[Tashawwuf dan Shufiyah] Antara Pendukung dan Penentang

5
(5)

Oleh: Akmal Burhanudin, lc

Muqaddimah

Permasalahan tashawwuf dan shufiyah adalah permasalahan lama yang tak pernah kunjung selesai. Para ulama salaf hingga kini masih mempersalahkan boleh dan tidaknya tasawwuf, apakah mereka termasuk ahlul bid’ah atau tidak?, apakah kalimat tasawwuf bersumber dari islam atau bukan?.

Diantara kita, bahkan para ulama sebelum kita dan orang-orang akan datang setelah kita nanti juga akan sama sikapnya; mereka ada yang mendukung tasawwuf dan shufiyah secara berlebihan, ada yang moderat dan ada yang anti sama sekali. Al-Ustadz ‘Isham Ahmad al-Bashir –Muroqib ‘Am Ikhwanul Muslimin di Sudan- mengungkapkan tentang beberapa sikap yang muncul dalam menanggapi permasalahan tashawwuf dan shufiyah ini:”Beliau (Imam Al-Banna) memandang pada waktu itu, telah terjadi banyak penyimpangan dalam tharikat shufiyah dan rusaknya aqidah masyarakat awam yang tergabung dalam tharikat shufiyah tersebut. Para shufi munharifin telah menyimpangkan kaidah-kaidah Islam yang shahih dari makna yang sebenarnya.

Mereka telah menyimpangkan makna jihad yang sesungguhnya yaitu melawan musuh-musuh agama kepada jihad nafs semata. Namun pada tasawwuf ada sisi positif dalam metode tarbiyah yang unik. Didalamnya terkandung pembinaan akhlak, pelembutan hati dan penghiasaan diri dengan budi pekerti yang karimah. Sehingga dalam catatan sejarah kita dapat menyaksikan, bahwa tasawwuf mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk masyarakat islam dan menyebarkan dakwah islamiyah”

Oleh karena itu ada satu ungkapan salah seorang pendiri harokah Islamiyah yang mengatakan:

لو اجتمعت قوة الأزهر العلمية إلى قوة التصوق الروحية إلى قوة الدولة لكانت أمة لا تقهر

“Kalau seandainya kekuatan Al-Azhar sebagai basis keilmuan digabungkan dengan kekuatan ruhani para shufiyah dengan kekuatan negara, maka umat ini tidak akan mudah ditundukkan”

Oleh karena itu pembahasan tasawwuf semakin urgen untuk dikelirkan agar kita dapat mengambil satu sikap dan pandangan yang sama tentang tasawwuf dan shufiyah. Agar kita tidak terombang ambing diantara dua sikap; yang mendukung secara berlebihan dan menolak secara keseluruhan.

Ungkapan diatas hanyalah sebagai pendahuluan tentang sikap masyarakat dan tokoh yang terlalu phobi terhadap tasawwuf, sikap masyarakat yang sudah dibohongi dengan tasawwuf yang diselewengkan dan mereka yang moderat dalam mensikapi tasawwuf.

Bagi para mahasiswa al-Azhar yang sedang mengambil jurusan ushuluddin tentu akan tercengang dan membuat tanda tanya, apakah benar tasawwuf bukan dari islam dan tidak ada asal usulnya?. Lalu apakah tasawwuf mempunyai peranan dalam kehidupan dunia yang kalut seperti sekarang ini?. Inilah yang akan menjadi titik pembahasan kita kedepan nanti.

Dari manakah tumbuhnya tasawwuf?

Bagi anda yang mengikuti dan mempelajari perjalanan ilmu tasawwuf, maka kita akan mendapatkan bahwa praktek hakekat ajaran tasawwuf telah ada sejak dahulu kala sebelum Rasulullah diutus, bahkan tasawwuf ada dalam setiap masa peradaban yang muncul. Hal tersebut menjadi benar adanya apabila kita menggeneralisir kalimat dan pemahaman tasawwuf secara umum.

DR. M. Fauqy Hajjaj dalam bukunya ‘At-Tasawwuf Islamy wal Akhlak’ menjelaskan bahwa secara umum bahwa tasawwuf sudah ada dalam filsafat vitagoras, dalam peradaban persia, Yunani, dalam ajaran Budha, Hindu, Yahudi, dan Nasrani serta Islam.
Beliau menyebutkan bahwasannya tasawwuf ada dalam setiap peradaban dan agama, walaupun secara implisit nama tasawwuf belum muncul sebagai suatu ilmu. Hal itu karena ajaran tasawwuf pada setiap masa tersebut diatas berkaitan dengan pembinaan akhlak dan budi pekerti.

Kita tidak akan membahas terlalu jauh tentang tasawwuf pada masa-masa sebelum Islam. Kita akan memfokuskan tasawwuf sejak zaman Rasulullah SAW, sebagai sandaran dan dasar dari munculnya ilmu tasawwuf dimasa Islam.
Guru kita Prof. DR. Dhiya-uddin al-kurdy (Rahimahullah) dalam bukunya ‘Nasy-ah at-Tasawwuf al-Islamy’ telah menegaskan bahwa, tasawwuf yang ada pada masa Islam sekarang ini sebenarnya bermula sejak masa Rasulullah dan para sahabatnya hidup. Dari sanalah titik tolak sumber dan berkembangnya ilmu tasawwuf atau ilmu suluk sekarang ini.

Saat Rasulullah SAW diutus, masyarakat jahiliyah saat itu telah hidup dalam kegelimangan materialisme dan kesombongan diri yang amat berlebihan. Namun disisi lain ada sekelompok orang yang masih mempunyai akhlak yang bagus dan bersih yang tidak terkotori oleh polusi kehidupan jahiliyah.

Kelompok orang yang kecil inilah yang cepat menerima dan mengistijabahi ajakan Rasulullah SAW. Karena mereka merasakan apa yang diserukan oleh Rasulullah SAW merupakan sebuah seruan yang mulia dan sesuai dengan fitrah kemanusian yang murni, yaitu ketinggian mentalitas dan kemuliaan akhlak.

Pada masa-masa selanjutnya mereka menjadikan seluruh kehidupan Rasulullah sejak dari bangun tidur hingga tidur kembali sebagai sebuah pola hidup keseharian. Hal ini berdasarkan pada pertanyaan sahabat kepada Sayyidah Aisyah ra

سئلت سيدة عائشة رضىالله عنها عن خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم . فقالت: “كان خلقه القرآن”

Dan Firman Allah SWT dalam surat An-Najm ayat 3-4

وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى (النجم 3-4

kalimat النطق pada lafal diatas menunjukkan bahwa segala gerak-gerik Rasulullah SAW adalah terjaga dari kesalahan, karena sosok kerasulan beliau yang ma’shum.

Pada masa berikutnya, tepatnya pada akhir tahun kedua hijriyah, mereka yang selalu mengikuti pola kehidupan Rasulullah SAW untuk zuhud dan qona’ah serta tawadhu dalam permasalahan dunia dikenal dengan nama Shufi atau pelaku dari ilmu tasawwuf.

||| Baca juga, Bagaimana Islam Tanpa Madzhab

Pendapat diatas didukung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang mengungkapkan dalam Majmuatul fatawanya: “ Lafadz ‘Shufiyyah’ belum terkenal pada masa tiga abad pertama, tapi baru mulai ramai dibicarakan setelah abad tersebut. Kata-kata tersebut banyak dibicarakan dikalangan para Imam dan syaikh, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Sulaiman Ad-Darani dan yang lainnya. Diriwayatkan dari Sofyan ats-Tsaury bahwa beliau pernah berbicara tentang shufiyah. Sebagian orang mengatakan bahwa hal tersbut bermula dari Al-Hasan al-Bashory. Kemudian mereka berselisih tentang ma’na yang terkandung dalam lafazd Shufi. Shufi merupakan sebuah nasab sebagaimana nama al-Qurasy, al-Madani dan sebangsanya.

Dari sana dapat kita ambil kesimpulan bahwa tasawwuf ada asal-dan usulnya dari islam. Karena hal itu merupakan pancaran dari hakekat ajaran islam itu sendiri terutama yang berkenaan dengan pembinaan akhlak, pelembutan hati dan penghiasaan diri dengan budi pekerti yang karimah.

Mereka memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Menjadikan ketinggian ruhiyah sebagai panglima kehidupan.
  • Selalu mendekatkan diri kepada Allah dalam setiap kondisi kehidupan dengan menghidupkan rasa ma’iyyatullah dan muroqabatullah dalam jiwa.
  • Menghiasi diri dengan akhlak terpuji terutama yang meliputi zuhud, ibadah, tawakal, berpegang teguh kepada quran dan sunah

Asal-Usul Istilah Tasawwuf

Sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah diatas bahwa lafadz tasawwuf dan shufiyah belum muncul pada tiga abad pertama umat ini. Pada masa tersebut istilah yang beredar adalah shahabat, tabiin dan tabiut at-Tabiin.

Syaikh Abdul Karim al-Qusyairi dalam bukunya Risalah al-Qusyairiyah fi ‘ilmi at-Tashawwuf menyatakan: “Kalimat tasawwuf sebanarnya tidak ada pengambilannya dalam bahasa arab, ia merupakan gelaran semata.”

Para ulama banyak membahas asal-usul istilah tasawuf diantaranya diambil dari:

1. Pakaian Wool yang dipakai (لبس الصوف)

Prof. Dr. Dhiya-uddin al-Kurdi mengungkapkan bahwa para shufi asal mulanya lebih memilih pakaian yang terbuat dari wool, karena disamping hangat dan empuk, wool juga merupakan pakaian para nabi dan para awliya. Oleh karena itulah mereka yang pakaian ini disebut shufi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memperjelas lagi tentang hal ini dengan mengatakan: “Tasawwuf dinisbahkan kepada pakaian wool yang mereka pakai. Mereka muncul pertama kali di Bashrah di bawah pimpinan abdul Wahid bin zeid saudara dari Hasan al-Bashari. Kala itu ahlul Bashrah amat berlebihan dalam zuhud, ibadah, khauf dan sebagainya”

2. Ahlu Shuffah (أهل الصفة)

Mereka adalah para sahabat rasulullah yang selalu berkumpul di Suffah masjid Nabawi. Para sahabat ini lebih memfokuskan diri pada ibadah sejak zaman nabi hingga seterusnya.

3. الصفاء والوفاء
4. سوفيا اليونانية
5. الصف المقدم بين يدي الله

6. Penisbatan kepada صوفة بن بشربن أدّّ بن طابخة

Dia adalah salah seorang pemimpin kabilah arab. Mereka mempunyai bentuk peribadatan tersendiri.

Dari keenam pengambilan kata diatas maka Penisbatan kaum shufi dengan pakaian wool yang dipakainya adalah yang paling dekat kepada kebenaran dalam pandangan para peneliti.

Sumber-sumber Hukum Tasawwuf Islami

1. Al- Quran Al Karim sebagai manba’ul awwal
2. As- Sunnah (Kehidupan Nabi SAW)
3. Kehidupan para shahabat dan Khulafaur Rasyidin

|||Lihat, Apakah perlu kita berijtihad ?

Ushul Tauhid dalam Tasawwuf
Syaikh al-Qusyairi menjelaskan hakekat ushul tauhid yang dipegang para Shufi adalah Ma’rifatullah yang tercermin dalam beberapa sifat sebagai berikut:

1. Iman.
2. Al-Arzaaq
3. Al-Kufr.
4. Al-Arsy.
5. Al-Haq huwa Subhanahu wataala.

Istilah-istilah dalam Tashawwuf

1. al-Waqt
2. Al-Maqom.
3. Al-Haal
4. al-Qabdh wal Basth
5. Al-Haibah wal Ins
6. At-Tawajud wal Wajd wal wujud 7. Al-Jam’u wal Firoq
8. al-fana wal Baqo’
9. Al-Ghaibah wal Hudhur
10. as-Shohwu wal sukar
11. Adz-Dzauq wa Asy-Syirb
12. al-Mahwu wal Itsbath
13. As-Sitr wa Tajalli
14. al-Muhadharoh, al-Mukasyafah,
al-Musyahadah
15. al-Lawaih, ath-Thawali’, al-Lawami’
16. al-Bawadah wal Hujum
17. At-Talwiin wal Tamkiin.
18. al-qurbu wa al-Bu’du
19. Asy-Syariah wal haqiqot
20. an-Nafs
21. Al-Khawatir.
22. ‘ilmu al-Yaqin, ‘ain al-Yaqin
dan Haqqul Yaqin.
23. al-Warid.
24 Asy-Syahid
25An-Nafas
26. Ar-Ruuh
27. As-Sirr.

Maqoom dalam Ilmu Tasawwuf

  • Taubah
  • Al-Mujahadah dan seterusnya.

Untuk selanjutnya dapat di lihat dalam buku Madarij as-Salikin min Ibadati Rabbil ‘Alamin karya al-Allamah Al-Imam as-Salafy Ibnul Qayyim al-Jauziyyah

Apakah Boleh Penggunaan lafadz Tasawwuf dan Shufiyah

Penggunaan lafadz Tasawwuf dan shufiyah amat diperbolehkan oleh syara’ apabila dipergunakan dalam koridor yang gariskan oleh al-Quran dan al-Sunnah. Sebagaimana penggunaan lafadz rabbaniyah oleh Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya:

رهبانية أمتى الجهاد atau dalam sebuah perkataan bahwa para sahabat rasulullah dikatakan sebagai رهبان بااليل و فرسان بالنهار Padahal lafadz ini amat dicela oleh Allah swt dalam firmannya:

ورهبنية ابتدعوها ما كتبناها عليه

Atau dalam hadits yang lain rasulullah saw mengatakan:

إنما أنا لكم بمنزلة الوالد

Padahal dalam al-Quran Allah SWT telah mengajarkan bahwa Rasulullah saw bukanlah orang tua dari siapapun juga, dalam hal ini tidak ada pengadopsian anak. Sebagaimana firman Allah SWT:

ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله

Tapi Rasulullah SAW tidak dapat disebut sebagai Abul Mu’minin. Sebagaimana istri-istrinya disebut sebagai Ummahatul Mu’minin.

Untuk lebih jelasnya saya contohkan penggunaan kalimat sihir. Dalam suatu riwayat dua orang lelaki datang kepada Rasulullah SAW, salah seorang diantara mereka ada yang berkhutbah dengan (البيان) keindahan bahasa dan (البلاغة) seni sastra yang tinggi sehingga orang-orang merasa takjub.

Maka Rasulullah SAW mengatakan: إن من البيان لسحرا

Kenapa Rasulullah mengatakan keindahan bahasa dan seni sastra yang tinggi dengan sihir?. Padahal kalimat sihir amat hina secara akal dan naql sedangkan al-Bayan dan Balaghah amat mulia.

Penggunaan kalimat sihir pada perkataan Rasulullah adalah majaz. Karena dengan al-Bayan dan al-Balaghoh dapat menarik hati orang dan mempengaruhinya, sebagaimana sihir dapat mengecohkan orang banyak.
Dengan mengungkapkan bukti-bukti diatas maka apakah penggunaan lafadz tasawwuf dan Shufiyah suatu yang terlarang?. Tentunya berdasarkan dalil syar’I hal itu tidak terlarang selama penggunaan lafadz tasawwuf dan shufiyah bermanfaat bagi kaum muslimin dan dalam bingkai al-Quran dan Al-Sunnah.

Salah paham terhadap Tasawwuf
Banyak orang yang tatkala diucapkan kalimat tasawwuf langsung tergambar halaqoh Dzikr yang dipenuhi dengan praktek-praktek bid’ah, munkar dan khurafat. Sebagian yang lain, seperti para filosof akan terlintas dalam benaknya tentang praktek tasawwuf yang terwarnai dengan keyakinan-keyakinan filosofis yang mengadopsi keyakinan Hindu, Yunani dan perdaban kuno lainnya yang berada diluar rel syar’i.

Paradigma diatas nyata adanya, karena memang dipengaruhi dengan kesalahan dalam mentashowwurkan satu permasalahan. Tentunya kita sepakat bahwa praktek-praktek yang berbau TBC wajib untuk diperangi dan dibasmi.

Lalu apakah semua tasawwuf menyimpang?, marilah kita dengarkan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang berbunyi: “Banyak kelompok-kelompok orang dari ahlul bid’ah dan Zindiq yang menisbatkan dirinya dengan tasawwuf, mereka seperti al-Hallaj dan Muhyiddin Ibnu ‘Araby (bukannya Ibnu al-‘Araby. kalau di Indonesia dilakukan oleh Syekh Siti jenar-pen).”

Kemudian dalam perkataan selanjutnya, Imam Ibnu Taimiyah membagi tasawwuf menjadi tiga:

1. Shufiyah Haqaa-iq; mereka yang mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Seperti Abdullah Ibnu Mubarak, Fudhail bin ‘Iyyadh, Ibrohim bin Adham dan yang lainnya.

2. Shufiyah al-Arzaaq; mereka yang mencari kehidupan dengan cara bertasawwuf, tapi kelompok kedua ini masih lebih mending ketimbang kelompok yang terakhir karena mereka masih dibatasi oleh tiga hal:

a. Mereka mempunyai sifat adil dalam melakukan kewajiban syra’I dan menjauhi yang dilarang.

b. Mereka mempraktekkan praktek ahlu thariqot yang bersumber kepada syar’I

c. Mereka tidak terlalu berlebihan dalam kehidupan dunia, tapi mereka juga mencari penghidupan untuk dunia.

3. Shufiyah ar-rasmu; mereka yang terlalu mengenyampingkan As-Sunnah. Mereka lebih mementingkan penampilan semata, seperti memakai pakaian dari wool dan sifat-sifat yang terlalu dibuat-buat.

Namun dalam perkembangan selanjutnya sdikit-demi sedikit praktek tasawwuf verkembang dan terjadi penyimpangan sebagaimana yang kita saksikan. Awal abad ketiga telah terjadi sedikit penyimpangan terhadap tasawwuf dengan munculnya Al-Hallaj yang mempunyai keyakinan Wihdatul Wujud.

Penyimpangan terparah dalam tasawwuf terjadi pada abad keenam dan ketujuh Hijriyah yang ditandai dengan percampuran antara ilmu tasawwuf dengan filsafat Yunani.

Penutup

Bila kita tilik secara seksama dari tulisan yang telah dibeberkan maka kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Tasawwuf al-Islami ada asal-usulnya dari islam.

2. Istilah-istilah dalam ilmu tasawwuf tidak semuanya sesat dan masih dalam batas figura syar’I, kecuali beberapa istilah yang timbul belakangan dan yang diselewengkan dari makna pemahaman aslinya.

3. Penggunaan istilah tasawwuf dan shufi dalam literatur penulisan dan pengistilahan praktek akhlak tidak terlarang, selama masih dalam batas quran dan Sunah.

4. Praktek Tasawwuf yang tercemari dengan Tahayul, bidah, khurafat dan kemungkaran wajib untuk diberantas dan diperangi.

5. Tasawwuf mempunyai peran yang amat penting dalam penyebaran da’wah islam dan pembinaan mental generasi muda, sebagaimana yang dilakukan gerakan al-Mahdiyah dan Sanusiyah.

Inilah makalah singkat dapat kami sumbangkan untuk membuka cakrawala berfikir kita, agar dapat menimbang sesuatu dengan obyektif sesuai dengan koridor syar’i. Wallahu A’lam

Bahan Muraja’ah

1. Majmuatul Fatawa, Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
2. Mauqiful aimmah al-harokah as-Salafiyah min at-Tasawwuf wa Shufiyah. Syaikh Abdul Hafidz bin abdul Haq al-Makki.
3. Risalah Al-Qusyairiyah fie almi Tasawwuf, abdul karim al-Qusyairy.
4. Fie Riyadli at-tasawwuf al-Islami, DR. Jamal Saad Mahmud Jamal
5. Fahmul Islam Fie Dzilali Ushulul ‘Isyrin lil Imam Hasan alBanna, Jum’ah Amin abdul Aziz.
6. At-Tasawwuf al-islamy Juz 1 dan 2, DR. M. Fauqi Hajjaj.
7. Al-Akhlak al-Islamiyah, DR. M. Dhiya-uddin al-Kurdy.
8. Ahsanul Kalam fie Fatawa wal Ahkam, Syaikh ‘Athiyah Saqr.
9. Bayan Linnas minal al-Azhar al-Syarif, Syaikh Jadul Haq Ali Jadul Haq dan Majma’ Buhuts al Islamiyah.
10. Fahmu Ushulul Islam, DR Ali Abdul Halim Mahmud.
11. Nazharat Fie Risalatu at-ta’lim, Syaikh M. Abdulah al-Khatib dan M. A. Halim Hamid.
12. Nasy-ah Tasawwuf al-Islamiyah, DR. M. Dhiya-uddin al-Kurdy.
13. Assalafiyah Marhalah Zamaniyah al-Mubarokah La Madzhabu Islami, DR. M. Said Ramadhan al-Buthy.
14. Tarbiyah ar-Ruhiyah, Said hawa.


Daftar Pustaka

1. Al-Ustadz ‘Isham Ahmad al-Bashir, al-Imam al-Banna wa Nazhroatuh
u maudhu’iyyah Haula Tasawwuf. Hal. 3. Cet. Pertama tahun 1990 Dar el-Nadzir Sudan.

2. Majalah Risalah NO 8 TH. XXXVIII OKTOBER 2000. Hal. 34 tentang Hasil Keputusan Sidang Dewan Hisbah 1 September 2000 M.

3. DR. M. Fauqy Hajjaj dalam bukunya ‘At-Tasawwuf Islamy wal Akhlak’ hal 7. Diktat Fak. Ushuluddin Universitas Al-Azhar Mesir. Cet tahun 1995 tanpa penerbit.

4. Prof. DR. Dhiya-u ad-Dien Al-Kurdy, Nasy-ah At-Tasawwuf al-Islamy, hal 5. Diktat Fak. Ushuluddin, Universitas Al-Azhar Mesir. Cet tahun 1997 tanpa penerbit.

5. Majmuatul Fatawa Sayaikhul Islam Ibnu Taimiyah Vol.6 juz 11-12 tentang Tasawwuf dan al-Quran Kalamullah. Hal. 7. Cet. Pertama Dar el-Jeil tahun 1997.

6. Ditukil dari kitab Ahsanul kalam fi Fatawa wal Ahkam, Syaikh ‘Athiyah Saqr. Hal. 246. Cet. Dar el Ghad el-Arabi.

7. Nasy-ah tasawwuf al-Islami hal 54-55.
Majmuatul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Hal 8.

8. Fahmu Islam fie Dzilali al-Ushul ‘Isyrin lil Imam Hasan al-Banna, Jum’ah Amin Abdul Aziz. Hal 56-59. Cetakan Dar-el Da’wah Alexandria.

9. Fahmu Islam fie Dzilali al-Ushul ‘Isyrin lil Imam Hasan al-Banna, Jum’ah Amin Abdul Aziz. Hal 60. Cetakan Dar-el Da’wah Alexandria.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *