehingga segala keputusan didasari oleh perasaan, dan berubah menjadi paham-paham baru serta menyimpang dari ajaran Islam.

Unsur kebenaran tasawuf pun tidak boleh kita kesampingkan (baca; memungkirinya). Dr. Yusup Qardlawi berpendapat “munculnya golongan sufi ini, dapat mengisi kekosongan jiwa masyarakat dengan akhlak dan sifat-sifat yang luhur serta ikhlas. Hakikat dari Islam dan Iman, semuanya hampir menjadi perhatian dan kegiatan dari kaum sufi. Mereka sangat hati-hati sekali dalam meniti al-Qur’an dan Sunnah, bersih dalam praktek dan pikiran yang menyimpang”.

Banyaknya yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan kembali bertobat karena jasa mereka. Ahli tasawuf telah mengukir sejarah yang sangat besar, yang telah menolehkan tinta emas dalam sejarah peradaban dan keilmuaan. Baik dalam ilmu fiqih, tafsiir, economi, filsapat dan disiplin ilmu umum.

Sidiq Umar ya’kub, MA. Dosen kuliyyah Dakwah Universitas Dakwah Libia berpendapat, ketika kita memandang dari sisi amalan akhlak, maka kita akan mendapatkan bahwasannya tasawuf adalah tawajjuh dan taujih (penghadapan diri dan penggemlengan diri). Maka, apabila tasawuf itu sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah maka itu dari Islam. Seperti, ajaran juhud, pensucian jiwa, pembersihan hati dan sebagainya.

Dalam hal ini rujukan kita adalah al-Qur’an dan Sunnah. Selama fenomena tersebut tidak keluar atau bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka hal itu masih bisa di tolelir (diterima). Seperti paham tasawuf yang di usung oleh Imam al-Harits al-Muhasiby, Imam al-Ghazali, Imam al-Zunaid, dan Imam al-Qusyairi.

Menarik apa yang dikatakan Dr. Ratna Megawangi pakar feminisme yang sempat mengenyam pendidikan di negri Paman Sam. Jutaan masyarakat Amerika Serikat menganut ajaran Islam yang haq, dengan diwasilahi pendekatan persuasif para sufiyyiin yang memperlihatkan budi pekerti yang baik, sehingga menarik perhatian mereka untuk masuk ajaran Islam. .

Paham-paham Tasawuf; Muqâranah Kebenaran dan Penyimpangan

a. Perspektip Aqidah

suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa ajaran tasawuf, berdasarkan atas asas Qur’an dan Sunnah. bahkan kedua landasan tersebut merupakan landasan paling utama dalam menjalani suatu pemahaman, sebelum terjun (baca; mendalami)terhadap ajaran tasawuf.
al-Junaid berkata: barang siapa yang tidak hapal al-Qur’an dan menulis hadits-hadits Nabi saw. maka tidak boleh di jadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada al-Qur’an dan Sunnah. begitu pula, sama apa yang dikatakan Abu Khafs :”barang siapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan qur’an dan sunnah. maka mereka tidak termasuk golongan tasawuf”.

Ketika para ahli kalam mencari hakikat keesaan Allah dengan memberikan indikasi terhadap ketetapan serta kejadian alam, dengan melalui proses yang panjang. Maka imam al-Ghazali telah mendapatkan solusi yang shahih dalam menetapkan keberadaan Allah dengan metodenya “mensucikan hati dari selain Allah, serta condong dan mendawamkan dzikir terhadap Allah swt.

Dalam al-Qur’an banyak sekali diterangkan mengenai hubungan hamba dengan khâliknya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Qur’an :
Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. juga ayat yang lain,

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pada awal abad ke tiga hijriah munculah suatu idiologi sufi yang sangat bertentangan sekali dengan ajaran Islam. Yaitu, idiologi yang dibawa oleh Halaj dengan memploklamirkan konsepsi al-hulûl, Suatu pemahaman yang sesat. Serta statmennya Ibnu ‘ArabÎ mengenai wihdatul wujûd (penyatuan makhluk dengan khâlik), atau manunggaling kawula gusti-nya Syeh Siti Jenar, salah satu wali songo yang terkenal di tanah air.

Keyakinan ini tidak hanya beredar pada masa itu. Para sufiyyîn masih meyakini hingga saat ini, dan mengaflikasikan terhadap keyakinan ini. Seperti, Ibnu Sab’în, Talmasânî, Abdul Karîm al-Jaelî dan para imam sufi di masa sekarang.
Begitu pula keyakinan sufi terhadap para wali (auliyâ) yang mempunyai kelebihan dibandingkan para Nabi. Serta menyetarakan kedudukan mereka dengan Allah dalam segala urusan. Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan serta mematikan dan bisa berubah bentuk.

