Saturday, August 8, 2020

Ulama Sebagai Pewaris Para Nabi

Must Read

Muhammad Imarah dan Pembaharuan Islam

Oleh: Muhammad Ghifari Mesir merupakan negeri para nabi utusan Allah swt., berkali-kali nama tersebut sering diungkapkan dalam Al-Qur’an. Terlepas dari...

Mengenal Sosok Imam As Suyuthi

Oleh: Danis Wijaksana Pendahuluan Menguak sejarah seorang tokoh, seperti memasuki belantara hutan yang luas, butuh kecermatan, ketelitian, kehati-hatian. Sebab warisan sejarah...

Manhaj (Metode Ahli Tafsir)

Oleh: Divisi Tafsir Hadits Dewan Buhûts Islâmiyyah I. MUKADIMAH Kesempurnaan al-Qur’an beserta khazanah yang dimilikinya, adalah faktor utama yang mendorong sebagian...

4.8
(11)

Oleh: Ayip Saefudin

Dalam Hadits riwayat Imam Al-Bukhary dari Abdillah bin Amr bia Ali’Ash, ia berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:” إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا، فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

Artinya: Saya telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya dari hamba-hambanya, akan tetapi Ia mengambil ilmu itu dengan cara mewafatkan ulama, sehingga apabila tidak ada seorangpun yang ‘alim (orang berilmu), maka manusia menjadikan (mengangkat) orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin-pemimpinnya, maka(jika) ditanya, maka mereka berfatwa ( menjawab ) tanpa dasar ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan”.

Dalam Hadits riwayat Imam Abu Dawud dari Abi Ad-Darda, ia berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:”…..وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما، إنما ورثوا العلم، فمن أحذه أخذ بحظ وافر

Artinya: Saya telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: “…. dan sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang cukup (banyak).

Dua Hadits tersebut di atas, dengan gamblang menjelaskan tentang hakekat ulama. Bahwa mereka adalah pewaris para Nabi, dan yang mereka warisi tidak lain adalah ilmu. Oleh karena itulah mereka selalu menjadi sumber rujukan.
Secara etimologi, ulama (العلماء ) adalah isim jama’ taksir (iregular prular) dari kata عالم yang merupakan isim fa-‘il (subyek) dari علم-يعلم-علما-عالما yang artinya: orang yang berilmu/orang yang tahu.

Adapun yang dimaksud ulama dalam pembahasan di sini adalah , ulama dalam terminology yang diambil dari dua hadits tersebut di atas, yaitu: Orang-orang yang memiliki ilmu yang diwariskan oleh para Nabi, khususnya Rasulullah saw disertai dengan pengamalannya,sehingga jadi panutan umat dan juga sebagai tempat bagi mereka (umat) untuk bertanya tentang urusan agamanya dan dalam mengembalikan urusannya .

Peran Ulama

Ada ungkapan yang berbunyi “ ulama bagaikan garam”, ini menandakan bahwa begitu besarnya peran ulama dalam kehidupan manusia.
Ada anggapan yang keliru dari sebagian umat Islam, yaitu anggapan yang membedakan antara ulama dan du’at. Padahal yang benar adalah tidak membedakan antara keduanya, yaitu bahwa ulama itu du’at dan dua’at itu ulama, dengan beberapa alasan sebagai berikut:

(a). Dalam Q.S Yusuf 108, Allah berfirman

قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعنى وسبحان الله وما أنا من المشركين

Artinya: Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (mu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan, bahwa orang yang memiliki argumen (hujjah) yang nyata (ahlu al-bashirah) adalah pengikut Rasulullah saw. sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul al-Qoyyim (ومن اتبعني ) jika jadi ‘athaf kepada dlamir yang ada pada (أدعوا إلى الله ), maka itu menunjukkan bahwa para pengikutnya nabi adalah du’at (para juru dakwah) kepada Allah. Dan jika jadi ‘athaf kepada dlamir munfashil, maka jelaslah bahwa para pengikutnya nabi adalah ahli bashirah terhadap apa yang dibawa oleh Rasul saw.

Menurut tahqiq, bahwa ‘athaf tersebut mengandung kedua makna tersebut; maka para pengikutnya saw adalah mereka ahl al-bashirah yang menyeru kepada Allah.

Rasulullah saw menjelaskan, bahwa ulama adalah pewaris para Nabi, sebagaimana disebut di hadits Abi ad-Darda, dan para nabi adalah sebagai para imam para juru dakwah. Dengan demikian, maka ulama adalah para juru dakwah kepada Allah.

(b). Ulama merupakan para imam agama

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S :As-Sajdah:24

وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون

Artinya: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka shabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”.
Dan kepemimpinan (imamah) dalam agama secara otomatis menuntut kepemimpinan dalam dakwah, sebagaimana firman Allah dalam Q.S: Al-Furqan:74

واجعلنا للمتقين إماما

Artinya: “Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang taqwa”.
Dengan demikian ulama adalah du’at kepada Allah.

(c). Ulama merupakan manusia paling utama setelah para nabi.

Allah berfirman dalam Q.S: Al-Mujadalah:11

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتواالعلم درجات

Artinya: “… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat”
Dan posisi hamba yang paling utama adalah dakwah kepada Allah.

Allah berfirman dalam Q.S: Al-Jin: 19 :

”وأنه لما قام عبد الله يدعوه كادوا يكونون عليه لبدا

Artinya: “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Rasulullah saw.) berdiri menyeruNya, hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya”.

Oleh karena itu, maka dakwah kepada Allah yang merupakan posisi hamba yang paling mulia tidak bisa dicapai kecuali dengan ilmu, bahkan tidak boleh tidak untuk sempurnanya dakwah haruslah kompeten dan kokoh dalam ilmu.

(d). Ulama adalah merupakan hujjah bagi Allah atas hamba-hambaNya.

Allah berfirman dalam Q.S: An-Nisa: 83:

ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولى الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطون منهم ولو لا فضل الله عليكم ورحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا

Artinya: “Dan kalau mereka menyerahkan kepada Rasul dan ulilamri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulilamri). Kalau tidak karena karuni Allah kepadamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)”.

Dan hujjah (alasan) tidak akan tegak kecuali di atas lisannya orang yang berilmu dan orang yang faqih, oleh karena itulah maka ulama adalah du’at kepada Allah.

(e). Ulama adalah ululamri yang wajib dita’ati.

Sebagaimana perkataan jumhur salaf dalam menafsirkan firman Allah Q.S: An-Nisa:59

أطيعواالله وأطيعواالرسول وأولى الأمر منكم

Oleh karena itu maka ulama adalah ahli ilmu, fiqh dan dakwah.

(f). Ulama adalah para pemegang amanat syari’at dan yang mumpuni.

Ibnu al-Qayyim berkata: Bahwasanya Allah telah menjadikan ulama sebagai wakil-wakil dan para pemegang amanat bagi agama-Nya dan wahyu-Nya, dan Allah ridla atas mereka untuk menjaga agama-Nya dan menjalankannya, dan cukuplah dengan demikian ulama menempati kedudukan yang mulia.

Allah berfirman dalam Q.S:Al-An’am: 88,89:

ذلك هدى الله يهدي به من يشآء من عباده ولو أشركوا لحبط عنهم ما كانوا يعملون 88 أولئك الذين ءاتيناهم الكتاب والحكم والنبوة فإن يكفر بها هؤلآء فقد وكلنا بها قوما ليسوا بها كافرين89

Artinya: “Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan (88). Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmat dan kenabian. Jika orang-orang ( Quraisy ) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkan kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya(89)”.

Dengan demikian, maka ulama adalah orang yang paling layak untuk dakwah kepada Allah.

(g). Ulama adalah ahli dzikir.

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S: An-Nahl: 43

وماأرسلنا من قبلك إلا رجالا نوحي إليهم فسئلوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Artinya: “Dan tidaklah Kami utus sebelummu melainkan beberapa orang yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir(yang punya pengetahuan) jika kalian tidak mengetahui”.

Atas dasar tersebut, maka ulama adalah pemimpin yang maju untuk dakwah kepada Allah, mengarahkan jalannya dakwah, menuntun kebangkitannya, membangun kesadarannya, memahamkannya kepada umat dan mengarahkan para pemudanya.

Kalau tidak demikian, maka niscaya akan terjadi kehancuran, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Rasul saw dalam hadits Abdullah bin Amr bin ‘Ash tersebut di atas, tentang diangkatnya ilmu dengan diwafatkannya ulama, maka ketika itu manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, maka tenggelamlah bahtera dengan menyimpangnya dakwah dari jalan Allah.

Setelah kita menyamakan persepsi tentang ulama dan du’at, dengan tidak membedakan antara keduanya, maka kitapun tidak akan membedakan peran keduanya. Kita tahu bahwa ulama adalah pewaris para nabi, khususnya Nabi Muhammad saw, oleh karena itu, ulama pun mewarisi perannya dalam menyampaikan amanat ilmu.

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S: Al-Baqarah: 151

كما أرسلنا فيكم رسولا منكم يتلو عليكم آياتنا ويزكيكم ويعلمكم الكتاب والحكمة ويعلمكم ما لم تكونوا تعلمون

Artinya: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayatKami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-kitab dan al-hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui”.

Dari ayat tersebut di atas, ada empat peran ulama, yaitu sebagai berikut:

1. يتلو عليكم آياتنا : Menyampaikan wahyu Allah kepada manusia, dan mengenalkannya kepada mereka. Ini bertujuan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.

Dan wahyu Allah –lewat Nabi mana saja- adalah penjaga bagi kemanusiaan seluruhnya dari penyimpangan,dan dari kebinasaan yang disebabkan oleh keterbatasan akal manusia, ketika manusia sepakat untuk menerapkan peraturan untuk diri mereka, kemudian diterimanya peraturan itu oleh sebagian orang-orang yang lalai, karena mengira ada manfat dalamnya, sehingga apabila kebenaran tampak kepada mereka, maka mereka pun lari bersegera kembali kepada wahyu Allah, karena ia adalah penjaga bagi mereka dari semua kesesatan.

Terkadang sebagian orang-orang yang sesat menolak secara mutlak wahyu Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir,musyrik dan atheis,karena mereka mengingkari bahkan menentang aturan dan undang-undang Allah. Adapun Rasul saw dan pewarisnya menyerukan untuk senantiasa komitmen dengan hukum,peraturan dan undang-undang Allah.

2. ويزكيكم : Mensucikan manusia, yaitu mensucikanjiwa-jiwanya, membersihkannya dan menumbuhkembangkannya dengan kebaikan-kebaikan dan barakat di dunia dan di akherat , di mana manusia berhak menyandang sifat-sifat terpuji di dunia dan berhak memperoleh pahala di akherat.

At-tazkiyah (mensucikan) dengan makna ini; terkadang dinisbatkan kepada Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS: An-Nisa: 49

بل الله يزكي من يشآء

Dan terkadang dinisbatkan kepada Nabi saw., karena kedudukannya sebagai perantara sampainya hal tersebut kepada manusia, sebagaimana dalam Q.S: Al-Baqarah: 151 tersebut di atas.

Maka ulama yang merupakan pewaris Rasul saw juga berperan dalam mennyucikan dan membersihkan jiwa-jiwa manusia dengan wahyu Allah, menumbuhkembangkan ruh-ruh, akal-akal dan tubuh-tubuh mereka. Serta mengangkat mereka kepada derajat tinggi yang sesuai dengan kemulyaan manusia, yang telah dimuliakan dan diutamakan oleh Allah atas seluruh makhluk-Nya.

Penyucian ini adalah merupakan tarbiyah (pendidikan) yang memiliki manhaj (metode) dan berbagai wasilah (perantara) yang memindahkan manusia dari kenyataannya, kepada yang lebih baik baginya, dalam urusan agamanya dan dunianya.

3. ويعلمكم الكتاب والحكمة : Mengajarkan ilmu yang bermanfa’at kepada manusia, yaitu Al-Qur-an dan Al-Hikmah.

4. ويعلمكم ما لم تكونوا تعلمون : Memindahkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya pengetahuan, dari kesesatan kebathilan kepada petunjuk kebenaran.

Inilah empat peran pokok ulama. Adapun peran-peran yang lain kalaupun ada, itu hanya perincian dari yang empat ini dan berada di bawah nya dan tidak keluar dari koridor tersebut.

KLASIFIKASI ulama

Ada dua kategori ulama,yaitu:

  • Ulama rabbaniyyun. Mereka adalah pewaris Rasulullah saw.,penegak kebenaran dengan pedoman Al-Qur-an dan As-Sunnah as-shahihah. Merekalah ulama yang hakiki.
  • Ulama suu’. Mereka adalah yang mengabaikan, menyalahgunakan dan mengkhianati warisan Rasulullah saw.,mereka sesat dan menyesatkan.

Dua kategori ulama ini telah disenyalir oleh Rasulullah saw. dalam Haditsnya yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani dari Hudzaifah ibn Al-Yamani dimana ia berkata:

كان الناس يسألون رسول الله ( ص) عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني، فقلت : يا رسول الله : إنا كنا في جاهلية وشر وجاء الله بهذا الخير، فهل بعد هذا الخير من شر ؟ قال رسول الله : نعم، قلت : وهل بعد هذا الشر من خير ؟ قال رسول الله : نعم وفيه دخن، قلت: وما دخنه ؟ قال رسول الله : قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر، قلت : فهل بعد هذا الحير من شر ؟ قال رسول الله : نعم، دعاة على أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها، قلت : يا رسول الله ؟ صفهم لنا، قال رسول الله : هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا، قلت : فما تأمرني إذا أدركني ذلك ؟ قال الرسول : تلزم جماعة المسلمين وإمامهم، قلت : فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال : فاعتزل تلك الفرق كلها ولو تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك . (رواه البخاري ومسلم).

Sakralisasi Ulama

Ulama menduduki posisi yang mulia di sisi Allah, karena mereka adalah pewaris para Nabi. Tapi ini bukan berarti mereka harus disakralkan.

Meskipun telah disebutkan di atas, bahwa ulama adalah ulû al-amri yang wajib ditaati, ini bukan berarti tanpa batas, karena mereka adalah manusia yang tidak ma’sum (terjaga) dari kesalahan dan kekeliruan. Berbeda dengan Rasulullah saw yang telah mendapat jaminan (‘ishmah) dari Allah, bahkan jaminan diampuni segala dosanya.

Ada fenomena sakralisasi ulama di sebagian ormas Islam, bahkan di sebagian ormas Islam yang lain sakralisasi ulama ini sudah menjadi wabah.

Kasus sakralisasi ulama ini mencapai puncaknya di dunia, khususnya di negeri kita dengan merebaknya keyakinan bahwa taklif (pembebanan) ibadah hanya menyentuh manusia biasa, adapun ulama tidak tersentuh oleh taklif tersebut, serta apa yang diucapkan dan diperbuat oleh ulama dianggap sakral dan tidak bisa diganggu gugat, walaupun terbukti salah dan menyimpang dari ajaran yang benar.

Dengan adanya beberapa “oknum” yang mengaku dirinya ulama (pewaris Nabi saw),tapi dalam kenyataanya, malah menyalahgunakan dan mengkhianati warisan tersebut. Maka disinlah, diperlukan adanya penjelasan kepada umat mengenai redefinisi ulama. Hal itu dilakukan, karena telah terjadi determinologi ulama di kalangan umat.

Oleh karena itu, sakralisasi ulama merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi kemurnian ajaran Islam. Karena Sakralisasi ulama akan mengantarkan kepada perbuatan syirik, dan tentunya, hal tersebut menodai kemurnian tauhid. Selain itu, hal tersebut bisa mengantarkan kepada perbuatan bid’ah. Dan sama seperti di atas, hal tersebut bisa mengotori kemurnian tata cara ibadah.

Salim bin ‘id Al-hilaly menyebutkan, bahwa ada lima penyebab orang melakukan perbuatan bid’ah, salah satunya adalah taklid dan keyakinan adanya ‘ishmah (jaminan) dari Allah bagi ulama mujtahudin, atau sakralisasi ulama.

Inilah pembahasan ringkas tentang ulama pewaris nabi, mudah-mudahan bisa menambah wawasan dan khazanah intelektual keislaman kita.


DAFTAR PUSTAKA

1. AL-QUR-AN DAN TERJEMAHANNYA
2. Salim bin ‘Id Al-Hilaly, BASHAIR DZAWI ASY-SYARAF, Maktabah Al-Furqan, Emirat, cet. kedua, 2000.
3. Salim bin ‘Id Al-Hilaly, AL-BI’AH WA ATSARUHA AS-SAYYI FI AL-UMMAH, Dar Ibnu Affan, Cairo, cet. pertama, 2001.
4. Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, FIQH AD-DAKWAH ILALLAH, Dar Al-Wafa, Cairo, cet. keempat, 1993.
5. Salim bin ‘Id Al-Hilaly, LIMADZA IKHTARTA AL-MANHAJ AS-SALAFY, Dar Ibnu Affan, Cairo, cet. pertama, 2001.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Latest News

Momentum Idul Adha Untuk Membangun Kesejahteraan Umat Islam

Oleh: Ainun Firdaus Rabbanie Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap umat beragama pasti memiliki tuntutan atau kewajiban di setiap pribadinya masing-masing untuk mendakwahkan...

Menyingkap Tabir Gelap Alam Semesta

Oleh : Izatullah Sudarmin Anwar A. Pendahuluan قال تعالى :  سنريهم أياتنا فى الآفاق و فى أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق “kami akan memperlihatkan kepada mereka...

Perang Salib dan Pengaruhnya terhadap Peradaban Barat

Oleh: Naufal Syauqi Fauzani PROLOG Perang salib merupakan kejadian luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah peradaban Dunia. Terjadi selama dua abad perang ini selalu menarik...

Santri [Antara Gelar dan Esensi]

Oleh :Naufal Syauqi Fauzani Pasti kita semua sudah tidak asing lagi dengan istilah “santri”, apalagi istilah tersebut sudah cukup familier untuk masyarakat Indonesia. Pun dengan...

Ulama Sebagai Pewaris Para Nabi

Oleh: Ayip Saefudin Dalam Hadits riwayat Imam Al-Bukhary dari Abdillah bin Amr bia Ali’Ash, ia berkata: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:" إن الله...

More Articles Like This