Keyakinan ini sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam. Yang menilai seseorang dilihat dari ketaqwaan, amal saleh serta kesempurnaan ibadah terhadap Allah swt. Dan sesungguhnya seorang wali tidak mempunyai keutamaan dalam suatu urusan. Sebagaimana firman-Nya :

Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfa’atan”.

Begitu pula suatu standar yang selalu dijadikan hujjah oleh ahli sufi, yaitu dijadikannya perasaan (dauk) sebagai rujukan paling utama. Seperti istilah hadatsani qalbî ‘an-ni –rabbî. Selain itu, dijadikannya karâmah, fenomena diluar kebiasaan manusia pada umumnya, yang selalu dijadikan hujjah sebagai mu’jizat bagi para wali.

Sementara dalam ajaran Islam memerlukan beberapa kreteria untuk bisa disebut karâmah. Dan tidak setiap hal yang di luar kebiasaan para salapu-s ‘shalihîn bisa disebut karâmah. Diantara syarat yang paling urhen mengenai karâmah ialah:

Pertama, bahawasannya pelaku karâmah seorang mu’min yang bertaqwa.

Sebagaimana firman Allah swt. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak adakekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedihhati. Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”.

Kedua, shâhibu-l Karâmah tidak menyeru kepada wilayah.baik bagi dirinya, dan orang lain. Karena seorang mu’min tidak mengetahui amal mana yang diterima di sisi-Nya.
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Ketiga, karâmah bukan sebab untuk meninggalkan suatu kewajiban. Dan keempat,karâmah tidak bertentangan dengan urusan dari urusan agama.

b. perspektip Ibâdah

Ilmu menurut para sufi terbagi kepada dua bagian, yaitu kepada ilmu dhahir dan ilmu batin. Sementara dîn-u ‘l-Islam-I terbagi kepada Syariat, Hakikat, Tharîqah. Dan makrifat. Syariat ialah pembahasan aspek dalil dan nash.seperti, aqîmû-sh ‘shalâh wa atû-z zakâh (dirikanlah shalat dan bayarlah zakat). Sementara hakikat ialah kebenaran atas syariat itu sendiri,sebagai rahasia dibalik syariat tersebut. Misalnya, “berpuasalah niscaya kamu akan sehat”.

Adapun tharîqat ialah aspek yang membahas praktis dan kesempurnaannya. Bagaimana takbir yang baik, rukuk yang baik, sujud yang baik serta mengatur rohani agar tidak menyimpang. Dan makrifat ialah orang yang telah mengalami keadan shalat tersebut secara transenden. Orang yang merasakan manisnya iman, orang merasakan kelezatan dan kekhusuan shalat. Dan orang yang mengetahui tetang Allâh (makrifatul-Llah).

Orang-orang tasawuf berkeyakinan sesungguhnya shalat, puasa, haji dan zakat merupakan ibadah-ibadah orang awam. Maka bagi orang-orang sufi terdapat pelaksanaan ibadah yang di khususkan bagi mereka. Seperti dzikir yang khusus dan dilakukan pada tempat yang khusus pula. Makanan yang khusus dan pakaian yang khusus serta pertemuan yang eksklusif.

Jika ibadah dalam Islam bertujuan untuk mensucikan jiwa, serta membersihkan masyarakat. Maka ibadah dalam tasawuf bertujuan menjalin hubungan yang erat dengan Tuhannya. serta berkenyakinan bertemu dengan-Nya menurut kehendak mereka. dan apabila kita melihat pada ashâbu-th Thurûq, mereka mempunyai dzikir-dzikir yang khusus bagi kelempok-kelompok mereka.

Sementara Rasulullah saw selaku panutan kita telah jelas menggariskan serta menjabarkan cara dan qira”ah dalam berdzikir seperti dalam hadits dua kalimat yang ringan dalam lisan tapi berat dalam timbangan serta disukai Allah swt. Yaitu,Subhâna-l ‘Llâh-I wa bihamdihi subhâna-l ‘Llâh-I ‘

c. Perspektip Akhlaq

Akhlak merupakan permasalahan yang mempunyai peranan sangat penting dalam tasawuf. sehingga hal ini dijadikan standar dalam bermuamalah dan mendekatkan diri terhadap Allah swt. seperti kedudukan taubah, sabar, juhud, qana’ah, saum dan sebagainya. karena adab merupakan perjalanan ruhani menuju Allah. Sehingga mereka berkata ” demi Allah, tiada beruntung orang yang menang. kecuali dengan adab yang baik, dan tidak terjatuh orang yang kalah kecuali dengan adab yang buruk”.

Rasûllullâh ialah panutan kita, Beliau diutus untuk menyempurnakan Akhlak manusia. ketika Siti Aisyah ditanya mengenai akhlah Rasul, maka ia menjawab “bahwasaannya akhlah beliau adalah Khuluquhu-l ‘Qur’an”. begitu pula mereka menjadikan rujukan panutannya (Rasûlullâh Saw) sebagai uswah dalam menjalankan ajaran-ajaran Ilahî.

Diantara sifat-sifat mereka ialah mereka saling membantu. dan hal ini merupakan realisasi dari ayat
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Melahirkan rasa kasih sayang dan ketentraman merupakan sifat mereka. artinya, setiap muslim mendatangkan rasa aman dan kasih sayang terhadap muslim lainnya, baik terhadap jiwanya, prilakunya, amanatnya,tujuan serta harapannya. dan membantu serta menegakkan kebenaran dalam keadaan apapun dan dimana pun.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw
bantullah saudaramu yang zalim dan dizalimi !’ salah seorang sahabat bertanya, “kami menolong saudara kami yang zalim? “rasulullah saw. menjawab, “halangilah kezalimannya, lalu kembalikan kezalimannya itu pada dirinya.” .

Diantara kebaikan para sufi ialah selalu memegang teguh budi pekerti yang agung serta tidak menolak bentuk kebaikan apapun. Mereka saling menyuruh kebaikan serta saling mencegah kemungkaran diantara mereka. Artinya, tidak seorang pun dari mereka membiarkan kemungkaran saudaranya.

Dalam hal ini sesuai dengan apa yang di firmankan Allah swt :

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. 

Tidak ada kebahagian bagi seorang muslim, tanpa integritas keimanan, amal saleh, dan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam hal ini Rasûlullâh saw. telah memperingatkan pada kita tentang laknat Allâh dan bercerai berainya hati kita, jika amar ma’ruf nahyi munkar tidak kita tegakkan.

Allah swt. berfirman :

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagianmereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikanshalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at pada Allah danRasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnyaAllah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ikhititam

Demikian penulis paparkan tentang masalah tasawuf, yang telah mewarnai kehidupan umat Islam sejak berabad-abad yang lalu sampai sekarang. Ini hanyalah gambaran ringkas mengenanai ajarang tasawuf yang telah diusung para pendahulunya. Tentunya masih banyak kekurangan serta jauh sekali mdari kesempurnaan.

Untuk penulis mohon maaf dari segala kehilafan dan kekurangganya akhirnya penulis memohon kepada-Nya mendapatkan keriadaan-Nya serta menjadikan amal kita amalan yang mutaqabalan. Amien

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dansaudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadaporang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau MahaPenyantun lagi Maha Penyayang


Daftar Pustaka

1. Fî Riyadh-I at-Tashawuf-I al-Islam-I . karangan Prof. Dr. Jamal Sa’ad. Cet 1998 M. hal. 109 yang dijadikan diktat fakultas ushuludîn tingkat satu univeritas al-Azhar, cairo mesir

2. Dr. Yusup Qardlawi, Huda-l Islam, fatawa Mu’ashirah Dar al-Qalam lin –Nasr-I wa Tauzi-‘I, kuwait: 1989.

3. Ratna Megawangi. Wihdah–PPMI cairo, cet. 2001 hal. 23

4. Dr. Yusup Qardlawi, Huda-l Islam, fatawa Mu’ashirah. Dar al-Qalam lin –Nasr-I wa Tauzi-‘I, kuwait: 1989.

5. Dr. Musthofa Hilmi, Ibnu Taimiyyah wa at-Tasawuf-u, dâr ad-Dakwah, alexandria, mesir: 1982. cet II. hal. 251-252

6. Abdul Rahman Abdul Khâlik. al-Fikru ash-Shufî fî Dhaui-l ‘Kitâb-I wa-s ‘Sunnat-i. Dâr al- Haramain li-th ‘Thabâ’at-I, kairo, Mesir:1993 cet.V. hal. 61.

7. Sa’id Hawa. Jalan Ruhani, Bimbingan Tasawuf Untuk Para Aktivis Islam. Mizan, Bandung. hal.262

8. Sa’id Hawa. Jalan Ruhani, Bimbingan Tasawuf Bagi Para Aktivis Islam. Mizan, Bandung. hal.284.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *